"Alana?"
Alana yang baru saja hendak keluar dari kantor guru setelah menyerahkan kertas tugas milik teman-temannya kembali menoleh ke dalam area kantor guru, mencari tahu kira-kira guru siapa yang memanggilnya barusan.
"Nak, Ibu yang manggil."
Kepala Alana menoleh ke arah kiri dan menemukan guru Bahasa Inggris yang ternyata memanggilnya, Bu Meta.
"Iya, Bu. Kenapa?" tanya Alana seraya berjalan mendekat ke meja Bu Meta.
"Tolong ambilin kamus Ibu yang ketinggalan di meja perpus, ya?"
"Kamus Ibu kaya gimana, ya?"
"Warna biru, ada namanya kok di sampulnya."
Alana mengangguk paham. "Oh, iya, Bu."
Gadis itu pun keluar dari kantor guru dengan sedikit menghembuskan napasnya, perpustakaan lumayan jauh dari kantor guru dan itu tandanya Alana membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk masuk ke dalam kelas. Mata Alana melirik ke arah lapangan basket saat menemui beberapa anak bermain di sana.
"Gila, panas-panas gini main basket," gumamnya kecil, kemudian dengan sedikit berlari ia meninggalkan koridor itu agar cepat sampai ke perpustakaan.
Begitu sampai di perpustakaan, mata Alana bergerak ke seluruh meja-meja yang ada di ruangan ini. Meja di ruangan ini banyak dan Bu Meta tidak memperjelas di meja mana.
"Eh, b**o banget gue. Pasti di meja pengurus perpustakaan lah," gerutunya sendiri dan langsung memutar tubuhnya menuju meja paling depan.
"Ha! Got you!" pekiknya seraya menyambar buku itu dan langsung keluar dari perpustakaan. Alana berlari-lari kecil di koridor yang sepi itu karena memang ini masih jam pelajaran.
"Woi cewek, minggir!" Alana spontan berhenti berlari dan langsung menoleh ke samping, ke arah lapangan.
Bugh!
Belum sempat mengerjap, wajah Alana sudah lebih dulu dihantam oleh bola oranye itu. Alana jatuh tidak bergerak, hidungnya sedikit mengeluarkan darah karena benturan yang lumayan keras.
Anak-anak yang sedang bermain basket itu pun langsung mendekati Alana, David sang tersangka lah yang berlari paling depan.
"Mampus! Pingsan, Dav, nih anak," ujar Karel seraya mengacak rambutnya.
David yang ikut-ikutan panik tanpa pikir panjang langsung menggendong Alana menuju UKS. David tidak peduli jika orang-orang memandangnya terkejut karena tidak terbiasa melihat David yang seperti ini. Biasanya, jika David melakukan kesalahan, ia hanya diam saja dan baru mau bertanggungjawab jika sudah dipaksa.
Menyebalkan memang.
“Loh kenapa ini temannya?” sapa guru yang bertugas di UKS.
“Kena bola basket, Bu,” sahut David singkat seraya meletakkan tubuh Alana dengan hati-hati di kasur UKS, tangannya bergerak cepat mengambil beberapa tisu untuk membantu membersihkan sedikit darah yang mengalir dari hidung gadis itu.
"Ini hidung nggak patah kan, Bu?” tanya David polos yang hanya dijawab dengan kekehan guru tadi.
“Nggak kok, kayaknya cumin luka kecil aja hidungnya. Kamu mau di sini atau—“
“Di sini aja deh, Bu. Nggak apa-apa ‘kan?”
“Yaudah, sekalian titip Alana, ya? Ibu mau ke kantor guru sebentar.” David hanya mengangguk sebagai jawaban seraya menarik sebuah kursi besi untuk diletakkan di sebelah brankar yang ditempati Alana.
David tertawa kecil saat melihat name tag gadis itu dan menyadari bahwa gadis yang sedang pingsan ini adalah gadis yang selalu memandangnya dengan aura permusuhan yang kuat.
David memang tidak pernah mengenal Alana secara langsung, memang sering mendengar namanya tapi itu hanya sekilas dan David akan lupa lagi. Tapi beberapa hari ini, setelah beberapa kali ia melihat Alana, ia mulai hafal wajah gadis itu.
Lama menunggu Alana sadar, tangannya mengambil ponsel dan earphone yang bersemayam di saku celana abunya.
Dengan duduk bersandar, David menjejalkan earphone itu di kedua telinganya sementara pandangannya masih terfokus pada Alana yang masih pingsan namun terlihat seperti orang tertidur.
Matanya jelas menangkap bulu mata Alana yang amat lentik, alisnya pun terbentuk sempurna dan lumayan tebal. Hidungnya kecil tapi mancung, bibirnya berwarna merah jambu membuat David tersenyum tanpa sadar.
"Pikiran gue," gumamnya masih berusaha menahan senyum gelinya dengan kepala menggeleng pelan tidak menyangka.
"Auwh hidung gue."
David yang baru saja fokus pada ponselnya segera mendongak saat mendengar Alana mengeluh seraya menyentuh hidungnya yang masih memerah.
"Perih, ya?" tanya David spontan, tangannya menjejalkan earphone dan ponsel di saku celananya.
Mendengar suara itu membuat Alana langsung menoleh ke arah tempat David duduk.
"Lo ngapain di sini?" tanyanya sangsi.
"Maaf, gue tadi—"
"Hah? Lo bilang apa?"
David mendengus pelan, berusaha sabar. "Maaf, tadi gue nggak sengaja lempar bola basket ke arah lo."
"Maaf lo bilang? Kalau hidung gue patah gimana? Gue nggak mau ya oplas-oplas gitu, walaupun hidung gue kecil gue tetep bersyukur punya hidung, gue nggak mau sedikit pun tubuh gue kena sentuhan opl—"
"Emangnya hidung lo patah?" tanya David cepat guna menahan omongan yang tidak terlalu penting dari mulut gadis yang masih dalam posisi berbaring itu.
"Ya mana gue tau kalau nggak diperiksain ke dokter."
"Oke, pulang sekolah kita periksa."
Alana mengerjap kaget dan langsung mendudukan dirinya. "Kita? Mungkin maksud lo, gue dan lo ya."
David lagi-lagi mendengus. "Terserah apa kata lo," ujarnya dan langsung berbalik menuju pintu UKS.
"Eh? Mau ke mana?"
"Mau ke kelas lah," sahut David dan langsung hilang di balik pintu itu. Alana mendengus pelan dan kemudian ia tersadar, tadi kan dia disuruh oleh Bu Meta untuk mengambil kamus.
"Mampus lah gue," gumam Alana dan langsung berlari ke luar UKS menuju koridor tempatnya jatuh pingsan tadi. Nihil. Koridor itu kosong, tidak ada kamus yang ia cari.
Akhirnya, Alana berjalan ke kantor guru dengan tangan kosong. Biarlah ia dimarah, toh tadi ia tertimpa musibah karena disuruh oleh Bu Meta.
"Permisi, Bu," sapa Alana sopan kepada Bu Meta yang entah sedang menulis apa.
"Oh, kenapa, Nak?"
"Bu, maaf kamusnya—"
"Oh, kamusnya udah dibawain tadi sama anak-anak IPS tiga, katanya tadi kamu kena bola, ya?"
"Oh hehe, Iya, Bu. Tapi nggak apa-apa kok, cumin kaget aja tadi" ujar Alana seraya menggaruk kepala belakangnya.
"Yaudah, sana kamu keluar. Sudah mau istirahat, nih."
"Iya, Bu. Permisi."
o0o
"Anjir! Kalau lo mau tau tingkah lo tadi itu kaya superhero yang kolornya di luar itu tau nggak? Haha anjir!"
David hanya diam dengan wajah memerah saat menjadi bahan candaan teman-temannya, sejenak ia berpikir kalau seharusnya ia tadi tidak perlu menolong gadis itu dan tetap dicap sebagai pria berhati keras.
"Tapi jujur, gue seneng lo kaya gitu, seenggaknya lo memastikan sama kita kalo lo masih manusia," ujar Aron seraya menepuk bahu David dan David membalas cepat dengan menempeleng kepala cowok itu.
"Sialan." Namun David tertawa.
"Terus gimana keadaan tuh cewek? Hidungnya nggak apa-apa kan?" tanya Rama. Mahluk yang lumayan normal di antara mereka selain David.
"Gue pikir baik-baik aja, tapi dia minta diperiksa. Kasian juga sih kalau patah."
"Iyalah, lo bisa dihajar sama abang-abangnya," sahut Karel seraya menguyah kacang yang tersedia di piring tepat di tengah meja. Sekarang memang jam istirahat.
"Tau dari mana dia punya kakak?"
"Kakaknya alumni sini. Kevin sama Dean," jawab Rama.
David berpikir sebentar. "Oh, yang katanya sering jadi juara umum itu?"
"Ya. Tau sendiri dulu anak-anak SMP pada ikutan suka sama mereka gara-gara mereka pintar."
Tidak heran kenapa Rama bisa mengenal Kevin dan Dean sejak enam tahun lalu, pada saat itu mereka masih kelas satu SMP, sementara Dean kelas Sembilan SMP DAN Kevin kelas satu SMA. Di sekolah mereka, gedung SMP dan SMA berada dalam satu kawasan yang sama hanya saja jelas berbeda gedung-- itu sebabnya kenapa teman-teman seangkatan Alana sempat mengenal Kevin dan Dean.
David tertawa kecil. Entah karena apa dan itu membuat teman-temannya lumayan curiga.
"Kenapa lo?"
"Nggak apa-apa."
o0o
"Gue harap lo nggak lupa sama omongan lo tadi." David rasanya ingin membenturkan kepalanya ke dinding saking terkejutnya melihat Alana berada di depan kamar mandi laki-laki.
Ini jam pulang sekolah dan suasana sekolah sudah sangat sepi.
"Lo bisa nggak tunggu gue di parkiran?" tanya David datar tanpa intonasi apapun.
"Enggak, gue nggak mau ya lo kabur lewat gerbang belakang."
"b**o, mobil gue di depan. Lagian, lo tau dari mana sih gue di sini?"
"Karel," sahut Alana santai seraya berjalan mendahului David. David pun tanpa diperintah langsung mengikuti gadis itu dari belakang.
Selama jalan di sepanjang koridor, tidak ada percakapan sama sekali yang keluar dari bibir mereka. Alana baru mengeluarkan suaranya saat mereka berada di parkiran. Alana menghentikan langkahnya dan memandang beberapa mobil yang parkir terpisah.
"Yang mana?"
"Apanya?" tanya David bingung.
"Mobil lo. Yang mana?"
David menyeringai. Ia mengeluarkan kunci dari saku celananya dan langsung menekan salah satu tombol di sana. Bersamaan dengan itu lampu sen salah satu mobil menyala dan membuat Alana terkejut bukan main.
"Anjir," gumam Alana begitu melihat mobil Range Rover berwarna putih tulang itu. Siapa yang tidak terkejut, jika melihat mobil semahal itu menjadi kendaraan pribadi seorang remaja berusia delapan belas tahun.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, David berjalan menuju mobilnya. Alana yang tersadar, sontak mengikuti langkah laki-laki itu.
"Gue masuk nih?" tanya Alana saat David membuka kaca jendela di samping kemudi.
"Menurut lo?"
Alana meringis sebentar dan dengan sedikit canggung memasuki mobil itu. "Gue nggak yakin ini mobil lo," ujar Alana.
"Emang bukan."
"Kan. Berapa perhari lo nyewa ini?"
"Ini punya nenek gue. Gue disuruh pakai." Mendengar itu, Alana spontan menoleh dan langsung mendengus.
"Ya, itu sih sama aja ini punya lo."
David tidak membalas, hanya tersenyum samar seraya memfokuskan pikirannya pada jalanan yang lumayan padat ini.
"Lo serius mau periksa hidung lo ke rumah sakit?" tanya David saat melihat Alana baik-baik saja. Alana pun langsung menyentuh hidungnya dan tidak merasakan apa-apa.
“Nggak sakit sih."
"Terus gimana?"
Alana diam sebentar, bingung juga. "Anter gue—"
Kruuk.
Alana terkejut dan spontan menekan perutnya. Bagaimana mungkin perutnya bisa berbunyi sekeras itu dan terdengar keluar sampai-sampai David ikut menoleh heran ke arahnya.
"Lo laper?"
Alana merasakan wajahnya memanas hingga ke telinga. David menoleh lagi kemudian tertawa geli.
"Kita makan aja sekarang, oke?"
To be continued...