Persidangan Fariz dimulai dua minggu setelah penangkapannya. Pengadilan membatasi media karena sebagian bukti berkaitan dengan identitas Aydan ketika masih anak-anak.
Aydan hadir bersama Raihan dan pengacara. Hanin menunggu di rumah, sedangkan Kaif menjaga operasional perusahaan.
Fariz masuk dengan tangan diborgol. Wajahnya tenang, seolah semua tuduhan gak berpengaruh.
“Dia mirip Zafar,” bisik Raihan.
Jaksa membacakan tuduhan ancaman, rencana penculikan, penyadapan, serta upaya menghilangkan bukti kecelakaan lama. Fariz menolak semuanya.
Pengacaranya menyerang hasil DNA dan mengatakan Aydan hanya ingin merebut warisan Safaraz.
Aydan menahan emosi. Dia sudah memperkirakan identitasnya akan dipertanyakan, tetapi tetap sakit mendengar hidupnya disebut rencana mencari uang.
Setelah sidang, wartawan menunggu di luar. Aydan hanya menyampaikan bahwa dirinya menghormati proses hukum dan gak akan membahas bukti di depan media.
Di perusahaan, Kaif menghadapi masalah pemasok. Salah satu direktur lama menolak menerima perintahnya karena menganggap Kaif cuma anak pemilik.
Kaif hampir memecat pria itu, tetapi mengingat cara Aydan bekerja. Dia meminta evaluasi tertulis dan menemukan direktur tersebut memang melanggar prosedur. Hukuman diberikan berdasarkan bukti, bukan rasa tersinggung.
Ketika Aydan pulang, Kaif memberikan laporan lengkap.
“Bagus,” kata Aydan.
“Cuma bagus?”
“Mau dipeluk?”
“Najis.”
Mereka tertawa. Raihan melihat perubahan keduanya dengan bangga.
Malamnya Raka menelepon dari perlindungan saksi. Dia mengatakan ada satu rekaman yang belum ditemukan. Dalam rekaman itu, suara Zafar menyebut rencana meninggalkan Indonesia.
“Fariz mungkin tau ayahnya masih hidup,” kata Raka.
Aydan menatap dokumen kematian Zafar. Sidang baru dimulai, tetapi terdakwa mungkin bukan satu-satunya orang yang harus dimintai tanggung jawab.
Sidang berikutnya menghadirkan pegawai butik dan Yuni. Pengacara Fariz mencoba menggambarkan Aydan sebagai pemimpin yang memanfaatkan staf untuk membuat cerita sesuai keinginannya.
Yuni menjawab tenang bahwa rekaman kamera diambil sebelum kasus warisan terbuka dan gak dapat diubah Aydan. Pegawai butik juga menjelaskan Tania mendekati Aydan tanpa sambutan.
“Apa hubungannya Tania dengan klien saya?” tanya pengacara Fariz.
Jaksa menunjukkan pembayaran dari perusahaan cangkang kepada akun yang kemudian menghubungi Tania. Hubungannya belum langsung, tetapi cukup untuk melanjutkan pemeriksaan.
Di luar sidang, Aydan melihat Tania didampingi pengacara. Wanita itu tampak lebih kurus dan gak berani menatapnya.
“Aku minta maaf,” katanya pelan.
“Sampaikan semua yang kau tau kepada polisi,” jawab Aydan. “Itu lebih berguna daripada minta maaf berkali-kali.”
Kaif yang datang belakangan mendengar percakapan tersebut. Dia gak menghina atau mencoba membuat Tania cemburu. Hubungan mereka benar-benar selesai.
Fariz mengajukan permohonan bebas karena bukti dianggap gak cukup. Hakim menolak setelah jaksa menunjukkan foto pengawasan keluarga dan rencana penculikan di ponsel sopir.
Raka dijadwalkan memberi kesaksian melalui video. Kondisinya belum kuat untuk hadir langsung. Aydan meminta identitas lokasi perlindungannya dirahasiakan bahkan dari keluarga.
Malam sebelum kesaksian, Raka menelepon. Dia takut Zafar akan menemukannya.
“Kalau Bapak belum siap, bilang kepada penyidik,” kata Aydan.
“Aku terlalu lama diam. Orangtuamu gak mendapat keadilan karena kami semua takut.”
Aydan gak memaksanya menjadi berani. Dia hanya mengatakan sistem sekarang memiliki beberapa salinan bukti, jadi beban gak lagi berada pada satu orang.
Di perusahaan, Kaif menyelesaikan masalah pemasok tanpa meminta Aydan meninggalkan sidang. Dia membuat kesalahan dalam menghitung jadwal, mengaku kepada mitra, dan memberikan solusi. Raihan melihat putranya mulai memahami kepemimpinan bukan soal jabatan.
Setelah pulang, Aydan dan Kaif makan mi di dapur. Kaif mengaku gugup menjalankan perusahaan sendirian.
“Aku pikir kau senang mengambil kursiku,” kata Aydan.
“Senang sih, tapi kursimu ternyata banyak masalah.”
“Makanya jangan iri cuma lihat sandarannya.”
Mereka tertawa. Persidangan belum menghasilkan putusan, tetapi perubahan kecil di rumah memberi Aydan tenaga menghadapi hari berikutnya.
Kesaksian Raka akhirnya dilakukan. Dia menyebut nama Zafar dengan jelas, menjelaskan rekaman, dan mengakui dirinya pernah membantu menyembunyikan sebagian transaksi karena takut.
Fariz menatap layar dengan wajah tegang. Ketika Raka menyebut kemungkinan Zafar masih hidup, Fariz berbisik kepada pengacaranya. Kamera ruang sidang menangkap gerakan itu.
Ahli pembaca bibir diminta memeriksa rekaman. Hasil awal menunjukkan Fariz berkata, ayah harus pindah sebelum mereka menemukannya.
Keterangan itu mengubah arah penyelidikan. Orang yang dinyatakan mati mungkin masih mengendalikan semuanya dari luar negeri.
Sebelum pulang dari pengadilan, Aydan diminta menjalani pemeriksaan DNA ulang atas permintaan pihak Fariz. Dia menyetujui selama laboratorium dipilih pengadilan dan kedua pihak mendapat akses hasil yang sama.
“Kau gak takut hasilnya beda?” tanya Kaif.
“Takut. Tapi identitasku gak boleh berdiri di atas tes yang cuma dipercaya satu pihak.”
Salma juga memberikan sampel baru. Proses dilakukan di depan notaris. Fariz mengirim ahli sendiri untuk mengawasi dan gak menemukan pelanggaran prosedur.
Di rumah, Hanin khawatir Aydan akan kehilangan ketenangan jika hasil terlambat. Dia memasak makanan kesukaan anaknya, lalu duduk menemaninya tanpa menanyakan kasus terus-menerus.
Kaif membawa laporan perusahaan dan meminta Aydan memeriksa satu keputusan harga. Aydan menolak mengerjakan semuanya.
“Kakak udah punya data. Putuskan dan tanggung hasilnya.”
Kaif akhirnya memilih sendiri. Keputusannya gak sempurna, tetapi masih dalam batas aman. Raihan memuji proses, bukan hanya hasil.
Tes kedua tiba tiga hari kemudian dan kembali menunjukkan hubungan darah dengan Salma. Pengacara Fariz kehilangan alasan utama menyerang identitas biologis Aydan.
Namun jaksa mengingatkan pembuktian ahli waris berbeda dari pembuktian pidana. Aydan gak boleh menganggap hasil DNA otomatis membuktikan Fariz atau Zafar bersalah.
“Aku mengerti,” katanya. “Aku mau kebenaran lengkap, bukan cuma kebenaran yang menguntungkanku.”
Sikap itu dimasukkan dalam pernyataan resmi. Media tetap membuat judul berlebihan, tetapi Aydan berhenti membaca komentar setelah Hanin memergokinya begadang.
Hari berikutnya dia kembali ke kantor. Kursinya masih sama, masalah karyawan masih ada, dan secangkir kopi Yuni tetap terlalu pahit. Kehidupan biasa mengingatkan Aydan bahwa dirinya lebih besar daripada satu sidang dan satu nama keluarga.
Malam itu Aydan menyimpan hasil tes kedua bersama dokumen pertama. Dua pemeriksaan memberi jawaban sama, tetapi dirinya tetap Aydan yang pulang ketika Hanin memanggil makan.