Aku baru sampai di rumah, setelah mengunjungi makam Atika dan cukup lama aku berada di sana. Sampai di rumah, Rian menyambutku penuh antusias. Anak itu langsung menarik tanganku untuk segera masuk ke dalam tumah dan berjalan ke ruang tengah. Ternyata sudah ada Nina juga di sana sembari memegang kue dengan lilin yang sudah menyala di atasnya.
Aku tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh mereka. Bagaimana mereka merencanakan perayaan sederhana ini untuk ulang tahunku. Padahal sudah bukan masanya lagi untuk aku merayakannya, apalagi setelah aku kehilangan Atika. Tidak pernah aku ingat kapan tepatnya ulang tahunku. Karena jika mengingatnya, aku akan bersedih meratapi kenyataan bahwa Atika tidak bersamaku untuk merayakannya.
Namun kali ini ada Nina yang mengisi hariku. Meskipun aku tahu bahwa untuk jatuh cinta kembali, aku memerlukan waktu yang cukup lama. Yang terpenting aku sudah mulai menyayangi dan bagaimana pun keadaannya, kali ini Nina adalah Ibu untuk anakku.
"Ayah, berdoa terus tiup lilinya," ucap Rian saat kami sudah berada di hadapan Nina.
Aku mengangguk, lalu kupejamkan mata seraya mengucapkan doa dalam hati. Hanya satu yang aku minta, aku harap aku bisa selalu memberikan kebahagiaan untuk istri dan anakku. Setelah berdoa, aku pun segera meniup lilin dan tepuk tangan Rian menjadikan suasana kali ini ramai. Bahkan Rian lebih terlihat antusias, seperti dirinya yang tengah berulang tahun.
"Selamat ulang tahun lagi, Ayah. Rian ucapin dua kali. Rian juga punya hadiah buat Ayah," ucap Rian membuatku langsung memeluknya seraya mengucapkan terima kasih kembali.
Aku tidak perlu hadiah apa pun, dalam hidupku kehadiran Rian adalah hadiah yang paling indah, yang telah Tuhan berikan kepadaku. Meskipun caranya hadir tidak terduga, namun itu bukanlah sebuah kesalahan. Rian adalah malaikat kecilku dengan Atika, yang kali ini menemaniku meskipun Atika telah tiada.
Aku melepaskan pelukan kami, lalu berpindah menatap Nina yang sudah menyimpan kuenya di atas meja. Aku mendekat, memeluknya meskipun terhalang perut buncitnya. Ingin aku mengatakan kepadanya, untuk bersabar menghadapiku, selalu bersamaku bagaimana pun keadaannya. Namun, aku hanya semakin memeluknya erat, berharap dia tahu bahwa aku akan selalu ada untuknya dan tidak akan pergi.
"Selamat ulang tahun, Mas. Semoga apa yang menjadi doa kamu, bisa segera terkabul," ucapnya setelah kami melepaskan pelukan.
"Terima kasih dan maaf," jawabku, lalu memberikan kecupan singkat di keningnya. Terima kasih karena dia sudah hadir dalam kehidupanku, maaf karena aku belum sepenuhnya menjadikan dia sebagai istriku.
Nina tersenyum kepadaku, lalu kembali memeluk tubuhku. Kali ini dia sendiri yang memulainya, kubalas tanpa keraguan.
"Apa pun yang terjadi, aku akan selalu ada di samping kamu. Terima kasih sudah berusaha untuk menyayangi aku."
**
Aku menghabiskan waktu dengan keluarga kecilku, kami tidak jalan keluar, melainkan berada di rumah saja dengan menikmati makanan yang Nina buatkan untuk kami. Aku bahagia karena tahun ini, aku bisa merayakan ulang tahun dengan orang-orang yang paling aku sayangi.
Rasanya sudah lama sekali aku tidak merasakan kehangatan dalam rumah ini. Kali ini rumahku kembali hidup, setelah ada Nina bersama dengan kami. Aku benar-benar beruntung di pertemukan dengan dia seperti ini.
Sejak tadi, Rian terus memuji masakan Nina yang dia bilang sangat enak. Aku juga mengakuinya, rasanya pas di lidahku. Kami sedang makan malam bersama, cukup banyak hidangan yang di siapkan oleh Nina. Katanya sekalian untuk merayakan ulang tahunku. Padahal tidak perlu seperti ini, aku tidak ingin dia kelelahan.
"Rian juga mau kalau ulang tahun, Mama masak banyak kaya gini. Nanti sekalian undang teman-teman. Boleh kan, Yah?" tanya Rian kepadaku.
Aku mengangguk. "Boleh, kalau Rian ulang tahun, nanti kita bikin perayaan terus undang teman-teman sekolah Rian ke rumah," jawabku.
"Asyik! Pasti bakalan seru." Rian tampak senang sekali, karena setiap ulang tahun biasanya hanya ada aku dan Ibu, tidak pernah mengundang teman-teman karena Rian yang dulu begitu menutup dirinya.
Sekarang semuanya sudah berubah, Rian menjadi anak yang begitu ceria. Kehadiran Nina memanglah sangat berpengaruh untuk anakku.
Kami menghabiskan malam bersama, setelah makan malam, dilanjut dengan menonton di ruang tengah sembari menemani Rian mengerjakan tugas sekolahnya. Kalau seperti ini kami seperti pasangan suami-istri yang menikah karena saling mencintai, lalu memiliki anak dan hidup bahagia.
**
Aku dan Nina sudah berada di kamar kami, setelah memastikan Rian tidur dengan nyaman. Kami berada di atas tempat tidur, bersiap untuk beristirahat setelah apa yang kami lewati seharian ini. Namun, aku meminta Nina untuk kembali memberikan waktunya. Ada yang ingin aku ceritakan padanya.
"Mas mau bilang apa?" tanya Nina setelah dia menyamankan posisi duduknya. Kehamilan yang semakin besar memang membuat ruang geraknya kadang tidak bebas, selalu ingin mengubah posisi hampir setiap menit.
"Saya ingin bercerita sama kamu tentang hari ini," jawabku membuat dia langsung terfokus untuk mendengarkan.
Aku rasa tidak ada salahnya kan jika seorang suami mengatakan semuanya kepada sang istri. Justru semua itu bagus, menjaga komunikasi dan saling terbuka satu sama lain. Nina menganggukkan kepalanya sebagai persetujuan bahwa aku boleh memulai ceritaku.
"Hari ini saya berkunjung ke makam Atika, seperti yang selalu saya lakukan setiap minggu. Tetapi maaf tadi saya tidak mengatakan semuanya pada kamu. Seperti yang kamu ketahui bahwa saya tidak bisa membiarkan Atika pergi dari hati saya, sampai kapan pun dia akan tetap ada di hati saya."
"Namun saya merasa telah melakukan kesalahan dan menyakiti kamu atas apa yang saya lakukan. Meskipun berulang kali kamu mengatakan semuanya tidak masalah sama sekali. Hari inu saya menyadari sesuatu, meskipun saya tidak bisa melupakan mendiang istri pertama saya, seharusnya saya bisa belajar untuk mencintai kamu. Menjadikan kamu istri saya sesungguhnya, bukan hanya karena alasan kita menikah saling di untungkan."
Aku terus bicara tanpa disela sama sekali oleh Nina. Aku ingin mengatakan semuanya setelah sekian lama memikirkan ini dan sekarang akhirnya akun pun menyadari semuanya. Bahwa kali ini aku sudah menjalani hidupku kembali bersama dengan Nina yang juga sudah menjadi istriku.
"Ayo kita mulai semuanya dari awal, saya harap kamu tidak menyerah untuk membuat saya mencintai kamu. Saya ingin menjalani hidup saya bersama kamu, sampai Tuhan sendiri yang memisahkan kita karena sebuah kematian. Saya ingin kamu menjadi istri saya bukan karena sebuah kesepakatan yang dengan tidak secara tertulis kita sepakati."
"Kamu mau kan, menjalani hidup bersama dengan saya dan anak-anak kita?"
Aku menatapnya, seraya menggenggam kedua tangan Nina. Aku sadar sejak awal kita menikah, tanpa kira sadari sebenarnya masih ada jarak di antara aku dan Nina, dia memanglah istriku tetapi sampai detik ini aku masih belum menyentuhnya dan menjadikan dia sebagai istriku seutuhnya dan aku ingin memulainya kembali, menjalani pernikahan ini seperti pada umumnya, bukan karena sebuah simbiosis mutualisme.
Sayang, aku kembali meminta maaf. Tetapi aku rasa kamu pun akan menyetujuinya, bukankah kamu bahagia jika mewujudkan keluarga bahagia untuk anak kita.