Pembukaan cafe milikku dan Nares berjalan dengan baik, sesuai target kami bahwa cafe ini akan menjadi salah satu incaran para kaula muda, di hari pertama pembukaan sudah banyak anak-anak muda yabg datang ke sini, sepertinya kami juga tepat memilih lokasi yang dekat dengan Universitas dan perkantoran.
Aku dan Nares membawa keluarga kecil kami, untungnya Ana juga sudah anteng kalau di bawa ke mana-mana, dia sekarang aku gendong sementara Nina tengah bersama Rian, menyuapi anak lelakiku makan kue pesanannya. Pun dengan Indira yang menyuapi Gea, dengan perutnya yang sudah kelihatan tengah hamil.
Aku harap bisnis yang aku bangun dengan Nares bisa menjadi tempat orang-orang untuk mencari rejeki. Kami masih menerima pegawai baru untuk di sini, karena masih sangat sedikit tenaga mengingat bangunan ini juga agak luas.
"Suasananya enak dan nyaman menurut aku," ucap Nina setelah aku dan Nares bergabung dengan mereka di meja ini.
"Bener, aku juga suka tempatnya," timpal Indira.
"Papa katanya mau bikin toko es krim, biar Gea kalau mau tinggal ambil," ucap Gea yang membuat kami terkekeh.
"Nanti kalau Gea udah besar," balas Nares.
"Ini udah besar, mau punya adik kaya Kak Rian," katanya. Pinta sekali anak itu, aku bahkan selalu gemas setiap kali Gea bicara. Mungkin kalau Ana sudah seumur Gea, akan sama juga. Aku siap sekali meladeni putri kecilku nanti.
"Iya, sekarang habisin makanannya aja," ucap Indira kali ini membuat Gea menganggukkan kepala. Sepertinya hampi sama dengan Rian, hanya mamanya yang bisa menaklukkan anak-anak.
Kami pun menikmati waktu bersama di cafe ini, sembari memperhatikan semakin banyak orang yang datang apalagi menjelang sore nanti. Biasanya cafe menjadi pilihan untuk nongkrong dengan teman-teman, karena dulu saat masih menjadi mahasiswa aku pun begitu.
"Sore ini jadi ke Bandung?" tanyaku pada Nares. Kemarin dia bilang akan mengajak istri dan anaknya ke Bandung setelah peresmian cafe ini, jadi aku hanya memastikan saja.
"Iya, ada beberapa hal yang harus diurus, soal toko kue yang di sana," balas Nares menjelaskan padaku.
Aku mengangguk, "Jangan terlalu sore, macet ntar. Tahu sendiri ini weekend."
"Iya habis ini, masa gue tinggal di hari pertama cafe buka, nggak enaklah gue," katanya.
"Alah, kaya sama siapa aja lo. Kasihan istri sama anak lo kalau lama di jalan, lebih baik otw sekarang," ucapku memberikan usulan.
Nares pun setuju, karena sudah mendapat ijin dariku untuk meninggalkan cafe, biar aku saja yang memantau di hari pertama. Ia mengajak Indira dan Gea untuk bersiap berangkat ke Bandung, yang paling susah itu memisahkan Gea dengan Rian, anak perempuan Nares dan Indira itu nempel sekali pada Rian. Untungnya selalu ada cara untuk membujuk Gea yang Indira lakukan, kalau Nares kurang berbakat membujuk anaknya, sama sepertiku.
Akhirnya mereka pun berpamitan pada kami, Rian katanya masih ingin di sini, membuat aku dan Nina setuju. Sementara aku melihat pekerjaan para pegawai, Nina bersama anak-anak masih di tempat semula dengan pesanan yang kembali aku berikan pada mereka.
Aku melihat-lihat para pegawai, mereka tampak cekatan meskipun masih sangat sedikir yang bekerja, mengingat pengunjung semakin sore malah ramai, aku pun bergegas membantu mereka. Hal yang tidak asing bagiku, karena di restoran pun, aku kerap kali terjun langsung melayani pengunjung.
**
Aku mengajak Nina dan anak-anak menginap di rumah Ibu, sudah lama kami tidak menginap di sana dan Rian kelihatan senang. Karena kami akan menginap bersama, biasanya hanya dia saja yang menginap.
Kami masih dalam perjalanan menuju rumah Ibu, setelah dari cafe tadi dan cukup lama berada di sana, Nina meminta ke supermarket dulu karena ingin belanja untuk persediaan di rumah Ibu. Kami juga membeli beberapa camilan untuk Rian, dia memang suka sekali ngemil sekarang, lihat saja tubuhnya agak gemuk karena makan banyak dan ngemil.
"Ayah, kalau ada penjual gulali berhenti dulu ya, Rian mau beli. Waktu itu lihat penjualnya dekat jalan yang mau ke rumah Nenek," ucap Rian kepadaku.
"Kan tadi udah beli permen," kataku mengingat tadi Rian juga mengambil permen dan cokelat, masa sekarang malah mau gulali.
"Sekali aja, Ayah, please," ucapnya.
"Sekali tapi permen sama cokelatnya buat nanti lagi," timpal Nina kali ini.
"Iya, Ma," jawabnya.
"Kalau sama Mama aja langsung iya," sindirku tetapi Rian malah tidak merasa bersalah, anakku malah kedengarannya tengah tertawa pelan.
"Kamu itu anak Ayah atau Mama sih," ucapku.
"Anak Mama," jawabnya membuatku berdecak. Anak mama tapi muka mirip dengan ayahnya, Rian kan benar-benar aku versi kecil.
"Jangan minta jajan sama Ayah lagi," ucapku yang tentu saja hanya bercanda.
"Kan uangnya ada sama Mama," jawabnya yang malah membuat Nina tertawa.
Aku tidak bisa berkata-kata lagi, beruntung kami sudah sampai di depan rumah Ibu. Jadinya aku tidak perlu membalas perkataan anakku. Segera kami turun dari mobil, aku juga bergegas mengeluarkan belanjaan kami dan tas berisi perlengkapan Ana. Kalau pakaian aku, Nina dan Rian sebagian ada di sini, jadi tidak perlu khawatir kalau mendadak harus menginap.
Ibu menyambut kedatangan kami dengan antusias, langsung mengambil alih Ana dari gendongan Nina, membuat istriku langsung membantu aku membawakan barang-barang. Ibu sudah masuk membawa Ana daj diikuti oleh Rian ke ruang tengah.
"Bikin mie dong, Sayang."
Nina tampak terkejut mendengar perkataanku, mungkin karena panggilan baruku pada dirinya. Aku tidak mau dia merasa tidak disayang olehku, meskipun tidak harus dengan kata-kata, apa yang aku lakukan sudah cukup untuk menjelaskan semuanya, tentang perasaanku padanya, tetapi aku tahu Nina ingin aku melakukannya seperti pada Atika.
Aku baru menyadari selama kami menikah, aku hanya memanggil dia dengan nama saja. Bukan seperti dia yang memanggilku dengan embel-embel Mas-nya. Meskipun hal tersebut karena umurku jauh di atasnya, tetapi aku yakin kalau selama ini memang dia tulus menyebutnya bukan sekedar karena aku lebih tua darinya. Jadi apa salahnya kalau sekarang aku merubah panggilanku.
"Sayang, kok bengong?"
Nina menatapku penuh pertanyaan, "Nggak salah?" katanya.
"Apa?" Aku pura-pura tidak mengerti.
"Kamu manggil aku apa, Mas?"
"Sayang?"
Nina mengangguk, aku tersenyum seraya menarik tubuhnya agar mendekat. Kami masih berada di dapur dan tidak ada yang melihatnya.
"Beneran, maaf ya selama ini aku nggak peka. Mungkin kamu nggak nyaman karena aku manggil pakai nama melulu," ucapku.
"Nggak kok," balasnya lalu aku mencubit kedua pipinya membuat dia meringis.
"Bilang aja yang jujur. Pokoknya sekarang aku janji pakai panggilan spesial buat kamu, biar hubungan kita nggak kaku."
Nina tersenyum, "Makasih ya, Mas."
"Kembali kasih, Sayang." Lalu aku mencium bibirnya sebelum terdengar teriakan anak lelaki kami.
"Mama, kok lama di dapurnya!"