Panggilan kepada Salma direkam karena ponselnya sudah berada dalam pengawasan. Ahli suara membandingkannya dengan rekaman lama keluarga dan menemukan kecocokan tinggi dengan Zafar.
Interpol diminta membantu. Dokumen kematian resmi dibuka kembali, sementara klinik yang menerbitkannya diperiksa.
Aydan marah mengetahui orang yang bertanggung jawab atas kematian orangtuanya hidup nyaman selama puluhan tahun.
“Aku ingin dengar dia mengaku,” katanya.
Raihan mengingatkan tujuan utama adalah keadilan, bukan pertemuan pribadi. Kaif setuju, meski dirinya juga ingin menghadapi Zafar.
Di perusahaan, kabar identitas Aydan akhirnya bocor. Saham mitra bergerak dan wartawan memenuhi gerbang. Beberapa orang menyebut Aydan pewaris kerajaan bisnis Safaraz.
Aydan membuat pernyataan bahwa proses identitas sedang berjalan dan dirinya tetap memimpin perusahaan Raihan sesuai mandat lama. Dia gak akan mengambil keputusan warisan sebelum pengadilan selesai.
Mama Raihan khawatir Aydan meninggalkan keluarga setelah menjadi kaya. Aydan menjawab kekayaan bukan alasan dirinya mencari orangtua.
“Aku cari nama Mama Nayla dan Papa Safar, bukan jumlah rekening.”
Wanita tua itu akhirnya meminta maaf tanpa menyebut alasan takut. “Nenek salah memperlakukanmu.”
Aydan menerima permintaan maaf, tetapi mengatakan luka gak hilang seketika.
Emilia mengirim pesan melalui pengacara untuk memberi semangat. Aydan membalas singkat dan menanyakan kondisinya. Komunikasi mereka tetap terbuka serta gak memaksa.
Polisi Malaysia menemukan nama samaran Zafar pada catatan rumah sakit. Alamatnya mengarah ke rumah kosong. Di dalam ditemukan foto Aydan terbaru dan rencana perjalanan ke Thailand.
Zafar kembali kabur.
Namun paspornya terdeteksi di perbatasan. Operasi penangkapan dilakukan sebelum dia naik kendaraan menuju Thailand.
Zafar ditahan setelah dua puluh dua tahun menghilang. Dia menolak ekstradisi dan mengaku Safar sendirilah yang menyebabkan kecelakaan.
Aydan tau pertarungan hukum akan menjadi lebih panjang dari dugaan.
Proses ekstradisi menimbulkan perdebatan. Pengacara Zafar mengklaim kliennya sakit dan gak layak dipindahkan. Pemeriksaan independen menunjukkan kondisi jantungnya stabil.
Aydan menolak meminta perlakuan kasar. “Bawa dia lewat prosedur. Jangan beri alasan mengatakan kita mencari balas dendam.”
Fariz akhirnya mengetahui ayahnya tertangkap. Di sidang berikutnya, wajahnya kehilangan ketenangan. Jaksa menawarkan keringanan terbatas jika dia memberikan seluruh jaringan serta bukti.
Fariz meminta waktu. Aydan gak ikut menentukan tawaran karena dirinya korban, bukan jaksa.
Di perusahaan, berita penangkapan membuat beberapa investor mendekati Aydan. Mereka menawarkan modal dengan syarat dirinya mengambil alih perusahaan Safaraz secepatnya.
“Mereka belum peduli kasus selesai. Mereka cuma mencium uang,” kata Kaif.
Aydan menolak semua pertemuan sampai audit aset selesai. Raihan mendukung, meski peluang bisnisnya besar.
Kaif memulai program kepemimpinan. Hari pertama dia terlambat dan mendapat teguran seperti peserta lain. Dia hampir menggunakan nama Raihan, tetapi mengurungkan.
“Kalau aku mau dihargai karena kemampuan, aku harus menerima aturan,” katanya kepada Aydan.
Hanin menyiapkan bekal berlebihan untuk keduanya. Aydan pergi ke kantor, Kaif ke pelatihan. Pemandangan itu terasa seperti dua anak sekolah yang berangkat dari rumah sama.
Mama Raihan mencoba memperbaiki hubungan dengan Aydan. Dia meminta izin melihat lukisan dan gak lagi masuk kamar tanpa mengetuk. Aydan memperbolehkan, tetapi menyimpan dokumen pribadi di tempat lain.
“Nenek boleh mengenalku sekarang. Tapi jangan berharap semua langsung baik,” katanya.
Wanita tua itu mengangguk.
Emilia lolos tahap awal pelatihan administrasi. Dia mengirim kabar kepada Aydan, kemudian meminta maaf karena terlalu sering menghubungi.
“Gak masalah selama kita sama-sama nyaman,” jawab Aydan.
Mereka setuju bertemu di kafe terbuka bersama Yuni setelah urusan hukum Emilia selesai. Aydan merasa gugup, sesuatu yang membuat Kaif semakin senang menggodanya.
“Diamlah, Kak.”
“Calon pengantin kabur jadi calon pacar CEO.”
Aydan mengejarnya sampai ruang tamu. Hanin tertawa melihat mereka, lalu meminta jangan merusak sofa.
Pada malam hari, Raihan memberikan dua map kepada anak-anaknya. Satu berisi rencana karier Aydan setelah masalah warisan, satu lagi program kepemimpinan Kaif.
“Papa gak akan membandingkan kalian,” katanya. “Kalian punya jalan berbeda.”
Kaif memandang Aydan. Selama ini mereka berebut satu tempat di mata orangtua. Sekarang Raihan sengaja membuat ruang untuk keduanya.
Aydan mengatakan jika suatu hari harus mengurus perusahaan Safaraz, dia gak akan meninggalkan perusahaan keluarga tanpa transisi. Kaif juga berjanji gak akan mengambil kesempatan saat adiknya tertekan.
Janji tersebut akan diuji oleh waktu, tetapi setidaknya diucapkan saat keduanya sadar pada pola lama.
Sidang ekstradisi memutuskan Zafar dapat dibawa ke Indonesia setelah pemeriksaan akhir. Aydan menerima kabar itu bersama keluarganya.
“Perjalanan masih panjang,” kata Raihan.
“Tapi sekarang kita tau arahnya,” jawab Aydan.
Zafar berusaha melawan ekstradisi dengan alasan dirinya warga tetap Malaysia. Jaksa menunjukkan kewarganegaraan Indonesianya gak pernah dicabut dan tuduhan utama terjadi di Indonesia.
Aydan mengikuti sidang melalui pengacara tanpa datang ke Malaysia. Dia gak ingin kehadirannya dijadikan pertunjukan media.
Fariz akhirnya bersedia memberikan informasi terbatas. Dia mengaku ayahnya hidup, tetapi menolak tuduhan bahwa Zafar memerintahkan penculikan. Menurutnya semua operasi pengawasan adalah gagasannya sendiri untuk melindungi warisan.
“Dia mencoba menanggung kesalahan ayahnya,” kata jaksa.
Raka menyerahkan pesan lama yang menunjukkan Zafar mengetahui pengawasan. Bukti itu menahan tawaran keringanan sampai Fariz berkata lebih jujur.
Di rumah, Aydan merasa lelah karena setiap jawaban diikuti kebohongan baru. Dia mematikan ponsel dan pergi bersama Raihan memancing di danau kecil.
“Papa gak pandai memancing,” kata Aydan setelah satu jam tanpa hasil.
“Ikan di sini yang gak punya selera.”
Mereka tertawa. Raihan kemudian mengaku takut Aydan akan memanggil Safar sebagai satu-satunya papa setelah kasus selesai.
“Papa Safar memberi Aydan hidup. Papa Raihan menyelamatkan dan membesarkan hidup itu,” jawab Aydan. “Gak perlu saling menghapus.”
Raihan memeluk anaknya. Untuk pertama kali dia mengutarakan ketakutan tanpa menyembunyikan dokumen atau membuat keputusan sepihak.
Interpol menambahkan nama samaran Zafar ke seluruh pintu perbatasan. Salma tetap berada dalam perlindungan dan gak lagi diminta menjadi umpan. Aydan menegaskan keselamatan bibinya lebih penting daripada menangkap Zafar beberapa hari lebih cepat. Penyidik menyetujui dan memakai data keuangan sebagai jalur utama pencarian.