Aku menghampiri istri dan anak-anak di bawah, bergabung dengan Rian dan Akan sembari menunggu Nina menyiapkan makanan untuk kami. Ana merengek, membuat aku langsung menggendongnya. Karena sebelumnya aku sudah memiliki pengalaman, menggendong bayi tidaklah sekaku saat pertama kali Rian melengkapi kehidupanku.
Ana kembali anteng dalam pangkuanku, sementara Rian yang duduk di samping mulai mengelus pipi adiknya, benar-benar tidak mau diam dan terus saja melakukan itu sampai Ana terusik.
"Jangan diganggu Kak Rian," tegurku. Bukannya takut malah Rian cengengesan, membuat aku mencubit pipinya, gemas.
"Habisnya Adek kok mau bobo lagi, kan aku belum puas mainnya, Yah," ucap Rian.
"Kasihan, ngantuk adeknya. Rian ke Mama aja, tanyain makanannya udah siap belum," balasku lalu menyuruh Rian untuk menghampiri Nina yang masih berada di dapur.
Rian mengangguk, setelahnya berlari ke arah dapur kembali berteriak memanggil mamanya. Aku sampai menutup telinga Ana karena takut terkejut dengan teriakan kakaknya. Padahal tadi sudah aku bilang jangan mengganggu adiknya, sekarang malah berteriak sudah seperti di hutan.
Tidak lama, Nina dan Rian berjalan menghampiri aku dan Ana. Nina mengambil alih Ana dari gendonganku, lalu menyuruh kami untuk segera makan karena semuanya sudah siap. Kali ini aku menarik tangan Nina menyuruhnya untuk bergabung dengan aku dan Rian.
Memang, Nina jarang makan malam bersama kami apalagi kalau Ana sudah rewel dan hanya mau padanya. Tetapi kali ini aku ingin Nina ikut bersama kami, meskipun sambil menggendong Ana yang sudah terlelap.
"Kamu juga makan, aku suapin," ucapku. Lalu menyuruh Nina untuk duduk di kursinya, pun dengan Rian yang sudah duduk manis.
"Mas sama Rian aja yang makan, aku bisa nanti," ucapnya malah menolak.
Aku menggeleng, "Masa kita makan kamu nggak, kam harus sama-sama menikmati masakan kamu. Kali ini aku suapin, kapan lagi kan disuapin sama suaminya yang ganteng ini," balasku dengan penuh percaya diri.
Nina tertawa mendengarnya, inilah yang aku sukai. Setiap kali melihat Nina tertawa lepas seperti ini, jarang sekali aku melihatnya kalau bukan dia bermain dengan anak-anak.
"Mas kenapa sih, ngomongnya gitu. Aneh tahu, aku dengarnya," ucap Nina masih dengan tawa pelannya.
Aku mengedikkan bahu, tidak tahu juga kenapa aku bicara begitu. Ingin saja dan sekarang Nina tertawa kan karena perkataanku. Setelah itu kami makan bersama, seperti yang aku katakan tadi Nina makan disuapi olehku.
"Ayah, nanti jadi kan liburannya? Rian pengen ke kebun binatang, pasti seru deh." Rian memecah keheningan di antara kami.
Aku sontak menatapnya, liburan yang kami rencanakan memang sebentar lagi akan menjadi kenyataan. Tinggal menuggu Rian libur sekolah saja dan kami akan pergi berlibur ke tempat yang sudah Rian pilih.
Aku sih tidak masalah, mau ke manapun asalkan bersama dengan keluarga kecilku. Semuanya pasti akan sangat menyenangkan, membayangkan saja membuat aku tersenyum.
Kami pun membahas liburan nanti, Rian yang tampak antusias terus saja tidak sabar ingin segera berlibur dengan aku, Nina dan Ana. Ini akan menjadi liburan kami yang pertama dengan kehadiran Ana di antara kami, Rian senang sekali, bisa terlihat secara jelas di raut wajahnya yang tampak berbinar berbeda dari biasanya.
Selesai makan malam bersama, lalu menemani Rian belajar di ruang tengah. Aku menggendong Rian yang sudah ketiduran di atas sofa. Ternyata anak lelakiku sudah sangat berat dan tentunya semakin pintar.
Nina juga sudah menidurkan Ana di tempat tidur milik anak perempuan kami. Sudah beberapa hari ini memang Ana memiliki tempat tidur sendiri dan tidak lagi berada di antara aku dan Nina saat tidur.
Aku ikut merebahkan tubuh di samping Nina setelah istriku menyamankan tidurnya. Sudah tidak ada kecanggungan di antara kami, meskipun aku masih belum menyentuhnya. Lagipula Nina baru melahirkan dan aku juga tidak ingin membuat Nina ketakutan dengan apa yang aku perbuat, meskipun aku adalah suami sahnya.
Cukup lama sampai akhirnya aku menyadari Nina sudah terlelap di sampingku, aku melepaskan pelukan dari perutnya. Setelah tadi aku memeluk dia dari belakang, seperti malam-malam kemarin.
Perlahan aku beranjak dari tempat tidur, ingat dengan apa yang harus aku lakukan. Aku masih harus melihat barang-barang milik Atika yang berada di dalam kotak pemberian Nova. Dengan langkah pelan, aku keluar dari kamar, menutup pintu dengan gerakan perlahan agar Nina dan Ana tidak terganggu dengan suaranya.
Aku berjalan ke kamar lain, kamar yang aku pakai untuk menyimpan semua peninggalan Atika. Yang tidak pernah bisa aku buang ataupun sumbangkan pada orang-orang, aku bahkan tidak ada niatan sedikitpun untuk melakukannya setelah kepergian Atika.
Pintu kamarnya kembali aku kunci dari dalam, aku pun mengambil kotak yang tadi aku simpan di kamar ini. Dengan perasaan berdebar, aku mulai membuka selotip yang menutup rapat kota tersebut.
Aku seperti akan membuka sebuah harta karun, sampai perasaan ini tidak karuan kurasakan. Aku mulai membuka kotak tersebut dan terpampang jelas barang-barang milik mendiang istriku. Di antaranya adalah pakaian, tas dan beberapa buku milik Atika.
Aku mengeluarkan satu per satu dari kota tersebut, membawa pakaian Atika dan menghirup baunya. Parfumnya masih terasa jelas, wangi istriku membuat dadaku sesak merasakannya. Lalu aku mengeluarkan beberapa buku yang juga milik Atika. Ada novel dan sebuah buku catatan.
Penasaran dengan isinya, aku membuka lembar demi lembar buku catatan harian tersebut. Tulisan tangan Atika begitu rapi, coretan drmi coretan yang ada dalam buku tersebut sebagian besar adalah tentang diriku.
Aku mencintai dia, melebihi diriku sendiri. Entah kapan lebih tepatnya, tetapi aku berharap Mas Bastian bisa membalas perasaanku.
Air mataku sudah tidak terbendung lagi. Sudah aku katakan bukan, setelah kepergian Atika untuk selamanya aku menjadi lelaki yang paling lemah di dunia ini. Semua yang berhubungan dengan mendiang istriku akan membuat dadaku sesak dan air mata yang tidak bisa aku hindari.
Atika mengharapkan aku membalas perasaan dia waktu itu dan sekarang harapannya terkabul. Perasaannya terbalaskan, aku mencintai dia sama seperti dia yang mencintaiku. Hanya saja semua itu tidak bisa aku ungkapkan secara langsung, karena di saat aku sudah mencintainya, dia pergi dari sisiku untuk selamanya.
Aku kembali membuka lembaran yang lain dan terus membaca tulisan yang menjadi curahan hati istriku. Bahkan ada fotoku yang di tempel olehnya di salah satu lembar buku tersebut, juga hasil USG Rian dulu.
Meskipun semua yang terjadi adalah sebuah kesalahan, meskipun pernikahan ini adalah keterpaksaan. Tetapi, aku akan berusaha menerimanya, karena aku percaya Tuhan sudah mengaturnya dan menjadikan Mas Tian sebagai pendamping hidup.
Aku kembali membacanya, semakin aku baca tulisan yang ada. Semakin aku merindukan Atika di sampingku, sungguh aku tidak bermaksud menyakiti Nina dengan masih memikirkan dan terus merindukan mendiang istriku. Mereka memiliki tempat tersendiri di dalam hatiku, aku juga mencintai Nina sekarang dan selamanya.
Terakhir, aku melihat foto kami berdua. Itu adalah foto saat Atika hamil besar dan kami memutuskan untuk mengambil foto, hanya menggunakan kamera milikku. Berada di rumah Ibu, di halaman belakang. Waktu itu aku meminta bantuan tukang kebun kami, yang kebetulan hari itu sedang bekerja di rumah.
Sayang, kalau saja kamu masih berada di sampingku. Akan aku katakan, bahwa aku juga tidak pernah menyesal menikah dengan kamu dan menjadikan kamu Ibu dari anakku. Aku sangat mencintaimu.