Dokumen kematian Zafar berasal dari rumah sakit swasta di Malaysia. Polisi menemukan kejanggalan: gak ada foto jenazah, sidik jari, atau keluarga yang hadir.
“Bisa jadi dia memalsukan kematian,” kata Kaif.
Aydan bertanya alasan seseorang menghilang begitu lama lalu kembali mengganggunya. Raihan menduga warisan Safar menjadi penyebab.
Pengacara membuka data perusahaan lama. Setelah Safar meninggal, sahamnya ditahan karena ahli waris dianggap ikut meninggal. Zafar menguasai sebagian besar aset sebelum perusahaan dibubarkan. Jika Aydan membuktikan identitas, transaksi lama dapat dibatalkan.
“Aku gak peduli uangnya,” kata Aydan.
“Tapi dia mungkin peduli,” jawab Raihan.
Tes awal pada gelang anak menemukan darah yang masih dapat dibandingkan. Polisi membutuhkan sampel keluarga Safar. Satu kerabat perempuan bernama Salma tinggal di Banda Aceh dan bersedia membantu setelah dihubungi resmi.
Hanin ingin menemani Aydan. Kaif juga memaksa ikut. Akhirnya mereka pergi bersama Raihan serta petugas.
Salma menangis ketika melihat wajah Aydan. Dia adalah adik Safar dan mengenali bekas luka di alis keponakannya.
“Kami pikir kau meninggal,” katanya.
Salma memberikan sampel DNA dan album keluarga. Dia juga mengaku Zafar selalu iri karena Safar dipilih memimpin perusahaan.
“Apa Abang Zafar masih hidup?” tanya Aydan.
Salma ragu. Lima tahun lalu dia hanya menerima abu yang dikatakan milik Zafar.
Di album, Aydan menemukan foto Raka berdiri di antara dua bersaudara tersebut. Pada belakang foto tertulis bahwa Raka adalah pengacara keluarga.
Salma memberi alamat lama putra Zafar, Fariz. Nama itu belum pernah muncul dalam dokumen perusahaan karena Fariz memakai nama ibunya.
Dalam perjalanan pulang, polisi mendapat kabar Raka ditemukan pingsan di kantornya. Pria tua itu masih hidup, tetapi sebuah map telah hilang.
Aydan sadar seseorang bergerak lebih cepat setiap kali mereka mendekati kebenaran.
Perjalanan ke Banda Aceh dilakukan diam-diam. Hanin menyiapkan makanan terlalu banyak sampai Kaif mengeluh mobil mereka seperti hendak pindahan.
“Daripada kalian kelaparan,” jawab Hanin.
Salma tinggal di rumah sederhana bersama suaminya. Ketika Aydan turun, perempuan itu memegang pagar agar gak jatuh.
“Dan?” panggilnya.
Aydan langsung teringat suara yang sama. Salma memeluknya sambil menangis. Hanin berdiri sedikit jauh, takut kehadiran keluarga kandung membuat posisinya berubah.
Aydan menghampiri setelah pelukan selesai dan menggenggam tangan Hanin. “Ini Mama yang membesarkan Aydan.”
Salma menyalam Hanin dengan hormat. “Terima kasih sudah menyelamatkan keponakan saya.”
Mereka berbicara berjam-jam. Safar adalah anak kedua, tetapi kakek Aydan memilihnya memimpin karena lebih jujur. Zafar merasa hak sulungnya dirampas. Perselisihan memburuk setelah Safar menemukan rekening rahasia.
Salma menunjukkan surat terakhir Safar. Isinya meminta dia menjaga diri dan gak mencari jika terjadi sesuatu. Nama Aydan gak ditulis agar keberadaannya aman.
Kaif bertanya mengenai Fariz. Salma mengatakan anak Zafar dibawa ibunya ke Malaysia setelah perceraian. Fariz kembali saat remaja dan sangat dekat dengan ayahnya.
“Dia selalu bilang keluarga Safar mencuri masa depannya,” kata Salma.
Tes DNA dilakukan di klinik yang ditunjuk polisi. Petugas mengambil sampel dua kali dan mencatat rantai bukti supaya hasil gak dapat dipermainkan.
Malam sebelum pulang, Aydan melihat album masa kecil. Ada foto dirinya digendong Safar, bermain bersama Salma, dan duduk di pangkuan ibunya, Nayla.
Nama ibunya membuat Aydan menangis. Selama ini semua orang hanya membahas Safar serta warisan, seolah perempuan yang meninggal bersamanya gak memiliki kisah.
Salma menceritakan Nayla seorang guru yang gak menyukai dunia bisnis. Dia ingin membawa Aydan jauh dari pertengkaran keluarga.
“Kak Nayla selalu bilang kau bebas memilih hidupmu sendiri,” ujar Salma.
Aydan menyimpan salinan foto, bukan album asli. Ia gak ingin mengambil semua kenangan dari Salma.
Kaif duduk di teras bersamanya. “Kau bahagia ketemu keluarga kandung?”
“Bahagia dan sedih.”
“Kau akan sering ke sini?”
“Mungkin. Kakak takut aku gak pulang?”
Kaif menggerutu, tapi akhirnya mengangguk. Aydan tertawa kecil dan menepuk bahunya.
Dalam perjalanan pulang, Salma menelepon. Seseorang baru saja memasuki halaman rumah dan meninggalkan foto Aydan di depan pintu. Keamanan setempat langsung dikirim.
Ancaman itu membuktikan perjalanan mereka diketahui. Polisi memeriksa kemungkinan kebocoran dari klinik, maskapai, dan keluarga. Hanin menyalahkan dirinya karena memesan tiket menggunakan nama asli.
“Yang salah orang yang mengawasi, bukan Mama,” kata Aydan.
Sebelum tiba di Medan, kabar Raka pingsan masuk. Kamera kantor menunjukkan seorang pria pincang keluar membawa map. Ciri itu sama dengan pengantar cincin.
Kaif menatap Aydan. Jaringan lama bukan hanya mengawasi; mereka sedang membersihkan bukti sebelum tes DNA selesai.
Hasil DNA belum keluar ketika mereka tiba di Medan. Salma menelepon setiap malam karena takut, tetapi Aydan meminta polisi melindunginya tanpa membawa perempuan itu ke pusat konflik.
Hanin menyimpan salinan foto Nayla di kamarnya. Dia mengaku merasa aneh melihat ibu kandung Aydan.
“Mama takut kau membandingkan,” katanya.
“Aydan gak punya cukup ingatan untuk membandingkan. Mama tetap Mama.”
Hanin memeluknya. Ia akhirnya memahami mencari asal-usul gak sama dengan menolak keluarga angkat.
Di rumah sakit, Raka sempat menolak bicara karena takut Fariz membalas. Aydan gak memaksa. Dia hanya menunjukkan foto Nayla dan berkata dirinya membutuhkan kebenaran, bukan warisan.
Raka menangis melihat foto itu. “Ibumu yang paling gak bersalah.”
Kalimat tersebut membuatnya bersedia memberikan kesaksian resmi di depan penyidik serta pengacara. Semua percakapan direkam dan disalin ke beberapa tempat agar gak dapat hilang seperti map asli.
Kaif berjaga di lorong. Ketika seorang pria asing mencoba masuk mengaku kerabat, Kaif gak menghadapi sendiri. Dia memanggil keamanan. Pria tersebut kabur dan kamera menangkap wajahnya untuk diperiksa.
Hasil awal laboratorium memastikan sampel Aydan dan Salma memiliki hubungan keluarga dekat. Hasil resmi masih membutuhkan pemeriksaan kedua, tetapi Salma langsung bersujud syukur.
“Kau benar-benar keponakanku,” katanya melalui panggilan video.
Aydan tersenyum sambil menangis. Hanin berdiri di sampingnya, bukan menjauh. Setelah panggilan selesai, Aydan memeluk mamanya dan mengatakan satu keluarga baru gak akan menghapus keluarga yang selama ini membesarkannya.