Nama Fariz membuat ruang pemeriksaan membeku. Fariz masih ditahan sambil menunggu putusan untuk kasus penculikan dan pengawasan. Secara fisik, dia gak mungkin berada di terminal. Namun penyidik menemukan bahwa Fariz menerima kunjungan pengacara pengganti tiga kali dalam dua minggu.
Pengacara itu bernama Surya Adiprana, keponakan Harun.
Fariz dibawa untuk diperiksa. Dia tersenyum ketika mendengar nama Dimas, lalu meminta kesepakatan hukuman baru sebelum bicara. Jaksa menolak menjanjikan apa pun.
“Kalau begitu, biarkan Aydan menebak siapa yang mengawasi pacarnya,” ujar Fariz.
Aydan menonton dari ruang terpisah. Amarahnya naik, tetapi dia gak masuk. Penyidik telah mengingatkan bahwa kehadirannya dapat memberi Fariz kendali emosional.
Salma mengenali Surya sebagai anak mantan sopir Harun. Dokumen kunjungan ternyata menggunakan surat kuasa palsu. Petugas rumah tahanan yang meloloskannya diperiksa.
Surya ditangkap malam itu di hotel. Di kamarnya ditemukan salinan foto Emilia, jadwal sidang Zafar, dan daftar alamat keluarga Safaraz. Dia menyangkal ancaman, tetapi mengaku bekerja untuk Dimas.
“Dimas ingin Aydan ketakutan agar mau bertukar rekaman,” katanya.
“Mengapa tiket menyebut Fariz?” tanya penyidik.
“Fariz memberi tahu kami rekaman itu ada. Dia mendengarnya dari Malik.”
Jaringan tersebut ternyata gak memiliki satu pemimpin. Fariz, Malik, Surya, dan Dimas saling memakai untuk kepentingan berbeda. Harun tetap menjadi pusat masa lalu, tetapi belum tentu mengendalikan tindakan anaknya.
Emilia menerima penjelasan langsung dari polisi. Dia meminta namanya gak diumumkan kepada media. Yayasan tempatnya bekerja mengizinkan cuti berbayar, tetapi Emilia memilih tetap menyelesaikan laporan dari tempat aman agar rutinitasnya gak hilang.
Aydan mengirim pesan sesuai waktu yang disepakati. “Aku tersedia kalau kamu ingin bicara.”
Emilia menjawab sejam kemudian. “Aku ingin marah di telepon. Jangan memperbaiki apa pun.”
Selama dua puluh menit, Emilia mengumpat Fariz, Dimas, dan semua orang yang menganggap dirinya alat untuk menekan Aydan. Aydan mendengarkan. Ketika Emilia selesai, dia bertanya apakah perempuan itu ingin ditemani diam.
“Iya.”
Mereka tetap tersambung tanpa bicara. Keheningan kali ini bukan hukuman, melainkan pilihan bersama.
Di perusahaan, laporan eksternal menemukan perusahaan Harun pernah dipakai membeli lahan dengan harga rendah dari warga yang gak memahami dokumen. Safar menandatangani dua transaksi sebagai direktur muda. Tanda tangan itu asli.
Kaif ingin menunda pengumuman sampai konteks lengkap ditemukan. Laras menolak.
“Kita dapat menjelaskan bahwa penyidikan berlangsung, tetapi gak boleh menyembunyikan dokumen asli.”
Kaif memikirkan harga saham dan nama Safar. Akhirnya dia menyetujui publikasi. Perusahaan membuka jalur klaim bagi keluarga pemilik lahan.
Raihan membaca laporan dengan mata merah. Safar adalah sahabat yang selalu dia bela. Mengetahui Safar pernah ikut menandatangani pembelian curang mengguncang keyakinannya.
“Mungkin dia gak tau,” kata Hanin.
“Mungkin,” jawab Raihan. “Tapi korban tetap kehilangan tanah.”
Aydan mendengar pembicaraan itu. Dia gak ingin identitas barunya dibangun dari pahlawan palsu. Bersama Salma, dia menemui tiga keluarga yang tercatat dalam dokumen.
Mereka datang tanpa kamera. Seorang nenek bernama Ros mengingat Safar pernah kembali setahun setelah transaksi dan menawarkan tambahan pembayaran. Harun melarang warga menerima dengan ancaman.
“Safar bersalah karena menandatangani,” kata Ros. “Tapi dia satu-satunya yang kembali.”
Kesaksian itu memberi konteks, bukan penghapusan. Aydan meminta tim hukum menilai ganti rugi berdasarkan nilai tanah sekarang. Dana akan berasal dari perusahaan, bukan Yayasan Jalan Pulang.
Kaif mendukung, walau keputusan itu menambah kerugian. “Kalau perusahaan mendapat manfaat, perusahaan yang membayar.”
Laras membawa usulan ke dewan. Beberapa anggota menuduh Kaif menghukum generasi sekarang atas kesalahan lama. Kaif menjawab kepercayaan publik gak dapat dipulihkan dengan meminta korban melupakan keuntungan yang masih dinikmati perusahaan.
Usulan disetujui tipis.
Pada pemeriksaan berikutnya, Fariz akhirnya bicara setelah mengetahui Surya tertangkap. Dia mengaku memberi informasi rekaman kepada Malik sebagai alat tawar. Menurut Zafar, Harun menyimpan bukti yang dapat menunjukkan Zafar bukan satu-satunya orang di balik kecelakaan Safar dan Nayla.
“Harun memerintahkan pengejaran?” tanya penyidik.
Fariz menggeleng. “Ayah bilang Harun ingin mereka ditakut-takuti, bukan dibunuh. Rem kendaraan pengejar rusak karena seseorang mengganti komponen.”
“Siapa?”
“Ayah gak pernah bilang.”
Rekaman lama diperiksa ulang. Teknisi menemukan bagian yang terhapus secara magnetis, tetapi beberapa detik dapat dipulihkan. Suara Zafar terdengar berdebat dengan Harun pada malam sebelum kecelakaan.
“Jangan sentuh mobilnya,” kata Harun.
Zafar menjawab, “Kalau Safar bicara, kita semua habis.”
Potongan itu menguatkan peran Zafar, tetapi juga menunjukkan Harun mengetahui ancaman dan gak memperingatkan Safar. Polisi meningkatkan pencarian.
Dimas akhirnya ditemukan di penginapan dekat pelabuhan. Dia gak melawan. Saat ditanya siapa memerintahkannya memotret Emilia, Dimas menyebut Surya. Surya sebelumnya mengatakan sebaliknya.
Keduanya saling menuduh sampai polisi menunjukkan catatan transfer. Uang berasal dari rekening luar negeri atas nama perusahaan yang masih aktif.
Pemilik manfaat rekening itu bukan Harun, melainkan seseorang bernama Nadia Prameswari.
Salma menjatuhkan gelas ketika mendengar nama tersebut. “Nadia adalah istri pertama Safar,” katanya. “Kami pikir dia meninggal sebelum Safar mengenal Nayla.”
Untuk kedua kalinya, orang mati dalam cerita keluarga mereka mungkin belum benar-benar mati.
Malam itu Salma membuka kotak dokumen lama yang selama ini tersimpan di rumahnya. Di antara undangan pernikahan Safar dan Nadia, dia menemukan kartu pos tanpa alamat pengirim bertanggal setahun setelah kematian Nadia. Tulisan di belakangnya hanya berbunyi, “Aku selamat, tetapi jangan cari aku.” Salma dulu mengira kartu itu lelucon kejam dan gak pernah menunjukkannya kepada Safar.
Rasa bersalah membuatnya ingin menyembunyikan kartu tersebut sekali lagi. Dia bahkan sempat memasukkannya kembali ke kotak. Beberapa menit kemudian, Salma menelepon penyidik dan menyerahkannya sebagai bukti. Aydan gak memarahinya, tetapi juga gak mengatakan tindakannya dulu bisa dimaklumi begitu saja.
“Yang penting Tante memilih jujur sekarang,” katanya.
Ahli tulisan tangan memastikan ada kemungkinan besar kartu itu ditulis Nadia. Cap pos berasal dari Penang, tempat rekening perusahaan penerima transfer terdaftar. Polisi segera mengirim permintaan bantuan hukum ke Malaysia.
Penemuan kecil itu akhirnya memberi penyelidikan arah yang dapat diuji.