Masih suasana liburan sekolah Rian, aku memilih untuk menghabiskan waktu di rumah dengan istri dan anak-anak. Kali ini Rian sedang membantu Nina membuat kue, Rian memang selalu senang membantu mamanya, beda kalau aku yang menyuruh, akan banyak alasan yang dia buat, tetapi kalau sudah Nina yang turun tangan beda lagi urusannya.
Rian memang lebih menyayangi Nina dibandingkan dengan aku. Tidak masalah sih, malah aku senang. Kecuali kalau Rian sedang manja, sementara aku juga ingin memiliki waktu berdua dengan Nina saat Ana sedang tidur nyenyak, tetapi pengganggu berikutnya malah anak lelakiku sendiri. Tidak jarang kami -aku dan Rian- berakhir dengan berebut Nina, membuat istriku pusing dengan kelakuan kami.
"Ayah, kata Mama, Ayah mau bolu pisang atau ketan hitam?" tanya Rian yang sudah menghampiriku di ruang tengah.
"Apa aja, bikinan Mama enak semua," jawabku. Aku memang mengatakan dengan jujur, karena kue buatan Nina memang selalu enak.
"Oke," katanya lalu berlari kembali ke arah dapur.
Aku kembali menonton televisi, sembari menjaga Ana yang sedang tidur di sampingku. Untung saja Ana sama sekali tidak terusik meskipun ada suara dari televisi.
"Ayah, kata Mama harus pilih." Rian kembali menghampiriku, padahal sudah aku bilang mau kue apapun, aku tetap suka.
"Gak bisa milih, dua-duanya kan pasti enak," balasku.
"Ah, Ayah. Kan harus milih satu," katanya.
"Ya udah bolu pisang. Memangnya kalian belum bikin kue dari tadi?" tanyaku. Padahal cukup lama mereka di dapur, tetapi malah baru menanyakan apa yang aku mau.
"Udah, tapi ini bikin spesial kata Mama," jawabnya membuatku penasaran.
"Spesial buat siapa?"
"Buat Ayah. Udah ah, Rian mau ke Mama lagi, sibuk bantuin Mama," katanya lalu seperti tadi kembali berlari menuju dapur.
Aku malah kepikiran dengan perkataan Rian, katanya kue ini spesial untukku, memangnya dalam rangka apa? Uang tahunku sepertinya sudah lewat.
Aku pun kembali menonton television, tetapi Ana tiba-tiba bangun membuat aku harus menggendong dia sembari menonton televisi. Mungkin masih mengantuk, dia malah tidur lagi di gendonganku.
Tidak berselang lama, Nina dan Rian menghampiri kami. Nina membawa kue yang tadi mereka buatkan untukku, bahkan sudah ada lilin kecil di atasnya membuat aku mengernyit, sebenarnya dalam rangka apa mereka membuat kue sampai ditaruh lilin.
"Ayah, selamat hari ulang tahun pernikahan sama Mama Tika."
Seruan Rian membuat aku terpaku, pertama kalinya aku lupa dengan perayaan ulang tahun pernikahan kami, aku dan Atika. Padahal setiap tahun aku selalu ingat dan memberikan buket bunga padanya.
"Mas lupa ya, hari ini ulang tahun pernikahan kamu sama Mbak Tika. Aku sengaja buatin kue spesial buat kamu, tapi tadi kamu udah tahu dari Rian kan," ucap Nina.
"Maaf Mama, tadi keceplosan," timpal Rian tersenyum.
Aku masih terkejut dengan semua ini, terutama dengan kenapa aku sampai melupakan hari ini. Atika, maafkan aku.
"Nanti kita ke tempat Mbak Tika ya, setiap tahun aku akan ingatkan kamu kalau lupa. Aku ingin dia tetap ada di hati kamu," ucap Nina padaku.
Aku tidak menyangka, Nina akan mengatakan semua ini. Kalau perempuan lain mungkin tidak suka jika suaminya masih mengingat istri pertama, tetapi Nina malah menyuruhku untuk tetap mengingat Atika seperti ini. Aku memang beruntung memiliki Nina.
"Makasih ya, aku beneran lupa," ucapku jujur.
"Nggak apa-apa, Mas kan udah banyak kerjaan akhir-akhir ini. Wajar kalau lupa, untung aku sempat dengar dari cerita kamu soal pernikahan kalian."
Aku tersenyum, "Makasih, karena kamu udah kasih tahu aku."
Setelah itu kami pun memakan kuenya sama-sama, sembari menonton kartun yang sudah Rian pilihkan. Aku senang setiap kali kami bisa berkumpul seperti ini, momen yang dulu selalu aku bayangkan, setelah aku dan Riam hanya berdua saja.
**
Aku dan Nina mendatangi makam Atika hanya berdua, sementara anak-anak kami titipkan di rumah Ibu sebelum pergi ke sini. Aku sengaja menitipkan anak-anak, ingin pergi bersama dengan Nina dulu.
Untungnya sore ini tidak hujan seperti kemarin, jadi kami berdua bisa mendatang makam Atika bersama tanpa takut akan turun hujan. Aku menggandeng tangan Nina selama berjalan menuju tempat istirahat terakhir istri pertamaku.
Mungkin untuk pertama kalinya lagi Nina datang ke sini, kalau aku tiga hari lalu baru saja dari sini dan kenapa aku melupakan hari spesial ini sekarang. Atau mungkin benar kata Nina, karena aku memiliki banyak pekerjaan yang terkadang memang membuat aku tidak fokus.
"Aku datang sama Nina, Sayang."
Aku mendekati nisan lalu menyimpan sebuket bunga di dekatnya, pun dengan Nina yang ber jongkok di sampingku. Kami mengirimkan doa bersama untuk almarhumah istriku. Lalu menaburkan bunga yang sebelumnya sudah Nina persiapkan saat akan datang ke sini.
"Untuk pertama kalinya aku melupakan hari ini, aku minta maaf, tetapi Nina yang kasih tahu hari spesial ini. Selamat hari pernikahan kita, Sayang. Semoga kamu bahagia di sana dan berada di tempat paling indah," ucapku.
"Hari ini Rian nggak ikut sama kita, nanti aku ajak dia ke sini sama Ana juga," lanjutku masih berbicara sementara Nina mendengarkan aku.
"Makasih ya karena kamu pernah memberikan kebahagiaan di hidup aku dan menjadi istri aku, maaf atas apa yang sudah aku lakukan sama kamu, semoga kamu memberikan maaf sama aku dan menerima pernikahan aku dan Nina sekarang."
"Tenang aja, aku bahagia sekarang bersama keluarga kecilku dan kamu juga harus bahagia di sana."
Aku menoleh ke arah Nina, "Kamu mau bilang apa sama Atika?" tanyaku.
Nina pun tampak ingin bicara dan aku membiarkan dia mencurahkan isi hatinya pada pusara Atika. Setiap kali dia ke sini bersamaku, Nina tidak pernah mau mengatakan apapun, dia hanya membiarkan aku yang bicara. Sekarang karena aku lihat dia seperti ingin bicara, maka aku biarkan dia untuk bicara kepada Atika setelah sekian lama dan aku akan mendengar semuanya.
"Mbak, selamat hari pernikahan. Maafkan Mas Tian karena lupa hari spesial kalian, nanti akan selalu aku ingatkan dan aku pastikan dia nggak akan lupa lagi. Terima kasih ya, Mbak, sudah melahirkan anak sepintar dan setampan Rian. Di hari pertama aku ketemu dia, aku udah jatuh hati sama Rian. Terima kasih karena Mbak memberikan aku kesempatan untuk menjadi Ibu buat Rian, aku janji akan selalu menjaga Rian sampai dia tumbuu dewasa dan dia nggak akan melupakan Mbak sebagai Ibu yang melahirkannya, dia sangat sayang sama Mbak."
Aku tahu, Rian pasti banyak bercerita pada Nina, mengingat mereka begitu dekat satu sama lain. Aku senang karena Rian memiliki tempat untuk bercerita selain padaku. Bahkan sekarang lebih sering menceritakan semuanya pada Nina.
"Semoga Mbak tenang di sana," ucap Nina di kalimat terakhirnya.
Setelah itu kami pun memilih untuk segera pulang, tidak mau meninggalkan anak-anak terlalu lama dan membuat Ibu kerepotan. Sepanjang jalan menuju parkiran, aku setia menggenggam tangan Nina, mengucapkan terima kasih karena dia menerimaku dan Atika yang masih ada di dalam hatiku. Mereka memiliki tempat masing-masing dalama hatiku.