"Dari mana, Dav?" David menghela napas saat suara Amru adalah suara yang pertama ia dengar setelah memasuki rumah besar ini. Bukannya tidak suka, suara Amru lembut tapi entah kenapa terdengar seperti penuh penekanan di setiap katanya.
"David tadi keluar bentar sama temen, Nek."
"Kenapa sih kamu seneng banget main-main nggak jelas gitu?"
David tidak habis pikir. Ia hanya telat pulang dua jam. "Nenek kenapa sih? David keluar cuman sebentar dan itu nggak ada pengaruh apapun buat Nenek."
"Emang nggak ada, tapi buat masa depan kamu pasti ada."
"Jangan sok tau, Nek."
"Apa?"
David sontak merapatkan mulutnya dengan raut wajah kaku. Ia kelepasan sungguh. Remaja itu semakin menegang saat melihat Amru berjalan mendekatinya.
"Nenek sudah berusaha merawat kamu supaya kamu punya etika, tapi ternyata Nenek kurang keras sama kamu."
Plak
David meringis pelan saat pipinya menerima tamparan pedih itu.
"David minta maaf," ujar laki-laki itu dan langsung berjalan cepat menaiki tangga menuju kamarnya, namun belum sempat David menghilang dari pandangan Amru, Amru kembali bersuara.
"Nanti malam Nenek berangkat ke Batam, Nenek harap kamu bisa bersikap sesopan mungkin."
David berhenti sebentar. Menyeringai. Dan, kembali berlari menuju kamarnya.
o0o
"Ma, aku tuh galau."
Alana yang baru saja memasuki rumah tidak bisa menahan tawanya saat mendengar suara Kevin seperti itu. Sontak, Kevin menoleh dan langsung mengangkat kepalanya dari bahu Kalila.
"Ini bocah dateng aja," gerutu Kevin kesal karena acara curhat dengan Kalila terganggu karena kehadiran adik bungsunya ini.
"Abang galau kenapa?" tanya Alana menggoda seraya menaik turunkan alisnya. Kevin yang kesal langsung melempar wajah Alana dengan salah satu bantal sofa yang ada di dekatnya. Alana yang terkejut tidak sempat menghindar.
"Aduhh! Sakit hidung Alana, Bang!" pekiknya seraya memegangi hidungnya yang kembali memerah karena dilempar bantal oleh Kevin.
"Hidungnya kenapa, Dek?" tanya Kalila seraya pindah duduk ke sisi kanan Alana. Kevin pun demikian, ia bergerak menuju sisi kiri Kalila.
"Hidung lo kenapa, Dek?"
"Tadi kena bola basket terus berdarah tapi it's okay, nggak patah kok."
Kevin yang mendengar itu spontan menoyor kepala Alana dengan penuh perasaan. "Songong amat."
"Bang! Adeknya lagi sakit juga," ujar Alana seraya memukul punggung tangan Kevin.
"Biarin, Ma. Kalau aku sakit aku bakal ngerepotin Bang Kevin terus," sahut Alana.
"Emang gue pik--"
"Mampus, Bang! Gue baru inget nanti malam ada reuni SMP!" Kata-kata yang akan dikeluarkan oleh Kevin tertelan begitu saja setelah melihat dan mendengar teriakan Dean seiring laki-laki itu berlari dari lantai dua menuju ruang keluarga.
"Ya terus apa mampusnya?"
"Gue kan abis putus, Bang. Apa kata temen-temen gue kalau gue dateng nggak bawa cewe?"
"Heh! Emang harus apa bawa cewe?" Kalila tiba-tiba menegur seraya melempar bantal sofa ke arah Dean.
"Itu tuh harga mati, Ma. Emang Mama mau aku diejekin nanti?"
"Yaudah, ngapain bingung-bingung? Ajak adek kamu aja."
"Siapa? Orang ini?" tanya Dean seraya menunjuk Alana dengan wajah jijiknya. Alana yang tersinggung langsung saja membuka tas sekolahnya dan melempar ke tubuh Dean.
"Jahat banget sih, Bang!" pekik Alana diiringi dengan Kevin yang tertawa seraya menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.
"Aduh bangs--astaghfirullahaladzim," ringis Dean menahan emosi seraya memelototi Alana.
"Bisa kan, Yan? Alana juga cantik kok," ujar Kalila seraya merapikan rambut Alana, "ya kan, Dek?"
"Iya dong," sahut Alana bangga seraya menatap Dean dengan menaik turunkan alisnya menggoda Dean.
"Ya masa aku ngajak bocah sih, Ma?"
"Bocah apa sih, Bang? Alana kelas tiga SMA tau!"
"Tetep aja lo nggak seumuran sama gue dan temen-temen gue yang lain."
Alana mengerucutkan bibirnya kemudian menatap Kalila.
"Udah ajak aja, Yan. Dari pada lo sendiri, gue sih aman ada Andien," sahut Kevin sengaja mengejek Dean. Dean mendengus seraya mengacak rambutnya.
"Yaudah, yaudah, jam tujuh lo harus sudah siap, Dek," ketus Dean seraya berbalik badan, kembali berjalan menuju kamarnya di lantai dua.
"Yee, galak amat."
o0o
Mendengar Amru akan berangkat ke Batam malam ini, tentu saja itu suatu kebahagiaan besar bagi David. Karena biasanya, Amru pergi dalam jangka waktu yang cukup lama dan David akan bebas selama Amru tidak ada.
Karel changed the group name to Cogans Khilaf.
David mendengus geli karena Karel kembali merubah nama group chat teman-temannya, di antara semua, memang Karel yang selalu aktif di group walaupun lebih sering tidak ada yang menghiraukannya.
Karel Ferano : anjink sepi bgt
M. Rama Dirmaga : ngegas bgt lo syalan
Aron Nasution : jones gt. alay
M. Rama Dirmaga : ya sama dah kaya yg nulis
Aron Nasution : anjink om :)
Karel Ferano : bicik kalian tu
Aron Nasution : lo yg mulai
Karel Ferano : gua sendirian di kos
M. Rama Dirmaga : ya trs?
Karel Ferano : sok sok ga ngerti kode
Karel Ferano : main la sini, bawa makan jan lupa
Aron Nasution : bosen kosan lo mulu
M. Rama Dirmaga : kmn gitu, tmpat lain
Karel Ferano : hotel kuy om
Aron Nasution : kriuk lo ah
M. Rama Dirmaga : wkwk.
Karel Ferano : anying maraneh :)
David tertawa kecil, sedari tadi ia hanya diam memperhatikan teman-temannya yang selalu membicarakan hal yang tidak terlalu penting.
Aron Nasution : David, r u there? gua tau lo baca ini njink
Aron Nasution : rb3 soalnya
David kembali tersenyum kecil.
David R. Amru : basket dah yok
Karel Ferano : serius? nenek lo ngamuk nggak kalau lo keluar?
M. Rama Dirmaga : gua nggak mau diomelin sama nenen lo lagi dav
Aron Nasution: gua nggak mau diomelin sama nenen lo lagi dav (2)
Karel Ferano : gua nggak mau diomelin sama nenen lo lagi dav (3)
Karel Ferano : fak nenen
Aron Nasution : fak gua baru sadar
M. Rama Dirmaga : Ya Allah maapin ama
Karel Ferano : jijik kamu ram
David R. Amru : gua dikacangin gini :)
Aron Nasution : kan smp lupa. koy lah nanti basket di sekolah
Karel Ferano : gas
o0o
Dean sedari tadi hanya bisa bersandar di dinding rumahnya seraya memperhatikan Alana yang sedang mencoba memakai heels Kalila yang hanya setinggi tujuh senti.
"Awh." Alana kembali meringis saat kakinya nyaris terpelintir. Dean menghela napasnya sementara Kalila hanya menggelengkan kepalanya.
Dean berjalan mendekati Alana dan mendorong adiknya itu agar duduk pada sofa di belakangnya, Dean berjongkok dan langsung melepas heels di kaki Alana.
"Sampe merah gini," ujarnya memperhatikan tumit Alana. Dean mendongak menatap wajah Alana yang cemberut, "pakai sneaker aja deh ya? Nggak apa-apa kok."
"Emang Abang nggak malu? Entar aku nggak keliatan cantik."
Kalila yang mendengarnya hanya tersenyum kecil kemudian berlalu meninggalkan dua anaknya ini. Kevin sudah berangkat lebih dulu karena akan menjemput kekasihnya lebih dahulu, Andien.
Dean tertawa. "Siapa bilang nggak cantik? Adek gue cantik gini pake dress, udah buruan ambil sneaker lo, gue pengen cepet-cepet ke sekolah ini."
Alana mengangguk senang dan langsung berlari menuju dapur dan membuka salah satu rak yang berisi tumpukan sepatu milik penghuni rumah ini. Gadis itu menyambar sneaker yang senada dengan dress simpel abu-abunya.
"Kuy, Bang. Alana udah siap."
Dean berdiri dan langsung memposisikan tangannya di pinggang, bermaksud agar Alana mengapit lengannya. Alana pun dengan senang hati memeluk lengan Dean.
"Ma, kita berangkat!"
o0o
Alana yang baru saja turun dari motor gede Dean langsung terbengong. Suasana gedung SMP Santer tampak meriah, sementara gedung SMA Santer tampak senyap dan sedikit menyeramkan.
"Bang, kok Alana tiba-tiba ngerasa malu gitu ya?"
Dean yang baru saja melepas helm-nya langsung menoleh ke arah Alana dengan menahan senyum. "Bisa malu juga, Dek?"
Alana memutar bola matanya. "Terserah Abang aja."
"Santai lah, ada gue juga."
"By the way, Bang Kevin mana ya?"
"Sudah di dalem kali, yuk masuk," sahut Dean seraya menarik pergelangan tangan Alana, membawa adiknya itu masuk ke dalam gedung yang dihias dengan warna abu-abu dan hitam. Warna yang pas menurut Alana.
Alana semakin merapatkan tubuhnya pada Dean saat teman-teman lelaki Dean berkumpul dengan membentuk lingkaran. Dean pun sesekali terlihat mengelus punggung tangan Alana dengan ibu jarinya.
"Eh, tunggu-tunggu, ini adek lo yang waktu itu ngerengek minta nganter lo ke Puncak kan?" tanya salah satu teman Dean yang sadar kalau dulu pernah melihat Alana, Reno.
Reno sendiri melihat Alana pada saat Dean dan teman-temannya akan berlibur ke Puncak. Mereka berkumpul di rumah Dean dan pada saat akan berangkat, Alana memaksa ikut masuk ke dalam mobil, ingin ikut mengantar Dean namun tidak jadi karena Kalila langsung menariknya.
"Iya, Ren. Inget aja lo," sahut Dean santai.
"Iyalah, makin cakep aja adek lo." Dean mendengus geli namun Alana tampak semakin bete. Dengan sedikit menjinjit ia membisiki telinga Dean.
"Alana keluar bentar ya, Bang?"
"Ngapain?" sahut Dean pelan.
"Nyari angin. Bentar aja kok."
"Jangan ke mana-mana."
"Iya." Alana kembali menjauhkan wajahnya dan menatap teman Dean dengan sedikit canggung.
"Em, aku keluar sebentar ya." Dan, setelah semuanya mengangguk, Alana langsung memutar tubuhnya dan berlari kecil keluar gedung. Jujur, ia bosan di dalam. Semuanya asik membentuk kelompok sendiri. Tidak seasik yang ia bayangkan saat di rumah, tau gitu, ia memilih rebahan di rumah saja tadi.
Dahi Alana mengernyit saat melihat lapangan SMA Santer yang lampunya menyala dan memperlihatkan empat orang lelaki yang sedang bermain basket. Alana merasa itu mungkin temannya, setidaknya ia bisa ikut bergabung dari pada hanya duduk diam di sini dengan hanya ditemani oleh angin malam.
Langkah Alana spontan berhenti saat pandangannya beradu dengan salah satu laki-laki di sana, Karel.
"Loh, Alana? Lo ngapain di sini?" Alana yang baru saja hendak memutar tubuhnya hanya bisa mendengus pelan. Karena Karel, tiga laki-laki lainnya berhenti bermain dan malah memperhatikan Alana.
"Pake dress gitu lagi. Dari mana?" sahut Aron.
"Ahh--itu, gue temenin Abang gue reuni."
Semuanya mengangguk. Termasuk David. "Berapa angkatan yang reuni?"
"Tiga. Em, gue boleh gabung nggak?"
"Maksud lo gabung?" tanya David tiba-tiba.
"Main basket gitu."
David menggeleng mantap. "Nggak, nggak. Orangnya udah pas."
"Siapa bilang? Alana, lo setim sama Aron."
"Lah, lo?"
"Gue istirahat," sahut Rama dengan cengiran lebarnya. Kemudian, dengan santai ia melepas kaus hitamnya dan mengalungkannya di leher. Alana nyaris saja memekik jika tidak ia tahan.
"Emang dia bisa main?" tanya David lagi.
"Bisa gue," sahut Alana mantap.
"Gue harap lo ga pingsan lagi dan nyusahin kita-kita."
"Bacot kalian. Gue wasitnya." Rama kembali mengambil alih, ia mengambil bola oranye itu kemudian meminta David dan Aron maju untuk berebut bola tanda pertandingan dimulai.
Alana sudah mengambil ancang-ancang. Untung saja roknya tidak terlalu panjang dan sangat longgar di tubuhnya, setidaknya dressnya tidak akan robek saat dipakai berlarian di tengah lapangan.
"Mulai!" teriak Rama seraya melambungkan bola yang langsung disambar oleh David dan Aron. Aron berhasil, ia menampik bola itu ke arah Alana.
Alana melompat mantap menangkap bola oranye itu. David terkejut saat melihat Alana men-dribble bola. Tampak luwes dan... menawan. David berlari ke arah Alana untuk merebut bolanya, Karel yang ikut berlari sontak saja menghentikan larinya saat kerah belakangnya ditarik oleh Aron.
"Eh, pelanggar--"
"b*****t! Berisik lo," desis Aron. "Biarin udah mereka main berdua."
Karel langsung menatap ke arah David dan Alana yang kali ini David tampak memeluk Alana dari belakang, padahal David berniat merebut bola oranye yang sedang mereka rebutkan.
"Omg," gumam Karel melihat pemandangan itu di hadapannya.
David mendengus saat Alana lagi-lagi mampu berkelit darinya, kini, Alana bergerak lincah men-dribble bolanya ke arah ring basket. Empat remaja lelaki yang ada di sana terlihat penasaran. Apakah Alana berhasil?
Dag Dag Dag
David melebarkan matanya terkejut melihat pemandangan yang baru saja disuguhkan Alana. Bola yang dilempar Alana masuk dengan sempurna ke ring basket itu. Three points. Alana memutar tubuhnya menatap empat laki-laki itu dengan tersenyum puas. “See? Gue bisa main ‘kan?”
"Anjir... cantik."
To be continued...