Alana yang pulang lebih sore karena menemani Ralin berlatih cheers mengerutkan dahinya ketika ia berjalan memasuki kawasan parkir. Dilihatnya, David sedang mondar-mandir di sekitar mobilnya dengan raut wajah yang tampak kesal.
David memang tidak pulang bersama teman-temannya karena mereka menuju kosan Karel. Dan, hari ini David tidak bisa ikut, jadilah ia di sekolah sendiri tanpa teman-temannya.
Alana ambigu, apakah harus menghampiri David atau tidak. Setengah dari dirinya ingin menghampiri laki-laki itu, tapi setelahnya lagi berpikir lebih baik meninggalkannya.
"Lan?"
Alana terkejut saat David menatapnya dan memanggilnya dengan sedikit kaku. Alana yang tadinya hendak menjauh kini mau tidak mau ia berjalan menghampiri David.
"Ngapain?"
"Lo bawa motor ‘kan?"
Alana diam sebentar, kemudian mengangguk. "Iya, kenapa emang?"
"Pinjem sebentar, mau ke bengkel, ban gue pecah."
"Telfon kan bisa?" tanya Alana memberi pilihan.
"HP gue mati, pinjem sebentar aja, nanti gue isiin bensin," ujar David tidak sabar, ia ada janji dengan Amru dan ia tidak mau mengingkarinya. “Please?”
Alana mendengus pelan, ia merogoh tasnya kemudian melemparkan kuncinya ke arah David. "Fullin ya bensinnya, lo ‘kan orang kaya."
"Iya, iya," dengus David seraya berjalan menuju motor Alana yang berwarna merah muda. David bergidik geli sebelum mengendarai motor itu. Sementara Alana, ia terduduk di atas tembok beton yang membatasi halaman parkir.
Alana yang dari tadi diam saja, seketika terkejut saat merasakan dering notifikasi dari ponselnya.
Ralin Meccana : anjir lan nanti malem gue mau diajak dinner
Alana Putri A. : ha? sm sapa dah?
Ralin Meccana : cowok yg katanya mau dijodohin sm gue itu loh
Alana Putri A. : anjir serius? wah saik dah. pap jan lupa
Raline Meccana : blm jg apa apa kampret
Alana Putri A. : ya pokonya pap
Ralin Meccana : sip sip
Alana tidak kembali membalas, ia mendongakkan wajahnya karena mendengar deru mesin motor mendekatinya, dan itu David.
"Loh? Kok cepet?"
"Tutup bengkelnya."
Alana tertawa mengejek melihat wajah masam David, ia mengambil kunci motornya dari tangan David dan sudah bersiap akan naik ke motor, namun terhenti karena David tiba-tiba menarik lengan seragam Alana.
"Eh buset, apaan?" tanya Alana kaget.
"Gue... nebeng boleh?"
Alana kembali tertawa dengan puas. David benar-benar terlihat menggelikan hari ini, laki-laki itu memang mempertahankan raut kakunya tapi wajah tertekuk tidak dapat ia sembunyikan.
"Boleh, tapi gue yang bawa motornya," ujar Alana dengan jail.
"Eh? Gue aja yang bawa, biar gue yang bonceng lo."
"Nggak. Ini motor siapa? Motor gue ‘kan? Yang berhak siapa? Gue juga ‘kan? Dan, lo itu cuman nebeng jadi jangan banyak cincong," ujar Alana menjengkelkan seraya naik ke atas motornya dan memakai helm merah muda kebanggaannya.
"Gue aja yang bawa kenapa sih?" ujar David masih berusaha agar ia saja yang membawa motornya.
"Bawel banget sih. Lo malu ya digonceng sama cewek? Ya udah, lo pulang aja sendiri sambil dorong mobil mahal lo ini. Gue duluan ya," ujar Alana lagi seraya menarik gas motornya yang mau tak mau membuat David sedikit panik.
Ingat, sedikit panik.
"Oke! Oke! Lo bonceng gue," ujar David yang akhirnya menyerah. Ia membuka kunci mobilnya kemudian mengambil tasnya yang ada di dalam. Dengan sedikt membanting pintu mobil, David menutup pintunya.
Ia berjalan mendekati Alana kemudian duduk di belakang gadis itu. Alana terkekeh jahat. Ia menjalankan motornya setelah merasa David sudah duduk dengan benar.
"Belok ke mana nih?" tanya Alana dengan sedikit menolehkan kepalanya ke belakang.
"Kanan," sahut David singkat. Laki-laki itu malu sekali karena menerima pandangan aneh dari orang yang melihat mereka. Tubuh Alana itu mungil, sementara David memiliki tubuh yang jangkung. Tidak heran jika orang-orang menatap mereka aneh.
"Anjing, malu gue," desis David, kemudian ia menjatuhkan wajahnya di bahu Alana sementara tangannya bergerak melingkari pinggang pas-pasan milik gadis itu.
Alana yang sedari tadi cengengesan spontan saja wajahnya berubah menjadi kaku. Suhu di wajahnya pun rasanya panas sekali, jantungnya berdegup tidak beraturan karena merasakan sentuhan David yang tidak terduga.
"Ih! Apa-apaansih! Lepas, Dav!"
"Nggak, malu," ujar David dengan suara teredam.
"Dav!"
"Belok kiri buruan."
Alana mendengus namun tetap mengikuti arahan David.
"David, gue serius!"
"Nggak!"
"Dav!"
"Enggak, b***k!"
Alana menggerutu kesal sekaligus malu. "Lepas atau motornya gue tabrakin tembok?"
David dengan cepat melepas pelukannya dan tangannya spontan bergerak menoyor kepala Alana dari belakang, Alana melotot kaget karena perbuatan David tadi membuat motornya goyang sepersekian detik.
"Ee buset!"
"Tuh depan ada perumahan, masuk sana." Alana tidak menyahut. Ia menjalankan arahan David dan tidak membutuhkan waktu lama, David sudah menyuruh Alana berhenti tepat di depan rumah yang memiliki ukuran yang sangat besar.
Alana berdecak kagum. "Gila, ini rumah lo?"
"Bukan, Nenek gue."
"Sama aja," ketus Alana.
"Makasih," ujar David cepat seraya menatap Alana, Alana yang masih terfokus pada besarnya rumah David langsung menoleh menatap laki-laki itu.
"Ha? Lo bilang apa?"
"Makasih."
"Oh." Alana ber-oh ria, seraya memalingkan wajahnya, namun sedetik kemudian, ia kembali menatap David. "Makasih doang?"
David mengerutkan dahinya. "Apalagi?"
"Di dunia ini ga ada yang gratis, dan btw lo belum isiin motor gue bensin."
David mati-matian menahan tangannya untuk tidak bergerak menoyor dahi Alana yang terekspos secara jelas. Ia merogoh saku celana belakangnya, mengambil dompet kemudian mengeluarkan selembar uang seratus ribuan.
"Nih, makasih," ujar David seraya mengambil tangan Alana dan meletakkan uang itu di atas telapak tangannya.
"Hehe asik," girang Alana seraya melipat selembar uang itu. Namun uang itu tidak ia masukan ke sakunya. Ia meraih tangan David dan kembali menyerahkan uangnya. "Becanda kok, udah ya, gue balik," ujar Alana dengan senyum yang menyenangkan menurut David. Bukan senyum jahat yang ia tampilkan saat di sekolah tadi.
David hanya bisa diam saat melihat Alana memutar motornya, kemudian meninggalkannya sendirian di depan gerbang. David tersenyum kecil seraya memasukkan uangnya ke saku seragamnya.
"Ada-ada aja."
---
Suasana rumah selalu dalam keadaan sepi jika Alana pulang sekolah. Abang-abangnya pasti sedang sibuk di kampus, sementara Kalila, ia lebih sering ikut Althaf bekerja untuk menemaninya. Sudah sejak satu tahun lalu mereka tidak mempekerjakan asisten rumah tangga secara rutin. Asisten rumah tangga hanya datang seminggu sekali atau tidak pada saat ada acara-acara tertentu.
Alana berjalan menuju kamarnya di lantai dua dengan langkah teramat gontai. Ia lelah dan ia butuh tidur. Baru saja ia membuka pintu kamarnya, hawa dingin dari AC langsung menyerangnya.
Ia menatap kasurnya dan tebakannya benar, Dean lebih suka tidur siang di kamar Alana dengan disirami hawa dingin dari AC.
"Abang," ujar Alana seraya mengguncang lengan Dean.
Dean hanya bergerak kecil dan menggumam.
"Pindah gih, Alana juga mau tidur."
"Tidur sini aja sih, Dek," gerutu Dean masih dengan mata terpejam.
Dengan sedikit mengerucutkan bibir, Alana naik ke atas kasur dan langsung memunggungi Dean yang tidur dalam posisi telentang.
"Bang?"
"Hm?"
Alana terdiam sebentar, ia berdeham beberapa kali dengan otak berpikir cepat.
"Kalo suka sama orang itu rasanya gimana?"
o0o
"Nek, ini kita mau ke mana sih?" tanya David yang kini sudah berada di dalam mobil bersama Amru. Amru sesekali menoleh ke arahnya kemudian tersenyum.
"Ketemu sama klien Nenek."
"Kok David ikut?"
Amru kembali menatapnya. "Kan emang biasa gitu."
"Tapi ini kaya nggak biasanya. Baju David terlalu rapi."
"Nggak, ah. Kamu ganteng gini."
David tidak menyahut. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran mobil. Harusnya is tidak usah bertanya, Amru pasti akan selalu menjawab begitu.
Setelah hampir lima belas menit berada di jalan, mobil milik Amru berhenti di sebuah restoran yang David tau jelas bahwa ini adalah salah satu restoran yang sering dijadikan tempat untuk pertemuan orang-orang penting.
Mereka masuk ke dalam setelah meninggalkan tanda tangan di buku tamu. Untuk beberapa saat, David duduk tenang di kursinya. Namun, begitu melihat sebuah keluarga kecil berjalan mendekati mejanya dengan Amru, David merasakan sesuatu yang aneh.
Ralin? batin David. Namun, ia masih diam saja.
"Selamat malam, Bu," ujar seseorang yang David perkirakan Ayah dari Ralin.
"Malam, silahkan duduk," ujar Amru sopan seraya mempersilahkan keluarga itu untuk duduk di hadapannya.
Amru menatap ke arah Ralin. "Cantik ya, cocok sama David."
David menoleh cepat ke arah Amru. "Nek?"
"Kenapa? Cantik ‘kan? Nenek suka sama Ralin dan Nenek mau kamu sama dia."
Ralin jelas terkejut mendengarnya, wajah gadis itu merah padam menahan malu. David terdiam dengan wajah tidak habis pikir.
"Kalian satu sekolah ‘kan? Saling kenal ‘kan?"
"Iya, Nek. Aku kenal David, nggak aku aja malah, satu sekolah juga kenal David."
Amru tertawa mendengar penuturan malu-malu Ralin. David yang memang tidak suka suasana kaku yang dipaksakan terasa hangat itu langsung bangkit dari kursinya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, David pergi seraya melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya.
"David! David!" teriak Amru tertahan, ia harus tetap menjaga imagenya di hadapan salah satu koleganya.
David mengabaikan panggilan itu, ia berjalan ke pinggir jalan dan memberhentikan sebuah taksi. Sebenarnya ia tidak tau mau ke mana, tapi setelah mengingat tempat terakhir yang ia kunjungi yang bisa membuatnya nyaman, laki-laki itu menyebutkan sederet kalimat.
"Jalan Imam Bonjol."
Jalan yang mengarahkannya ke kedai es kelapa sederhana siang itu.
To be continued...