Aku sedang mengantar Rian berenang, karena anakku tiba-tiba saja mengajak untuk pergi berenang, katanya sudah lama sekali tidak bermain air di kolam renang dan akhirnya aku menuruti keinginan Rian.
Tidak hanya ada aku saja, tetapi aku juga mengajak Nares yang membuat kami saat ini menjadi Ayah pengasuh anak-anak, karena istri kami tidak ikut. Nina tentu saja tidak mungkin membawa Ana ke sini, apalagi Ana sedang dalam kondisi tidak baik, semalam terus terjaga karena demam, untung ada Ibu, jadi aku tidak begitu khawatir meninggalkan mereka di rumah.
Semenyata Indira, Nares mengatakan istrinya sedang dalam mode malas. Tidak mau ke mana-mana dan tidak ingin melakukan apa pun, efek hamil memang seperti ini, mungkin. Jadilah kami yang menjaga anak-anak di sini.
Aku dan Nares hanya memerhatikan Rian dan Gea dari kejauhan, karena mereka berada di kolam renang anak-anak, aku tidak terlalu khawatir dan keduanya juga sudah pandai berenang, jadi kami hanya memantau tanpa ikut turun ke kolam.
"Kehamilan anak kedua ini siapa yang ngidam, Res?" tanyaku memulai obrolan dengan Nares.
"Berdua, dua hari lalu sama-sama pengen makan martabak di siang hari. Akhirnya bikin sendiri karena belum ada yang jual martabak siang-siang," balas Nares membuatku tersenyum.
Aku jadi membayangkan bagaimana kalau Nina hamil anakku dan merasakan hal yang sama seperti apa yang di rasakan oleh Nares dan Indira, pasti sangat lucu dan kompak sekali. Sayangnya Ana masih terlalu kecil kalau harus memiliki adik, ditambah Rian yang kadang masih manja pada mamanya.
"Beruntung banget lo bisa ngerasain ngidam juga, jadi nggak cuma Indira doang. Gue malah dulu berharap bisa ikutan ngidam, pernah sih sekali dan rasanya menyenangkan," balasku seraya tersenyum mengingat momen di mana dulu Atika tengah hamil dan aku sempat mengidam juga.
"Biar ngerasain juga apa yang di rasain sama istri kan."
Aku mengangguk setuju dengan perkataan Nares, lelaki tidak hanya menikmati proses membuat anak saja, tetapi sesekali harus merasakan proses selama kehamilan, agar tidak hanya istri yang berjuang.
"Lo juga bisa nyusul ngidam kalau Nina hamil anak lo, kapan rencana anai ketiga?" tanya Nares membuatku berdecak.
"Ana masih kecil, belum kepikiran soal itu," jawabku.
"Nggak apa-apa, kan banyak anak banyak rejeki."
**
Aku dan Rian baru saja pulang, kami terlalu lama berada di kolam renang, membuat kulit Rian juga agak hitam karena tadi masih berenang di bawah terik matahari. Rian begitu asyik bersama dengan Gea.
Sampai di rumah, malah disuguhkan dengan makanan yang membuat perut langsung berdemo ingin di isi, ternyata Nina sedang memasak dan pas sekali kami pulang berenang.
Aku menghampiri dia yang sedang menata meja makan, sementara Ana bersama dengan Ibu dan sepertinya berada di lantai atas karena tadi aku tidak melihatnya di ruang tengah.
"Pas banget aku lagi lapar, Yang," ucapku pada Nina membuat dia tersenyum lalu menyuruhku untuk segera duduk.
"Rian mana?" tanya Nina padaku. Mungkin karena melihat aku hanya sendiri masuk ke dapur, membuat dia jadi bertanya-tanya.
"Mau simpan tas dulu ke kamar katanya, nanti juga turun buat makan," balasku.
Nina pun menyiapkan makanan di atas piring dan memberikan padaku. Aku selalu suka memakan masakan hasil tangan istriku, rasanya selalu nikmat dan membuat ingin menghabiskan semuanya.
Tidak kama, Rian bergabung dengan aku dan duduk di kursi samping. Dia juga meminta tolong pada Nina untuk di siapkan makanan, dengan telaten Nina menyiapkan semuanya.
"Ma, tadi aku makin jago berenangnya," ucap Rian yang mulai bercerita tentang keseharian dia kali ini.
"Anak Mama udah pintar dong, nanti bisa ajarin adeknya berenang juga," balas Nina mengelus rambut sang anak penuh kelembutan.
"Iya, nanti Rian bakalan ajarin Ana berenang kalau udah besar."
Nina tersenyum semakin lebar mendengar perkataan Rian. Ia benar-benar tidak menyangka Rian akan sangat menyayangi adiknya seperti ini, dia tidak tahu kapan orang tuanya akan menjelaskan semua ini pada dirinya.
"Rian sayang ya sama adek?" tanya Nina membuat aku menoleh, kenapa malah bertanya seperti itu, padahal tidak perlu dijelaskan sudah banyak yang tahu betapa Rian sangat menyayangi adiknya.
"Sayang dong, Ma. Kan Ana adiknya Rian, kata Ayah harus dijagain adiknya karena perempuan, kalau adik laki-laki juga Rian akan jagain."
"Mama jadi makin sayang sama kamu," balas Nina mengelus rambut Rian penuh kelembutan.
Aku senang melihat interaksi mereka berdua, tidak seperti Ibu pengganti, tetapi Nina menjadi Ibu sesungguhnya untuk Rian, selalu ada untuk Rian dan tidak pernah marah, sabar sekali menghadapi semuanya.
Kami pun makan bersama ditemani dengan cerita Rian tentang teman-teman di sekolahnya, yang katanya selalu ribut satu sama lain, tetapi membuat hari-hari yang Rian lewati begitu berbeda dan sangat menyenangkan.
Aku ikut senang, Rian benar-benar menjadi anak lelaki yang berbeda dari sebelumnya. Jika dulu dia tidak pernah mau bergabung dengan kegiatan apapun di sekolah, Rian tidak akan melakukan hal-hal yang merugikan.
"Ayah, nanti boleh berenang lagi nggak? Tadi Gea bilang mau berenang lagi nanti," tanya Rian melapor pada mamanya.
"Boleh, nanti kita janjian sama Gea biar ada teman berenangnya kaya tadi. Seru kan kalau ada teman di sini?" tanyaku balik pada Rian.
Dia mengangguk seraya tersenyum lebar, hal yang sangat jarak sekali Nina lihat dan tentu saja momen tadi melihat dari dekat membuatku harus mengontrol perasaannya.
Setelah makan bersama, kami pun ke ruang tengah dan berkumpul. Sudah ada Ibu dan Ana yang baru saja turun dari kamar, yang akhirnya di sini benar-benar terasa hangat karena sangat jarang sekali kami berkumpul seperti ini, mengingat aku yang lebih sibuk dari sebelumnya.
"Ibu senang sekali kalian akur, anak-anak selalu senyum kaya gini. Bahkan Rian benar-benar mengalami perubahan, anak itu yang awalnya pendiam sekali dan tidak ingin bermain dengan teman-teman sebayanya, sekarang malah selalu pulang menjelang sore karena bermain di taman dengan orang-orang lain.
"Aku juga senang, Bu. Semua ini berkat mamanya anak-anak," balasku seraya melirik Nina dan perempuan itu juga ikut menatapku.
Nina malah tersenyum malu-malu saat aku memujinya, padahal memang kenyataannya begitu. Rian bisa berubah karena kehadiran Nina yang mengisi tempat kosong dalam hatinya, Rian kembali bersemangat dalam menjalani hari-harinya, aku sama sekali tidak menyangka sekarang selalu melihat senyum Rian yang sangat jarang kulihat saat kami bersama-sama dulu.
Kehadiran Nina memang merubah semuanya, kehidupan kami yang kelabu pada akhirnya kembali di penuhi dengan bunga warna warni, aku semakin mendekatkan diri pada Nina yang duduk tidak jauh dariku, masih di sofa yang sama.
"Sekali lagi terima kasih karena sudah memberikan yang terbaik untuk kami bertiga."