Salma menceritakan Nadia di rumah Raihan dengan suara tersendat. Safar menikah muda karena desakan bisnis keluarga. Pernikahan itu hanya bertahan dua tahun. Menurut kabar yang diterima Salma, Nadia meninggal dalam kecelakaan kapal di Malaysia. Gak ada jenazah yang dipulangkan.
“Kenapa gak pernah ada yang memberitahuku?” tanya Aydan.
“Karena kami mengira itu gak berhubungan dengan Nayla,” jawab Salma. “Dan karena keluarga malu pernikahan pertama abangmu gagal.”
Aydan menatap Raihan. Dulu, rahasia seperti itu akan dianggap perlindungan. Kali ini Raihan gak membela siapa pun.
“Kau seharusnya tau sejak identitas Safar dibuka,” katanya kepada Salma.
Salma mengangguk dan meminta maaf.
Penyidik menemukan Nadia Prameswari tinggal di Penang dengan nama Nadia Lim. Catatan biometrik menunjukkan dia memasuki Indonesia dua bulan lalu, lalu pergi tiga hari sebelum amplop ditemukan. Rekening perusahaannya membayar Dimas melalui dua perantara.
Namun Nadia menghubungi kedutaan sebelum polisi menerbitkan permintaan pemeriksaan. Dia bersedia datang jika mendapat jaminan keamanan dari Zafar dan Harun.
Pertemuan dilakukan melalui video. Nadia berusia hampir enam puluh tahun, berambut pendek, dan berbicara tanpa ragu.
“Saya membayar Dimas mencari rekaman, bukan mengancam Emilia,” katanya. “Surya mengubah perintah supaya Aydan menyerahkan bukti.”
“Mengapa Ibu menginginkan rekaman?” tanya penyidik.
“Karena di dalamnya ada pengakuan bahwa Harun memalsukan kematian saya.”
Nadia menjelaskan Harun membantu keluarganya kabur setelah dia menemukan pembelian tanah ilegal. Sebagai gantinya, Harun menguasai perusahaan peninggalan ayah Nadia. Ketika Nadia ingin kembali, Harun mengancam akan menuduhnya terlibat pencucian uang.
“Safar mengetahui Ibu masih hidup?” tanya Aydan melalui penyidik.
Nadia menatap kamera lama. “Pada akhirnya, iya. Saya menemuinya enam bulan sebelum kecelakaan. Dia berjanji membantu membersihkan nama saya setelah mengumpulkan bukti.”
Kabar itu membuat Aydan bertanya apakah Nayla mengetahui pertemuan tersebut. Nadia menjawab Nayla hadir dan justru menyarankan mereka bekerja sama.
“Ibumu gak cemburu kepada saya,” ujar Nadia. “Dia marah karena semua orang menjadikan perempuan sebagai alasan untuk perang laki-laki.”
Kalimat itu mengingatkan Aydan kepada Emilia.
Nadia bersedia menyerahkan dokumen perusahaan, tetapi meminta pertemuan langsung. Polisi mengatur kepulangannya secara rahasia. Informasi hanya diberikan kepada tim kecil.
Pada hari yang sama, tempat aman Emilia bocor kepada media daring. Alamat tepat gak dimuat, tetapi foto bangunan muncul. Emilia segera dipindahkan berdasarkan protokol yang telah dia setujui sebelumnya.
Aydan mengetahui setelah perpindahan selesai. Rasa takutnya berubah menjadi kesal karena gak diberi kabar, lalu dia membaca kembali kesepakatan: saat operasi berlangsung, polisi boleh menunda informasi kepada pihak luar, termasuk dirinya.
Dia menelepon Emilia setelah izin diberikan. “Aku kesal, tapi aku tau keputusan itu bukan milikmu.”
“Aku juga kesal. Aku lelah pindah karena keluargamu.”
“Aku mengerti kalau kamu ingin berhenti dari hubungan ini.”
Emilia menangis. “Jangan membuat keputusan untukku dengan menawarkan perpisahan setiap kali kamu merasa bersalah.”
Aydan terdiam. Bahkan memberi jalan keluar dapat menjadi cara mengendalikan jika dilakukan terus-menerus.
“Maaf. Apa yang kamu pilih?”
“Aku memilih tetap di sini hari ini. Besok akan kuputuskan lagi.”
Mereka bersepakat gak membicarakan masa depan permanen saat ancaman masih aktif.
Kaif menghadapi masalah lain. Berita mengenai rekening Nadia membuat pemasok menghentikan kerja sama. Laras memintanya memimpin negosiasi, tetapi seorang anggota dewan menawarkan jalan cepat: perusahaan membayar media untuk menekan berita buruk.
Kaif merekam tawaran itu dalam notulen dan melaporkannya kepada komite etik. Anggota dewan tersebut diskors. Akibatnya, Kaif kehilangan dukungan politik yang dapat membawanya menjadi CEO setelah masa Laras selesai.
“Kau sadar suaranya menentukan masa depanmu?” tanya Laras.
“Kalau aku butuh suaranya dengan cara begitu, aku belum pantas duduk di kursi itu.”
Laras gak tersenyum, tetapi menyerahkan kepadanya tanggung jawab negosiasi penuh.
Nadia tiba di Medan malam berikutnya. Kendaraannya dialihkan ketika sebuah mobil tanpa pelat mengikuti dari bandara. Polisi menangkap pengemudi, mantan pegawai perusahaan Surya. Harun belum ditemukan.
Dalam pemeriksaan langsung, Nadia menyerahkan surat Nayla yang selama ini disimpannya. Surat itu ditulis seminggu sebelum kecelakaan.
“Jika sesuatu terjadi kepada kami, cari buku pengiriman bulan April. Harun menyimpan daftar asli, sedangkan Zafar memiliki salinannya.”
Buku besar dari penyimpanan nomor 317 kehilangan seluruh halaman April.
Nadia mengatakan salinan lain mungkin berada di rumah lama Safar, tersembunyi di bawah lantai ruang musik. Rumah tersebut sekarang dimiliki perusahaan dan lama kosong.
Polisi melakukan penggeledahan. Mereka menemukan rongga di bawah lantai, tetapi isinya telah diambil. Debu yang terganggu menunjukkan seseorang datang belum lama.
Kamera jalan menangkap mobil Raihan berada di dekat rumah itu dua minggu sebelumnya.
Semua mata beralih kepada ayah yang membesarkan Aydan. Raihan menatap rekaman tersebut dengan kebingungan nyata.
“Aku gak pernah pergi ke sana,” katanya.
Nomor pelat memang miliknya, tetapi mobil itu berada di bengkel pada tanggal tersebut. Bengkel melaporkan seorang teknisi bernama Yoga membawa kendaraan keluar untuk uji jalan selama dua jam.
Yoga gak masuk kerja sejak kemarin.
Di loker Yoga, polisi menemukan foto Harun yang jauh lebih tua dan secarik pesan: “Bawa buku April sebelum Nadia tiba.”
Harun masih bergerak selangkah di depan mereka.
Kabar tentang mobil Raihan telanjur bocor sebelum bengkel memberi penjelasan. Media menuduh ayah angkat Aydan mengambil bukti untuk melindungi Safar. Raihan menolak mengadakan konferensi pers emosional. Dia menyerahkan jadwal bengkel, lokasi telepon, dan rekaman rumah kepada penyidik, lalu membiarkan fakta diperiksa.
Aydan ingin membela Raihan melalui akun pribadinya. Laras dan Mira sama-sama mengingatkan bahwa pembelaan tanpa data resmi hanya akan memperbesar perhatian. Aydan akhirnya menulis pesan, tetapi menyimpannya sebagai draf.
Raihan menghargai keputusan itu. “Dulu Papa sering menentukan informasi apa yang boleh kau tau karena Papa takut kehilanganmu. Sekarang jangan ulangi kesalahan itu demi menyelamatkan nama Papa.”
Kaif juga memilih diam di depan media. Di dalam perusahaan, dia memastikan Yoga belum mendapat akses ke kendaraan atau dokumen lain. Pemeriksaan internal menemukan teknisi itu memakai kartu pegawai yang sudah seharusnya dinonaktifkan. Kegagalan prosedur tersebut dilaporkan terbuka kepada Laras, termasuk nama manajer yang lalai.
Mereka belum menemukan buku April, tetapi setidaknya berhenti memberi Harun jalan baru melalui kelemahan yang sama.