Rian sakit, membuat anak lelakiku semakin manja pada mamanya. Sudah dua hari ini Rian tidak masuk sekolah karena demam, hal tersebut karena dua hari lalu juga Rian malah hujan-hujanan dan kondisinya sedang tidak baik. Karenanya langsung jatuh sakit seperti ini dan tidak mau jauh-jauh dari Nina.
Sekarang saja Rian sedang makan disuapi oleh Nina, sementara Ana bersama denganku. Untungnya anak perempuanku ini tidak rewel, meskipun hanya sebentar saja dengan mamanya karena terlalu fokus pada Rian yang sedang manja.
Aku pun tidak berangkat ke restoran selama dua hari ini, kasihan istriku yang harus mengurus anak-anak sendiri. Asisten rumah tangga kami juga baru saja berhenti karena memilih untuk pulang kampung, aku belum menemukan pengganti yang cocok. Tetapi karena pekerjaanku tidak banyak, jadinya sekarang bisa kubantu menjaga anak-anak.
"Kak Rian, gantian dong sama adeknya. Masa dari tadi Mama harus sama Kakak terus," ucapku setelah Rian selesai makan dan Nina pergi ke dapur membereskan alat makan yang barusan digunakan.
"Adek kan sama Ayah, jadi Mama sama Kakak aja," balasnya.
"Kasihan Adek mau mimi dulu, kan harus sama Mama. Kak Rian nonton sama Ayah dulu ya," bujukku.
Bukan hanya karena Ana harus diberikan asi, tetapi kalau akan tidur memang Nina yang lebih bisa menina bobokan Ana. Kalau aku, ujungnya pasti Ana malah bangun lagi.
Rian akhirnya mengangguk setelah berhasil aku bujuk untuk menonton televisi bersamaku. Lalu setelah Nina menghampiri kami kembali, aku langsung memindahkan Ana pada gendongannya.
"Anaknya lapar, Rian biar sama aku," ucapku saat Nina menatap penuh tanya.
Nina mengangguk lalu memilih untuk pergi ke kamar sembari menina bobokan Ana di sana. Aku sudah mengajak Rian untuk menonton kartun kesukaannya.
"Ayah, Rian nanti latihan karate. Ayah yang antar kan?" tanya Rian saat kami sedang menonton.
Aku menoleh dan mengangguk sebagai jawaban. "Kalau bukan Ayah, memangnya kamu mau pergi sama siapa? Pak supir kan lagi sakit," ucapku.
"Tapi, kamu masih sakit. Jadi latihannya libur dulu. Ayah udah bilang kok sama pelatih karatenya."
"Besok kalau udah sembuh boleh pergi latihan?"
Rian memang sangat suka dengan karate, kalau libur satu hari saja anak itu malah galau. Padahal anak-anak lain malah senang saat mendapatkan libur.
"Boleh. Rian harus makan yang banyak terus minum obat juga, biar nanti sembuh dan bisa latihan sama teman-teman."
Rian mengangguk, "Oh iya, Ayah. Kata Nenek sebentar lagi Mama Atika ulang tahun," ucapnya membuatku terdiam.
Tidak terasa ulang tahun Atika sudah di depan mata, untung saja Rian mengatakannya padaku. Aku juga belum mengunjungi Atika kembali, mungkin nanti akan aku kunjungi.
"Nanti kita berdoa buat Mama ya, hadiah ulang tahunnya seperti biasa," ucapku yang langsung mendapatkan anggukan dari Rian.
Doa adalah hadiah yang selalu aku dan Rian berikan di hari ulang tahun Atika, maupun peringatan kepergiannya. Tidak pernah terlewat setiap tahun, aku juga akan memberikan bunga mawar sesuai dengan bertambahnya usia Atika, kalau saja dia masih hidup.
"Semoga Mama bahagia di surga," ucap Rian membuatku tersenyum menatapnya.
"Aamiin."
Akupun merapalkan doa yang sama, berharap di sana Atika mendapatkan tempat paling nyaman. Kelak, saat waktunya tiba, aku akan datang menghampirinya dan bersama dengan Atika di atas sana.
**
Aku tersenyum membawa beberapa tangkai bunga yang tadi aku beri dari toko langgananku. Sore ini aku mengunjungi Atika sendirian, setelah tadi berpamitan pada Nina dan anak-anak. Karena ada Ibu di rumah, aku tenang meninggalkan mereka.
Berjalan menghampiri makam Atika, aku langsung berjongkok setelah berada di sampingnya, tidak lupa menyimpan bunga yang aku bawa di atas gundukan tanah. Makamnya selalu bersih karena orang yang kumintai tolong selalu membersihkan setiap minggu.
"Selamat sore, Sayang." Aku mengelus nisannya yang terukir nama Atika begitu indah.
"Beberapa hari lagi kamu ulang tahun, nanti aku kasih bunga spesial buat kamu. Maaf ya, hampir aja aku lupa. Tapi anak kita yang malah ingat dam kasih tahu aku. Rian bilang dia bakalan kasih hadiah doa seperti biasa buat kamu, anak kita udah pintar banget," lanjutku bercerita kepada Atika.
Meskipun Atika sudah berpulang cukup lama, tetapi aku selalu merasakan dia tetap ada bersamaku. Mungkin karena Atika selalu ada di dalam hatiku dan tidak pernah aku lupakan, alhasil aku selalu merasakan dirinya berada dekat denganku.
"Nina udah melahirkan, anak perempuan. Sama seperti anak kedua kita dulu kalau aja dia lahir ke dunia ini. Maaf aku kembali membuka luka lama, tetapi kamu nggak usah sedih lagi. Anak Nina juga anak kita, Sayang."
Aku yakin, Atika pasti ikut berbahagia di sana atas kelahiran anak perempuan kami -aku dan Nina- yang menyempurnakan keluarga kecil kami. Karena dulu Atika sempat bicara padaku bahwa dia ingin memiliki anak perempuan, pastinya sekarang dia senang karena aku memiliki anak perempuan meskipun bukan darah dagingku sendiri.
"Namanya Ana, nanti kalau Ana udah besar dan bisa di bawa ke sini. Aku bakalan kenalin dia sama kamu, dia pasti senang karena punya Mama seperti kamu juga, sama kaya Rian yang senang memiliki dua Mama dalam hidupnya. Aku harap Ana juga bisa memanggil kamu dengan panggilan Mama."
Aku terus bercerita kepada Atika. Hal yang selalu aku lakukan setiap kali mengunjunginya di sini, aku akan merasa sangat lega saat menceritakan semuanya kepada Atika. Apalagi saat aku sedang bersedih karena terlalu merindukan dirinya.
Sekarang, aku tidak akan bersedih karena itu akan membuat Atika ikut bersedih. Lagipula sekarang kehidupanku sudah begitu bahagia dan merasa lengkap, ada istri dan anak-anak yang menemaniku.
Selesai menceritakan semuanya kepada Atika, tidak lupa membacakan doa untuknya yang berada di alam sana. Aku pun segera pulang karena hari semakin sore dan cuaca tidak mendukung sekali, sebentar lagi akan hujan.
Aku masih ingin bersama dengan Atika, tetapi kondisinya tidak memungkinkan. Apalagi akan turun hujan, tidak mungkin aku hujan-hujanan dan nantinya akan sakit malah semakin membuat Nina kerepotan.
Masuk ke dalam mobil, aku langsung menginjak pedal gas dan melajukan mobilku menjauhi area pemakaman. Sebelum pulang, aku harus membelikan pesanan istriku. Katanya dia ingin kue dari toko milik Nares. Sekalian saja bertemu dengan Nares karena waktu itu kami belum sempat bertemu saat Indira dan Gea ke rumah.
Toko kue milik Nares berada tidak jauh dari lokasi pemakanan tadi, membuat aku tidak usah berlama menghabiskan waktu di jalan untuk sampai di toko tersebut.
Aku sudah memasuki toko dan yang menyambutku adalah Nares. Memang bukanlah hal yang asing saat Nares secara langsung bahkan melayani pembeli yang datang ke tokonya.
"Tumben datang sendirian," ucap Nares setelah aku berada di hadapannya.
"Dari tempat Atika, mampir karena Nina nitip kue kaya biasa," balasku.
Nares mengangguk kemudian menyuruh pegawainya untuk menyiapkan pesananku. Lalu dia mengajak aku untuk duduk lebih dulu, hujan sudah mulai turun, untung saja aku sudah sampai di sini, bukan berada di pemakaman yang pastinya akan basah kuyup nanti.
"Nanti kuenya dibikin lagi?" tanya Nares.
Aku sudah paham arah pembicaraannya, kue ulang tahun yang selalu Nares siapkan atas permintaan aku, kue untuk merayakan ulang tahun Atika, hanya aku sendirian dan itu sudah berlangsung beberapa tahun ini, tepatnya setelah aku kehilangan Atika.
"Tahun ini nggak perlu," ucapku.
Nares mengangguk tanpa bertanya apa pun, yang malah membuatku bingung karena dia seakan mengetahui alasannya.
"Lo nggak tanya kenapa gue nggak minta kue lagi?" tanyaku akhirnya yang malah membuat Nares terkekeh.
"Sudah waktunya kan, Bas. Lo bahagia dengan kehidupan lo yang sekarang dan cukup dengan mendoakan Atika saja, hadiah yang benar-benar spesial buat dia."
Nares benar-benar mengerti sekali, mungkin karena selama ini dia yang menjadi saksi bagaimana aku kehilangan Atika dan perlahan berusaha menata hidup kembali.
"Lo benar-benar bahagia kan sekarang, Bas?" tanya Nares.
Aku mengangguk tanpa keraguan. "Sangat dan gue terus bersyukur telah dipertemukan dengan Nina."