Aku kembali dengan kesibukanku, Nina kembali dengan urusan rumah dan anak-anak, pun dengan Rian yang kembali sekolah setelah liburannya yang menurut dia singkat karena sudah kembali bertemu dengan guru dan teman-teman di sekolah.
Memang tidak terasa waktu berjalan semakin cepat, bahkan aku baru menyadari kalau anak laki-lakiku juga semakin besar. Sekarang Rian sudah masuk kelas dua sekolah dasar. Padahal aku selalu merasa baru kemarin mengantar dia ke taman kanak-kanak, sekarang sudah memakai seragam putih merah dan tingkat dua.
Pernikahanku dengan Nina juga sudah cukup lama, kami sudah selayaknya pasangan suami-istri di luaran sana. Tidak lagi ada kecanggungan, maupun sikap dariku yang sangat kaku padanya. Semuanya perlahan berubah menuju ke arah lebih baik.
Hari ini aku berada di cafe, setelah pembukaannya waktu itu, sampai hari ini aku dan Nares sangat bersyukur karena pengunjung cafe tidak pernah sepi. Apalagi di weekend malah semakin ramai anak muda yang datang ke sini. Aku juga lebih sering berada di sini, dibandingkan dengan di restoran. Karena cafe ini masih terbilang baru dan aku maupun Nares selalu bergantian memantau di sini.
Seperti kali ini, aku yang memantau cafe, sementara Nares dengan urusan toko kuenya. Aku duduk di salah satu kursi pengunjung, sembari menikmati kopi yang tadi aku pesan dari pegawaiku. Hari ini bukan weekend, tetapi bisa dilihat cukup ramai kondisi di sini dan hal tersebut membuat aku senang.
Berada di sini, menempatkan posisi sebagai pengujun memanglah nyaman dan aku sendiri senang berlama-lama di sini. Mungkin karena suasana cafe yang terlihat fresh dan kekinian sekali.
"Ternyata pebisnis sukses ini ada di sini."
Aku menoleh mengetahui siapa orang yang baru saja bicara dan menghampiriku di sini. Javi tampak rapi dengan setelan kemeja seperti biasa, tidak asing juga dia datang ke sini. Mungkin ini menjadi yang ketiga kalinya setelah pembukaan cafe milikku dan Nares.
"Berlebihan banget omongan lo, Jav," kataku padanya.
Javi duduk di kursi yang berada tepat di hadapanku, lalu secara mengejutkan memberikan sebuah undangan padaku. Sungguh, bukan pura-pura, tetapi aku memang terkejut melihat undangan yang bertuliskan nama dia dengan seseorang.
"Lo mau nikah?" tanyaku.
"Iyalah. Masa gue niat banget bikin undangan kaya gini gue prank lo sih," jawabnya dan membuatku menganggukkan kepala.
"Iya sih. Tapi gue tetep aja kaget, ceweknya kaya asing banget," ucapku merasa nama yang menjadi mempelai perempuan tampak asing. Sepertinya memang bukanlah seseorang yang aku kenal atau pernah dikenalkan oleh Javi.
"Memang asing. Akhirnya gue harus mengiyakan perjodohan kali ini. Lo tahu sendiri umur gue udah matang, lo aja punya anak dua, Bas."
"Ngaku juga kalau tua, gue pasti datang nih sama Nina dan anak-anak," ucapku ikut berbahagia dengan kabar penikahan ini.
"Haruslah, gue aja datang ke nikahan lo sampai dua kali," balasnya lalu kami tertawa bersama.
Javi adalah temanku sejak lama, aku sangat tahu bagaimana perjalanan cinta lelaki itu dan dia juga tahu bagaimana perjalanan cintaku selama ini. Javi juga menjadi orang pertama yang berani memaki serta memukulku secara beringas karena apa yang sudah aku lakukan pada dua orang perempuan sekaligus -Atika dan Indira- di waktu dulu.
Sekarang aku senang mengetahui dia akan menikah meskipun ini atas permintaan dari orang tua. Karena Javi tidak juga membawakan calon istri, akhirnya harus menerima perjodohan yang entah ke berapa kalinya.
"Semoga lo bahagia, Jav," ucapku tulus. Dia hanya tersenyum tanpa membalas perkataanku.
**
Aku baru saja sampai di rumah, setelah berada di cafe lalu aku juga mengunjungi restoran dalam perjalanan pulang tadi. Semua tempat usahaku baik-baik dan berjalan dengan lancar. Aku tidak menyangka akan berada di titik ini.
Benar kata orang, anak adalah pembawa rejeki dan setiap anak memiliki rejeki berbeda satu sama lain. Seperti dulu, kehadiran Rian membuat rejekiku lancar dengan berdirinya cabang restoran di beberapa lokasi sampai luar kota. Lalu sekarang rejekinya Ana, aku bisa bekerja sama dengan Nares untuk membangun usaha bersama yaitu sebuah cafe. Aku sangat bersyukur pintu rejeki selalu terbuka meskipun jalannya berbeda.
Saat sudah berada di ruang tengah, aku melihat Rian yang sedang sibuk dengan bukunya dan beberapa alat tulis serta pensil warna yang berserakan di atas meja. Lalu ada Ana yang berada di samping Rian, di atas tempat tidur kecilnya tampak terlelap.
"Mama mana, Kak?" tanyaku pada Rian, membuat anakku menoleh.
"Mandi, Ayah. Jadi aku di sini sama Adek, soalnya dari tadi Adek tidur, Mama baru ke atas, mandi."
Aku mengangguk lalu ikut duduk di sampingnya, "Kerjain pe-er?" tanyaku pada Rian.
Rian mengangguk, "Iya, tadi habis ngerjain matematika, sekarang di suruh menggambarkan bebas," jawabnya.
"Terus jadinya gambar apa?" tanyaku karena gambar Rian belum sepenuhnya selesai.
"Gunung sama sawah aja, Rian nggak suka menggambar tapi harus dikerjain kan, Ayah."
"Iya dong, kalau ada tugas dari sekolah harus langsung di kerjain," balasku. Lalu Rian kembali fokus dengan buku gambarnya, aku memilih untuk memerhatikan Ana yang masih nyenyak sekali dalam tidurnya.
Tidak lama, Nina menghampiri kami. "Bukannya langsung ke atas mandi sama ganti pakaian, Mas," katanya. Dia jadi cerewet sekali, selalu mengatakan kalau sudah dari luar langsung mandi dan berganti pakaian.
"Kan tadi kamu di atas, jadi aku jagain anak-anak."
"Mereka juga anteng kok, Rian bisa jagain adek nya," balas Nina.
"Iya deh iya, ya udah aku mandi sama ganti baju dulu," ucapku berpamitan pada dia.
"Aku panasin makanan dulu ya, nanti langsung ke dapur aja." Aku mengangguk setelah mendengar perkataan Nina.
Aku pun segera naik ke lantai atas di mana kamar kami berada, akan langsung mandi dan berganti pakaian setelah itu bergabung dengan istri dan anak-anak di bawah.
Melewati kamar khusus Atika, aku malah berbelok lebih dulu dan masuk ke kamar tersebut. Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk sampai tidak sempat membersihkan kamar ini, yang pastinya akan dilakukan oleh Nina kalau melihat aku tidak memiliki waktu untuk beres-beres.
Aku duduk di kursi sembari memegang bingkai foto Atika bersamaku. Aku tersenyum menatapnya, sudah lama sekali dia pergi meninggalkan aku tetapi aku masih mencintai dia hingga detik ini. Atika tidak pernah bisa aku lupakan dan aku abaikan, Nina sangat tahu itu.
"Aku kangen sama kamu, Sayang." Aku terus menatap foto tersebut, membayang istri pertamaku berada di sini. Namun, aku tidak bisa terus begini.
Aku kembali menyimpan foto tersebut, kenangan bersama dengan Atika memang tersimpan rapi, aku dan Nina bahkan kerap melihat foto-foto di dalam album bersama-sama. Aku sangat bahagia dengan kehidupanku sampai hari ini bersama dengan istri dan anak-anak. Kehadiran Atika dan Nina benar-benar membuat hidupku berwarna.