Suasana di ruang tamu semakin ramai. Hanin sibuk bolak-balik membawa makanan, sedangkan Raihan menemani kedua orangtuanya berbicara.
Aydan memilih membantu di halaman belakang. Ucapan neneknya tadi masih membuat dada terasa sesak, tapi ia gak mau merusak acara.
“Kak Aydan, kok diam aja?” tanya Dafa sambil mengambil kue.
“Kau udah ambil berapa?” Aydan malah menyipitkan mata.
“Baru tiga.”
“Yang di kantong celanamu itu apa?”
Dafa langsung lari. Aydan tertawa dan mengejarnya sampai Hanin menegur mereka.
“Jangan lari-lari, nanti jatuh!”
“Dafa yang mulai, Ma.”
“Kak Aydan tukang fitnah!” teriak Dafa dari balik pintu.
Tawa kecil itu mengembalikan suasana hati Aydan. Meski ada orang yang terus menyebutnya anak angkat, Hanin dan Raihan gak pernah membuatnya merasa kurang.
Suara mobil berhenti di depan rumah. Kaif turun bersama Tania yang mengenakan gamis abu-abu dari butik Ellena. Tania tampak cantik, tapi wajahnya tegang begitu melihat kendaraan Aydan terparkir.
“Jangan aneh-aneh,” bisik Kaif.
“Maksudmu apa?”
“Bersikaplah biasa.”
Tania tersenyum kecut. Mereka masuk dan mengucapkan salam. Hanin langsung menyambut calon kekasih anaknya dengan ramah.
“Jadi ini Tania?”
“Iya, Tante.” Tania menyalam tangan Hanin.
“Panggil Mama aja kalau mau,” kata Hanin.
Tania tersenyum lebar. “Iya, Ma.”
Kaif memperhatikan wajahnya. Tania pandai sekali mengambil hati. Kalau bukan karena keterangan pegawai butik, mungkin Kaif masih percaya penuh.
Raihan mengenalkan Tania kepada keluarga. Mama Raihan langsung senang karena mengira Kaif akan segera menikah.
“Cantik kali pacarmu, Kaif. Cucuku memang paling pandai memilih,” pujinya.
Aydan baru masuk membawa nampan minuman. Tania yang sedang tersenyum mendadak diam.
“Silakan diminum,” kata Aydan sambil menaruh gelas.
Kaif sengaja menatap Tania. “Kau kenal adikku?”
Tania menelan ludah. “Mmh, pernah lihat di perusahaan.”
“Cuma di perusahaan?”
“Iya.”
Aydan melirik kakaknya. Dari pertanyaan itu, ia tau Kaif sedang menguji.
Mama Raihan menyela. “Aydan, kenapa kau yang bawa minuman? Biar pembantu aja. Duduk sana jangan sibuk cari perhatian.”
Ruang tamu seketika hening.
Hanin meletakkan piring dengan sedikit keras. “Ma, Aydan membantu saya sejak pagi. Jangan bicara kayak gitu.”
“Mama cuma bilang dia gak perlu cari muka di depan tamu.”
Aydan tersenyum tipis. “Gak apa-apa, Ma. Aydan memang mau bantu.”
Raihan langsung menyuruh Aydan duduk di sampingnya. “Dia anakku. Rumah ini juga rumahnya.”
Kaif yang biasanya menikmati ketika Aydan disindir malah merasa gak nyaman. Terlebih hari ini Aydan sudah membantunya mengetahui sifat Tania.
“Nek, Aydan itu CEO perusahaan kita sekarang. Kalau dia cari perhatian, gak perlu angkat nampan. Semua orang juga udah kenal dia,” kata Kaif.
Aydan menatap kakaknya, sedikit terkejut. Kaif jarang membelanya.
Mama Raihan berdecak lalu mengalihkan pembicaraan. Tania ikut tertawa kecil seolah gak terjadi apa-apa.
Acara makan dimulai. Kaif sengaja membuat Tania duduk berhadapan dengan Aydan. Wanita itu lebih banyak menunduk.
“Kau suka makanannya?” tanya Hanin.
“Suka kali, Ma. Enak semuanya.”
“Aydan yang masak rendangnya,” kata Hanin bangga.
Tania spontan menatap Aydan. “Kamu bisa masak juga?”
Semua orang memperhatikan panggilan kamu yang terdengar terlalu akrab.
“Maksudku, Aydan bisa masak juga?” Tania buru-buru memperbaiki.
Kaif tersenyum miring. “Kau bilang cuma pernah lihat dia di perusahaan, tapi gaya bicaramu kayak udah sering jumpa.”
“Ya ampun, Kaif. Aku kan orangnya cepat akrab.”
Tania mencoba menyentuh tangan Kaif, tapi pria itu menariknya untuk mengambil minuman.
Setelah makan, Tania pergi ke toilet. Kaif mengikuti dari belakang, lalu menunggunya di lorong.
“Kau bohong sama aku,” katanya ketika Tania keluar.
“Bohong apa?”
“Kau pernah merayu Aydan di butik.”
Wajah Tania langsung pucat. “Siapa yang bilang?”
“Jadi benar?”
“Enggak! Pegawai butik itu salah lihat.”
Kaif mengeluarkan ponselnya. “Aydan juga punya rekaman teleponmu.”
Tania gak tau soal rekaman itu. Dia menatap ruang tamu, kemudian menarik Kaif ke samping.
“Aku bisa jelasin.”
“Jelaskan sekarang.”
“Aku cuma bercanda sama adikmu. Aku mau nguji dia.”
“Nguji apa sampai bilang suka?”
Tania terdiam. Kaif tertawa tanpa rasa senang.
“Pulanglah.”
“Kaif, jangan bikin malu aku di depan keluargamu.”
“Kau sendiri yang bikin malu.”
Aydan muncul dari arah dapur dan melihat mereka bertengkar. Ia gak ikut campur sampai Tania menatapnya penuh kebencian.
“Semua ini gara-gara kau!” bentak Tania.
Suara itu membuat keluarga di ruang tamu menoleh. Kaif memegang lengan Tania agar gak mendekati Aydan.
“Jangan salahkan adikku. Dia gak pernah membalas kelakuanmu.”
Tania melepaskan tangan Kaif. “Kalau kau lebih percaya dia, ya udah!”
Dia mengambil tas lalu keluar. Kaif gak mengejar.
Hanin mendekati anaknya. “Ada apa ini?”
Kaif menatap Aydan, kemudian keluarganya. “Tania mencoba mendekati Aydan di belakangku.”
Mama Raihan langsung mencibir. “Pasti Aydan juga menggoda.”
“Enggak, Nek!” bentak Kaif. “Aku udah cari kebenarannya. Aydan gak salah.”
Untuk pertama kalinya, Kaif mengakui itu di depan semua orang. Aydan merasakan sesuatu menghangat di dadanya, meski acara keluarga berubah kacau.
Di dapur, Hanin meminta Aydan duduk. Ia sedih anaknya sampai terbiasa menerima hinaan. Kaif melihat mereka dan, untuk pertama kali, rasa cemburunya berubah menjadi malu. Ia mengambil nampan kotor dan membantu Aydan membereskan meja.
“Tumben,” sindir Aydan.
“Jangan banyak bicara. Mana yang harus dibawa?”
Mereka bekerja tanpa bertengkar. Sebelum kembali menemui tamu, Kaif berkata pelan, “Makasih udah jujur soal Tania.”
Aydan belum sempat menjawab karena Dafa masuk meminta kue. Namun ucapan singkat itu menetap lebih lama daripada sindiran neneknya. Acara hari itu memang kacau, tetapi untuk pertama kali kedua saudara itu berdiri di sisi yang sama.
Di luar rumah, Tania masuk ke taksi daring dengan wajah penuh amarah. Dia membuka ponsel dan melihat rekaman foto Aydan yang selama ini disimpan.
“Kalian belum tau aku bisa ngapain,” gumamnya.
Raihan dan Hanin melihat kedua anaknya membereskan rumah bersama. Di tengah acara yang kacau, keluarga itu mendapat sesuatu yang lama hilang: kesempatan bagi Kaif dan Aydan untuk benar-benar berdiri sebagai saudara.