Hari ini Atika berulang tahun. Aku mengajak Nina dan Rian untuk mengunjungi Atika, sementara Ana bersama dengan Ibu di rumah. Sebenarnya aku juga menyuruh Nina untuk menunggu di rumah saja, takut Ana rewel, tetapi istriku ingin menemui Atika juga, katanya sudah lama tidak berkunjung.
Seperti yang kubilang beberapa hari lalu saat aku mengunjungi Atika sendirian, aku akan membawakan bunga spesial untuknya di hari ulang tahun nanti dan sekarang aku membawanya sebagai hadiah untuk Atika. Malah Nina sendiri yang memilih bunga tersebut.
"Selamat ulang tahun, Mama Tika," ucap Rian membuatku tersenyum mendengarnya.
Kami sudah berada di dekat nisan bertuliskan nama Atika, aku menyimpan bunga di atas pusaranya. Lalu kami pun memanjatkan doa sebagai hadiah paling spesial untuknya.
"Terima kasih kamu sudah melahirkan Rian dan memberikan aku anak seperti dia yang sangat pintar juga penyayang, terima kasih juga karena kamu sudah mencintai aku dengan tulus. Maaf atas apa yang sudah aku lakukan dulu," ucapku sembari mengelus nisan tersebut.
Nina berada di sampingku, mengelus punggungku penuh kelembutan. Ucapannya membuat hatiku tenang, kali ini aku benar-benar tidak sendirian, aku memiliki Nina di dalam hidupku dan kami sudah membuka lembaran yang baru dengan keluarga kecil kami.
"Aku janji, kali ini aku akan bahagia dengan Nina dan anak-anak. Kamu pasti bahagia kan di sana," lanjutku masih berbicara sembari menatap ukiran nama Atika pada nisannya.
"Rian tumbuh menjadi anak yang luar biasa, kamu akan sangat bangga melihatnya sekarang, karena anak kita sudah semakin besar dan pintar. Terkadang aku kewalahan kalau Rian sudah banyak bertanya."
Nina memberikan aku waktu untuk mencurahkan semua yang ada di hati dan pikiranku pada Atika. Dia begitu mengerti dengan situasi yang terjadi sekarang, dia juga tidak pernah marah karena aku masih memperhatikan Atika seperti ini. Nina adalah perempuan luar biasa yang mengerti diriku.
Lalu setelah aku puas berbicara, kini giliran Rian yang bicara. Anakku itu menceritakan kegiatan di sekolahnya dan kegiatan di rumah bersama dengan Ana. Rian kelihatan antusias sekali menceritakan tentang Ana kepada Atika, dia memang begitu menginginkan adik. Dan setelah itu, giliran Nina yang berbicara pada Atika.
"Terima kasih Mbak Tika, mungkin semua sudah menjadi garis yang Tuhan tetapkan. Pertemuan aku sama Rian sampai akhirnya aku memiliki keluarga baru, memiliki suami dan anak-anak seperti ini. Ana, dia juga akan menjadi anak Mbak, nanti aku akan bilang sama dia kalau dia juga memiliki Mama yang luar biasa seperti Mbak Tika."
Aku mendengar semuanya, membuat hatiku menghangat karena ucapan yang keluar dari mulut istriku. Nina memang benar, bahwa semua sudah menjadi garis Tuhan. Tidak menyangka pertemuan dirinya dengan Rian dulu malah membuat kami hidup bersama dan mendapatkan kebahagiaan luar biasa seperti ini.
"Aku akan selalu menjaga Mas Tian dan Rian, Mbak. Aku sudah berjanji untuk itu dan sampai kapanpun akan terus bersama dengan mereka."
Nina masih terus berbicara sampai akhirnya semua yang ada di hati dan pikirannya terungkapkan, kami memutuskan untuk pulang karena tidak mungkin meninggalkan Ana terlalu lama bersama dengan Ibu, takut anak perempuanku itu rewel.
Ulang tahun Atika kali ini, aku memanjatkan doa untuk dirinya. Semoga istriku di tempatkan di tempat spesial di sisi Tuhan.
**
Seharian ini kami hanya berada di rumah, tadinya akan jalan-jalan tetapi cuaca hari ini tidak mendukung, malah hujan dari pagi.
Nina kali ini sedang berada di dapur untuk membuat kue karena tadi Rian tiba-tiba mengatakan ingin makan kue buatan mamanya. Untung bahan-bahan untuk membuat kue masih ada stok, jadi kita tidak perlu keluar untuk membelinya.
Selagi Nina berkutat dengan alat dapur dan bahan kue, aku bersama anak-anak berada di ruang tengah. Menemani Rian yang sedang main mobil-mobil hadiah dari Nares. Kalau Ana seperti biasa tengah tidur saja, mungkin karena kenyang minum s**u.
Kalau begini, aku menjadi ingat bagaimana kehidupanku dengan Atika dulu. Setiap ada waktu luang dan kami tidak berniat untuk pergi keluar, yang kami lakukan hanya seharian di rumah dengan melakukan kegiatan yang sama seperti apa yang terjadi sekarang dan aku sangat menyukainya karena kami menghabiskan waktu bersama di rumah.
"Ayah, masa tadi Gea bilang kalau dia juga mau punya adik."
Perkataan Rian membuatku menoleh, Gea akan memiliki adik? Berarti Indira hamil anak kedua? Kalau benar, tentu saja dia ikut bahagia. Apalagi selama ini, baik Indira maupun Nares selalu mengharapkan kehadiran anak kedua. Sekarang, Tuhan mengabulkannya.
"Kapan Gea bilang?" tanyaku pada Rian. Karena aku sendiri belum mendengar kabar bahagia itu dari Indira dan Nares.
"Tadi Gea telepon, dia senang banget karena mau punya adik," balasnya.
Aku tersenyum mendengarnya, mungkin sebentar lagi Nares akan memberitahu kabar baik tersebut.
Setelah itu, Rian pun kembali asyik bermain dan aku mulai menggendong Ana yang sudah bangun dan merengek, mungkin mencari keberadaan mamanya. Tetapi, tidak lama anak itu merengek. Saat aku berhasil menggendongnya, Ana langsung diam dan tampak nyaman di gendonganku.
Lalu tak berselang lama, Nina datang menghampiri kami dengan kue yang baru saja dia buat. Wanginya sangat enak dan aku tidak sabar mencicip kue tersebut. Nina belajar membuat kue dari Indira, kedua perempuan itu selalu menghabiskan waktu di dapur kalau sudah bertemu dan aku senang karena istriku mudah akrab dengan Indira seperti itu.
"Enak, Ma. Rian pengen lagi," ucap Rian setelah melahap kue keju yang Nina buatkan untuk kami. Padahal belum sepenuhnya habis kue di atas piringnya, tetapi Rian sudah kembali meminta kuenya.
"Itu belum habis, Kak Rian. Nanti tambah lagi kalau udah habis, lagian ini juga masih banyak, nggak akan kehabisan," ucapku pada Rian.
"Enak, jadinya Rian mau makan terus," balasnya.
Rian memang benar, kalau kue buatan Nina enak. Sudah lebih baik dari sebelumnya dan aku bangga karena dia mudah belajar apa pun yang selama ini belum pernah dia lakukan.
"Oh iya, sebentar lagi libur sekolah?" tanyaku. Menatap Nina dan Rian secara bergantian, keduanya kompak mengangguk.
"Minggu depan udah libur, kemarin dapat informasi dari gurunya Rian."
Aku mengangguk, "Kalau gitu kita jalan-jalan, liburan di dalam kota aja ya. Soalnya Ana masih kecil kalau harus pergi jauh."
Perkataanku tentang liburan membuat Rian memekik senang. Karena kami sudah lama tidak berlibur, jadinya aku memutuskan untuk mengajak mereka liburan. Tetapi, tidak ke tempat jauh yang berada di luar kota. Kali ini aku mengajak mereka liburan di dalam kota saja, mengingat Ana masih kecil jadinya aku putuskan untuk liburan yang dekat saja. Ini akan menjadi quality time kami yang benar-benar di luar rumah.