Dua hari ini kondisi tubuhku bisa dibilang tidak baik-baik saja. Tetapi, aku berusaha untuk tetap baik di hadapan istri dan anak-anakku karena takut mereka khawatir, apalagi Nina yang pastinya akan panik kalau aku kenapa-napa.
Mungkin karena aku terlalu lelah setelah banyak pekerjaan yang aku kerjakan, apalagi tengah membuat cafe sebagai usaha baru yang aku rintis bersama dengan Nares.
Memang ini rencana yang sudah kami susun jauh-jauh hari, baru sekarang mulai pengerjaan setelah aku dan Nares mempertimbangkan secara matang tentang lokasi dan berbagai macam keperluan lainnya untuk pembangunan cafe kami ini, yang rencananya akan kami namakan cafe pelangi. Mengusung konsep remaja masa kini, karena memang aku dan Nares memutuskan untuk menarik pelanggan kaum muda yang pastinya selalu membutuhkan tempat untuk sekedar menghabiskan waktu bersama dengan teman-teman.
Kemarin aku dan Nares juga baru melihat progres pembangunan cafe yang memang kami rombak kembali bangunan yang sudah ada, lebih diperluas dan menambahkan tempat parkir di sampingnya.
Ini juga menjadi kejutan untuk istri-istri kami, karena Indira dan Nina tidak mengetahui rencana yang kami buat. Mereka pasti akan sangat terkejut dan tentu saja senang dengan apa yang kami bangun ini.
"Mas, muka kamu kok pucat?"
Nina sudah berada di sampingku, cukup membuatku terkejut dengan kedatangannya. Sejak tadi aku duduk di tepi ranjang, setelah kembali merasakan pusing saat keluar dari kamar mandi.
"Capek aja," balasku.
"Aku pijitin ya, kamu akhir-akhir ini sibuk dan pulang hampir malam terus. Pasti kecapekan banget kan," ucapnya lalu duduk di sampingku dan mulai memijat bahuku.
"Makasih ya."
"Kamu harus jaga kesehatan, jangan sampai karena banyak pekerjaan malah abai sama kesehatan kamu." Nina memang akan sangat bawel kalau soal kesehatan.
"Tiduran, Mas, kamu juga demam ini."
Padahal aku pikir dia tidak akan menyadarinya, tetapi mau bagaimana memang terlalu kentara sekali kalau aku demam. Mungkin karena tadi juga memaksakan untuk mandi, membuat kondisiku malah berakhir seperti ini.
Nina membantuku untuk berbaring di atas tempat tidur, lalu dia menarik selimut menutupi tubuhku sampai d**a. Aku tidak enak sekali karena merepotkan dia, meskipun Nina adalah istriku. Apalagi baru kemarin Rian sembuh dan Nina yang menjaganya dengan penuh perhatian, sekarang malah aku yang sakit.
"Baru kemarin kamu jagain Rian karena sakit, sekarang malah aku yang sakit dan bikin repot," ucapku.
"Kamu ngomong apa sih. Udah jadi kewajiban aku buat jagain kalian, apalagi rawat kalian saat sakit kaya gini. Sama sekali nggak merasa direpotkan," balasnya membuat aku tersenyum.
"Aku siapin bubur dulu ya, kamu belum makan kan?"
Aku mengangguk, "Nasi biasa aja, jangan bubur."
"Ya udah, aku bawain dulu. Kamu istirahat aja, sekalian lihatin Ana takut bangun," balasnya.
Ana tengah tidur di box bayinya, yang baru aku beli dua hari lalu setelah banyak mempertimbangkan dengan Nina. Karena Ana memang tidur bersama kami di tempat tidur yang sama, tetapi aku merasa anakku membutuhkan tempat tidurnya sendiri dan ya, tahu sendirilah terkadang aku juga membutuhkan tempat berduaan dengan istriku, jadinya aku putuskan untuk membelikan tempat tidur untuk Ana.
Aku menunggu Nina sembari memejamkan mataku, sepertinya sudah lama sekali aku tidak sakit seperti ini. Terakhir, mungkin saat masih ada Atika di hidupku. Persis seperti Nina sekarang, dulu Atika juga sangat bawel kalau sudah soal kesehatanku.
"Aku kan udah bilang, kerajaan bisa nanti, yang penting itu kesehatan kamu, Mas."
Atika mengomel ditengah kepalaku yang merasa sangat pusing sekali. Baru sekarang kondisiku seperti ini dan istriku sudah bawel sekali. Tetapi, tandanya dia sangat menyayangi dan mengkhawatirkan aku sebagai suaminya.
"Aku buatin bubur ya, nanti kamu makan obat kalau udah makan buburnya," ucap Atika. Dengam perut yang membuncit, dia masih cekatan mengurusku.
"Nasi biasa aja, kamu lagi hamil dan jangan banyak aktifitas nanti bikin capek," ucapku menolak Atika yang akan membuatkan bubur.
"Sebentar aja, lagian mudah kok, nggak bikin aku capek. Pokoknya kamu istirahat, aku ke dapur dulu," katanya yang kali ini tidak mau dibantah.
Aku akhirnya mengangguk, membiarkan dia pergi ke dapur. Untung saja kami sudah berpindah kamar ke lantai bawah, jadi aku tidak perlu khawatir karena istriku tidak harus menuruni tangga kalau akan ke dapur sekarang.
Aku menunggu Atika menyiapkan bubur, tidak begitu lama dia sudah kembali ke kamar membawa bubur buatannya.
"Suapin," ucapku saat Atika menyodorkan mangkuk padaku.
Atika mendelik, "Manja deh kalau sakit," katanya namun tak urung melakukan apa yang aku suruh.
"Manja sama istri sendiri nggak masalah, Sayang," balasku lalu menerima suapan pertamanya. Bubur ini semakin enak karena disuapi oleh istriku.
"Mas, makan dulu."
Suara Nina membuat lamunanku akan Atika buyar. Tidak lama, Nina sudah kembali membawa nampan yang di atasnya sudah ada sepiring makanan dan segelas air putih. Aku pun merubah posisi menjadi duduk sembari bersandar di ranjang.
"Habis ini kamu minum obat terus istirahat ya, semoga besok udah turun demamnya," ucap Nina sembari memberikan piring yang berisi nasi dan lauk pauk kepadaku.
Aku pun mulai memakannya, meski lidahku terasa pahit tetapi aku berusaha untuk menghabiskan makanan yang Nina ambil untukku. Sayang kalau tidak dihabiskan dan kasihan Nina sudah menyiapkan makanan ini untukku.
Setelah menghabiskan makanan tersebut, Nina memberikan obat kepadaku yang langsung aku terima dan meminumnya. Dengan penuh kelembutan dia juga kembali memijit kakiku, saat aku kembali merebahkan tubuhku.
"Besok jangan kemana-mana ya, Mas. Kamu harus istirahat dulu, aku melarang kami buat pergi ke restoran," ucapnya masih memijat kakiku.
Aku mengangguk lemah, lagipula aku juga berencana untuk libur saja. Mungkin benar, waktunya aku memikirkan kesehatanku dan tidak terus menerus memforsir tubuhku untuk terus bekerja. Lagipula aku juga memiliki pegawai yang bisa di andalkan selama ini, jadi tidak khawatir kalaupun aku tidak datang ke restoran karena mereka selalu bisa memastikan semuanya lancar dan terkendali.
"Kamu tidur juga, pasti capek ngurus anak-anak," ucapku menyuruh Nina agar ikut merebahkan tubuhnya.
Aku tahu tidak mudah menjadi seorang ibu, apalagi memiliki dua anak yang masih kecil dan sama-sama butuh perhatian. Sampai sekarang pun Nina menolak untuk mempekerjakan baby sitter karena dia tidak mau kalau anak-anak malah lebih dekat dengan orang lain dibandingkan dengan orang tuanya sendiri dan aku setuju saja, tidak memaksa selagi Nina nyaman dengan semuanya.
"Aku nggak apa-apa, Mas aja yang istirahat."
Mataku berat sekali, ditambah pijatan Nina membuat aku merasa nyaman dan ingin segera terlelap.
"Cepet sembuh ya, Mas."
Samar-samar aku mendengar suara Nina penuh ketulusan, membuatku tersenyum tipis sebelum akhirnya terlelap dalam tidurku.