Emilia datang ke perusahaan mengenakan pakaian sederhana, sangat berbeda dari kebaya pengantin saat pertama bertemu Aydan.
Yuni menanyakan jadwal, tetapi Emilia mengaku hanya ingin meminta rekomendasi pengacara. Ayahnya masih memaksanya menikah dengan pria tua demi melunasi utang.
Aydan menerima di ruang tamu kantor dengan pintu terbuka.
“Aku gak minta kau selamatkan lagi,” kata Emilia. “Aku mau menyelamatkan diri pakai cara hukum.”
Aydan memberikan kontak lembaga bantuan perempuan dan pengacara. Dia juga menegaskan Emilia gak berutang kepadanya.
“Kau selalu bicara kaku ya?” goda Emilia.
“Kalau aku terlalu ramah, nanti ada masalah kayak Tania lagi.”
Emilia sudah membaca berita tersebut. Dia tertawa, lalu berubah serius. “Aku gak akan mendekat kalau kau gak nyaman.”
Jawaban itu membuat Aydan sedikit rileks.
Kaif masuk dan langsung curiga melihat perempuan asing. Aydan mengenalkan Emilia sebagai calon pengantin yang pernah ditolong.
“Kau suka mengumpulkan masalah di kafe ya?” sindir Kaif.
“Dia abangmu?” tanya Emilia.
“Sayangnya iya.”
Emilia tertawa. Kaif memperhatikan cara perempuan itu menghormati jarak Aydan. Berbeda sekali dengan Tania.
Setelah Emilia pergi, Kaif menggoda Aydan sepanjang hari. Aydan menyangkal memiliki ketertarikan.
Di tempat lain, pengacara Emilia mengajukan perlindungan. Ayahnya marah dan mendatangi perusahaan karena mengira Aydan menyembunyikan putrinya.
Keamanan menahan pria itu di lobi. Aydan gak menemuinya sendiri dan meminta semua komunikasi melalui pengacara.
Pria tersebut berteriak bahwa keluarga Safaraz gak berhak ikut campur. Aydan terkejut karena identitasnya belum diumumkan luas.
“Bapak tau nama Safaraz dari mana?” tanya petugas.
Ayah Emilia langsung diam. Polisi kemudian menemukan dia pernah menerima pinjaman dari perusahaan cangkang milik Fariz.
Pertemuan Aydan dan Emilia ternyata bukan kebetulan sepenuhnya. Seseorang mungkin sengaja mengarahkan perempuan itu ke tempat Aydan berada sejak awal.
Ayah Emilia datang lagi bersama dua pria. Keamanan menutup gerbang dan polisi dipanggil. Dia berteriak Aydan merusak perjanjian keluarga serta menuntut putrinya dikembalikan.
“Emilia bukan barang yang bisa dikembalikan,” kata Aydan melalui petugas hukum.
Pria itu menunjukkan surat utang dengan tanda tangan Emilia. Pengacara menemukan tanda tangan tersebut dipalsukan. Utang sebenarnya milik ayahnya dan calon suami tua yang dijanjikan akan melunasi.
Emilia memberikan contoh tanda tangan asli serta pesan ancaman dari ayahnya. Pengadilan mengeluarkan perlindungan sementara.
Aydan menahan keinginan menyediakan rumah pribadi. Lembaga pendamping menjelaskan bantuan langsung dari pria kaya dapat kembali membuat Emilia bergantung.
“Saya bisa menyumbang ke lembaga tanpa mengatur hidupnya,” kata Aydan.
Emilia menghargai keputusan itu. Dia mulai mengikuti pelatihan kerja dan tinggal di tempat aman bersama perempuan lain.
Kaif bertanya apakah Aydan menyukai Emilia. Aydan kesal karena kakaknya terus menghubungkan bantuan dengan cinta.
“Gak semua perempuan yang kutolong harus jadi pacar.”
“Aku cuma tanya.”
“Tanyanya sambil senyum kayak orang aneh.”
Hanin yang mendengar percakapan ikut tertawa, tetapi mengingatkan Kaif gak menjadikan trauma Emilia sebagai bahan gurauan.
Penyidik memeriksa perjalanan pertama Emilia ke kafe. Kamera jalan menunjukkan mobil pengawal sengaja mengambil rute memutar dan menurunkannya dekat meja Aydan. Salah satu pengawal menerima transfer dari perusahaan cangkang.
Emilia menangis saat mengetahui dirinya dijadikan umpan. Dia khawatir Aydan menganggap semua tindakannya pura-pura.
“Kau benar-benar lari dari pernikahan. Itu pilihanmu,” kata Aydan. “Rencana mereka gak menghapus kenyataanmu.”
Ayah Emilia akhirnya mengaku seorang perantara memberi tahu lokasi Aydan dan menjanjikan pelunasan utang jika putrinya berhasil menarik perhatian pria itu. Dia gak tau tujuan akhirnya penculikan.
Pengusaha tua yang hendak menikahi Emilia menyangkal, tetapi teleponnya berisi kontak Herman. Dia ditahan atas pemalsuan dokumen serta perdagangan pengaruh.
Di kantor, Emilia bertemu Yuni saat memberikan keterangan. Yuni mengajaknya mengikuti pelatihan administrasi setelah status hukum aman. Tawaran pekerjaan gak diberikan langsung agar proses seleksi tetap adil.
“Aku mau mencoba dari awal,” kata Emilia.
Aydan menyetujui. Dia gak akan menjadi penyelamat tunggal dalam kisah perempuan itu.
Pada akhir minggu, Emilia mengirim pesan terima kasih melalui pengacara. Aydan membalas singkat bahwa keberanian Emilia melapor adalah miliknya sendiri.
Hubungan mereka belum romantis. Namun untuk pertama kali sejak misteri identitas terbuka, Aydan berbicara dengan seseorang yang melihatnya sebagai manusia, bukan ahli waris atau korban kecelakaan.
Kasus Emilia juga memengaruhi citra perusahaan. Beberapa orang menuduh Aydan memakai lembaga bantuan untuk mendekati perempuan. Yuni menyarankan seluruh sumbangan diumumkan dalam laporan sosial tanpa menyebut Emilia.
Aydan menyetujui audit independen. Dana diberikan kepada program umum, bukan rekening pribadi. Dengan begitu Emilia dapat menggunakan layanan yang sama seperti korban lain tanpa merasa berutang.
Emilia mulai mengikuti konseling. Pada pertemuan berikutnya dia mengaku sering ingin kembali kepada ayah karena merasa bersalah meninggalkannya dengan utang.
“Perasaan itu wajar,” kata pendamping. “Tapi utang ayahmu bukan persetujuan untuk menjual pilihan hidupmu.”
Aydan mendengar perkembangan hanya jika Emilia mengizinkan. Dia gak meminta laporan rutin.
Kaif memperhatikan adiknya menunggu pesan Emilia. “Katanya gak suka.”
“Aku cuma mau tau dia aman.”
“Sambil senyum lihat ponsel?”
Aydan melempar map kepadanya. Kaif tertawa dan berlari keluar.
Beberapa hari kemudian Emilia datang bersama pendamping untuk mengambil surat rekomendasi. Dia memakai pakaian kerja dan membawa berkas pelatihan.
“Aku mau cari kerja sendiri,” katanya.
“Bagus. Kalau melamar di sini, prosesnya sama kayak orang lain.”
“Aku gak minta jalur khusus.”
Sikap tegas itu membuat Aydan semakin menghormatinya. Mereka minum teh di ruang tamu kantor dengan Yuni tetap berada dekat. Pembicaraan mengenai buku, pekerjaan, dan makanan Medan terasa ringan setelah berminggu-minggu hanya membahas pengadilan.
Saat Emilia pergi, dia berkata, “Makasih karena gak memperlakukanku kayak perempuan lemah.”
Aydan menjawab bahwa lari dari pernikahan paksa membutuhkan keberanian yang gak sedikit.
Malamnya Emilia mendapat pesan ancaman dari ayahnya. Kali ini dia gak panik atau menghubungi Aydan terlebih dahulu. Dia menyimpan bukti dan menelepon pendamping serta polisi. Perubahan itu menunjukkan Emilia mulai memiliki sistem perlindungan sendiri.
Aydan bangga ketika diberi tahu. Bukan karena dirinya menyelamatkan Emilia, tetapi karena perempuan itu semakin mampu menentukan jalan hidup tanpa menunggu seorang penyelamat.