Pagi setelah berjalan bersama Emilia, Aydan datang ke kantor Yayasan Jalan Pulang lebih awal. Di meja kerjanya terdapat amplop cokelat tanpa nama pengirim. Petugas penerima bersumpah amplop itu sudah berada di kotak surat ketika kantor dibuka.
Aydan gak menyentuhnya lagi setelah melihat satu kalimat pada bagian depan.
“Untuk anak Nayla yang masih percaya semuanya telah selesai.”
Dia memanggil kepala keamanan dan pengawas independen. Amplop dibuka dengan sarung tangan di ruangan berkamera. Isinya salinan daftar pembayaran, foto Safar bersama tiga pria, serta sebuah kunci penyimpanan bernomor 317.
Nama Malik muncul pada dua lembar, tetapi pembayaran tertua terjadi sebelum Malik bekerja untuk keluarga Safaraz. Seseorang telah memakai yayasan jauh sebelum Zafar membangun jaringan penutupannya.
“Kita serahkan semuanya kepada polisi,” kata Aydan.
Ketua pengawas, Bu Ratna, mengangguk. “Dan kita hentikan sementara akses arsip lama.”
Aydan setuju tanpa meminta salinan pribadi. Dulu, rasa ingin tahu akan membuatnya menyelidiki diam-diam. Sekarang dia memahami bukti bukan benda yang boleh dibawa pulang karena menyangkut keluarganya.
Polisi menemukan sidik jari parsial pada amplop. Kunci itu berasal dari tempat penyimpanan swasta di pinggir Medan. Penyidik meminta Aydan gak mendatangi lokasi sebelum surat perintah keluar.
Dia menuruti, tetapi kabar tersebut memicu kembali kegelisahannya. Tangannya bergetar ketika Emilia menelepon untuk membicarakan jadwal pertemuan.
“Ada sesuatu di yayasan,” ujar Aydan. “Aku boleh cerita garis besarnya, tapi gak boleh menunjukkan bukti.”
“Kamu aman?”
“Sejauh ini, iya.”
Emilia diam sejenak. “Kamu ingin aku datang atau hanya ingin didengar?”
Pertanyaan itu membuat Aydan bernapas lebih teratur. “Didengar dulu.”
Dia menceritakan amplop tanpa menyebut data korban. Emilia gak menawarkan diri ikut menyelidiki. Dia mengingatkan Aydan menghubungi terapis bila kecemasan memburuk.
Sementara itu, Kaif menjalani minggu pertama sebagai wakil CEO operasional. CEO sementara bernama Laras Wibisono, seorang profesional yang gak memiliki hubungan dengan keluarga. Pada rapat pertama, Laras membatalkan dua proyek Kaif karena proyeksi keuangannya terlalu optimistis.
Kaif tersinggung. “Tim sudah bekerja tiga bulan.”
“Waktu yang dihabiskan gak mengubah risiko menjadi laba,” jawab Laras.
Kaif hampir menelepon Raihan untuk mengeluh, tetapi berhenti. Dia meminta tim memperbaiki angka dan menjadwalkan evaluasi ulang. Sikap itu dicatat Laras tanpa pujian.
Siang harinya, Aydan memberi tahu Kaif tentang amplop. Kaif langsung menanyakan apakah namanya tercantum.
“Gak ada nama kita. Ada foto Papa Safar.”
Kaif menegang. “Kalau ini menyangkut perusahaan, aku perlu tau.”
“Kau akan mendapat informasi lewat jalur resmi.”
Mereka berdebat. Kaif merasa Aydan kembali menjadi pusat rahasia keluarga, sedangkan Aydan takut kakaknya memakai jabatan untuk membuka bukti.
Laras mendengar suara mereka dari koridor. Dia meminta keduanya masuk ke ruang rapat.
“Kaif, jabatanmu gak memberi hak atas penyidikan. Aydan, statusmu sebagai korban juga gak membuatmu pemilik informasi,” katanya. “Buat pemberitahuan konflik kepentingan dan menjauh dari keputusan terkait sampai polisi memberi batas yang jelas.”
Keduanya terdiam. Nasihat Laras menyakitkan karena tepat.
Kaif menyerahkan urusan itu kepada bagian hukum. Aydan menandatangani pelepasan sementara dari komite arsip. Mereka keluar tanpa bicara, lalu Kaif menahan lift.
“Aku takut ada hal lain tentang Papa yang belum kita tau,” akunya.
“Aku juga.”
Untuk pertama kalinya, ketakutan itu gak berubah menjadi perebutan siapa yang paling berhak atas Safar.
Dua hari kemudian, polisi membuka penyimpanan nomor 317. Di dalamnya ada buku besar rusak, perekam suara lama, dan paspor atas nama Harun Adiprana. Foto pada paspor menyerupai salah satu pria yang berdiri di samping Safar.
Rekaman pertama hanya berisi dengung. Rekaman kedua memuat suara Safar yang mengatakan dirinya ingin menghentikan “pengiriman” setelah menemukan penerima dana adalah perusahaan palsu.
Suara lain menjawab, “Kalau kamu berhenti, Nayla yang akan menanggung.”
Aydan mendengar potongan itu di kantor polisi dengan Raka dan Salma. Wajah Salma pucat. Dia mengenali suara kedua.
“Itu Harun,” katanya. “Mantan rekan bisnis abangku. Kami diberi tahu dia meninggal dua puluh tahun lalu.”
Raka mengingat Harun pernah mengurus pembelian tanah Safar sebelum kecelakaan. Namun berkas kematiannya gak pernah dilihat langsung oleh keluarga.
Penyidik meminta mereka merahasiakan nama tersebut. Jika Harun masih hidup, amplop mungkin dikirim untuk membantu atau justru memancing Aydan.
Malamnya, Aydan memberi Emilia kabar sesuai batas yang diizinkan. Dia gak meminta Emilia pindah ke tempat aman karena belum ada ancaman terhadapnya.
“Aku bangga kamu gak langsung mengaturku,” ujar Emilia.
“Aku sempat ingin melakukannya.”
“Keinginan dan tindakan itu berbeda. Yang penting kamu memilih.”
Di rumah, Aydan membuka buku sketsa. Dia menggambar kotak penyimpanan dengan pintu terbuka, tetapi bagian dalamnya gelap. Hanin duduk di dekatnya tanpa bertanya.
Telepon Aydan bergetar menjelang tengah malam. Nomor gak dikenal mengirim foto Emilia keluar dari kantornya sore tadi.
Di bawah foto itu terdapat pesan singkat.
“Safar gagal melindungi Nayla. Kamu akan mengulang kegagalannya.”
Aydan memotret layar dengan perangkat bukti, lalu menghubungi polisi. Dia gak menelepon Emilia lebih dulu, meski seluruh tubuhnya ingin menyuruh perempuan itu bersembunyi.
Setelah penyidik mengonfirmasi ancaman nyata, barulah Aydan menghubungi Emilia dan Mira melalui panggilan bersama.
“Ada foto kamu,” katanya jujur. “Polisi menyarankan perlindungan. Pilihan bentuknya tetap milikmu.”
Emilia ketakutan, tetapi dia mendengar perbedaan itu. Aydan membawa informasi, bukan perintah.
Mereka memilih bertemu di kantor polisi pagi hari. Kesempatan kedua yang baru tumbuh kini menghadapi ujian pertama: apakah Aydan tetap menghormati Emilia ketika ancaman bukan lagi sekadar bayangan.
Sebelum tidur, Aydan menuliskan urutan tindakannya untuk dibawa ke sesi terapi: melapor, menunggu verifikasi, memberi informasi, lalu menawarkan pilihan. Catatan itu bukan alasan untuk memuji diri sendiri. Dia masih merasakan dorongan kuat mengendalikan keadaan. Bedanya, kini dia memiliki cara berhenti sebelum ketakutan berubah menjadi keputusan atas hidup orang lain. Dari kamar sebelah, Hanin ingin memastikan Emilia baik-baik saja, tetapi cukup bertanya kepada Aydan apakah prosedur sudah berjalan. Rumah mereka belajar bersama bahwa kepedulian gak selalu membutuhkan akses penuh.