Dia sangat mencintai kamu melebihi dirinya sendiri.
Kalimat itu terus terngiang membuatku kembali memikirkan tentang Atika. Sebesar itukah rasa cintanya kepadaku dulu, tetapi tidak pernah aku sadari dan malah terus menyakiti dirinya.
Aku benar-benar buta, tidak melihat betapa Atika mencintaiku dengan tulus waktu itu. Aku malah terus saja mengabaikan dirinya, tetapi satu hal yang aku syukuri, setidaknya seiring berjalannya waktu, aku bisa memperlakukan dia dengan baik selama kehamilan yang terus membesar, meskipun aku hanya memiliki waktu singkat untuk memberikan kebahagiaan untuk dirinya.
Apakah sekarang aku salah, karena masih saja memikirkan Atika sementara ia telah tiada. Dan kali ini aku sudah bersama dengan Nina juga kedua anakku. Tetapi, bayangkan Atika tidak pernah bisa hilang begitu saja, termasuk rasa cintaku kepada perempuan itu, semakin lama namanya terus melekat di dalam hatiku.
Atika, jika kamu ada di sini. Apakah kamu akan memberikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, mengobati rasa sakit yang aku berikan kepadamu. Atau mungkin kamu akan membenciku sebesar rasa cinta yang kamu berikan kepadaku.
Aku terus menatap kotak yang berisi barang-barang milik Atika, yang tadi Nova berikan kepadaku. Setelah Atika meninggalkan aku untuk selamanya, aku juga tetap menyimpan barang-barang milik Atika di rumah, bahkan aku simpan di ruangan khusus dan sekarang bertambah dengan barang-barang ini, yang aku masih belum tahu apa saja di dalam kotaknya.
Aku beranjak, mengambil kotak tersebut dan menyimpan ke tempat yang lebih aman. Aku akan membukanya nanti setelah berada di rumah. Setelah memastikan kotak tersebut aman, aku kembali melanjutkan pekerjaan, keluar dari ruangan dan bergabung untuk membantu para pegawaiku yang tengah sibuk di lantai satu.
**
Acara ulang tahun berjalan dengan lancar, pelangganku sangat puas atas apa yang aku dan para pegawaiku berikan untuk kelancaran acara tersebut. Aku juga ikut senang karena acara ini berjalan seperti apa yang aku dan yang lain harapkan.
Selesai membereskan sisa-sisa pesta, yang tentu saja sampai akhir di kerjakan oleh semua pegawaku. Aku memilih untuk segera pulang, tidak lupa membawa kotak pemberian Nova tadi. Tidak sabar juga melihat barang apa saja yang Atika tinggalkan.
Perjalanan pulang cukup memakan waktu, karena jalanan macet, belum lagi hujan turun malah semakin deras. Membuat beberapa pengendara sepeda motor mencari tempat untuk berteduh, sementara yang mengendarai kendaraan roda empat terus melaju di tengah kemacetan jalanan sore ini.
Setelah berlama-lama di jalan dengan kemacetan, aku akhirnya sampai di rumah. Membawa masuk kotak yang tadi aku bawa dan segera masuk ke dalam rumah. Terdengar suara Rian dari ruang tengah, sepertinya anak itu sedang mengajak main adik perempuannya.
Berada tidak jauh dari posisi anak-anak, aku tersenyum memperhatikan Rian yang sedang mengajak Ana berbicara. Sesekali tangan mungilnya mengusap pipi sang adik, lalu memberikan ciuman singkat di pipinya. Sementara Nina, aku tidak melihat keberadaannya.
"Ayah!" pekik Rian yang menyadari keberadaanku. Dia berlari menyambut kepulanganku.
Aku merentangkan tangan, setelah menyimpan kotak tadi di bawah dekat meja. Memelu Rian seperti kami sudah lama tidak bertemu, lalu mendekati Ana yang tampak asyik menggerakkan kakinya.
"Mama mana?" tanyaku pada Rian.
"Masak. Tadi aku jagain Ana loh, Yah. Dia nggak nangis main sama aku," jawabnya membuatku mengelus rambut Rian.
"Pintar. Sekarang udah bisa jagain adiknya, harus terus dijagain sampai besar nanti ya," kataku memberikan nasihat kepadanya.
Rian mengangguk. "Siap, Ayah. Rian pasti terus jagain Ana sama Mama juga," balasnya.
Aku tersenyum lebar, lalu aku beranjak untuk mencari keberadaan Nina setelah mencium pipi chubby milik anak perempuanku. Semakin hari, semakin menggemaskan sekali Ana di mataku.
Ternyata Nina sedang berkutat dengan peralatan dapur, dia menoleh menyadari langkah kakiku yang semakin mendekat. Senyumnya membuat aku selalu merasa tenang dan lelahku hilang seketika. Nina adalah rumah yang selalu menjadi tempatku untuk pulang dan merasa nyaman.
"Aku kira Mas masih di jalan," katanya setelah mencium tanganku seperti kebiasaan kami setiap harinya. Entah itu aku berangkat bekerja ataupun pulang bekerja seperti kali ini.
"Agak macet sih tadi, tapi masih bisa pulang tepat waktu."
Dia menganggukkan kepalanya seraya berkata, "Mau makan atau mandi dulu? Biar aku siapin, masakannya udah mateng juga kalau Mas mau duluan makan."
"Mandi aja, nanti kita makan sama-sama," jawabku.
"Ya udah aku siapin airnya dulu ya, Mas." Nina mematikan kompor lalu berjalan keluar dari dapur menuju kamar yang berada di lantai atas. Sementara aku hanya mengikuti dia dari belakang, tidak menolak apa yang akan dia lakukan karena percuma, Nina selalu memiliki cara untuk aku tidak bisa menolaknya.
Aku kembali ke ruang tengah, menjaga anak-anak dulu sebelum Nina selesai menyiapkan air untuk aku mandi. Rian sudah kembali mengajak Ana bermain, keduanya tampak anteng sekali.
Tidak berselang lama, Nina sudah menghampiri kami dan menyuruhku untuk segera mandi. Tidak lupa memberitahu kalau dia juga sudah menyiapkan pakaian ganti yang dia simpan di atas tempat tidur.
Aku akhirnya berjalan menaiki tangga menuju kamar kami, sembari membawa kotak yang tadi. Nina tidak mengatakan apa pun, padahal aku yakin dia melihat aku yang membawa kotak berukuran cukup besar.
Sebelum masuk ke dalam kamar, aku menyimpan kotak tersebut di ruangan lain. Tidak jauh dari kamarku dengan Nina. Di ruangan ini terdapat barang-barang Atika, serta foto kebersamaan kami yang memang aku pindahkan ke sini setelah pernikahanku dengan Nina dilangsungkan.
Aku tidak ingin melukai Nina semakin dalam, dengan tetap memajang foto kebersamaan kami -aku dan Atika, membuat Nina malah merasa hanya menjadi seorang pengganti. Alhasil aku memindahkan semuanya ke sini dan aku menguncinya rapat-rapat, hanya aku yang tahu betapa banyak fotoku dengan Atika di sini.
Aku tahu, seperti ini pun aku tetap akan menyakiti Nina. Tetapi, sungguh aku tidak bisa begitu saja melepaskan dan melupakan Atika yang menjadi perempuanku dan ibu dari anakku, Rian.
Setelah menyimpan kotak tersebut, aku bergegas untuk mandi. Karena Nina dan anak-anak sudah menungguku untuk makan bersama di bawah, mungkin nanti malam aku akan membuka kotak tersebut, melihat semua barang yang Atika tinggalkan di rumah Nova waktu itu.
Aku belum bisa memberitahu Nina perihal semua ini, aku tidak bisa melihat Nina yang malah memikirkan tentang diriku yang masih tidak lepas dari bayang-bayang Atika. Biarlah nanti, akan aku ceritakan semuanya kepada Nina.
Sekarang cukup Nina tahu bahwa aku sudah menerima dia dan mencintai dia sebagai istri dan ibu dari anak-anak, meskipun Ana bukanlah anakku, tetapi seperti janjiku. Aku akan tetap menganggapnya seperti anakku sendiri.