Emilia tiba di kantor polisi bersama Mira. Aydan sudah menunggu di ruang pemeriksaan, tetapi gak mendekat sebelum Emilia mengangguk. Foto yang dikirim malam sebelumnya diperlihatkan kepada mereka. Sudut pengambilan menunjukkan pelaku berada di seberang kantor Emilia.
Penyidik menawarkan tiga pilihan: patroli berkala, pengawal berpakaian sipil, atau tempat tinggal sementara. Emilia bertanya mengenai risiko dan batas akses setiap pilihan.
“Aku memilih tempat tinggal sementara selama tujuh hari,” katanya. “Mira mengetahui alamatnya. Aydan tidak menerima akses kecuali aku mengundang.”
Aydan menelan dorongan untuk menolak. “Aku setuju.”
Polisi juga meminta Emilia mengganti rute kerja. Dia bersedia bekerja dari kantor cabang yayasannya tanpa menghentikan seluruh kegiatan. Keputusan dicatat tertulis agar pengamanan gak berubah diam-diam.
Hanin ingin Emilia tinggal di rumah mereka, tetapi Aydan melarang ibunya membujuk.
“Biar Emilia menentukan,” katanya.
“Mama cuma ingin dia aman.”
“Aku juga. Justru karena itu kita harus menghormati pilihannya.”
Di tempat terpisah, Kaif menerima laporan bahwa server perusahaan pernah mengirim pembayaran kepada perusahaan Harun. Transaksi terjadi dua puluh tiga tahun lalu, jauh sebelum dia atau Aydan terlibat. Laras membentuk komite investigasi eksternal dan mencabut akses keluarga dari proses.
Seorang direktur senior memprotes. “Nama perusahaan bisa hancur.”
“Nama yang dilindungi dengan menyembunyikan bukti sudah hancur lebih dulu,” jawab Laras.
Kaif mendukung keputusan itu meski saham turun setelah pemberitahuan awal diterbitkan. Raihan gak ikut campur, tetapi beberapa pemegang saham meneleponnya dan meminta Laras diberhentikan.
Raihan menolak. “Saya menunjuk profesional agar perusahaan gak lagi dikendalikan ketakutan keluarga.”
Keesokan harinya, Salma mengingat sebuah rumah kebun yang pernah digunakan Harun dan Safar. Polisi melakukan pencarian dan menemukan kamar kosong, obat tekanan darah yang masih baru, serta guntingan berita mengenai Aydan.
Sidik jari di botol obat cocok sebagian dengan sidik jari amplop. Harun kemungkinan masih hidup dan mengikuti perkembangan keluarga.
Aydan diminta mengidentifikasi beberapa foto lama. Dia gak mengenali Harun, tetapi salah satu latar foto adalah rumah masa kecil Nayla. Pada dinding tampak lambang yang sama dengan cap dalam buku besar.
Raka menjelaskan lambang itu milik koperasi pengiriman yang tutup setelah kecelakaan Safar. Polisi menduga perusahaan palsu digunakan untuk memindahkan uang sekaligus barang selundupan.
“Apakah Papa terlibat?” tanya Aydan.
“Rekaman menunjukkan Safar ingin berhenti,” jawab penyidik. “Tapi kami belum tau kapan dia mengetahui kejahatan itu.”
Jawaban tersebut gak membersihkan atau menghukum Safar. Aydan harus menerima ayah kandungnya mungkin pernah membuat keputusan buruk sebelum mencoba memperbaikinya.
Di tempat aman, Emilia menjalani hari pertama dengan gelisah. Dia kesal karena ancaman itu kembali membuat hidupnya ditentukan laki-laki dari masa lalu Aydan. Ketika Aydan menelepon pada waktu yang disepakati, Emilia gak menyembunyikan kemarahan.
“Aku gak menyalahkanmu atas pesan itu,” katanya. “Tapi aku membenci dampaknya.”
“Kau berhak marah.”
“Jangan selalu jawab seperti buku terapi.”
Aydan terdiam, lalu mengaku dirinya juga marah dan takut. “Aku ingin menjemputmu sekarang. Aku gak melakukannya karena itu bukan pilihanku.”
Kejujuran itu terasa lebih manusiawi. Emilia mengatakan dirinya ingin ditemani melalui panggilan video selama makan malam, bukan membahas kasus. Mereka makan dari tempat berbeda sambil menonton acara memasak yang buruk.
Pada hari ketiga, pengawal menemukan sepeda motor yang sama melewati kantor cabang dua kali. Polisi mengejar, tetapi pengendara lolos. Kamera menangkap wajah seorang pemuda bernama Dimas Adiprana, putra Harun.
Catatan imigrasi menunjukkan Harun gak pernah meninggalkan Indonesia menggunakan identitas aslinya. Dimas memiliki usaha jasa pengiriman kecil yang hampir bangkrut dan menerima pembayaran dari rekening Malik enam bulan lalu.
Malik menyangkal mengenal Harun. Setelah diperlihatkan bukti, dia meminta perlindungan saksi. Menurutnya, seseorang bernama “Pak Tua” memerintahkan pencurian komputer yayasan. Malik mengira tugas itu hanya menghapus bukti dana pensiun.
“Pak Tua bilang keluarga Safar menyimpan sesuatu yang menjadi miliknya,” ujar Malik.
Polisi menduga benda yang dicari adalah perekam suara. Namun amplop justru mengarahkan Aydan kepada benda tersebut. Ada dua kemungkinan: Harun ingin rekaman ditemukan, atau Dimas bertindak melawan ayahnya.
Kaif mengusulkan imbalan bagi informasi publik. Laras menolak sampai polisi menyetujui karena pengumuman bisa membuat saksi terancam. Kaif menerima koreksi dan bekerja dengan bagian hukum.
Tekanan saham membuat dewan meminta pengurangan pegawai. Kaif menyiapkan pilihan pemotongan bonus pimpinan dan menunda ekspansi sebelum menyentuh gaji staf. Laras menyetujui rencana sementara.
“Kau belajar melihat manusia di balik angka,” katanya.
Kaif tersenyum tipis. Pujian pertama itu datang bukan karena nama keluarganya.
Pada hari ketujuh, polisi menilai tempat aman Emilia belum boleh ditinggalkan. Emilia kecewa, tetapi meminta evaluasi tertulis dan memilih memperpanjang tiga hari. Aydan gak ikut menentukan.
Malam itu, Dimas menelepon nomor darurat yayasan. Dia ingin bicara kepada Aydan, tetapi menolak datang ke kantor polisi.
“Ayah saya bukan orang yang mengirim foto perempuan itu,” katanya. “Saya yang memotret, tapi saya diperintah orang lain.”
“Siapa?” tanya petugas yang merekam panggilan.
Dimas menarik napas. “Orang yang seharusnya sudah berada di penjara.”
Sambungan terputus sebelum nama disebut. Pelacakan menunjukkan telepon berasal dari terminal bus. Ketika polisi tiba, mereka hanya menemukan ponsel murah di bawah bangku dan satu tiket menuju Banda Aceh.
Di belakang tiket tertulis satu nama: Fariz.
Penyidik meminta semua pihak gak menarik kesimpulan dari satu tulisan. Tiket bisa menjadi petunjuk, jebakan, atau upaya Dimas memindahkan perhatian. Aydan menyampaikan hal itu kepada keluarga saat Hanin panik mendengar Fariz disebut lagi. Raihan mengunci dokumen perusahaan yang dibawanya pulang dan mengingatkan bahwa rumah bukan ruang penyidikan.
Emilia juga menerima kabar tanpa rincian yang dapat mengganggu perkara. Dia memperpanjang pengamanan secara tertulis dan meminta satu jam setiap sore tanpa panggilan siapa pun. Aydan menghormatinya. Pada jam tersebut, Emilia membaca, menyiram tanaman kecil yang dibawa Mira, dan mengingatkan dirinya bahwa tempat aman tetap bisa menjadi ruang hidup, bukan sekadar persembunyian.
Di selnya, Fariz tersenyum ketika petugas memberi tahu akan ada pemeriksaan baru. Namun senyumnya menghilang saat mendengar nama Surya. Reaksi singkat itu tercatat kamera dan menjadi alasan polisi memeriksa seluruh daftar kunjungannya.