Aku sangat khawatir saat mendapatkan kabar kalau Ibu masuk ke rumah sakit. Akhir-akhir ini kondisi tubuh ibuku memang tidak baik, beliau sering mengeluh sakit dan membuat aku selalu merasa khawatir dengan kondisinya, tetapi hanya kelelahan saja, begitu yang Ibu katakan.
Aku akan percaya kalau saja hari ini Ibu tidak dilarikan ke rumah sakit, nyatanya kondisi kesehatan Ibu memang tidak baik, meskipun bukan penyakit parah, aku tetap saja khawatir dengan keadaan Ibu. Beruntung tidak sampai di rawat dan bisa pulang hari ini, tadi Ibu terjatuh di kamar mandi sampai pingsan, membuat orang rumah membawa Ibu ke rumah sakit, aku memang mempekerjakan seseorang setelah asisten rumah tangga yang sebelumnya berhenti, karena aku tidak mau Ibu sendirian.
"Ibu yakin nggak harus rawat semalam?" tanyaku kembali memastikan, aku takut kalau Ibu kenapa-napa.
"Iya, Tian. Ibu tidak apa-apa, tadi nggak hati-hati jadi jatuh di kamar mandi. Dokter juga bilang kalau kondisi Ibu baik, kan."
Aku mengangguk, lalu membantu Ibu berjalan keluar dari ruangan. Kami pun segera pulang dan aku akan mengantarkan Ibu sebelum kembali bekerja.
"Tian," ucap Ibu membuatku menoleh sebelum kembali menatap jalanan di hadapaku.
"Ada apa, Bu?" tanyaku setelahnya.
"Ibu hanya ingin memastikan sesuatu kembali," jawabnya membuatku mengernyit bingung. Ibu ingin memastikan tentang apa?
"Apakah kamu benar-benar sudah mencintai Nina dan menganggap dia sebagai istri kamu? Bukan karena alasan Rian saja," tanya Ibu padaku.
Aku tidak terkejut lagi mendengar pertanyaan Ibu ini, karena waktu itu pernah Ibu tanyakan padaku. Jawabanku masih terdengar ragu saat pertama kalinya Ibu bertanya tentang ini. Kalau sekarang, tentu saja aku tidak akan merasa ragu untuk menjawabnya.
"Sekarang sudah berubah, Bu. Pernikahan yang aku jalani bersama dengan Nina bukan semata karena keinginan Rian, tetapi aku sudah menerima semuanya. Selama ini aku belajar untuk kembali membuka hatiku dan Nina berhasil menerobos masuk ke dalamnya."
Aku mulai menjawabnya, seperti yang aku bilang, tidak ada keraguan lagi untuk menjawab pertanyaan Ibu. Karena kali ini aku sudah mendapatkan jawabannya, aku sudah menerima pernikahan ini tanpa terpaksa dan bukan hanya karena alasan Rian membutuhkan sosok Ibu dalam kehidupannya, tetapi karena aku memang ingin Nina menjadi pendamping hidupku dan karena aku sudah mulai mencintainya.
Tidak sulit sebenarnya untuk mencintai Nina, mengingat betapa perhatiannya perempuan itu padaku. Dia tidak hanya mengurus anak-anak dengan sangat baik, tetapi Nina juga memberikan perhatiannya kepadaku ditengah mengurus anak-anak.
"Ibu merasa bersyukur karena kamu kembali dipertemukan dengan wanita baik, sama seperti Atika dulu."
Aku mengangguk. Aku sendiri tidak menyangka dan entah kebaikan apa yang aku lakukan dulu, aku kembali dipertemukan dengan perempuan yang sangat baik dan penuh perhatian. Setelah Atika yang dengan sabar berada di sampingku, lalu sekarang ada Nina yang penuh kelembutan.
Mereka adalah kebahagiaan yang Tuhan kirimkan kepadaku bersama dengan anak-anak, aku sangat bersyukur dengan apa yang terjadi padaku karena kehadiran mereka. Meskipun alu juga telah menyakiti Atika sebelum menyadari perasaanku, tetapi sekarang aku tidak akan melakukan hal yang sama pada Nina.
"Ibu tahu anak yang Nina lahirkan bukanlah darah daging kamu," ucap Ibu yang membuatku langsung menoleh terkejut.
"Nina menceritakan semuanya saat kehamilan dia yang semakin besar, dia mengatakan dengan jujur pada Ibu," lanjutnya.
Aku tidak menyangka Nina akan mengatakan semuanya kepada Ibu, tetapi aku juga senang karena kita tidak perlu menutupinya lagi dari Ibu seperti sebelumnya.
"Kenapa Nina mirip sekali dengan Atika, Yan? Ibu benar-benar sedih mendengar ceritanya, hamil diluar nikah sampai akhirnya kamu yang bertanggung jawab, meskipun kali ini keadaannya berbeda dengan sebelumnya karena kamu bukanlah ayah biologisnya."
"Mungkinkah ini sebagai penebus kesalahan kamu pada Atika dulu, dan Tuhan ingin kamu melakukan hal baik tentang sebuah pernikahan dan hubungan antara suami-istri."
Aku diam mendengarkan perkataan Ibu yang sebagian besar adalah benar. Ternyata Ibu juga berpikir sama denganku, aku juga merasa bahwa pertanggung jawabanku kali ini adalah sebagai penebus dosa yang telah aku lakukan pada Atika dulu, Tuhan mungkin memberikan kesempatan kepadaku untuk memperlakukan seorang istri dengan baik, lewat kehadiran Nina dalam hidupku sekarang.
Kalau memang seperti itu, aku sungguh merasa beruntung karena mendapatkan kesempatan kedua untuk bisa menjadi suami yang baik, juga ayah yang baik. Aku sangat bahagia dengan apa yang terjadi sekarang kepada hidupku.
"Tian, Ibu harap kamu tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Pernikahan itu sakral, kamu harus bisa memberikan rasa aman, nyaman dan bahagia untuk pasangan kamu, begitu juga sebaliknya. Jangan sampai kamu melukai istri kamu seperti apa yang sudah kamu lakukan dulu."
Aku mengangguk, "Tian janji, kali ini akan melakukan yang terbaik. Menjadikan pernikahan ini sebagai pernikahan terakhir dan berusaha untuk selalu memberikan kebahagiaan pada keluarga kecil yang Tian miliki."
"Ibu sangat senang sekali melihat kamu sudah berubah, masa lalu biarlah menjadi sebuah pelajaran untuk memperbaiki masa sekarang dan ke depannya."
**
Kami berada di dalam kamar, anak-anak sudah tidur menyisakan aku dan Nina yang sekarang tengah berbaring di atas tempat tidur, dengan aku yang tengah memeluknya dari belakang.
Sepertinya ini kali pertama, kami bisa menikmati waktu begini, karena kesibukanku yang kerap pulang malam membuat tidak ada waktu meskipun di atas tempat tidur, karena saat aku pulang, Nina selalu terlelap.
"Kamu nggak mau cerita sesuatu sama aku?" tanyaku pada Nina. Dia hanya menggeleng lalu membalikkan tubuhnya membuat posisi kami saling berhadapan.
Tanganku terangkat merapihkan rambutnya, lalu memberikan ciuman singkat di keningnya sebelum kembali berkata, "Ibu bilang kamu menceritakan semuanya, tentang status Ana yang bukanlah anak kandunhku."
Nina kelihatan terkejut mendengar perkataanku, tubuhnya mendadak kaku dan aku merasakannya. Aku tersenyum tipis, kembali mencium keningnya.
"Aku nggak nyangka kamu akan mengatakan dengan jujur tentang Ana pada Ibu," kataku lagi karena dia masih diam, belum mengeluarkan suaranya.
"Maaf ya, Mas," kata Nina dari sekian perkataan yang aku pikirkan atas respon istriku, kata maaf yang pertama kali dia ucapkan padaku. Padahal dia sama sekali tidak bersalah dan tentu saja tidak perlu meminta maaf.
"Kamu nggak perlu meminta maaf. Aku hanya kaget aja karena kamu lebih dulu menceritakan semuanya pada Ibu. Aku pikir kamu masih takut untuk mengatakan yang sebenarnya tentang Ana," ucapku.
Nina menatap kedua mataku, membuat kami saling berpandangan satu sama lain. "Aku rasa nggak ada yang harus di rahasiakan lagi dan Ibu berhak tahu semuanya, jadi aku memberanikan diri untuk mengungkapkan semuanya sama Ibu, aku pikir Ibu akan marah dan memaki, ternyata Ibu sangat mendengarkan penjelasan aku dengan baik."
Aku tersenyum seraya mengelus rambutnya, "Aku senang karena kamu mengatakan semuanya, kamu benar-benar hebat dan berusaha untuk tidak menyimpan rahasia di antara anggota keluarga. Terima kasih selalu memberikan yang terbaik untuk aku dan anak-anak."
"Sudah menjadi kewajiban aku sebagai istri kamu dan Ibu dari Rian juga Ana."
"Aku mencintaimu, Nina."
"Terima kasih sudah mencintaiku, Mas. Aku juga mencintai kamu."