Kepergian Rama membuat Nina beberapa hari bersedih dan aku tidak mempermasalahkan karena paham mereka sudah lama menjalin hubungan dan berpisah karena memang kesalahan Rama sendiri yang tidak ingin karier dia terhambat.
Orang tua Rama sempat memintaku untuk mempertemukan mereka dengan Nina saat aku datang di hari Rama meninggal dunia. Tentu saja aku tidak langsung mengiyakan, karena aku harus tahu apakah Nina mau bertemu atau malah sama sekali tidak mau mengingat hubungan mereka tidaklah baik.
Namun Nina mengatakan mau bertemu dan dua hari lalu mereka bertemu setelah Nina tidak lagi bersedih atas kepergian Rama untuk selamanya. Aku tidak tahu banyak apa yang mereka bicarakan, Nina hanya mengatakan kalau orang tua Rama sangat menyesal karena tidak memberikan restu atas hubungan anaknya dengan Nina kala itu.
Mereka sadar bahwa Rama begitu mencintai Nina dan karena mereka juga Rama ditekan untuk berhasil mengejar masa depannya. Jangan sampai ada sebuah kata gagal dalam kehidupan yang Rama jalani.
Nina juga sudah memberikan maaf jauh sebelum mereka bertemu, dia ingin menghilangkan kesedihan di masa lalu karena hubungan tanpa restu tersebut. Lagipula sekarang dia bersamaku dengan status sebagai seorang istri.
Pertemuan mereka sangat singkat namun aku tahu bahwa mereka sudah tidak lagi memiliki beban karena sikap buruknya pada Nina. Semuanya sudah saling memberikan maaf dan Nina sudah melupakan masa lalunya.
Aku sangat beruntung memiliki istri seperti Nina yang tidak menyimpan dendam meskipun dirinya tersakiti. Aku semakin ingin memberikan kebahagiaan kepada Nina karena dia berhak menerimanya setelah apa yang selama ini dia lewati dalam kehidupannya. Dia berhak mendapatkan bahagia setelah melewati semuanya sendirian.
**
"Maaf ya, Mas. Karena beberapa hari lalu mood aku nggak karuan banget. Maaf juga karena aku terlalu bersedih atas kehilangan Rama," ucap Nina padaku.
Kami masih berada di dalam kamar, aku juga baru selesai mandi dan berpakaian. Tenyata Nina masih duduk di tepi ranjang saat aku keluar dari kamar mandi.
Mungkin dia merasa tidak enak karena tengah menangisi lelaki lain, sementara dia sudah memiliki aku sebagai suaminya. Padahal aku tidak masalah sama sekali, aku memakluminya dan bukankah aku sudah mengatakan ini kepada Nina, kalau semua itu tidak masalah.
"Iya, saya mengerti. Lagipula nggak apa-apa bersedih, dia pernah memiliki tempat di hati kamu kan, bahkan sangat lama," jawabku sembari mengelus rambutnya.
Aku berjongkok dengan wajah yang berada tepat di depan perut buncitnya. Gemas sekali setiap kali aku melihat perut Nina kali ini, aku harap anak kami tumbuh dengan baik. Aku juga sangat menantikan kehadirannya, akan sangat lengkap jika dalam pernikahan kami bertambah seorang anak lagi, adiknya Rian.
"Selamat pagi anak Ayah," ucapku seraya mengelus perutnya, menyapa anak yang Nina kandung. Ini menjadi kebiasaanku, meskipun di awal sangat kaku sekali namun lama-lama aku menjadi terbiasa.
"Hari ini mau makan apa? Ayah bisa siapin," lanjutku lalu menatap wajah Nina.
Nina tersenyum seraya mengelus pipiku, perlakuan dia begitu hangat dan membuatku nyaman selama bersama dengan dia. Aku merasa menemukan napas baru setelah merasakan sesak selama ini. Kehadiran Nina benar-benar menjadi warna baru dalam kehidupanku yang pernah kelabu.
"Aku yang masak, tadi sempat bikin nasi goreng," balas Nina membuat aku mengernyit kapan dia menyiapkan semuanya.
"Saya bilang kan kalau kamu jangan terlalu banyak aktifitas, saya tidak mau kamu kelelahan," ucapku memperingati dia kembali.
Aku sudah sering mengatakan kepadanya untuk tidak banyak berkegiatan yang membuat dia lelah. Sekalipun itu memasak karena aku memang tidak mau kalau Nina sampai lelah, apalagi aku berpengalaman kalau Ibu hamil semakin mudah lelah di saat usia kandungannya terus bertambah.
"Nggak capek, lagian aku udah lama nggak masak, Mas. Tadi di bantu sama Bibi juga di dapur," jawabnya.
Aku mencium perutnya, lalu beranjak dan mengajak dia turun dari kamar untuk sarapan. "Lain kali bilang ya, kamu naik turun tangga bikin khawatir. Besok kita pindah ke kamar bawah aja," ucapku.
Kami keluar dari kamar, sempat bertanya apakah Rian sudah turun kepada Nina dan dia bilang sudah sejak tadi.
"Iya, Mas. Makasih udah mengkhawatirkan aku dan anakku."
"Anak kita, meskipun bukan darah daging saya. Kamu harus terbiasa memanggil dia dengan anak kita, bukan anak kamu saja."
Kulihat Nina tersenyum lalu mengangguk setuju dengan apa yang aku katakan barusan, aku tidak mau karena tidak terbiasa memposisikan anaknya sebagai anakku juga, malah menjadi terbawa saat dia lahir dan aku juga tidak mau anaknya nanti merasa memiliki jarak denganku karena aku bukan ayahnya.
Aku ingin kelak anaknya lahir, bisa sama seperti Rian yang senang mendapatkan keluarga lengkap. Dengan hati-hati kami turun dari tangga, aku memang harus segera berpindah kamar ke lantai bawah, mengingat kandungan Nina akan semakin besar dan sangat beresiko kalau kamar kami masih berada di lantai dua.
"Hari ini kamu pulang sore nggak, Mas?" tanya Nina setelah kami berada di ruang makan, Rian sudah sangat siap untuk sarapan bersama, duduk nyaman sekali di kursinya.
"Belum tahu, kalau lagi ramai restorannya kemungkinan pulang sore karena harus bantuin juga. Memangnya kenapa?"
"Nggak apa-apa, tadinya aku mau titip sosis bakar yang ditempat biasa. Dari semalam aku pengen," katanya.
"Kamu jangan keseringan makan yang begituan deh, buah-buahan aja ya, nanti saya belikan sepulang dari restoran."
Nina sudah terlalu sering jajan di pinggir jalan begitu, sekali dua kali sih tidak masalah. Tetapi kalau sudah berulang kali, tentu saja aku akan membatasinya karena dia senang hamil dan harus memakan makanan yang sehat. Sosis juga sehat dan tidak apa-apa, tetapi aku tidak suka kalau dia terlalu sering memakannya.
"Sekali ini, nanti nggak lagi. Nanti anaknya ngiler loh," katanya. Kalau sedang dalam mode membujuk pastilah yang keluar adalah alasan karena anaknya takut ileran. Kalau sudah begitu mana bisa aku melarangnya.
"Ya udah, tapi lain kali saya nggak akan belikan lagi. Terlalu sering dan lebih baik makan buah sama sayuran."
"Iya, Mas. Makasih banyak, sekalian beli buah-buahan juga nggak apa-apa. Pengen apel sama mangga," ucapnya.
Aku mengangguk. Kemudian kami pun melanjutkan sarapan, sejak tadi Rian tampak fokus sarapan sembari menyimak obrolanku dengan mamanya.
"Oh iya, Mas. Mbak Indira ajakin aku buat kue nanti siang. Bolehkan?" tanya Nina kembali di sela-sela sarapan kami.
"Bikin di mana?"
"Di sini. Sebenarnya aku sih yang mau belajar sama dia, habisnya Mbak Indi kan jago buat kue," katanya.
"Kamu juga sudah jago. Saya suka kue buatan kamu," balasku membuat dia tersenyum malu-malu.
"Ya, biar ada kue jenis lain. Nggak itu-itu aja, bolehkan, Mas?"
Aku mengangguk. "Tetapi jangan kecapekan," kataku.
"Siap, Boss!" Hormatnya membuatku terkekeh, kadang Nina masih seperti anak remaja di mataku. Apalagi kalau kami hanya jalan berdua, banyak orang menganggap dia adalah adikku.
"Saya berangkat. Ayo Rian, biar nggak terlambat sekolah." Aku mengajak Rian untuk segera berangkat ke sekolah, setelah Nina hamil besar, aku juga tidak mengijinkan dia mengantar ataupun menjemput Nina seperti sebelumnya.
"Mama, Rian pergi sekolah dulu ya. Adek, Kak Rian sekolah dulu," pamit Rian pada Nina setelah itu berpamitan pada adiknya dengan memberikan kecupan di perut Nina.
"Saya berangkat." Aku pun berpamitan kepadanya, dia mencium tanganku setelah itu kubalas dengan mencium puncak kepalanya.
"Hati-hati."