David mendengus saat melihat kedai es kelapa itu tertutup, tangannya berkacak pinggang sementara jas yang ia kenakan secara rapi tadi sudah tergantung di pundaknya. Kini, hanya tersisa kemeja putih polos yang melekat di tubuhnya.
Laki-laki itu menjatuhkan tubuhnya di salah satu kursi panjang yang terdapat di luar kedai. Tangannya merogoh ponsel di saku celana bahannya. David menimang-nimang ponselnya dengan menatap salah satu kontak yang sedang ia lihat.
"Terpaksa ini gue. Terpaksa," gumamnya seraya menekan-nekan layar ponselnya.
David R. Amru : gue ada di dkt rumah lo
Tidak butuh waktu berapa lama, ponselnya langsung bergetar.
Alana Putri A. : trs?
David mendesis. Ia meletakkan ponselnya di atas kursi. Malas membalas pesan Alana yang terlampau singkat dan menyebalkan. David melirik ponselnya saat ponsel itu bergetar menandakan masuknya sebuah notifikasi.
Alana Putri A. : lo mau gue nyusulin lo kan? ya kan? lo pasti minta gue temenin lg, ya kan dav? ok, gue kesana. tunggu bentar
David menarik senyum tipisnya, ia mengunci layar ponselnya kemudian menyakukan ponselnya, setidaknya begini lebih baik.
---
Alana langsung melompat dari kasurnya begitu mengirim pesan kepada David. Ia mengeluarkan seluruh isi tas sekolahnya, membawanya ke dapur dan mengisinya dengan berbagai snack yang tadi sore dibeli oleh Kevin.
Dengan bersemangat, Alana menyampirkan tali tas di bahunya, dengan memakai sandal rumahan, Alana keluar dari halaman rumah besarnya dan berjalan kaki menuju David. Jaraknya tidak terlalu jauh, kurang lebih hanya tiga ratus meter.
"Dav?" panggil Alana hati-hati karena ia menemukan laki-laki itu sedang menundukkan kepalanya.
David mendongak dan begitu melihat Alana, ia menarik senyum tipis. Alana menghela napas lega, gadis itu berjalan menuju David dan duduk di sebelahnya.
"Ngapain malem-malem di sini? Nyari es kelapa?"
"Nggak."
"Terus ngapain?"
David hanya menggeleng kecil membuat wajah Alana masam seketika. "Lo nyuruh gue ke sini cuman buat liat lo berubah jadi patung?"
"Gue kan nggak ada nyuruh lo ke sini."
Alana terkejut tentu saja. Dengan kesal ia bangkit dari kursi itu. "Oh gitu? Ya udah, gue pulang!"
David terkekeh kecil membuat Alana yang hendak berjalan menghentikan niatnya.
"Apa sih ketawa-ketawa?!"
"Becanda, duduk sini."
Alana menatapnya tidak percaya, namun ia tetap duduk juga dengan memangku tas yang berisi snack milik Kevin.
"Lo dari mana? Bajunya gini amat."
"Acara."
"Oh," sahut Alana santai seraya membuka tasnya dan mengeluarkan salah satu snack milik Kevin.
David meliriknya dan Alana pun langsung menawarkannya tepat di depan wajah David. "Mau?"
Laki-laki itu mengangguk kecil seraya mengambil isi snack itu. Keheningan menyelimuti mereka, David terdiam karena memikirkan perjodohan tadi, sementara Alana, ia masih bingung apa yang harus ia katakan.
"Dav?"
"Lan?"
Anjir ga danta banget, batin Alana.
"Oke, ladies first," ujar David mempersilahkan Alana.
"Ngga apa-apa sih, heran aja kenapa lo ke sini. Nggak mungkin kan malem-malem nyari es kelapa?"
"Emang enggak," sahut David kalem. Pandangannya masih terkunci pada jalanan yang tampak lengang. Kedai es kelapa ini memang berada di wilayah perumahan, jadi jangan heran, kalau jam segini jalanan tampak sunyi.
"Terus?" tanya Alana seraya memasukkan potato ke mulutnya.
"Iseng aja."
Alana memandang David penasaran, ia tentu saja kurang puas dengan jawaban David. "Terus ngapain line gue?"
"Iseng aja."
Alana mendengus keras dan spontan memukul lengan David. "Jawabnya itu mulu buset dah!"
David menoleh menatapnya, memandangi wajah gadis itu dari dekat, memandangi bagaimana wajah gadis itu yang tampak polos tanpa polesan make up sedikit pun, tampak cantik dan manis di saat yang sama.
"Apa sih? Kok ngeliatin gue?"
"Kalo gue bilang, gue ke sini nyari lo, gimana?" Alana tersedak makanannya mendengar itu, David tertawa kecil seraya menepuk pelan punggung gadis itu. "Pelan-pelan makannya."
‘Nggak jelas banget sih lo, hih."
---
"Alana pulang!" ujar Alana bersemangat seraya memasuki rumahnya. Dapat ia lihat, Kalila dan Althaf sedang duduk santai di sofa dengan Althaf merangkul bahu Istrinya itu.
"Dari mana?"
"Dari depan, Pa. Tadi ada temen," sahut Alana seraya berjalan ke dapur. Tenggorokannya seret karena tadi ia memang tidak membawa air.
"Yan, buset dah, lo abisin jajan yang gue beli tadi?" Alana yang melintasi kedua Abangnya yang sedang duduk di meja makan terkejut ketika Kevin bertanya seperti itu ke Dean.
"Enggak, Bang, serius dah. Gue ambil satu aja tadi."
"Masa Mama sama Papa sih? Mereka kan tau gue beli snack buat nugas nanti."
Dean mengedikkan bahunya kemudian menatap Alana yang sedang meneguk air mineralnya.
"Lo ya, Dek?" Nyaris saja Alana menyembur air yang sedang diteguknya jika ia tidak cepat-cepat menelannya.
Gadis itu cengengesan seraya menatap kedua Abangnya yang sedang memperhatikannya. Dengan gerakan perlahan, ia membuka resleting tasnya dan mengeluarkan bingkisan permen yang tersisa setengah.
"Hehe, tadi Alana ada temen, nggak sempet belanja, jadi Alana ngambil di kulkas. Nggak apa-apa kan, Bang?"
Kevin menghela napas seraya menjatuhkan tubuhnya di salah satu kursi makan yang berada di sebelah Dean. "Bilang dulu kalo mau minta. Ya udah, nggak apa-apa."
"Makasih, Abang!" ujar Alana girang seraya mengecup singkat dahi Kevin, kemudian berlari menuju ruang keluarga, menuju Mama dan Papanya.
---
"Kamu sadar nggak sih, tindakan kamu tadi tuh malu-maluin! Kamu nggak mikir mau di mana ditaruh muka Nenek gara-gara kamu pergi gitu aja?! Demi Tuhan, David, Nenek kecewa sama kamu. Sangat kecewa."
David hanya diam menunduk, sama sekali tidak ada keinginan untuk menjawab perkataan Amru. Toh, apa saja yang ia katakan, Amru akan tetap menyalahkannya.
"Nenek cuman minta ini aja sama kamu, kenapa susah kamu turutin? Kenapa langsung pergi gitu aja?"
"David nggak suka, Nek."
"Ya kalo nggak deket gimana mau suka? Coba aja dulu, Ralin cantik anaknya," ujar Amru masih membela Ralin.
"David nggak peduli dia cantik atau nggak."
"Dav, please, seengganya coba aja dulu."
David menghela napas seraya menyugar rambutnya ke belakang. "Satu syarat, Nek."
"Apa?"
"David mau alamat Mama. Bisa?"
o0o
Hampir seluruh anak kelas dua belas riuh membicarakan kegiatan camping yang akan diadakan hari sabtu ini. Alana dan kedua temannya pun tidak luput.
"Males banget gue, hih! Masa bisnya diacak sih? Nggak asik lah gabung sama kelas lain," gerutu Reva dengan dahi mengerut dan bibir mengerucut sebal.
"Ya, gimana ya, lo kaya nggak tau sekolah ini aja deh," sahut Alana santai. Sejak jaman Kevin dan Dean dulu, peraturan di sekolah ini memang seperti itu, alasannya agar siswanya saling kenal walaupun berbeda kelas.
Ralin sedari tadi hanya diam, hanya memperhatikan dua temannya dengan pandangan menerawang. Minuman yang sedari tadi ia pesan pun hanya diaduk asal-asalan.
"Lo kenapa dah? Diem mulu!" Ralin terkejut saat Reva tiba-tiba menepuk pundaknya. Ralin menatap kedua temannya bergantian kemudian menggeleng.
"Nggak apa-apa sih."
"Oiya, gimana semalem? Udah ketemu sama cowok yang mau dijodohin sama lo itu?" tanya Alana setelah menyeruput es tehnya.
"Oh, udah kok."
"Kok lo lemes gitu?" tanya Reva bingung.
"Cowonya kaya nggak suka sama gue gitu," sahut Ralin lemas dengan diiringi helaan napasnya.
"Lah, kenapa? Lo kan cantik," sahut Alana. Ralin tersenyum, senyum yang entah apa maksudnya.
"Tapi tenang, gue bakal buat dia suka sama gue."
"Bagus!" sahut Reva.
"Itu baru temen gue!" sambung Alana seraya menepuk bahu Ralin.
Ralin tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi kedua temannya saat mereka tau siapa yang akan dijodohkan bersama dirinya nanti. Apalagi, Ralin tau, akhir-akhir ini salah satu temannya sedang dekat dengan David. Ralin bingung sendiri, bagaimana ia harus bersikap?
Posisi Reva yang menghadap tepat ke pintu masuk, menggerakkan dagunya ke arah pintu masuk kantin. Alana dan Ralin mendongak dan mata mereka pun bertabrakan dengan mata tajam milik David.
"Lan, dicari tuh," ujar Reva.
"Ngap--"
"Engga, gue cari Ralin," potong David cepat dan tanpa banyak bicara langsung menarik tangan Ralin menjauhi dua gadis itu. Alana akui, ia merasa terkejut dan sedikit berharap.
Reva sendiri tampak salah tingkah begitu melihat raut pias Alana. Gadis itu mengusap tengkuknya dan berkali-kali membasahi bibirnya, berusaha mengurangi kegugupannya.
---
"Kenapa?" tanya Ralin tepat sesaat setelah David melepas tautan tangannya. David memasukkan kedua tangannya ke saku celana seraya menatap Ralin yang sedang bersandar di dinding koridor.
"Gue mau minta maaf buat semalem," ujar David pelan tanpa intonasi apapun dan itu jelas membuat Ralin semakin kikuk.
"Oh oke, iya nggak apa-apa."
"Gue cuman kaget aja. Lo ngerti kan?"
Ralin mengangguk dengan seulas senyum tipis. "Iya, ngerti kok. Pertamanya gue juga kaget."
"Ya, dan gue mau lo jangan cerita sama siapa pun tentang perjodohan kita."
"Kenapa?"
David terdiam. Tidak tau harus menjawab apa.
"Ada hati lain yang sedang lo jaga?"
Dan pada saat itu juga David merasakan dadanya bergemuruh tanpa alasan yang jelas.
To be continued...