"Selamat ulang tahun, Mas Tian."
Aku tersenyum lebar saat mendengar ucapan selamat ulang tahun dari bibir Nina. Tidak menyangka kalau dia mengingat ulang tahunku. Kuberikan kecupan singkat di keningnya seraya mengucapkan rasa terima kasih kepadanya, sampai hari ini dia masih bertahan bersamaku, meskipun aku tidak hanya memberikan hati padanya saja, melainkan hatiku masih dimiliki juga oleh Atika.
Aku tahu, ini adalah hal yang sedikitnya melukai perasaan Nina. Namun aku benar-benar tidak bisa menyingkirkan Atika dalam hidupku, karena aku masih mencintainya. Semakin aku berusaha untuk melupakan, semakin aku jatuh cinta kepadanya.
"Maaf ya," ucapku sembari menatap lekat kedua matanya. "Maaf, karena saya tidak bisa menjadikan kamu satu-satunya dalam hidup saya. Sudah banyak luka yang saya torehkan pada Atika dan saya tidak mau dia merasa tersingkirkan secepat ini dari kehidupan saya meskipun saya tahu tidak bisa melihatnya seperti dulu."
Aku tidak tahu apakah ini momen yang pas atau tidak untuk aku membahas semuanya. Bahwa aku tidak bisa menyingkirkan Atika dari kehidupanku, aku tidak sanggup melakukannya. Sudah sangat banyak luka yang aku torehkan di hatinya dulu, aku ingin memberikan cinta kepadanya saat ini meskipun kami tidak berada di tempat yang sama, namun aku harap dia akan merasakan betapa aku masih dan selalu mencintai dirinya.
Nina berbalas menatapku dengan senyum yang tidak pernah pudar dari wajahnya. Sejujurnya kami adalah dua orang yang sama, masih mencintai orang di masa lalu kami masing-masing. Tidak hanya aku saja, Nina juga masih begitu mencintai Rama, terlihat bagaimana dia hancur saat Rama telah tiada. Bahkan aku seperti melihat diriku sendiri karena kehilangan Atika dulu, saat aku melihat Nina yang begitu terpukul atas kepergian Rama.
"Mas udah sering meminta maaf, aku ngerti kok nggak akan mudah untuk melupakan masa lalu apalagi dia adalah istri Mas Tian. Aku nggak apa-apa kalau masih ada dia di hati kamu, karena setidaknya kamu juga sudah berusaha untuk membuat aku berada dalam hati kamu."
Satu tanganku terulur mengelus pipinya yang chubby, lalu beralih pada perutnya yang sudah membuncit. "Makasih udah hadir di hidup aku dan Rian, kamu adalah anugerah yang telah Tuhan kirimkan kepada kami," ucapku tulus.
Nina memanglah anugerah yang telah Tuhan kirimkan ke dalam hidup aku dengan Rian. Dia memberikan warna berbeda pada kehidupan kami yang benar-benar kelabu, terutama pada Rian yang akhirnya memiliki sosok Ibu.
Aku mungkin tidak bisa memberikan hatiku secara utuh untuknya, karena seperti yang selalu aku katakan bahwa Atika akan selalu ada dalam hatiku, meskipun raganya tidak bisa aku miliki dan aku peluk kembali. Tetapi aku akan berusaha untuk selalu membuat Nina tersenyum, hanya ada tangis bahagia saja dan itu karena kelahiran anak kami.
"Saya menyayangi kamu." Aku kembali bicara dengan kedua mata tidak lepas memandanginya.
"Aku lebih menyayangi, Mas. Makasih juga karena Mas Tian sudah berusaha untuk menyayangi aku dan menerima kondisi aku yang seperti ini."
Aku tersenyum, lalu kupeluk dia di saat kami masih berada di atas tempat tidur, jam masih menunjukkan pukul lima pagi. Rasanya malas sekali untuk beranjak, aku masih ingin memeluknya, merasakan bagaimana kenyamanan yang selalu ada saat bersama dengan dirinya.
Kuakui, aku menyayangi dia dan sudah sangat terbiasa dengan semuanya. Nina memberikan begitu banyak perhatian dan rasa nyaman padaku. Meskipun kami tahu, aku dan dirinya belum benar-benar saling mencintai. Kami hanya saling menyayangi. Bahkan aku rasa, itu lebih dari sekedar sebuah perasaan cinta.
**
"Terima kasih," ucapku seraya menerima buket mawar merah yang kembali aku beli di toko yang sama dalam perjalanan menuju makam Atika.
"Sama-sama. Istri Mas pasti sangat senang setiap minggu dikasih bunga kaya gini. Dia beruntung punya suami seperti Mas-nya," ucap perempuan yang merupakan penjaga toko bunga tersebut.
Aku tersenyum. "Saya yang sangat beruntung memiliki istri seperti dia."
"Semoga kalian selalu bahagia," balasnya.
"Terima kasih," ucapku kembali lalu keluar dari toko bunga tersebut.
Semoga kalian selalu bahagia.
Kalimat itu akan sangat membuat aku bahagia jika saja Atika masih bersamaku, di sampingku untuk selamanya. Namun kali ini kondisinya sangat berbeda, hanya saja aku selalu berdoa untuk kebahagiaan kami kelak.
Seperti biasa, aku kembali pergi mengunjungi mendiang istriku. Hari ini bertepatan dengan hari ulang tahunku, setelah tadi pagi mendapatkan ucapan selamat ulang tahun dari Nina dan juga Rian. Siang ini aku memutuskan untuk pergi ke makam Atika.
"Mas Tian, selamat menua dan sebentar lagi jadi Ayah."
Aku tersenyum lebar seraya menarik tubuh Atika ke dalam dekapanmu. Lalu kuberikan kecupan di kening dan seluruh wajahnya membuat dia terkikik geli. Terakhi aku mencium bibirnya yang entah sejak kapan selalu menjadi bagian yang paling aku sukai.
"Ngucapin tuh, jangan sambil ngatain, Sayang. Aku belum tua loh, masih bisa kasih anak banyak sama kamu," balasku membuat dia tertawa karena perkataanku.
"Kan aku bicara fakta, Mas. Bukan ngatain kamu, lagian biarpun kamu itu tua, aku tetap suka kok," ucapnya lalu tanpa diminta dia sudah kembali mencium bibirku membuat senyumku tercetak jelas.
"Suka doang?" tanyaku.
Dia menggeleng, "Ditambah sayang sama cinta, pokoknya semuanya deh."
Aku terkekeh seraya mengacak rambutnya, setelah apa yang terjadi di antara kami, kali ini hubungan kami membaik dari sebelumnya. Aku sudah menerima kehadiran dia di hidupku dan aku sudah menyayangi dia, Ibu dari anakku.
"Aku harap di ulang tahun berikutnya dan seterusnya, kita masih sama-sama ya, Mas," katanya.
Aku mengangguk. "Pasti, kita akan terus bersama selamanya."
"Kalau aku pergi duluan, kamu jangan lupain aku ya, terus sayang sama aku."
"Kamu bicara apa sih. Kita akan selamanya sama-sama, jangan ngomong kaya gitu." Aku tidak suka dengan apa yang dia katakan, bahkan tidak pernah ada dalam pikiranku jika dia akan pergi meninggalkan aku lebih dulu, tidak ada dan tidak akan pernah. Karena aku masih belum memberikan banyak kebahagiaan untuknya.
Momen itu kembali aku ingat, di ulang tahunku yang pertama saat hubungan kami membaik, untuk pertama kalinya juga aku bahagia karena waktu itu akan menjadi seorang ayah. Sekarang semua itu malah kuingat lagi, kebersamaan aku dengan Atika di hari ulang tahunku dulu.
Tahun ini, Atika kembali tidak memberikan ucapan selamat ulang tahun kepadaku. Bahkan aku selalu melupakan hari ulang tahunku semenjak dia tidak lagi berada di sisiku. Namun sekarang ada Nina yang memberikan ucapan selamat itu, membuatku harus kembali ingat momen kebersamaan dengan Atika dulu.
"Untuk ke sekian kalinya, aku nggak dapat ciuman dan ucapan selamat ulang tahun dari kamu, Sayang."
Aku menaruh buket bunga itu di atas gundukan tanahnya, mengelus nisan yang bertuliskan namanya dan memanjatkan doa terbaik untuknya.
"Terima kasih, karena kamu pernah hadir dalam hidup aku, memberikan bahagia meskipun hanya sebentar saja. Maaf karena aku banyak memberikan luka sama kamu, tetapi harus kamu tahu sampai detik ini aku masih mencintai kamu, Sayang."
"Kelak, kita akan bahagia bersama."