Emilia dipanggil untuk memberikan keterangan. Dia bersumpah gak pernah mengenal Fariz dan lari dari pernikahan karena pilihannya sendiri.
Ayahnya mengaku menerima uang untuk menikahkan Emilia dengan seorang pengusaha yang terhubung jaringan Fariz. Pernikahan itu seharusnya memindahkan utang dan beberapa aset.
“Apa hubungannya sama Aydan?” tanya Kaif.
Penyidik menduga para pengawal yang mengejar Emilia sengaja menggiringnya ke kafe tempat Aydan berada. Fariz ingin melihat apakah Aydan punya kebiasaan menolong orang asing dan dapat dipancing keluar tanpa pengamanan.
Emilia merasa bersalah. “Berarti aku umpan?”
“Kau juga korban,” jawab Aydan.
Pengusaha tua yang hendak menikahinya diperiksa. Dia mengaku hanya mengenal ayah Emilia dan gak tau rencana Fariz. Namun catatan telepon menunjukkan kontak dengan Herman.
Emilia ditempatkan di rumah aman perempuan. Aydan ingin membantu biaya, tetapi lembaga menyarankan bantuan disalurkan umum agar gak menciptakan ketergantungan pribadi.
Ia mengikuti saran tersebut. Emilia berterima kasih karena Aydan gak mengambil alih semua keputusannya.
Kaif kembali menggoda, tapi kali ini Aydan meminta kakaknya berhenti.
“Dia lagi menghadapi masalah. Jangan jadikan bahan candaan.”
Kaif meminta maaf.
Di persidangan, jaksa menunjukkan hubungan antara Fariz, Herman, dan utang ayah Emilia. Pengacara Fariz mengatakan semua hanya kebetulan bisnis.
Raka memberi kesaksian melalui video. Saat menyebut Zafar, Fariz terlihat tegang untuk pertama kali.
Aydan memperhatikan gerakan bibirnya. Fariz berbisik kepada pengacara, “Ayah gak boleh ditemukan.”
Rekaman ruang sidang menangkap suara tersebut. Polisi segera meminta izin memperluas pencarian internasional.
Malamnya sebuah panggilan masuk kepada Salma dari nomor Malaysia. Suara pria tua hanya mengatakan, “Berhenti membantu anak Safar.”
Salma mengenali suara abang tertuanya.
Zafar masih hidup.
Salma dipindahkan sementara setelah panggilan Zafar. Dia takut meninggalkan rumah, tetapi penyidik menjelaskan alamatnya sudah diketahui pelaku.
Aydan menelepon setiap malam. Salma menceritakan masa kecil Safar dan Zafar. Keduanya dulu dekat sampai kakek mereka membandingkan kemampuan bisnis. Persaingan yang dipelihara orang dewasa tumbuh menjadi kebencian.
Cerita itu mengingatkan Aydan kepada dirinya dan Kaif.
“Kita bisa aja jadi kayak mereka,” katanya.
Kaif mengangguk. “Kalau kau terus nyebelin, mungkin.”
Aydan melempar bantal, lalu menjadi serius. Mereka sepakat gak membiarkan warisan perusahaan kembali membuat hubungan rusak.
Jaksa memanggil ahli suara. Tingkat kecocokan panggilan dengan rekaman lama mencapai lebih dari sembilan puluh persen. Surat kematian Zafar kemudian terbukti memakai dokter yang lisensinya sudah dicabut.
Fariz tetap menolak memberi lokasi ayahnya. Pengacaranya mengatakan bisikan di sidang disalahartikan.
Polisi menemukan surel terenkripsi antara Fariz dan akun bernama AbahZ. Salah satu pesan dikirim setelah tanggal kematian resmi Zafar.
Emilia diminta mengenali foto beberapa pria yang pernah bertemu ayahnya. Dia menunjuk seorang pria berkacamata yang datang membahas pernikahan. Foto tersebut adalah Zafar dengan penyamaran ringan.
“Dia bilang keluarga besar akan membantu,” kata Emilia.
Keterangan itu menunjukkan Zafar pernah berada di Indonesia setahun lalu. Data imigrasi gak mencatat namanya, berarti dia memakai paspor palsu.
Aydan mengalami kemarahan besar. Dia ingin menyebarkan foto Zafar agar semua orang mencari. Penyidik melarang karena dapat membuat buronan mengganti identitas.
“Selalu saja aku disuruh menunggu,” keluh Aydan.
Raihan mengajaknya ke lokasi kecelakaan dengan pengamanan. Di sana Aydan meletakkan bunga untuk Safar dan Nayla. Dia gak mendapatkan ingatan baru, hanya kesedihan yang selama ini gak punya tempat.
“Papa minta maaf karena menyembunyikan banyak hal,” kata Raihan.
“Aku belum bisa bilang gak apa-apa.”
“Papa gak meminta itu.”
Mereka berdiri bersama. Aydan menerima bahwa Raihan dapat menjadi ayah baik dan tetap membuat keputusan salah.
Kembali ke rumah, Mama Raihan menyerahkan kotak lain berisi surat Nayla. Surat itu mengatakan dirinya takut Zafar akan memakai Aydan sebagai alat warisan.
“Kenapa Nenek simpan?”
“Nenek takut surat ini membawanya kembali.”
Aydan menyerahkan kepada polisi tanpa berteriak. Sikap tenang itu bukan tanda luka selesai, melainkan keputusan gak membiarkan kebohongan baru tumbuh.
Interpol menemukan pola transaksi di Penang. Sebuah rumah dibayar tunai melalui perusahaan Fariz. Kamera sekitar menunjukkan pria tua sesuai wajah Zafar meninggalkan lokasi dua hari sebelum penggerebekan.
Dia lolos lagi, tetapi lingkarannya semakin sempit.
Panggilan Zafar kepada Salma juga membuktikan dirinya masih mengikuti perkembangan keluarga. Polisi memasang jalur aman agar Salma dapat menjawab jika dia menghubungi lagi.
Zafar benar-benar menelepon dua hari kemudian. Salma mengikuti naskah penyidik dan berpura-pura ingin menghentikan bantuan kepada Aydan.
“Temui Abang di Penang,” kata Zafar.
Salma menahan tangis. “Kenapa Abang lakukan semua ini kepada anak Safar?”
“Karena Safar mengambil hidup yang seharusnya milikku.”
Pengakuan emosional itu belum cukup untuk perkara kecelakaan, tetapi membantu memastikan motif. Lokasi panggilan berpindah beberapa kali karena memakai jaringan internet.
Aydan mendengarkan rekaman setelah disaring penyidik. Suara Zafar membangkitkan ingatan lama. Dia melihat kembali rumah makan dan mendengar pamannya berkata Safar akan menyesal.
Tubuh Aydan gemetar. Terapis trauma yang dulu menanganinya dipanggil. Mereka sepakat ingatan baru gak langsung dianggap bukti sampai dibandingkan dengan dokumen.
“Aku takut pikiranku menciptakan sesuatu karena ingin dia bersalah,” kata Aydan.
“Keraguan itu sehat,” jawab terapis. “Kita catat tanpa memaksakan kesimpulan.”
Kaif menemani sesi berikutnya. Dia belajar cara membantu tanpa bertanya berulang kali. Ketika Aydan terdiam, Kaif hanya memberikan air.
Salma menolak benar-benar pergi ke Penang karena risiko terlalu besar. Polisi menggunakan pesan palsu untuk membuat Zafar percaya adiknya sedang mempertimbangkan. Strategi itu memberi waktu Interpol memeriksa rumah serta rekening.
Di salah satu transaksi ditemukan pembayaran dokter yang menerbitkan surat kematian. Dokter tersebut akhirnya mengaku dibayar untuk memakai identitas pasien lain.
Pengakuan itu menghapus keraguan: kematian Zafar memang dipalsukan. Sekarang tugas berikutnya menemukan pria tersebut sebelum dia kembali menghilang dengan nama baru.
Sebelum berpisah, Emilia mengatakan dirinya ingin suatu hari bertemu Aydan tanpa membahas perkara hukum. Aydan menyetujui setelah kehidupan mereka lebih tenang. Harapan kecil itu gak dijadikan janji, tetapi cukup membuat keduanya tersenyum saat pulang melalui jalan berbeda.