Kehidupanku benar-benar membaik. Khususnya rumah tangga yang aku jalani bersama dengan Nina. Kami sepakat untuk menjadikan rumah tangga ini sebagai suatu kebahagiaan yang kami miliki bersama.
Aku menjadi suami paling siaga mengingat kehamilan Nina sudah semakin besar. Tidak banyak yang dia inginkan dalam masa mengidam, paling dibuatkan makanan olehku dan dengan senang hati aku melakukannya.
Selama menjaga Nina yang tengah hamil besar, aku juga mewanti-wanti pada Rian agar tidak membuat mamanya kelelahan, anakku sudah mengerti dan tidak manja lagi, mungkin hanya sesekali saja. Karena aku selalu mengatakan kalau Mama tidak boleh sampai kelelahan dan beruntung Rian memahaminya.
Meskipun aku menjalani pernikahan ini secara normal, seperti pasangan lainnya. Aku tidak lupa untuk tetap berkunjung ke makam Atika, bahkan Nina yang lebih sering bertanya padaku perihal apakah aku sudah mengunjungi Atika atau belum. Aku benar-benar beruntung memiliki istri seperti Nina, dia tidak pernah merasa cemburu pada Atika.
Hari ini kami sedang berada di luar rumah, aku mengajak anak dan istriku berjalan-jalan menghabiskan hari minggu kami. Karena beberapa hari ini aku sibuk dengan pembukaan cabang restoranku yang baru dan membuat waktuku habis untuk bekerja, akhirnya hari ini aku mengambil kesempatan untuk quality time dengan keluarga kecilku.
Rian sangat senang sekali saat kubilang kami akan jalan-jalan. Katanya sudah lama dia tidak jalan-jalan bersama dengan kami, yang membuat aku meminta maaf kepadanya. Karena ingin menyenangkan Rian dan Nina, akupun memutuskan untuk ikut ke mana mereka mau saja.
Sekarang kami sedang berada di salah satu area permainan anak, pilihan pertama Rian saat kami sampai di sebuah Mall cukup terkenal di kota ini. Aku dan Nina menemani Rian yang bermain beberapa permainan, yang membuat senyum di wajahnya tidak pernah pudar.
"Capek nggak?" tanyaku pada Nina. Rian sedang memasukkan bola basket ke ring, beberapa kali kulihat bolannya meleset ke sisi ring, namun Rian tidak menyerah sampai menghasilkan point.
"Nggak. Aku senang lihat Rian senang kaya gini, dia emang aktif dan ceria banget ya, Mas," jawab Nina tersenyum lebar menatap Rian.
"Sekarang iya, setelah dia punya Mama seperti kamu. Kalau dulu, dia lebih banyak diam. Mungkin karena lihat teman-teman dia punya Mama, tapi dia nggak."
"Semoga Rian tetep ceria kaya sekarang."
Aku menggenggam tangannya, "Kalau kamu terus sama dia, pasti selalu ceria."
"Ayah! Mama! Rian menang!"
Suara teriakan Rian membuat kami kompak menoleh padanya, point yang dihasilkan Rian lumayan besar, membuat anak itu berjingkrak kegirangan.
"Anak Mama hebat," puji Nina membuat senyum di wajah Rian semakin lebar.
"Lapar nggak? Kita cari makan dulu ya," ajakku pada mereka.
Nina dan Rian mengangguk setuju, kami pun keluar dari area permainan dan mencari tempat makan, sebelum kembali jalan-jalan. Karena sudah masuk jam makan siang, aku tidak mau kalau keduanya sampai terlambat makan.
**
Kami berada di salah satu tempat makan cepat saji, memesan paket lengkap untuk kami bertiga, tidak lupa tambahan es krim untuk Rian yang menginginkannya.
Rian sudah pintar makan sendiri, setelah masuk sekolah, aku selalu mengingatkan dia untuk belajar makan sendiri, meskipun kalau sudah masuk mode manja, akan sulit sekali membujuk Rian untuk makan sendiri dan akhirnya harus disuapi oleh Nina.
"Mau beli pakaian buat Adek nggak?" tanyaku pada Nina.
Aku ingat kalau kami belum melakukan persiapan apa pun untuk menyambut kelahiran bayi kami. Meski masih ada beberapa bulan, tetapi aku ingin mempersilakan semua perlengkapan sejak awal.
Nina mengangguk, "Boleh, Mas. Biar sekalian karena sekarang lagi di luar," jawabnya yang aku setujui juga.
"Nanti Rian mau ikutan pilih baju buat Adek ya, Ayah." Rian juga begitu antusias menunggu kelahiran adiknya.
Kemarin saja saat pergi bersama dengan keluarga kecil Nares, pulang ke rumah malah membawa sepatu bayi, katanya Tante Indira mampir ke toko perlengkapan bayi dan membeli hadiah untuk anak temannya, lalu ia melihat sepatu yang lucu berwarna merah dan meminta Tante Indira untuk membelikannya, dengan uang yang akan diganti olehku.
Sampai dirumah, Rian langsung mencari keberadaan Nina dan menunjukkan apa yang dia bawa. Nina sampai terharu karena Rian begitu memperhatikan adiknya, meskipun mereka tidak lahir dari rahim yang sama.
Selesai makan, kami memutuskan untuk mencari toko perlengkapan bayi. Rian berjalan di samping Nina dan sejak tadi tidak melepaskan genggaman tangan mereka, aku berada di sisi lain, membuat Rian berada di antara kami.
Inilah momen yang selalu aku nantikan. Di mana aku bisa mengajak istri dan anakku jalan seperti ini, kami menikmati waktu bersama di luar rumah seperti ini. Bersama dengan Nina, akhirnya semua yang aku bayangkan sedikit demi sedikit bisa aku wujudkan.
Kami masuk ke dalam toko, banyak pakaian dan perlengkapan bayi lainnya yang membuat kedua mata Nina penuh binar. Ini pertama kalinya kami masuk ke dalam toko perlengkapan bayi bersama.
"Semuanya lucu ya, Ma," ucap Rian yang sama kudengar.
Nina mengangguk setuju. Aku pun menyuruh mereka untuk mencari pakaian dan perlengkapan lain, pun dengan aku yang melihat-lihat pakaian untuk bayi perempuan. Benar yang Rian katakan, semuanya terlihat lucu kalau dikenakan.
Aku membiarkan Nina bersama dengan Rian yang tengah memilih pakaian bayi, setelah kami memeriksa kembali jenis kelaminnya, ternyata benar-benar perempuan dan aku senang mengetahuinya, karena memang aku sudah pama menginginkan anak perempuan, tepatnya setelah memiliki Rian dan berencana menambah anak bersama Atika dulu.
Sementara aku berada di perlengkapan bayi yang lain, melihat gendongan bayi dan stroller bayi yang memiliki beberapa pilihan. Ada juga tampat tidur untuk bayi yang membuat aku memilih untuk melihat-lihat. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk membeli, memilih warna merah muda dan menyuruh pegawai toko untuk menyiapkan lalu meminta untuk diantarkan ke alamat rumah kami.
Selesai memilih tempat tidur dan akhirnya menambah dengan membeli stroller bayi, aku pun menghampiri Nina dan Rian yang sepertinya sudah selesai juga memilih beberapa pakaian bayi.
"Udah?" tanyaku pada Nina.
Nina mengangguk dan menujukkan beberapa pakaian pilihan dia dan Rian. Aku juga suka dengan pilihan mereka, merasa cukup dengan beberapa pakaian dan perlengkapan lain, aku pun mengajak mereka untuk segera membayar semuanya. Setelah itu kami memutuskan untuk pulang dan mampir sebentar di toko kue karena Nina ingin membeli kue keju.
Hari ini aku senang sekali bisa membuat Nina dan Rian juga senang karena jalan-jalan kami bertiga. Sepanjang perjalanan pulang, Rian terus saja membicarakan pakaian yang tadi dia pilih untuk adiknya, Rian sangat senang sekali dan membuat aku juga Nina tersenyum melihatnya.
Inilah keluarga kecil yang selama ini kubayangkan. Aku bahagia sekali bersama dengan mereka.