Unggahan itu menyebar cepat karena nama perusahaan keluarga mereka cukup dikenal. Foto Aydan bersama Tania di butik terlihat seolah mereka sedang berbicara dekat, padahal Aydan mencoba menjauh.
Raihan meminta bagian hukum menyimpan seluruh bukti. Aydan menolak membuat pernyataan emosional.
“Kalau kita marah-marah, orang makin senang,” katanya.
Kaif gak setuju. “Aku bisa jelasin kalau Tania pacarku dan dia yang menggoda kau.”
“Kalau Kakak bicara sekarang, urusan pribadi kita jadi makanan semua orang.”
“Tapi namamu rusak.”
“Perusahaan harus kasih fakta, bukan pertengkaran keluarga.”
Yuni menghubungi butik Ellena dan meminta rekaman kamera pengawas. Pemilik butik bersedia menyerahkan kepada pengacara. Rekaman menunjukkan Tania mendekati, menyentuh lengan Aydan, sementara Aydan berulang kali menjauh.
Kaif juga menyerahkan rekaman telepon Tania yang dimiliki Aydan setelah meminta izin.
Tim hukum mengirim pemberitahuan kepada akun gosip agar menghapus unggahan dan menerbitkan koreksi. Akun itu menolak karena mengaku menerima informasi dari sumber terpercaya.
Aydan tetap pergi bekerja. Beberapa karyawan memandang aneh ketika dia lewat. Di ruang rapat, mitra perusahaan menanyakan gosip tersebut.
“Masalah itu sedang ditangani secara hukum. Tidak memengaruhi pekerjaan,” jawab Aydan.
Setelah rapat, Yuni mendekat. “Bapak baik-baik aja?”
“Kalau saya bilang baik, bohong. Tapi kerjaan tetap harus selesai.”
Yuni mengangguk dan menyusun jadwal agar Aydan gak bertemu wartawan yang mulai menunggu di luar.
Kaif mendatangi rumah Tania bersama seorang teman sebagai saksi. Tania gak mau keluar. Dari balik pintu, ibunya mengatakan anaknya sedang sakit.
“Saya cuma ingin dia menghapus fitnah,” kata Kaif.
Tania akhirnya muncul. “Kau gak punya bukti aku yang kirim.”
“Aku belum bilang soal kiriman apa.”
Tania terdiam karena keceplosan.
Kaif merekam percakapan. “Kalau kau gak menghapusnya, pengacara perusahaan akan bergerak.”
“Kau tega memenjarakan aku?”
“Kau yang menyerang adikku.”
Tania menangis dan mencoba memegang Kaif, tetapi pria itu mundur. “Hubungan kita selesai. Jangan ganggu keluargaku lagi.”
Teman-teman Tania akhirnya mengaku kepada pengacara bahwa unggahan dibuat dari ponsel Tania. Mereka menyerahkan tangkapan layar karena gak mau ikut terseret.
Akun gosip menghapus tulisan dan menerbitkan klarifikasi setelah menerima ancaman gugatan. Video kamera butik gak disebarkan penuh demi menjaga privasi, hanya cuplikan yang menunjukkan Aydan menolak.
Komentar publik berbalik menyerang Tania. Aydan meminta tim menghentikan penyebaran identitas lengkap wanita itu.
“Kenapa masih melindunginya?” tanya Kaif.
“Aku melindungi perusahaan dan diri kita dari masalah baru. Dia salah, tapi bukan berarti orang boleh mengancamnya.”
Kaif memikirkan jawaban tersebut. Aydan selalu tenang bahkan ketika punya alasan membalas. Itu salah satu hal yang membuat Kaif dulu cemburu.
Malamnya, Raihan memuji mereka karena bekerja sama. Mama Raihan yang masih menginap hanya diam. Ia tetap sulit menerima Aydan, tetapi gak bisa menyalahkannya untuk masalah Tania.
Saat keluarga berkumpul, kakek Aydan yang pikun memperhatikan wajahnya lama.
“Aku pernah lihat matamu,” katanya.
Aydan tersenyum. “Ya pernahlah, Kek. Aydan sering datang.”
“Bukan. Waktu dulu. Ada laki-laki matanya sama kayak kau.”
Raihan yang sedang minum langsung berhenti.
“Papa ingat siapa?” tanya Hanin.
Pria tua itu mengerutkan dahi. “Orang dari Aceh... atau Jakarta? Dia datang bawa kotak kayu.”
Aydan duduk lebih dekat. “Kapan, Kek?”
“Sebelum kecelakaan besar itu. Aku lupa.”
Raihan terlihat gelisah. Hanin menyadarinya.
“Mas, kenapa?”
“Gak ada.”
Kakek menunjuk lemari tua di sudut ruang. “Kotaknya kayak yang di rumah lama.”
Hanin mengatakan rumah lama papanya sudah lama kosong, tetapi beberapa barang masih disimpan Dinda.
Aydan merasakan jantungnya berdegup cepat. Selama bertahun-tahun ia hanya memiliki potongan ingatan. Sekarang ucapan seorang kakek yang pikun membuka kemungkinan ada seseorang mengenal orangtuanya.
Raihan berdiri dan meminta pembicaraan dihentikan karena papanya harus istirahat.
Kakek memanggil Aydan dan memegang wajahnya. “Safar,” katanya lirih. Dinda merasa pernah mendengar nama itu ketika seorang pria datang membawa kotak kayu ke rumah lama.
“Papa ikut pertemuan itu?” tanya Kaif kepada Raihan.
Raihan membantah terlalu cepat. Kaif dan Aydan semakin curiga. Dinda memberi mereka izin memeriksa rumah lama serta berjanji semua benda yang dibawa akan dicatat.
Di lorong, Mama Raihan mendengar rencana itu. Dia membuka buku alamat lama dan menemukan halaman bertuliskan Safaraz Trading. Di belakangnya ada catatan: anak itu selamat bersama Raihan.
Tangannya gemetar. Kebenciannya kepada Aydan bukan sekadar cemburu karena cucu angkat lebih dibanggakan. Wajah pemuda itu mengingatkannya pada masalah yang ingin dilupakan.
Kertas itu jatuh ketika Dafa masuk mencari pengisi daya. Anak tersebut sempat melihat nama Aydan.
“Itu apa, Nek?”
“Bukan urusan anak kecil.”
Dafa pergi, tetapi berniat memberi tahu Aydan. Di rumah yang masih dipenuhi sisa acara, ternyata bukan hanya Raihan yang menyimpan bagian masa lalu.
Aydan memperhatikan papanya. Untuk pertama kali, ia merasa Raihan bukan hanya khawatir—pria itu seperti menyembunyikan sesuatu.
Dafa akhirnya menunjukkan kepada Aydan bahwa neneknya menyimpan kertas lama. Raihan meminta semua barang di tas mamanya diperiksa dengan izin, tetapi wanita itu menolak. Hanin menegaskan gak ada lagi rahasia yang boleh disimpan.
Kakek kembali menyebut Safar saat tidur. Dia juga mengucapkan kata hotel dan Raka. Aydan mencatat semuanya agar potongan ingatan itu gak hilang.
Kaif menawarkan menemani tanpa banyak bertanya. Mereka menyusun daftar benda yang harus dicari di rumah lama: kotak berukir, album usaha, serta surat bertanda hotel Fairmont.
“Kalau kita menemukan sesuatu yang buruk?” tanya Kaif.
“Kebenaran tetap milikku,” jawab Aydan.
Pagi berikutnya mereka berangkat setelah memberi tahu Hanin. Raihan awalnya melarang, tetapi akhirnya mengirim pengacara keluarga untuk memastikan barang ditemukan dengan sah.
Raihan akhirnya mengakui pernah mendengar nama Safar dari seorang petugas rumah sakit, tetapi saat itu dokumen anak korban sudah rusak. Ia takut memberikan harapan palsu kepada Aydan. Hanin menegurnya karena ketakutan tersebut tetap membuat anaknya kehilangan hak mengetahui petunjuk. Raihan meminta maaf dan berjanji menyerahkan semua catatan lama malam itu juga.
Aydan menerima permintaan maaf itu, meski kepercayaannya belum pulih sepenuhnya.