Wak Karib sudah menunggunya, seolah ia tahu persis kapan Sahala akan datang membawa kertas itu di dadanya.
Warung kelontong tua itu kosong sore itu, dan Wak Karib menutup setengah daun pintunya, menuangkan kopi pahit ke dua cangkir, dan duduk berhadapan dengan Sahala di bangku kayu yang reyot. Mata keruhnya menatap kertas yang Sahala letakkan di meja, tulisan tangan Lahmudin, dan sesuatu di wajah tua itu melembut jadi duka.
"Jadi dia menulisnya," gumam Wak Karib. "Lahmudin. Dia menulis sebelum dia pergi." Ia menghela napas panjang. "Dia kawan baikku, dulu. Satu-satunya orang di kampung ini yang tidak menjauhiku karena mataku begini." Ia menyentuh kelopak matanya yang keruh. "Aku dapat ini dari menara juga, Nak. Empat puluh tahun lalu. Aku penjaga sebelum Lahmudin. Aku bertahan, lalu aku tua, lalu Lahmudin menggantikanku, dan mata ini — ini yang menara ambil dariku sebagai ganti karena aku boleh pergi hidup-hidup. Tidak banyak penjaga yang dibiarkan pergi. Aku salah satu yang sedikit. Itu sebabnya aku tinggal di kampung yang membenci menara ini. Untuk menunggu penjaga berikutnya, dan memberitahunya apa yang tidak ada lagi yang berani ceritakan."
Sahala merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan di tempat ini: ia tidak sendiri. Ada manusia lain yang pernah duduk di tabung beton itu dan keluar hidup, dan manusia itu kini duduk di hadapannya.
"Ceritakan," kata Sahala. "Sri Gemilang. Perjanjian. Semuanya. Saya butuh tahu sebelum pasang besar."
Wak Karib menyeruput kopinya dan menatap ke arah laut yang tak terlihat dari kursinya, seolah membacanya dari sana.
"Dulu kampung ini bukan kampung nelayan miskin. Dulu kami punya armada. Yang terbesar Sri Gemilang, kapal pengangkut, milik bersama seluruh kampung. Suatu tahun, musim pasang besar datang lebih ganas dari biasanya, dan Sri Gemilang sedang penuh — bukan cuma muatan, tapi orang. Seluruh orang penting kampung naik di atasnya, pulang dari perayaan di kota seberang. Empat puluh tujuh orang." Suaranya merendah. "Kapal itu karam di mulut muara, tepat di tempat menara sekarang berdiri. Bukan karena badai. Cuacanya tenang. Pasang naik diam-diam, lebih tinggi dari yang pernah, dan menyeret Sri Gemilang ke lumpur isap di dasar muara, dan menahannya di sana sampai semua di atasnya tenggelam. Empat puluh tujuh orang. Tidak ada satu pun jasad yang ditemukan. Muara ini tidak pernah mengembalikan yang diambilnya."
Sahala mengingat kata-kata nelayan itu. Penuh orang. Tidak ada satu pun yang—
"Setelah itu," lanjut Wak Karib, "muara berubah. Tiap pasang, sesuatu naik. Pertama nelayan yang melaut malam tidak pernah pulang. Lalu anak-anak yang main di tepi waktu pasang. Muara mengambil dan mengambil, seolah empat puluh tujuh tidak pernah cukup, seolah yang di bawah ingin menyeret seluruh kampung turun menemani mereka. Sampai datang seorang tua — kami menyebutnya nenek moyang penjaga pertama — yang membuat perjanjian. Bukan dengan setan, jangan kau bayangkan begitu. Dengan muara itu sendiri, dengan yang di bawah. Perjanjiannya begini: kampung mendirikan menara di atas bangkai Sri Gemilang, dan selalu ada satu orang menjaga di sana tiap malam, menyalakan cahaya saat pasang, mematuhi aturan-aturan yang menahan batas tetap utuh. Selama penjaga itu ada dan patuh, yang di bawah tetap di bawah. Penjaga itu jadi pasaknya. Jadi pengikatnya. Kampung boleh hidup tenang di darat, asal selalu ada satu yang berjaga di air."
"Satu nyawa," kata Sahala pelan, "untuk menebus kampung."
"Satu nyawa yang menyerahkan dirinya tiap malam, sukarela, supaya ribuan tidak diambil paksa. Itu sebabnya kampung memunggungi menara, Nak. Bukan karena mereka tidak peduli. Karena mereka malu. Tiap keluarga di kampung ini hidup karena ada orang asing yang dibayar untuk jadi pasak di air sana, dan mereka tidak sanggup menatap matanya." Wak Karib menatap Sahala lurus. "Aturan-aturan itu menjaga batas. Tiap aturan menutup satu cara yang dipakai yang di bawah untuk menarik penjaga keluar dari ikatannya. Sapaan, lonceng, wajah orang tercinta — semua itu pintu. Aturan menutupnya. Selama semua pintu tertutup, perjanjian utuh."
Sahala mengeluarkan kertas Lahmudin, jarinya menunjuk baris yang membuatnya tidak bisa tidur. "Aturan kedua belas. Dia bilang itu melindungi orang lain, bukan dirinya. Dia melanggarnya untuk menyelamatkan seseorang, dan dengan begitu malah menyerahkan orang itu. Apa isinya, Wak? Anda penjaga juga. Anda pasti tahu."
Untuk pertama kali, Wak Karib tampak takut. Ia menatap kertas itu lama, lalu menggeleng pelan, dan ketika ia bicara suaranya nyaris tidak terdengar. "Aturan kedua belas tidak pernah dituliskan sama untuk dua penjaga, Nak. Karena ia berubah. Ia menyesuaikan diri dengan tiap penjaga. Punyaku berbeda dari punya Lahmudin, dan punyamu akan berbeda dari kami berdua. Yang sama cuma maksudnya: ia melarangmu melakukan satu hal yang paling ingin kau lakukan demi orang yang paling kau cintai. Itu sebabnya tintanya kau temukan terhapus. Bukan karena air. Karena ia belum memilih bentuknya untukmu. Ia akan menulis sendiri di kepalamu pada malam yang tepat." Ia mencengkeram lengan Sahala. "Dan malam itu dekat. Pasang besar tahunan tiga malam lagi. Lihat sendiri — air sudah naik lebih cepat tiap hari, kan? Itu tandanya. Tiga malam lagi semua aturan diuji sekaligus, dan yang di bawah akan datang dengan wajah yang tidak akan bisa kau tolak. Kalau kau ingin selamat — kalau kau ingin ibumu selamat — kau harus tahu satu hal sebelum malam itu. Kau harus cari anak Lahmudin. Salim. Dia satu-satunya yang masih hidup yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di malam terakhir bapaknya."