Ucapan kakek membuat Aydan gak bisa tidur. Ia duduk di balkon sambil membuka map lukisannya. Gambar seorang lelaki keempat di rumah makan kembali diperhatikan.
Wajah orang itu selalu kabur dalam ingatannya, tapi bentuk matanya terasa familiar.
Kaif masuk tanpa mengetuk. “Kau mikirin ucapan Kakek?”
“Iya.”
“Papa tadi aneh.”
Aydan menutup map. “Kakak juga sadar?”
Kaif mengangguk. Biasanya dia akan mengabaikan urusan masa lalu Aydan, tetapi setelah kejadian Tania, rasa bersalah membuatnya ingin membantu.
“Besok kita ke rumah lama Kakek.”
“Tanpa bilang Papa?”
“Kalau bilang, bisa-bisa dilarang.”
Pagi hari mereka meminta alamat kepada Dinda dengan alasan mengambil album keluarga. Dinda gak curiga dan menawarkan ikut, tetapi Kaif menolak.
Rumah lama berada di pinggir kota dan sudah berdebu. Penjaga membuka pintu setelah Kaif menunjukkan pesan Dinda.
Mereka mencari lemari yang dimaksud kakek. Di gudang belakang ada beberapa kotak kayu, koper, dan album lembap.
“Kita cari yang mana?” tanya Kaif sambil menutup hidung.
“Kakek cuma bilang kotak kayu.”
“Semua juga kayu.”
Aydan tertawa kecil. Mereka membuka satu per satu. Sebagian berisi surat usaha, pakaian lama, dan mainan Dinda.
Di dasar lemari, Aydan menemukan kotak merah kecokelatan dengan ukiran huruf S. Kuncinya sudah berkarat. Kaif menggunakan obeng dari mobil untuk membukanya.
Di dalam terdapat foto lama, kartu nama hotel, dan sebuah gelang anak. Gelang itu bertuliskan A.S.
Tangan Aydan gemetar. “Namaku Aydan Safaraz.”
Kaif mengambil foto. Gambar menunjukkan kakek mereka berdiri bersama seorang pria yang wajahnya mirip lukisan Aydan. Di samping pria itu ada perempuan yang menggandeng anak kecil.
“Anak ini kau?”
Aydan menyentuh bekas luka kecil di alis anak pada foto. Bekas yang sama masih ada di wajahnya.
Ingatan datang seperti kilatan. Rumah makan, suara ayahnya, dan laki-laki keempat yang menyerahkan amplop.
Aydan terhuyung. Kaif segera memegang bahunya.
“Kau kenapa?”
“Aku ingat sedikit. Kakek memang pernah ketemu Papa kandungku.”
Mereka membawa kotak itu pulang setelah memberi tahu Dinda. Di perjalanan, Kaif bertanya apakah Aydan akan meninggalkan keluarga jika menemukan keluarga kandung.
“Kenapa Kakak tanya gitu?”
“Entah. Dulu aku ingin kau pergi. Sekarang kalau kau benar-benar pergi... rumah pasti sepi.”
Aydan tersenyum. “Aku mencari kebenaran, bukan keluarga pengganti. Mama dan Papa tetap orangtuaku.”
Sesampainya di rumah, Raihan melihat kotak tersebut dan wajahnya langsung pucat.
“Kalian dapat dari mana?”
“Rumah Kakek,” jawab Kaif. “Papa kenal orang di foto ini?”
Raihan duduk perlahan. Hanin keluar dari dapur dan ikut melihat.
“Mas, ini bukannya pria yang waktu itu...” Hanin menghentikan ucapan.
Aydan menatap mereka bergantian. “Mama dan Papa tau sesuatu?”
Raihan meminta Kaif keluar, tetapi Aydan menolak jika kebenaran hanya diceritakan kepadanya.
“Kak Kaif keluargaku. Dia boleh dengar.”
Kaif terlihat terharu, namun tetap diam.
Raihan akhirnya mengatakan pria dalam foto bernama Safar, ayah kandung Aydan. Sebelum kecelakaan, Safar pernah menemuinya dalam urusan bisnis. Raihan gak tau saat itu bahwa anak yang diselamatkannya beberapa hari kemudian adalah putra pria tersebut.
“Kenapa Papa gak pernah bilang?”
“Karena Papa baru sadar bertahun-tahun setelahnya. Dan saat mencari keluarga Safar, ada orang yang meminta kami berhenti.”
“Siapa?”
Raihan menggeleng. “Papa gak pernah melihat wajahnya. Dia mengancam keselamatanmu.”
Aydan merasa lantai di bawahnya menghilang. Kecelakaan yang selama ini dianggap musibah mungkin menyimpan sesuatu lebih besar.
Di dalam kotak, Kaif menemukan kartu nama hotel Fairmont dengan tulisan tangan di belakangnya: temui Raka sebelum semuanya terlambat.
Nama Raka membuat Raihan berdiri kaget.
Suara gelas pecah terdengar. Mama Raihan berdiri di lorong dengan wajah pucat. Dafa datang membawa halaman buku alamat yang jatuh dari tas neneknya.
Raihan membaca tulisan Safaraz Trading dan catatan tentang Aydan. Hanin langsung menatap mertuanya.
“Mama tau siapa Aydan?”
Wanita tua itu mengaku Safar pernah meminta keluarga mereka menyimpan dokumen usaha karena berselisih dengan kakaknya mengenai warisan. Raka memperingatkan bahwa ahli waris Safar akan dicari.
“Itu sebabnya Nenek gak pernah suka aku?” tanya Aydan.
Diam wanita itu terasa lebih tajam daripada hinaan.
“Nenek menyalahkan anak kecil karena urusan orang dewasa?” kata Kaif sambil berdiri di sisi Aydan.
Mama Raihan mengatakan kakak Safar sangat berpengaruh. Dia berharap Aydan pergi setelah dewasa agar keluarga mereka gak terlibat.
Hanin menangis. “Dia anak saya, Ma. Mama menyakitinya untuk sesuatu yang gak pernah dia lakukan.”
Aydan membawa kotak ke halaman. Kaif mengikuti, tetapi memberi jarak.
“Aku butuh waktu,” kata Aydan.
“Aku temani tanpa bicara.”
Untuk pertama kali Kaif melindungi adiknya dengan tetap dekat tanpa memaksa. Di dalam rumah, Raihan menyimpan halaman sebagai bukti. Satu jawaban ditemukan, tetapi jawaban itu membuka kebohongan keluarga yang jauh lebih lama.
“Papa kenal?” tanya Aydan.
Raihan menarik napas panjang. “Dia orang yang terakhir bertemu Safar sebelum kecelakaan.”
Raihan meminta mamanya menyerahkan dokumen Safar yang masih disimpan. Setelah lama menolak, wanita itu memberikan satu amplop tersegel. Isinya salinan kepemilikan perusahaan dan foto dua bersaudara dengan cincin yang sama.
Nama pada foto sudah pudar, tetapi Aydan mengenali bentuk wajah yang sering muncul dalam mimpinya. Hanin memegang tangannya ketika ingatan kecelakaan membuatnya gemetar.
“Kita berhenti kalau kau gak kuat,” katanya.
“Enggak, Ma. Aydan mau tau.”
Kaif memotret dokumen dan menyimpan salinan di pengacara. Mereka gak lagi membiarkan satu kotak menjadi satu-satunya bukti. Kalau seseorang mencoba mengambilnya, kebenaran tetap tersimpan di tempat lain.
Malam sebelum mencari Raka, Aydan hampir gak tidur. Kaif duduk di balkon bersamanya sampai subuh. Mereka gak membahas masa lalu, hanya pekerjaan dan makanan. Kehadiran biasa itu membuat Aydan sadar ia mencari keluarga kandung tanpa harus kehilangan keluarga yang membesarkannya.
Aydan membawa gelang bertuliskan A.S. kepada ahli untuk diperiksa. Ukiran itu dibuat lebih dari dua puluh tahun lalu dan bagian penguncinya menyimpan bekas darah yang mungkin dapat diuji. Bukti kecil tersebut memberi jalan lain jika foto serta ingatan keluarga ternyata gak cukup.