Bab 3: Awal Kerja Sama
Pembukaan
Pagi itu, Nadia terbangun dengan semangat baru. Ia menatap laptopnya, membaca ulang email dari Arga yang berisi konsep desain awal kedainya. Logo dengan tema ungu pastel dan aksen hijau terlihat lebih hidup, persis seperti yang ia bayangkan.
“Orang ini memang berbakat,” pikir Nadia sambil tersenyum kecil. Meskipun mereka sering berdebat tentang detail kecil, hasil kerja Arga selalu mengesankan. Hari ini, mereka sepakat untuk bertemu langsung di ruko yang akan menjadi kedai Nadia.
Pekerjaan Dimulai
Di lokasi, Arga datang tepat waktu, membawa laptop dan tablet grafisnya. Dengan hoodie hitam khasnya, ia memeriksa setiap sudut ruangan. “Tempat ini kecil, tapi potensial,” komentarnya.
Nadia mengangguk. “Aku ingin suasana kedai yang nyaman, cocok untuk anak muda, tapi juga ramah keluarga.”
Arga mendekati dinding yang kusam. “Kamu perlu warna terang untuk bikin ruangan ini terasa luas. Warna dasar ungu pastel oke, tapi kita tambahkan elemen kayu biar ada kesan natural. Dan kursi yang ergonomis—bukan yang bikin pelanggan nggak betah duduk lama-lama.”
“Setuju,” jawab Nadia antusias. “Tapi budget-ku terbatas. Jadi kita harus cari cara kreatif buat eksekusi ide ini.”
Arga tersenyum tipis. “Kamu cukup kasih tahu apa yang kamu mau. Sisanya, biar aku yang pikirkan.”
Diskusi yang Intens
Seiring kerja sama berjalan, perbedaan gaya kerja mereka mulai terlihat jelas. Nadia cenderung spontan dan penuh ide baru, sementara Arga lebih metodis dan terstruktur.
“Kita tambahkan mural di dinding ini,” usul Nadia sambil menunjuk tembok kosong di pojok. “Sesuatu yang eye-catching buat Instagram.”
Arga mengerutkan dahi. “Mural itu bagus, tapi kalau terlalu ramai, bisa ganggu tema minimalis yang kita sepakati.”
“Tapi pelanggan suka tempat yang Instagrammable,” Nadia bersikeras.
“Kalau mereka datang cuma buat foto dan nggak beli apa-apa, apa gunanya?” balas Arga.
Meskipun argumen ini berakhir dengan kompromi—mural kecil dengan tema sederhana—Nadia mulai menyadari bahwa Arga punya perspektif bisnis yang tajam.
Kehangatan di Tengah Kerja Sama
Suatu sore, setelah beberapa jam berdiskusi tanpa henti, Nadia mengajak Arga makan di warung dekat lokasi ruko. Awalnya Arga menolak, tapi akhirnya setuju setelah Nadia terus memaksanya.
Saat mereka makan, Nadia membuka obrolan santai. “Jadi, kenapa kamu jadi desainer grafis? Kelihatannya kamu lebih suka kerja sendirian.”
Arga terdiam sejenak, lalu menjawab. “Dulu aku kerja di agensi besar. Tapi setelah tunanganku meninggal, aku nggak bisa lagi tahan tekanan di sana. Jadi aku memutuskan kerja freelance.”
Nadia terkejut, tapi ia mencoba menjaga nada suaranya tetap lembut. “Maaf kalau ini terlalu pribadi. Tapi pasti nggak mudah untuk kamu.”
Arga mengangguk pelan. “Sampai sekarang, masih susah. Tapi kerja kreatif seperti ini membantu aku fokus. Mungkin itu sebabnya aku lebih suka bekerja sendiri.”
Percakapan itu membuat Nadia merasa lebih dekat dengan Arga. Ia mulai melihat pria di depannya bukan hanya sebagai mitra kerja, tapi juga seseorang yang sedang berjuang dengan luka yang ia sembunyikan.
Progres Desain dan Perubahan Arga
Dalam beberapa minggu berikutnya, kedekatan mereka semakin terlihat. Arga yang awalnya pendiam dan kaku mulai menunjukkan sisi hangatnya. Kadang ia bercanda ringan, membuat Nadia tertawa. Bahkan, ia rela datang lebih pagi untuk membantu Nadia memilih bahan dekorasi di toko.
“Lihat kamu sekarang,” ledek Nadia suatu hari. “Arga si penyendiri ternyata bisa kerja bareng orang lain.”
Arga hanya tersenyum kecil. “Mungkin kamu aja yang terlalu keras kepala buat aku tolak.”
Hubungan kerja mereka menjadi lebih lancar, dan desain kedai perlahan mulai terbentuk. Meskipun masih banyak yang harus dikerjakan, Nadia merasa semakin optimis.
Penutup Bab
Malam itu, setelah seharian bekerja, Nadia menatap ruangan ruko yang kini mulai terlihat seperti kedai impiannya. Ia duduk di salah satu kursi, menatap Arga yang sibuk dengan tablet grafisnya.
“Terima kasih,” katanya pelan.
Arga menoleh. “Untuk apa?”
“Untuk membantu aku sejauh ini.”
Arga hanya mengangguk, tapi dalam hati, ia merasa bahwa membantu Nadia bukan sekadar pekerjaan. Ada sesuatu yang perlahan mengubah pandangannya—dan mungkin, perasaannya.