Tidak terasa kehamilan yang di lewati oleh Nina sudah akan memasuki proses persalinan. Aku yang malah menjadi gugup dari jauh hari sebelum hari ini di mana Nina kubawa ke rumah sakit karena aku tidak mau mengambil resiko, hanya membiarkan istriku di rumah saat-saat seperti ini.
Dan setelah satu minggu dari perkiraan Dokter, hari ini Nina harus menjalani proses persalinan. Aku selalu berada di sampingnya, menemani Nina dalam melewati proses tersebut, meskipun bukan kali pertama aku menemani melahirkan begini, tetapi aku tetap merasa gugup.
Rian bersama dengan Ibu di rumah, tetapi aku sudah memberitahu Ibu kalau Nina sudah akan melahirkan, mungkin sekarang mereka sedang berada dalam perjalanan menuju ke sini.
Aku tidak menyangka, kali ini aku kembali diberikan kesempatan untuk memiliki anak kembali, meskipun bukan dari darah dagingku tetapi aku sangat menantikannya. Setelah cukup lama dengan segala drama menjelang melahirkan, akhirnya suara tangisan bayi kami memecahkan keheningan ruang persalinan, aku memberikan kecupan hangat di kening Nina seraya mengucapkan terima kasih karena dia sudah berjuang di melahirkan anak kami, mempertaruhkan nyawanya.
Bayi mungil itu menjadi pelengkap kehidupan kami sekarang, bayi perempuan yang akhirnya menjadi putri kecilku. Aku sangat bahagia bisa menggendongnya untuk pertama kali, kelahiran dia ke dunia ini adalah anugerah, tidak perduli bagaimana cara dia hadir, bayi perempuan kami tetaplah anugerah terindah yang telah Tuhan kirimkan dan dia adalah anakku.
**
Rian senang sekali mengetahui bahwa adiknya sudah lahir. Setelah datang bersama dengan Ibu dan melihat adiknya, Rian malah tidak mau jauh dari adik perempuannya. Selalu berada di samping sang adik, setelah putriku dipindah menjadi satu ruangan bersama mamanya.
"Adiknya cantik, nama adik siapa, Ayah?" tanya Rian kepadaku. Kedua matanya tidak pernah lepas memperhatikan adik perempuannya.
Aku tersenyum lalu menatap Nina yang memberikan anggukan sebagai tanda persetujuan untuk aku menyebutkan nama anak perempuan kami, yang sudah lama aku persiapkan atas persetujuan Nina yang ingin aku sendiri yang mencari namanya dan aku sudah mengatakan kepada Nina sebelum anak kami lahir, yang langsung disetujui dan Nina suka dengan namanya.
"Nama adiknya, Ariana Putri Ardhana," ucapku menyebutkan namanya.
"Ana, Rian suka namanya," ucap Rian membuat aku dan Nina tersenyum lebar.
Aku harap kehadiran Ana menjadi warna baru dalam hidup kami, sungguh aku merasa sangat bahagia karena kali ini aku memiliki anak lelaki dan perempuan. Hidupku terasa lengkap sekali dan Nina yang melengkapinya.
**
Nina dan anak kami sudah pulang dari rumah sakit, hanya tiga hari saja berada di sana, itu pun atas keinginanku karena aku ingin memastikan kondisi keduanya baik-baik saja untuk kembali pulang ke rumah kami.
Sekarang kami sudah berada di rumah, Ibu menyambut kami dengan sangat antusias, beliau bahkan langsung mengambil Ana dari gendongan istriku. Selain Rian, Ibu juga menjadi orang yang sangat bahagia karena memiliki cucu perempuan. Kehadiran Ana benar-benar memberikan kebahagiaan kepada kami.
"Kamu istirahat dulu di kamar, nanti aku bawa makanannya ke atas," ucapku. Setelah hubunganku dengan Nina seperti pasangan lainnya, aku juga mulai membiasakan diriku untuk tidak bicara kaku padanya seperti dulu.
"Makasih, Mas, aku pamit ke kamar dulu sekalian beresin pakaian Ana ke lemari," jawabnya.
"Itu bisa nanti aja, kamu langsung istirahat," kataku kembali.
Nina mengangguk dan berjalan menaiki tangga menuju kamar kami, sementara aku berjalan ke arah dapur untuk mengambil makan siangnya. Lalu Ibu dan Rian bersama dengan Ana berada di ruang tengah, mereka tampak senang mengajak anak bicara membuatku tersenyum saat melihatnya tadi.
Setelah membawa makanan dari dapur, aku segera naik menuju kamarku dengan Nina. Memilih untuk makan sepiring berdua saja bersama dengan Nina. Masuk ke dalam kamar aku mengembuskan napas pelan, melihat Nina yang tidak mendengar perkataanku tadi, istriku malah membereskan pakaian Ana ke dalam lemari, padahal aku tidak mau dia kelelahan karena mengurus bayi itu tidaklah mudah.
"Makan dulu, tadi aku bilang nanti aja beresinnya," ucapku membuat Nina menoleh dengan senyum di wajahnya.
"Tanggung, Mas. Lagian ini dikit kok, nggak akan bikin aku capek," jawabnya. Lalu menghampiriku yang sudah duduk di sofa setelah menyimpan makanan kami di atas meja.
"Kamu nggak makan?" tanya Nina padaku, mungkin karena dia melihat hanya ada satu piring saja yang aku bawa, padahal dia tahu kalau aku juga belum sempat makan siang tadi.
"Sepiring berdua sama kamu," balasku membuat pipinya memerah. Kalau seperti ini, Nina selalu membuatku gemas. Padahal kami sudah memiliki status sebagai suami-istri tetapi Nina selalu saja malu-malu.
Nina duduk di sampingku, langsung aku membawa piring tadi dan bersiap untuk menyuapinya. Kali ini saja biarkan aku melakukan ini, meskipun aku melihat tatapan protes di wajahnya.
"Jarang loh disuapin gini," ucapku sembari memberikan suapan pertama di depan mulutnya.
"Padahal aku bisa makan sendiri, Mas," katanya.
"Mumpung nggak ada anak-anak, kamu manja sama aku juga nggak apa-apa," kataku yang kembali membuat pipinya merona.
"Udah jadi Ibu anak dua, nggak cocok, Mas," jawabnya.
Aku terkekeh, "Nggak apa-apa, kan nggak setiap saat. Udah, sekarang makan dan nggak ada bantahan lagi."
Nina akhirnya menerima suapanku, kami pun makan secara bergantian. Ini menjadi pertama kalinya aku dan dia makan di satu piring yang sama dengan aku yang menyuapinya. Ternyata tidak buruk sama sekali dan membuat aku senang melakukannya. Mungkin sesekali kami harus lebih sering seperti ini.
"Katanya besok Mbak Indira mau datang ke rumah, tadi telepon aku waktu kamu urus administrasi," ucap Nina di sela-sela makan kami.
Aku mengangguk, "Kemarin Nares sempat telepon juga. Tadinya mau kemarin cuma aku bilang nanti pas di rumah aja kalau mau lihat kamu sama Ana."
Setelah itu, kami pun membicarakan hal lain sembari menikmati makan siang kami yang ujungnya Nina menyuapiku.
"Makasih ya, kamu udah menjadi istri dan ibu yang luar biasa buat aku sama anak-anak," ucapku tiba-tiba setelah kami selesai makan bersama.
"Mas juga, makasih karena Mas udah menjadi suami dan ayah luar biasa buat aku, Rian dan sekarang ada Ana," balasnya.
Aku tersenyum lalu memberikan kecupan singkat di keningnya. Aku tidak menyangka bahwa semakin lama bersama dengan dia, aku semakin merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Aku juga tidak menyangka akan jatuh cinta kembali setelah merasakan kehilangan yang membuat aku terpuruk karenanya.
Sekarang aku semakin bersyukur karena telah dipertemukan dengan Nina meskipun kondisi kami saat itu tengah memiliki permasalahan masing-masing. Namun semuanya bisa terselesaikan dan kami berada di titik ini sekarang, sekali lagi aku katakan, aku beruntung sekali dipertemukan dengan Nina.