Alana yang baru saja berganti pakaian menjadi baju tidurnya-- celana training dan kaus merah muda, berlari kecil menuruni tangga dan langsung loncat ke atas sofa yang dihuni Dean, sementara Kevin, berbaring di lantai yang beralas karpet bulu-bulu.
"Kirain lo langsung tidur," ujar Dean seraya menggeser tubuhnya sedikit.
"Belum ngantuk, Bang," sahut Alana kalem seraya mengganti saluran TVnya membuat Dean yang sedari tadi asik dengan berita olahraga mendengus seketika.
"Tadi itu siapa?" tanya Kevin tiba-tiba seraya bangkit dari posisinya kemudian menjatuhkan tubuhnya di sebelah Alana.
"Maksud, Abang?"
"Kata Dean tadi lo main basket, sama siapa?"
"Oh," Alana mengangguk paham. "Bukan siapa-siapa, sekedar kenalan aja."
"Songong amat lo. Bukan temen lo emang?" sahut Dean.
"Temen? Nggak deh kayanya, orang belum pernah ngobrol, tau nama aja dan itu tadi pertama kalinya kita main bareng."
"Selama tiga tahun ini yang pertama? Lo cupu banget emang di sekolah?"
Alana melotot kesal kemudian memukuli tubuh Kevin. "Alana tuh nggak cupu! Cuman males aja temenan sama mereka, ada yang tajir banget tapi sombong banget. Percaya nggak percaya, Alana aja nggak pernah denger dia ketawa."
"Kalo gitu gue mau kasih tantangan sama lo."
Alana mengerutkan dahinya sejenak kemudian menoleh ke arah Dean. "Tantangan?"
"Iya."
"Sejenis taruhan? Kalo iya, Alana nggak mau, dosa, Bang. Alana takut kena karma."
"Taruhan bersifat pribadi aja. Kalo lo bisa jadiin dia pacar lo atau minimal bisa buat dia ketawa, lo bisa ikut kita mendaki, tapi kal--"
"Eh, apa lo bilang, Yan? Mendaki? Ga, gue nggak setuju," ujar Kevin memotong perkataan Dean cepat dan datar tanpa intonasi apapun.
"Loh, kenapa, Bang?"
"Mendaki terlalu bahaya buat Alana dan gue nggak siap nanggung risikonya."
"Tapi, Alana udah gede, Bang. Alana bisa jaga diri sendiri," sahut Alana, karena sejak dulu ia memang sangat ingin pergi mendaki bersama Kevin dan Dean.
"Belum waktunya, Lan." Kevin menatap Alana, kemudian kini beralih menatap Dean. "Dan, Yan, gue nggak setuju sama taruhan pribadi lo itu. Yang namanya taruhan tetep aja buruk."
"Tapi, Bang--"
"Itu namanya lo jerumusin adek lo sendiri, Yan," ujar Kevin lagi dengan menatap Dean dalam.
Dean tampak kikuk sebentar sebelum menghela napasnya. "Oke, maaf. Lupain aja taruhan yang gue bilang tadi, Lan."
Alana mengangguk takut-takut karena merasakan aura dingin Kevin. Padahal sebelumnya, Kevin jarang sekali mengeluarkan aura seperti ini. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Kevin bangkit meninggalkan adik-adiknya yang bingung dengan Abang tertuanya itu.
"Abang kenapa sih?" gumam Alana menatap punggung Kevin.
"Kecapean kali. Udah ah, tidur buru, udah jam sebelas."
o0o
David yang sedari tadi fokus pada stick di tangannya mendengus saat Karel tiba-tiba menyandarkan kepala di pundaknya.
"Ngantuk gue, matiin kek PSnya, mau tidur ini gue," ujar Karel dengan suara seraknya. Ketiga temannya memang sedang menginap di kosannya. Namun entah kenapa Karel mengantuk padahal jam masih menunjukkan pukul dua belas malam.
"Tidur tinggal tidur juga, berisik banget," sungut Rama karena telinganya sudah panas mendengar rengekan Karel sedari tadi.
"Tau nih, kaya cewe lo, liat tuh temen lo," balas David tidak kalah kesal. Karel menggerakkan kepalanya menatap Aron yang asik bergelung di dalam selimut milik Karel.
"Gue sama dia beda, Bego."
"Tutup telinga lo pake bantal."
Karel berdecak jengkel, dengan gerakan cepat ia melompat ke kasurnya dan langsung tengkurap di balik punggung Aron. Tangannya mengambil salah satu bantal miliknya untuk menutupi kepalanya.
Rama tertawa kecil sementara David tersenyum samar.
"Apa kabar Nenek lo? Udah lama gue nggak liat dia."
"Masih sama kaya yang terakhir lo liat," sahut David kalem.
"Lo masih mau tetep diem gini aja, Dav? Nyokap lo gimana?"
David yang merasakan tiba-tiba moodnya menurun langsung meletakkan stick PSnya, Rama pun paham dengan cepat, tangannya bergerak mengambil remot dan mematikan TV.
"Gue mesti gimana, Ram? Gue... gue takut sama Nenek."
Rama terdiam sebentar. "Iyasih, gue aja takut liat nenek lo."
David terkekeh pelan. Semua teman-temannya memang takut pada Amru.
"Tapi, Dav, apa naluri lo sebagai seorang anak nggak bisa jadi pelecut lo buat bahas ini ke nenek lo?"
"Kalo ternyata Nyokap gue bener seperti yang nenek gue bilang, gimana?"
"Tapi, gimana pun juga lo anaknya. Lo masih bisa berjuang buat Nyokap lo dan gue nggak mau lo terlambat." David terdiam memikirkan kata-kata Rama barusan.
"Tap--"
"Udah jangan terlalu dipikirin," ujar Rama seraya menepuk pundak David dua kali.
David menghela napasnya. "Mendadak ngantuk gue."
"Yaudah, tidur." Mereka pun langsung naik ke atas kasur dan berbaring di sebelah Karel yang sudah tampak tenang.
o0o
"Alana, lo berangkat sama gue atau Dean?" tanya Kevin yang akan bangkit dari kursinya. Alana yang masih meminum susunya pun cepat-cepat meneguk susunya.
"Alana berangkat sendiri aja. Boleh kan, Pa?"
Althaf melipat korannya dan langsung menatap anak bungsunya itu. "Emang berani kamu?"
"Berani lah, Pa. Kan Alana sudah bisa."
"Tanya Mama coba." Kalila yang sedari tadi diam, langsung menatap Alana.
"Macet loh, Lan, ke sekolah kamu itu. Emang kamu bisa?"
"Bisa, Ma. Kan pernah waktu itu."
"Sama gue aja dah berangkatnya. Ribet lo," sungut Dean.
"Nggak ah, orang Alana punya motor. Alana berangkat sendiri aja sekarang," ujar Alana seraya bangkit dari kursinya. Dengan bergilir gadis itu menyalami tangan orangtua dan kakaknya.
"Dah ya, Alana berangkat duluan."
-
David kali ini harus rela mobilnya menjadi angkutan umum mendadak bagi teman-temannya. Mobil yang biasanya sepi ini kembali ramai karena kegaduhan teman-temannya.
"Tebak ya tebak, monyet apa yang berdiri di tepi jalan?" Mobil yang tadinya berisik langsung hening seketika mendengar tebak-tebakkan yang dilontarkan Karel.
"Lo kali monyetnya," sahut Aron tidak mau ambil pusing.
"Ga danta dasar," ujar David terkekeh kecil. Sementara Rama, ia malah memikirkan tebak-tebakkan konyol itu.
"Apa emang jawabannya?" tanya Rama seraya memutar tubuhnya menatap Karel.
"Eh? Lo ternyata mikirin tebak-tebakkan itu?"
"Cepet jawab, gue dari tadi mikir nggak nemu-nemu."
Ketiga remaja yang ada di mobil itu sontak tertawa. Karel berdehem sejenak kemudian menjawab. "Monyetop angkot, lah. Haha pinter kan--"
Belum sempat Karel menyelesaikan kata-katanya, David tiba-tiba menginjak pedal remnya kuat. Aron dan Karel yang duduk di kursi penumpang pun nyaris terlempar ke depan.
"Anjing! Lo ngapain sih, Dav?" ujar Aron yang terkejut.
David tidak menjawab, ia langsung turun dari mobilnya dan menerima lemparan sebuah helm ke dadanya yang untungnya Dvid bisa dengan cekatan menangkapnya.
"Maaf, maaf, lo nggak apa-apa kan?" tanya David seraya memperhatikan gadis yang sedang berkacak pinggang ini. Wajahnya memerah karena marah sekaligus terkejut.
"Enak aja maaf lo bilang, lo tuh nyaris nabrak gue tau nggak! Bisa naik mobil nggak sih?! Kaget tau nggak gue tuh!"
David mengusap telinga seraya menghela napasnya. "Iya, iya maaf. Serius gue nanya, lo nggak apa-apa kan?"
Alana yang melihat David tiba-tiba menjadi lembut begini langsung kikuk seketika. Bayangannya, David akan memarahinya balik, tapi ternyata tidak.
"Ahh-em... ya nggak apa-apa sih, cuman kaget aja."
David mengangguk kecil kemudian menyerahkan helm yang tadi dilempar oleh Alana. "Ngomong-ngomong lemparan lo sakit loh."
Alana yang mendengar itu merasakan keseluruhan wajahnya memanas. Merasa malu sekaligus bersalah. "Maaf," gumamnya.
"Nggak apa-apa, yaudah lo hati-hati," ujar David seraya memperhatikan Alana yang sedang memakai helmnya. Sesekali gadis itu melirik David sebelum akhirnya menaiki motornya dan meninggalkan David yang masih berdiri memperhatikannya.
o0o
Alana yang melihat kedua temannya sedang absen sidik jari langsung berlari ke arah temannya dan menepuk bahu keduanya bersamaan.
"Tumben lo sudah dateng," ujar Reva seraya bergeser agar Ralin bisa absen.
"Iya, bawa motor soalnya, biar ga kena macet."
"Tumben nggak sama Bokap lo yang cogan itu?"
"Buset dah selera lo," celetuk Ralin karena mendengar ucapan Reva tadi.
Alana tertawa kecil. "Pengen aja. Udah geser lo, mau absen."
Ralin menggeser tubuhnya membiarkan Alana absen.
"Lan, David kenapa?" Alana menoleh saat mendengar bisikan Ralin.
"Kok nanya gue?"
"Balik badan cepet." Alana yang mendengar itu cepat-cepat memutar tubuhnya dan menemukan David yang berdiri bersandar di loker-loker murid SMA Santer. Gayanya biasa, tapi pandangannya yang terfokus pada Alana, itulah poinnya.
"Buset. Dia ngapain ngeliatin gue?"
"Lo buat salah sama dia?"
Alana menggeleng pelan. Alana masih membalas pandangan David sebelum akhirnya ia memutar tubuhnya karena melihat David malah tersenyum tipis ke arahnya.
Alana berjalan cepat meninggalkan Ralin dan Reva seraya menangkup wajahnya yang terasa panas. Ralin dan Reva berlari menyusul Alana.
"Gue nggak salah liat ‘kan tadi? Dia senyum apa gimana?"
"Dia senyum karena liatin lo, Lan. Astaga cowo sekaku dia, bayangin lo sama dia apa nggak awkward gitu ya?" ujar Ralin geli dengan terkekeh kecil.
"Berisik kalian tuh," sahut Alana masih menahan malu. Sama sekali tidak pernah terpikir ia akan malu-malu begini hanya karena seorang David. Anak orang kaya yang memiliki wajah yang begitu angkuh. Namun Alana tidak bisa berbohong, kalau senyuman tipis itu benar-benar manis, walau samar.
Alana dan kedua temannya kini sudah memasuki kelasnya yang masih sepi. Hanya ada mereka bertiga dan beberapa tas tanpa penghuni. Ralin menghela napas keras yang membuat kedua temannya menoleh.
"Kenapa?" tanya Alana lebih dulu.
Ralin bertopang dagu seraya menatap temannya bergantian. "Kalo gue kasih tau kalian nggak bakal percaya."
"Apa?"
"Gue dijodohin sama Bokap gue."
"APA!?"
To be continued...