Setelah Tania pergi, suasana acara gak lagi sama. Beberapa tamu berpura-pura melanjutkan makan, tapi telinga mereka jelas mendengarkan.
Hanin meminta Kaif dan Aydan masuk ke ruang kerja Raihan. Suaminya mengikuti, lalu menutup pintu.
“Ceritakan dari awal,” kata Raihan.
Aydan menceritakan pertemuan di kafe, masjid, perusahaan dan butik. Ia juga memutar rekaman telepon Tania.
Suara Tania terdengar jelas mengatakan dirinya gak punya pacar dan sudah gak menyukai Kaif.
Kaif mengepalkan tangan. Meski sudah menduga, mendengar langsung tetap menyakitkan.
“Matikan,” katanya.
Aydan langsung menghentikan rekaman. “Maaf, Kak.”
“Kenapa kau baru bilang?”
“Aku baru tau dia pacarmu waktu melihat fotonya. Aku juga butuh waktu supaya gak salah tuduh.”
Kaif berdiri dan berjalan mondar-mandir. “Aku bodoh kali.”
Hanin memegang bahunya. “Kau gak bodoh karena percaya sama orang. Dia yang salah menggunakan kepercayaanmu.”
“Mama udah senang aku bawa calon.”
“Mama lebih senang kau tau kebenaran sebelum terlambat.”
Kaif melihat Aydan. Rasa cemburu yang selama ini dipelihara membuatnya ingin tetap mencari kesalahan adiknya. Namun bukti terlalu jelas.
“Kau gak pernah suka sama dia?” tanyanya.
“Gak pernah, Kak. Aku malah menghindar terus.”
Raihan menyuruh keduanya menyelesaikan masalah sebagai saudara, bukan pesaing. Setelah itu dia kembali menemui tamu bersama Hanin.
Kaif duduk di sofa. “Kenapa kau bantu aku setelah semua yang kulakukan padamu?”
“Karena Kakak tetap abangku.”
“Aku sering berharap kau pergi dari rumah ini.”
Aydan tersenyum sedih. “Aku tau.”
“Kau gak marah?”
“Marah. Tapi aku gak pengen Kakak dihancurin wanita kayak Tania.”
Kaif menunduk. Ia belum mampu meminta maaf untuk seluruh masa lalu, tapi hari itu satu dinding di antara mereka mulai retak.
Ponsel Kaif berdering berkali-kali. Tania menelepon dan mengirim pesan panjang. Kaif memblokir nomornya setelah menulis satu kalimat bahwa hubungan mereka selesai.
Tania gak menerima. Dia meminjam nomor temannya dan menelepon lagi.
“Kaif, kau gak bisa mutusin aku begitu aja!”
“Bisa. Kau bohong dan merayu adikku.”
“Aku cuma penasaran sama dia. Aku tetap cinta kau.”
“Cinta macam apa itu?”
Tania menangis, memohon, kemudian berubah marah ketika Kaif tetap menolak.
“Aydan sengaja merebutmu dariku!”
“Dia justru menyelamatkanku dari kebohonganmu.”
Kaif menutup panggilan dan memblokir nomor itu juga.
Di halaman, Aydan kembali membantu tamu. Mama Raihan masih memandangnya sinis. Ketika Aydan lewat, wanita tua itu berbisik bahwa anak angkat selalu membawa masalah.
Kaif mendengarnya.
“Nenek salah. Masalahnya Tania, bukan Aydan.”
“Kau sekarang membelanya?”
“Aku membela yang benar.”
Aydan pura-pura gak mendengar, tapi sudut bibirnya naik sedikit.
Malam hari setelah semua tamu pulang, keluarga mereka membersihkan rumah. Kaif ikut mengangkat kursi tanpa disuruh. Hanin sampai memeriksa dahinya karena mengira dia sakit.
“Mama apaan sih?” protes Kaif.
“Tumben kau membantu.”
“Kalau gak dibantu, Aydan nanti lagi yang dipuji.”
Ucapan itu masih terdengar cemburu, tetapi nada Kaif gak setajam biasanya. Aydan melempar kain lap kepadanya.
“Kalau mau dipuji, bersihin jendela juga.”
“Kurang ajar kau nyuruh abang.”
“Katanya mau bantu.”
Untuk pertama kali dalam waktu lama, mereka berdebat tanpa kebencian.
Di tempat lain, Tania duduk bersama teman-temannya. Tangisnya sudah berhenti. Dia membuka akun palsu dan mulai menulis cerita bahwa Aydan merebut kekasih kakaknya.
Temannya melihat layar. “Kau yakin mau nyebarin itu? Kaif bisa makin benci.”
“Aku gak akan pakai namaku.”
“Tapi itu bohong.”
Tania menatap tajam. “Kau kawanku atau bukan?”
Ia menekan tombol kirim. Tulisan itu masuk ke sebuah akun gosip lokal bersama foto Aydan dan Tania di butik yang diambil dari kamera jauh.
Keesokan pagi, Yuni melihat unggahan tersebut sebelum Aydan tiba di kantor. Komentar sudah ratusan. Sebagian menuduh CEO muda itu merebut kekasih kakaknya.
Yuni langsung menghubungi Aydan.
“Pak, ada masalah di media sosial.”
Aydan baru selesai sarapan. “Masalah apa?”
“Nama Bapak dibawa-bawa. Saya kirim tautannya.”
Aydan membuka unggahan dan wajahnya berubah dingin. Kaif yang duduk di seberang meja ikut melihat.
Raihan meminta Kaif memakai kepala dingin. Di kantor, gosip membuat dua mitra menunda rapat. Yuni menyimpan semua tangkapan layar, sedangkan Aydan meminta karyawan gak menyebarkan informasi yang belum terbukti.
Seorang staf keamanan ketahuan menjual foto Aydan. Dia mengaku membutuhkan biaya pengobatan ibunya. Aydan tetap menskorsnya, tetapi meminta bagian kesejahteraan memeriksa bantuan kesehatan.
“Kenapa masih dibantu?” tanya Kaif.
“Bantuan dan konsekuensi itu dua hal berbeda.”
Malamnya Tania mengancam akan menyebarkan cerita bahwa Aydan hanya anak pungut. Hanin menangis, tetapi Aydan menyimpan pesan sebagai bukti.
“Aku memang anak angkat. Itu bukan aib,” katanya.
Kaif menunduk karena dulu sering menggunakan kenyataan itu untuk melukai adiknya.
“Kalau ada yang tanya, aku akan bilang kau adikku.”
“Bilang karena memang begitu, bukan karena kasihan.”
“Memang begitu.”
Yuni kemudian memperoleh rekaman kamera butik. Kaif menyerahkan pesan Tania dan Aydan memberikan rekaman telepon. Mereka akhirnya mengumpulkan bukti sebagai saudara, bukan saling menuduh.
“Itu pasti Tania,” kata Kaif.
“Jangan menuduh kalau belum ada bukti,” jawab Aydan, meski dirinya punya dugaan sama.
Kaif berdiri. “Sekarang giliranku cari kebenaran.”
Kaif ikut memberikan keterangan kepada pengacara bahwa Tania masih menjadi kekasihnya ketika mendekati Aydan. Klarifikasi diterbitkan tanpa membuka alamat Tania. Beberapa mitra mengembalikan jadwal rapat setelah melihat bukti.
“Dia salah, tapi orang gak boleh mengancamnya,” kata Aydan.
Kaif akhirnya mengerti membela adiknya gak harus berubah menjadi balas dendam. Fakta sudah cukup untuk membersihkan nama Aydan tanpa membuat keluarga mereka melakukan kesalahan baru.
Sebelum pulang, Kaif meminta maaf kepada Raihan karena hampir bertindak gegabah. Aydan mengajaknya kembali bekerja dan membiarkan pengacara menangani sisanya. Mereka berangkat dalam satu mobil. Perjalanan yang biasanya dipenuhi sindiran kali itu diisi pembicaraan mengenai perusahaan dan cara memperbaiki kepercayaan karyawan. Hubungan mereka belum sepenuhnya baik, tetapi Kaif mulai memilih berada di samping adiknya saat masalah datang.
Sebelum turun, keduanya sepakat gak lagi menyimpan masalah penting sendirian.