Penangkapan Zafar membuat media mengepung keluarga. Raihan memindahkan sementara orangtuanya, sedangkan Hanin tetap bersama Aydan dan Kaif.
Kaif mendapat tawaran dari salah satu pihak untuk mengambil alih perusahaan jika Aydan sibuk mengurus warisan. Dulu dia pasti menerima. Sekarang dia melaporkan tawaran tersebut kepada Raihan.
“Mereka ingin memakai kecemburuanku,” katanya.
Aydan membaca pesan yang menjanjikan jabatan CEO. Pengirimnya terhubung mantan direktur Safaraz.
“Kenapa Kakak gak ambil?” goda Aydan.
“Karena aku mau jabatan yang memang pantas kudapat, bukan hasil menusuk adikku.”
Raihan memutuskan Kaif menjalani program kepemimpinan resmi. Jika lulus, dia akan memimpin salah satu divisi. Aydan mendukung tanpa merasa terancam.
Di rumah, Hanin membuat makan malam khusus. Dia meletakkan dua piring favorit anak-anaknya dan mengatakan gak peduli nama keluarga apa yang tertulis di dokumen.
“Kalian dua-duanya anak Mama dan Papa.”
Kaif menatap Aydan. “Tapi aku tetap anak paling ganteng.”
“Mimpi.”
Mereka kembali berdebat sampai Hanin tertawa.
Hasil pemeriksaan dokumen menunjukkan Safar mewariskan sebagian saham kepada Aydan dan sebagian kepada yayasan karyawan. Zafar selama ini menyembunyikan surat tersebut karena ingin seluruh perusahaan.
Aydan menyatakan akan menghormati kehendak ayahnya jika pengadilan mengesahkan. Dia gak ingin mengambil semua aset hanya karena darah.
Emilia memenangkan perlindungan sementara dari ayahnya. Dia mulai bekerja di lembaga pendamping sambil mencari tempat tinggal. Aydan mengucapkan selamat tanpa menawarkan menyelesaikan hidupnya.
Pada malam sebelum sidang ekstradisi Zafar, Aydan melukis keluarganya. Safar dan Nayla berada di satu sisi, Raihan serta Hanin di sisi lain. Kaif berdiri di tengah dengan wajah sengaja dibuat jelek.
“Kenapa mukaku kayak monyet?” protes Kaif.
“Karena mirip.”
Kaif mengejarnya mengelilingi ruang tamu. Hanin menyuruh mereka berhenti, tapi tawanya paling keras.
Di tengah kasus yang belum selesai, Aydan akhirnya mengerti identitas bukan pilihan antara keluarga kandung dan keluarga angkat. Dirinya dibentuk oleh keduanya, termasuk seorang abang yang dulu membencinya dan kini memilih berdiri di sampingnya.
Sidang ekstradisi Zafar akhirnya dikabulkan. Dia dibawa ke Indonesia dengan pengamanan ketat. Di bandara, Zafar menutupi wajah dan gak menjawab pertanyaan wartawan.
Aydan menonton siaran dari rumah. Wajah pamannya membangkitkan kemarahan, tetapi dia gak pergi ke bandara. Pertemuan pertama hanya akan dilakukan jika penyidik dan terapis menilai aman.
Kaif duduk di sampingnya. “Kau ingin pukul dia?”
“Sedikit.”
“Aku juga.”
Hanin menegur mereka, lalu mematikan televisi. “Makan dulu. Pengadilan gak akan lari.”
Di meja makan, keluarga membahas program Kaif. Dia mendapat nilai buruk pada tugas keuangan dan harus mengulang.
“Jangan ketawa,” katanya kepada Aydan.
“CEO masa depan gak bisa hitung.”
“Nanti aku pecat kau.”
Raihan mengingatkan perusahaan bukan hadiah kepada salah satu anak. Kaif hanya akan mendapat jabatan jika kompeten, sedangkan Aydan juga harus melalui dewan jika berpindah fokus ke aset Safaraz.
Keduanya menyetujui. Aturan itu mencegah keluarga mengulang kesalahan kakek Safar yang membandingkan anak serta membagikan kuasa tanpa struktur.
Emilia lolos pelatihan dan diterima magang di organisasi lain, bukan perusahaan Aydan. Dia memilih tempat tersebut agar hubungan pribadi gak bercampur dengan pekerjaan.
Aydan mengajaknya minum kopi untuk merayakan. Emilia setuju dengan syarat tempat terbuka dan gak ada pengawal duduk semeja.
“Pengawal tetap ada jauh,” kata Aydan.
“Gak masalah. Aku juga masih didampingi.”
Pertemuan mereka sederhana. Emilia menceritakan pekerjaan, sedangkan Aydan bicara soal melukis. Gak ada penyelamatan atau utang. Saat berpisah, mereka sepakat bertemu lagi jika sama-sama ingin.
Kaif mengetahui dan menggoda Aydan sampai malam. Namun di balik candaan, dia senang adiknya memiliki bagian hidup di luar persidangan.
Hari berikutnya, Zafar resmi didakwa. Fariz meminta bertemu ayahnya, tetapi penyidik memisahkan mereka agar kesaksian gak disusun bersama.
Salma datang ke Medan dengan perlindungan. Dia bertemu Aydan dan keluarga Raihan untuk pertama kali. Hanin menyambutnya tanpa takut kehilangan posisi.
Mereka makan bersama. Mama Raihan meminta maaf kepada Salma karena pernah menyembunyikan petunjuk. Salma gak langsung memaafkan, tetapi menghargai pengakuan.
Di ruang keluarga itu ada hubungan yang belum sempurna, luka yang belum selesai, dan dua sejarah yang akhirnya duduk di meja sama.
Aydan memandang Kaif yang sedang berdebat dengan Salma soal makanan Aceh serta Medan. Dia tersenyum. Zafar dan Fariz masih harus menjalani pengadilan, warisan belum ditentukan, dan hubungan dengan Emilia baru mulai tumbuh.
Namun satu hal sudah jelas. Aydan gak lagi mencari identitas untuk mengetahui di mana dirinya harus tinggal. Dia sudah memiliki rumah, lalu sedang membuka pintunya bagi bagian masa lalu yang datang dengan jujur.
Beberapa hari setelah Zafar didakwa, pengadilan mengesahkan perlindungan aset Safaraz sampai putusan akhir. Aydan gak dapat menjual atau mengambil keuntungan, tetapi karyawan perusahaan lama tetap menerima gaji melalui pengelola independen.
“Bagus,” kata Aydan. “Mereka gak boleh jadi korban pertengkaran keluarga.”
Dia juga meminta yayasan karyawan yang disebut dalam surat Safar mulai diaudit. Kalau wasiat dinyatakan sah, pembagian harus dilakukan sesuai kehendak Safar, bukan keinginan Aydan.
Kaif menyelesaikan tugas keuangan ulang dengan bantuan pengajar, bukan Aydan. Nilainya meningkat. Dia membawa sertifikat kecil ke meja makan dan menuntut semua orang memujinya.
“Baru satu modul,” sindir Aydan.
“Tetap lulus.”
Raihan memberi selamat dan mengingatkan masih banyak tahap. Kaif menerima tanpa merasa dibandingkan.
Emilia memulai hari magang. Dia gugup dan hampir menelepon Aydan, tetapi memilih menghubungi pendamping lebih dahulu. Sore hari barulah dia mengabarkan semuanya berjalan baik.
Aydan membalas setelah menyelesaikan rapat. Hubungan mereka berkembang pelan, gak dibangun dari keadaan darurat.
Pada malam Jumat, keluarga berkumpul untuk mendoakan Safar serta Nayla. Salma membawa foto lama, Hanin menyiapkan makanan, dan Raihan duduk bersama Aydan.
Mama Raihan mengaku pernah mengenal Nayla dan menyesal gak memberikan cerita itu lebih awal. Dia mengatakan ibu Aydan adalah perempuan lembut yang selalu membawa buku.
Aydan mendengarkan tanpa memaafkan seluruh masa lalu sekaligus. Setiap cerita diterima sebagai bagian identitas, bukan alat menutup luka.
Setelah semua tidur, Aydan menyelesaikan lukisan dua rumah. Di jalan penghubungnya dia menambahkan empat sosok: dirinya, Kaif, Hanin, dan Raihan. Salma berdiri di depan rumah lama sambil membuka pintu.
Lukisan itu belum selesai. Masih ada ruang kosong untuk kisah yang akan datang, termasuk pengadilan Zafar, pilihan warisan, dan kemungkinan bersama Emilia.
Aydan gak lagi takut pada ruang kosong tersebut. Kini dia tau identitas bukan jawaban tunggal yang ditemukan dalam satu kotak. Identitas dibangun dari kebenaran yang berani dilihat serta pilihan yang dibuat setelah mengetahuinya.