Foto cincin diperiksa penyelidik keluarga. Lambang di permukaannya adalah milik keluarga Safaraz, tetapi hanya diberikan kepada dua putra tertua: Safar dan kakaknya, Zafar.
“Jadi pria di lokasi kecelakaan itu Zafar?” tanya Aydan.
Raihan belum berani memastikan. Ingatannya malam itu dipenuhi korban dan suara benturan.
Kaif meminta polisi memeriksa daftar saksi lama. Nama Zafar gak ada, tetapi sebuah mobil milik perusahaannya terekam melewati tol beberapa menit sebelum tabrakan.
Aydan ingin menemui Raka lagi. Kali ini polisi melarang mereka datang sendiri. Kantor Raka diawasi, tetapi pria tua itu gak muncul selama dua Jumat.
Tania memberikan satu petunjuk. Nomor misterius pernah memintanya mengirim jadwal Aydan ke sebuah alamat surel. Polisi melacak server luar negeri, namun nama pengguna mengandung kata ZP.
“Bisa Zafar Pradipta?” kata Kaif.
“Atau sengaja dibuat supaya kita menuduh dia,” jawab Aydan.
Di perusahaan, Aydan tetap bekerja. Kaif mulai menjalani tugas operasional sungguhan dan gak lagi hanya duduk belajar. Mereka sering berbeda pendapat, tapi Kaif berhenti merusak keputusan adiknya hanya karena cemburu.
Suatu sore, paket tanpa pengirim tiba di meja Yuni. Keamanan langsung memeriksanya. Isinya hanya sebuah cincin keluarga dan kertas bertuliskan: milikmu kalau berani mengambilnya.
Raihan meminta kantor dikosongkan. Polisi membawa benda tersebut untuk sidik jari. Aydan menatap foto cincin dari laporan dan merasakan kilatan ingatan: tangan bercincin menarik ayahnya di rumah makan.
“Dia bertengkar sama Papa kandungku,” katanya.
Malamnya Aydan mencoba menggambar wajah sosok itu. Kaif duduk menemani. Perlahan terbentuk pria dengan rahang lebar dan bekas luka di dekat telinga.
Penyelidik membandingkannya dengan foto lama Zafar. Kemiripannya kuat.
Namun sebelum mereka dapat meminta pemeriksaan resmi, berita luar negeri menyebut Zafar Safaraz meninggal lima tahun lalu.
Aydan memandang dokumen kematian tersebut. Jika Zafar benar sudah mati, seseorang kini memakai nama, cincin, dan rahasianya untuk meneruskan ancaman.
Paket cincin membuat aktivitas perusahaan berubah. Semua kiriman harus melewati pemindai dan dicatat. Yuni memindahkan meja penerimaan ke dekat ruang keamanan.
“Maaf ya, Bu. Gara-gara saya kerjaan kalian tambah banyak,” kata Aydan.
“Bapak gak mengirim paket itu. Jangan minta maaf untuk kesalahan orang lain,” jawab Yuni.
Kaif mendengar percakapan itu. Aydan memang sering memikul tanggung jawab semua orang, lalu kelelahan sendiri. Dia menawarkan mengambil sebagian rapat selama penyelidikan.
“Kakak yakin?”
“Aku kan sedang belajar. Kalau salah, kau koreksi.”
Pada rapat pertama, Kaif hampir menjanjikan harga yang gak disetujui Aydan. Mereka berdebat di ruang kerja setelah mitra pulang.
“Kakak gak bisa kasih potongan sebesar itu!”
“Aku pikir supaya kontraknya cepat jadi.”
“Perusahaan bukan tempat Kakak mencari pujian.”
Kaif marah, tetapi gak meninggalkan ruangan. Dia membuka perhitungan dan akhirnya mengakui Aydan benar. Kesalahan diperbaiki melalui surel resmi.
Di rumah, Mama Raihan dimintai keterangan. Dia menyerahkan buku alamat, tetapi mengaku gak pernah melihat Zafar setelah kecelakaan. Polisi menanyakan mengapa dirinya terus menyebut Aydan anak angkat dengan nada menghina.
“Saya takut dia membawa masalah,” jawabnya.
“Ketakutan Nenek gak memberikan hak untuk menyakiti aku,” kata Aydan.
Wanita tua itu gak meminta maaf. Namun untuk pertama kali dia menunduk dan gak membalas.
Penyelidik menemukan cincin dari paket bukan benda baru. Ada goresan yang sama dengan cincin dalam foto keluarga. Kemungkinan benda itu benar milik Zafar.
Sidik jari pada kotak hanya milik kurir. Kamera menunjukkan paket dititipkan seorang pria memakai topi. Wajahnya gak terlihat, tetapi dia berjalan pincang di kaki kiri.
Raihan mengingat satu orang suruhan Zafar juga pincang setelah kecelakaan. Namanya Herman. Data kependudukan menyebut Herman meninggal dua tahun lalu, lagi-lagi tanpa catatan jenazah yang jelas.
“Semua orang dalam kisah ini mati tanpa bukti,” kata Kaif.
Polisi menduga jaringan tersebut sengaja memakai identitas kematian untuk berpindah tempat.
Malam hari Aydan mengalami mimpi buruk. Ia melihat mobil orangtuanya dihantam, tangan bercincin membuka pintu, dan suara seseorang berkata anak itu masih hidup. Hanin menemaninya sampai napas kembali normal.
“Mama takut pencarian ini menyakitimu,” katanya.
“Tidak tau juga menyakitkan, Ma.”
Hanin mengangguk dan berjanji gak meminta Aydan berhenti hanya demi menenangkan ketakutannya.
Keesokan hari hasil pemeriksaan arsip perusahaan tiba. Zafar memakai beberapa nama direktur bayangan. Salah satunya terhubung dengan kantor yang sekarang didatangi Raka setiap Jumat.
Aydan ingin menyimpulkan Zafar masih hidup, tetapi penyidik mengingatkan semua bukti dapat dipakai orang lain. Mereka membutuhkan saksi darah keluarga dan dokumen medis asli.
Raihan mengusulkan mencari Salma, adik Safar yang pernah disebut dalam surat lama. Aydan belum mengenal perempuan itu, tetapi nama tersebut membuat ingatan kecil muncul: seorang wanita memanggilnya Dan sambil memberikan permen.
Kaif menulis semua detail. “Kita cari dia lewat jalur resmi.”
Hari itu Aydan menyadari kakaknya gak lagi sekadar ikut karena rasa penasaran. Kaif benar-benar membantu menjaga potongan identitas yang selama ini harus Aydan susun sendiri.
Hasil sidik jari cincin akhirnya menunjukkan bekas parsial milik Zafar dari dokumen imigrasi lama. Polisi belum dapat menyimpulkan siapa pengirimnya, tetapi benda itu asli.
Aydan meminta cincin disimpan sebagai bukti, bukan diserahkan sebagai warisan. Ia gak ingin identitasnya ditentukan oleh lambang keluarga yang membawa begitu banyak pertengkaran.
Kaif setuju. “Kalau nanti kau butuh cincin, beli sendiri yang gak punya kutukan.”
Aydan tertawa. Candaan itu memecah ketegangan. Mereka kemudian menyusun jadwal perjalanan mencari Salma bersama penyidik. Semua nama tiket dirahasiakan dan perusahaan diberi alasan bahwa Aydan mengikuti rapat di luar kota.
Sebelum berangkat, Aydan menitipkan operasional kepada Yuni dan Kaif. Kepercayaan itu membuat Kaif terdiam. Dulu dia ingin merebut jabatan Aydan; sekarang adiknya sendiri memberikan tanggung jawab tanpa dipaksa.
“Aku gak akan merusaknya,” janji Kaif.
“Jangan janji. Kerjakan aja yang benar.”
Sebelum perjalanan berikutnya dimulai, Aydan menyerahkan cincin kepada polisi dan meminta tanda terima resmi. Ia gak mau bukti keluarga kembali hilang karena disimpan diam-diam. Raihan menyetujui keputusan itu dan memberikan seluruh arsip lama tanpa menyisakan salinan rahasia di rumah.