Rasanya sangat tenang sekali setelah aku mengatakan semuanya pada Nina, memberitahu dia tentang ruangan yang aku pakai untuk menyimpan semua foto dan barang-barang milik mendiang istriku. Mungkin memang inilah pernikahan, harus didasari dengan kejujuran di dalamnya.
Nina tidak berubah setelah tahu semua fakta yang selama ini aku simpan rapat-rapat. Dia masih seperti sebelumnya, tidak ada yang berubah termasuk bagaimana dia begitu memperhatikan aku dalam hal apa pun. Aku merasa bahagia mendapatkan istri seperti dia, bisa menerima kekuranganku selama ini.
Karena aku sudah memberitahuku semuanya, aku juga tidak pernah sembunyi-sembunyi lagi untuk masuk ke kamar itu, sekadar membersihkan setiap sudut ruangannya seperti kali ini, bahkan Nina sempat membantuku.
"Mas, Rian katanya mau pulang. Kamu bisa jemput?"
Nina datang membawa segelas jus mangga yang tadi aku minta padanya. Tanpa ragu juga ia masuk ke dalam kamar ini, setelah hari itu mungkin beberapa kali Nina juga masuk dan melihat-lihat kamar ini. Katanya dia senang bisa melihat foto Atika dengan Rian yang masih bayi. Aku memang belum pernah menunjukkan padanya.
"Nggak jadi nginap?" tanyaku padanya.
Rian sedang berada di rumah Ibu, tadi pagi aku antar ke sana karena Nares sedang berkunjung bersama dengan keluarganya. Kalau memiliki waktu senggang, mereka memang kerap menemui Ibu di rumah.
Aku kira Rian akan menginap, seperti apa yang dia katakan tadi pagi saat aku mengantarkan dia ke rumah neneknya, karena ada Gea di sana dan tentu saja mereka akan sibuk bermain.
"Ibu mau nginap di sini aja," balas Nina.
Aku mengangguk, lalu meminum jus yang sudah Nina buatkan untukku. Benar-benar langsung aku habiskan, membereskan kamar ini membuatku kehausan.
"Mau ikut jemput nggak?" tanyaku.
"Nggak deh, Ana juga masih tidur. Kasihan kalau dibawa keluar. Kamu sendiri aja yang jemput, pulangnya titip beli stok susunya Rian ya. Dia pasti nanyain nanti kalau habis susunya," balas Nina.
"Oke, nanti mampir di mini market. Aku siap-siap dulu deh, ini udah selesai di pindahin juga," ucapku.
Tadi aku memang sedang memindahkan posisi meja dan tempat tidur. Rencananya aku juga akan mengganti warna dinding kamar ini dan mengeluarkan tempat tidurnya. Karena aku akan pakai khusus untuk ruang membaca juga, Nina setuju saja dan membiarkan dindingnya di penuhi dengan foto aku dan Atika. Di sisi lain akan aku penuhi juga dengan foto kami, aku dan Nina juga anak-anak. Yang pasti ini akan menjadi ruangan kami bersama.
Aku dan Nina keluar dari kamar tersebut, kali ini pintunya tidak langsung aku kunci. Karena akan di pakai bersama, kamar itu tidak menjadi rahasia lagi dan tidak di tutup rapat. Hanya saja yang membereskan tetap aku ataupun Nina, jangan sampai orang lain masuk dan membereskannya.
Nina sekarang malah ikut merebahkan tubuhnya di samping Ana yang masih tidur. Sementara aku memilih untuk mandi dan berganti pakaian sebelum berangkat menjemput Rian dan Ibu.
Selesai bersiap, aku pamitan pada Nina dan menyuruhnya untuk beristirahat saja, mumpung Ana juga sedang tidur. Jadinya dia bisa ikut tidur dan beristirahat. Aku tahu dia kelelahan karena mengurus rumah dan juga kami.
**
Aku dan Rian berada di mini market, sementara Ibu memilih menunggu di mobil. Ternyata selain membeli s**u yang Rian inginkan, dia juga membawa beberapa jajanan dan memasukkan ke dalam keranjang belanjaan yang tadi aku bawa dari dekat meja kasir.
Rian sudah memiliki permen dan cokelat lalu disimpan dalam keranjang, aku membiarkan saja karena sudah lama aku tidak membelikan permen dan cokelat untuknya, dengan alasan giginya akan sakit kalau sering mengonsumsi yang manis itu.
Selesai belanja, aku segera membayarnya dan pulang ke rumah. Rian malah lebih dulu keluar dan menghampiri neneknya di dalam mobil, jadinya aku yang membawa kantung belanjaan padahal tadi Rian yang banyak belanja.
Sore ini kembali mendung, untungnya mini market ini tidak jauh dari rumah. Kami bertiga sampai tepat waktu sebelum hujan semakin deras, terlalu beresiko kalau masih dalam perjalanan pulang saat hujan deras seperti ini.
Rian mengajak Ibu masuk ke dalam rumah lebih dulu, sementara aku kembali membawa barang belanjaan dan tas milik Ibu untuk menginap beberapa hari di sini. Aku senang-senang saja kalau Ibu di sini, aku juga kembali membujuk Ibu agar mau tinggal di sini dengan aku dan keluarga kecilku, tetapi Ibu kekeuh ingin tinggal di rumah lama.
Barang belanjaan aku simpan di dapur, setelah memberikan tas berisi pakaian milik Ibu pada Nina yang baru saja menghampiriku.
"Mas belanja banyak?" tanya Nina yang sudah bergabung denganku di dekat meja makan.
"Rian jajan banyak, aku bayar doang," balasku. Memang benar kan itu faktanya, Rian malah yang jajan banyak sekarang.
"Susunya nggak lupa kan?"
Aku menggeleng, "Nggak dong, tadi Rian yang pilih sendiri. Katanya mau cobain rasa vanilla kali ini," kataku.
Nina menganggukkan kepalanya mengerti, kalau sudah keinginan Rian, tidak akan berkomentar apa pun. Karena Rian sendiri yang ingin mengganti rasa susunya dari cokelat menjadi vanilla, Nina membiarkan saja.m, asalkan Rian mau meminum s**u setiap hari.
Kami bergabung dengan yang lain di ruang tengah, ternyata Ana sudah bangun dan sedang berada dalam gendongan Ibu. Bahkan anak itu tampak tenang sekali, mungkin tahu kalau dia sedang bersama dengan neneknya.
"Rian sayang kan sama adiknya?" tanya Ibu pada Rian yang langsung mendapat anggukan tanpa keraguan.
"Sayang banget, kata Ayah nanti Rian harus terus jagain Ana. Jangan sampai diganggu sama cowok lain," jawabnya membuatku tersenyum.
Aku senang karena Rian masih mengingat dengan jelas apa yang aku katakan waktu itu. Kalau dia harus menjaga Ana dan jangan sampai lelaki lain menyakiti adik perempuannya.
"Nenek, Gea juga mau punya adik. Waktu itu bilang sama Rian," katanya lagi.
Obrolan tentang Gea memang sering terjadi dan menjadi topik utama yang selalu Rian ingat dan bicarakan. Sepertinya memang mereka sangat dekat dan menjadi saudara, satu sama lain pasti memiliki cerita masing-masing yang dibagikan pada orang tua masing-masing seperti apa yang Rian lakukan sekarang.
"Berarti nanti saudara Rian juga nambah banyak, senang nggak banyak adik kaya gini?" tanya Ibu kembali pada Rian.
Anak itu mengangguk penuh antusias. Dia memang sangat menyayangi saudaranya, termasuk dengan Gea. Jadi, kalaupun harus memiliki adik lagi, bagi Rian sama sekali tidak masalah, justru dia sangat senang.
Kami pun mengobrol pada hal-hal lain, aku senang sekali bisa di kelilingi oleh orang-orang baik seperti ini. Hidupku benar-benar merasa sempurna dengan kehadiran mereka di sini.