Sekolah Rian masih libur, rencananya hari ini aku akan mengajak Rian untuk mengunjungi panti asuhan. Tentu saja bersama dengan Nina karena panti asuhan ini pernah menjadi tempat tinggal Nina waktu dulu, begitu yang dia ceritakan padaku.
Nina memanglah bukan berasal dari keluarga kaya raya. Dia hanya seorang anak perempuan yang mendapatkan kebahagian dari keluarga kecilnya, dari Ayah dan Ibu meskipun mereka bukanlah orang tua kandungnya.
Sejak lama Nina sudah tahu bahwa orang tuanya bukanlah orang tua kandung, dia hanya salah seorang anak panti yang beruntung di adopsi oleh pasangan suami-istri yang tidak diberikan momongan selama sembilan tahun.
Aku sudah banyak mengetahui cerita masa lalu Nina karena kami sepakat untuk selalu menceritakan tentang kami satu sama lain. Apalagi aku ingin pernikahan yang kami jalani seperti pernikahan pada umumnya, kami menjadi pasangan suami-istri yang berada diluaran sana dan saling mencintai.
"Ayah, bawa makanan banyak buat apa? Kan kita cuma sedikitan, Ana juga nggak makan-makan kaya gini, kan masih kecil," ucap Rian saat membantu memasukkan berbagai macam makanan ke dalam mobil, tidak lupa mainan milik Rian yang masih layak pakai, aku memutuskan untuk mendonasikannya.
"Kan nanti kita ketemu sama teman-teman, Rian pasti senang nanti bisa main sama teman-teman baru," balasku.
Rian tampak mengangguk lalu kembali membantuku sebelum kami memulai perjalanan hari ini. Pasti akan sangat menyenangkan karena aku bisa mengenalkan Rian dengan dunia baru. Rian belum pernah datang ke panti asuhan, jadi ini akan menjadi pertama kalinya Rian ikut ke sini.
"Panggil Mama ya, bilang kalau semuanya udah siap dan tinggal berangkat," ucapku pada Rian yang langsung anak itu berlari memanggil mamanya.
Tidak berselang lama, Nina menghampiri kami bersama dengan Ana dalam gendongan. Hari ini cuaca cukup panas dan membuat aku harus memilih pakaian yang agak terbuka saja.
"Udah semuanya, Mas?" tanya Nina setelah berada di hadapanku.
Semakin lama, Nina memang tidak sekaku dulu dan sekarang sudah memiliki sisi manja hanya padaku saja. Aku senang dengan hal tersebut.
"Udah. Mau berangkat sekarang atau masih ada yang perlu dibawa lagi?" tanyaku pada Nina.
Bukan hanya menjadi pertama kalinya untuk Rian datang ke panti asuhan, melainkan pertama kalinya aku dan Nina juga anak-anak datang ke panti, biasanya kami hanya datang berdua saja.
"Oke, kita berangkat sekarang," ajakku pada Nina.
Aku pun membantunya masuk ke dalam mobil dan memastikan duduk dengan nyaman sembari menggendong Ana. Lalu aku juga menyuruh Rian untuk segera masuk ke dalam mobil.
Jarak dari rumah kami tidak begitu jauh, masih bisa terjangkau oleh kami. Nina kelihatan senang sekali akam bertemu dengan adik-adiknya di pasti. Semenjak mengandung dan melahirkan, Nina memang belum pernah mengunjungi panti.
Perjalanan kami seperti biasa diisi dengan suara Rian yang mengalahkan radio yang sebenarnya memecah keheningan dalam mobil. Sampai akhirnya kami semua tiba di panti asuhan yang aku sendiri sudah mengenal Bunda yang mengasuh dan mendidik anak-anak panti dan mereka bisa pergi ke sekolah.
Kami sampai di panti asuhan, sudah disambut oleh anak-anak panti yang sedang bermain di depan panti asuhan mereka. Tampak sekaki kegirangan saat tahu kami datang untuk berkunjung dan melihat ruanganku berada di sama. Karena di sini dia bisa membawa sepuasnya.
Aku lebih dulu membantu Nina bersama dengan Ana yang masih terlelao, lalu membantu Rian keluar dari mobil. Anakku itu malah jadi malu-malu bertemu dengan orang-orang yang belum dia kenali.
"Bunda senang sekali kalian datang ke sini," ucap Bu Panti setelah menyambut kedatangan kami.
"Maaf ya, Bun. Akhir-akhir ini pekerjaan Mas Tian sibuk banget," balas Nina pada Bu Panti.
Beliau mengangguk memaklumi apa yang Adisty katakan. Lagi pula, bukannya pasangan bisa menikmati waktu berduaan, sebelum menjadi seorang ayah dan istri.
"Bunda paham dan senang karena kalian bisa datang sama-sama ke sini, bareng anak-anak kalian juga. Kan jadi bisa kenalan sama anak-anak panti," balas Bu panti.
Lalu aku membiarkan Nina dan Ana bersama dengan Bu panti. Sementara aku mengajak Rian untuk segera membagikan makanan yang kami bawa pada anak-anak di sini, tidak hanya makanan, tetapi juga mainan yang kami bawa.
Aku senang saat Rian dengan mudahnya bisa akrab dengan anak-anak di sini. Rian selalu bertanya kepada mereka berada di sini dan tidak bersama dengan orang tua seperti dirinya. Tentu saja aku menjelaskan hal tersebut dengan hati-hati karena menjelaskan pada anakku.
Kami menikmati camilan yang aku bagaikan padan masing-masing mereka. Lalu duduk di teras sembari melihat sebagian anak-anak tengah bermain bola, Rian juga bergabung dengan mereka.
Tidak berselang lama, Nina datang menghampiriku. Hanya dia sendiri, katanya Ana tidur dan ditemani oleh Bu panti. Berada di sini memang membuatku memiliki keluarga baru.
"Senang datang ke sini?" tanyaku pada Nina.
Dia mengangguk, seraya tersenyum lebar dengan tatapan tidak lepas dari anak-anak yang sedang bermain bola. "Aku senang karena melihat mereka senang, makasih ya, Mas, karena kamu udah kasih hadiah kaya gini sama mereka," katanya.
"Sama-sama, aku juga senang kalau melihat mereka tersenyum."
Nina mengangguk. "Dulu waktu aku kasih berusia sama kaya anak-anak itu, aku juga senang main bola bareng teman lelaki, mungkin karena di sini jarang anak perempuan jadinya lebih sering bermain bola."
Aku kembali mendengar cerita istriku, kami tengah duduk bersebelahan sembari memperhatikan anak-anak yang masih asyik bermain di halaman depan panti asuhan ini.
"Aku senang juga karena setelah lama aku memilki keluarga baru, Ayah dan Ibu yang bersedia mengadopsi aku sebagai anak mereka dan mulailah kehidupanku yang begitu bahagia bersama dengan orang tua angkatku."
"Mereka nggak punya anak? Kamu pernah bilang kaya gitu kan sama aku," tanyaku padanya.
"Iya, jadinya mereka mengadopsi aku dari panti tersebut. Awalnya aku ragu dan merasa tidak enak juga dengan teman-teman lain yang juga lama tinggal di panti. Tapi semua sudah menjadi jalannya dan memang rejekiku."
Aku tersenyum seraya menatapnya. Aku memang tidak salah dan sangat beruntung memiliki istri seledri Nina. Bahkan dia selalu memikirkan kebahagiaan dan perasaan orang lain sebelum dirinya sendiri.
Aku dan Nina benar-benar menikmati waktu kami yang diisi dengan obrilan random. Banyak yang kami ceritakan, dalah satunya tentang masa kecil kami masing-masing.
Panti ini sangat nyaman sekali, aku berterima kasih untuk orang tua angkat Nina karena sudah membawa Nina menuju kehidupan yang lebih baik, meskipun pada akhirnya mereka juga yang meninggalkan Nina untuk selamanya.
Aku berjanji akan memberikan kebahagiaan untuk istriku dan anak-anak kami, berada di sini aku semakin sadar betapa butuhnya anak-anak dengan kasih sayang dari orang tua mereka, membuatku sadar dan akan terus menyayangi anak-anak selamanya.