Malam itu keluarga mereka duduk di ruang kerja. Kotak kayu berada di atas meja seperti benda yang baru saja membuka pintu masa lalu.
Raihan menceritakan bahwa dua puluh dua tahun lalu dirinya bertemu Safar dalam pembicaraan proyek. Safar tampak takut dan beberapa kali melihat ke belakang.
“Dia bilang ada masalah keluarga dan bisnis,” kata Raihan. “Papa gak ikut campur karena baru kenal.”
“Raka siapa?” tanya Aydan.
“Rekan Safar. Setelah kecelakaan, Papa pernah mencarinya. Kantornya tutup dan dia menghilang.”
Hanin memegang tangan Aydan. “Kami gak mau menyembunyikan identitasmu. Kami benar-benar gak tau harus mencari ke mana.”
“Tapi setelah Papa tau Safar ayahku, kenapa diam?”
Raihan menunduk. “Papa takut kehilanganmu. Dan ancaman itu datang dengan foto sekolahmu.”
Aydan berdiri karena emosi. “Jadi selama ini ada orang mengawasiku dan Papa gak bilang?”
“Papa pindahkan sekolahmu, menambah keamanan, dan mengobatimu. Papa pikir diam membuatmu aman.”
“Aku berhak tau hidupku sendiri!”
Hanin menangis. Kaif hendak menenangkan, tetapi Aydan keluar menuju balkon.
Kaif menyusul beberapa menit kemudian. “Aku gak akan bilang kau harus memaafkan Papa.”
“Aku cuma ingin tau siapa diriku.”
“Kau Aydan. Itu gak berubah.”
Aydan menatap kakaknya. “Kakak dulu paling sering bilang aku bukan siapa-siapa di keluarga ini.”
Kaif menerima pukulan kata tersebut. “Aku salah.”
Itu adalah permintaan maaf pertama yang benar-benar keluar dari mulutnya.
“Aku cemburu karena Mama dan Papa selalu membanggakanmu. Aku pikir kalau kau pergi, mereka akan melihatku. Tapi waktu kau hampir pergi dari perusahaan, aku malah takut.”
Aydan gak langsung memaafkan. “Aku butuh waktu, Kak.”
“Aku tau.”
Keesokan hari, Raihan menyerahkan berkas lama kepada Aydan. Ada laporan polisi, catatan rumah sakit, serta surat ancaman tanpa nama. Di salah satu lembar tertulis alamat terakhir Raka di Jakarta.
Alamat itu sudah lama, tetapi Aydan ingin memeriksanya. Raihan melarang pergi sendiri.
“Papa akan ikut.”
“Aku juga,” kata Kaif.
Hanin keberatan kedua anaknya terlibat bahaya. Aydan berjanji mereka hanya mencari informasi melalui pengacara dan penyelidik resmi.
Sementara itu, masalah Tania belum sepenuhnya selesai. Polisi memanggilnya terkait penyebaran fitnah. Orangtuanya datang meminta keluarga Kaif mencabut laporan.
Kaif menolak bertemu langsung. Pengacara menjelaskan mereka hanya meminta koreksi serta larangan mengganggu, bukan hukuman berat jika Tania bekerja sama.
Tania akhirnya menandatangani pernyataan dan menghapus semua akun palsu. Namun sebelum menyerahkan ponsel, dia melihat satu pesan dari nomor gak dikenal.
Pesan itu berbunyi bahwa dirinya dapat memperoleh uang jika memberikan jadwal Aydan.
Tania awalnya mengira penipu. Kemudian nomor tersebut mengirim foto Aydan kecil yang sama dengan foto di kotak kayu—foto yang belum pernah dipublikasikan.
“Kau dapat dari mana?” balas Tania.
Nomor itu menjawab singkat: kami tau siapa Aydan sebenarnya.
Tania menyimpan pesan itu tanpa memberi tahu polisi. Rasa dendamnya kepada Aydan membuat tawaran tersebut terlihat menarik.
Di rumah, Aydan memeriksa kartu nama dan menemukan angka samar di bawah tulisan Raka. Yuni membantu mencari data perusahaan lama melalui arsip bisnis. Nama lengkapnya adalah Raka Pradipta, mantan direktur sebuah perusahaan ekspor yang bubar setelah kecelakaan.
“Pak, ada hal aneh,” kata Yuni melalui telepon.
“Apa?”
“Perusahaan itu aktif lagi setahun lalu dengan pemilik baru. Alamat kantornya di Medan.”
Aydan berdiri dari kursi. “Kirim alamatnya.”
Kaif yang berada di ruangan ikut membaca. Kantor tersebut hanya berjarak dua puluh menit dari perusahaan keluarga mereka.
Raihan meminta penyelidik memeriksa lebih dahulu. Hasil awal menunjukkan gedung itu hampir kosong, tetapi seorang pria tua datang setiap Jumat sore.
Jumat berikutnya, Aydan, Kaif, dan Raihan menunggu dari mobil di seberang jalan. Mereka gak turun sebelum memastikan aman.
Pukul empat, sebuah mobil hitam berhenti. Pria berambut putih keluar menggunakan tongkat.
Raihan langsung mengenalinya. “Itu Raka.”
Aydan melihat wajah pria tersebut dan kepalanya mendadak sakit. Potongan ingatan tentang rumah makan muncul lagi. Raka duduk bersama orangtuanya dan mengatakan mereka harus pergi malam itu.
Pria tua tersebut berhenti di depan pintu kantor, lalu menoleh tepat ke arah mobil mereka. Seolah sudah mengetahui Aydan datang.
Ponsel Aydan berdering dari nomor gak dikenal.
“Jangan masuk kalau kau masih ingin keluarga angkatmu selamat,” kata suara seorang pria.
Aydan menatap Raka yang masih berdiri di seberang. Pria tua itu mengangkat tangan, bukan untuk mengancam, melainkan memberi isyarat agar Aydan pergi.
Raihan langsung menyalakan mobil. Kaif menahan Aydan yang ingin turun.
“Kita belum tau siapa yang ngawasin,” katanya.
Mobil mereka meninggalkan lokasi. Dari kaca belakang, Aydan melihat Raka masuk ke gedung sambil terus memperhatikan mereka.
Nama yang tertinggal selama dua puluh dua tahun akhirnya memiliki wajah. Namun kebenaran di balik wajah itu masih dijaga seseorang yang jelas belum berhenti mengawasi Aydan.
Dalam perjalanan pulang, Raihan meminta perlindungan tambahan. Aydan menyetujui dengan syarat semua laporan dibagikan kepadanya.
Polisi membandingkan nomor ancaman dengan pesan yang diterima Tania. Keduanya memakai sistem penyamaran serupa. Tania ketakutan dan menyerahkan ponsel. Dia mengaku belum memberikan jadwal Aydan.
“Marah gak membuatmu boleh menjual keselamatan orang,” kata Kaif.
Tania meminta maaf, tetapi Kaif gak kembali kepadanya. Kerja samanya hanya menjadi pertimbangan proses hukum.
Malamnya Aydan membuka lukisan rumah makan. Setelah melihat Raka, ia dapat menggambar satu sosok lain dengan cincin besar di tangan kanan. Kaif menemukan cincin serupa dalam foto keluarga Safar, tetapi bagian nama pemiliknya robek.
Raihan menatap gambar itu. “Aku pernah melihat cincin ini di lokasi kecelakaan.”
Ruangan mendadak hening. Jika ingatan Raihan benar, seseorang dari keluarga Aydan berada di sana saat kecelakaan dan memilih menghilang setelah mengetahui seorang anak masih hidup.
Aydan menutup map lukisan dan menyimpannya dalam brankas bersama salinan foto. Besok penyelidikan akan dimulai melalui polisi. Ia gak lagi berjalan sendirian menuju masa lalu; Kaif, Hanin, dan Raihan berdiri bersamanya, meski sebagian dari mereka masih harus mempertanggungjawabkan rahasia masing-masing.