Polisi mencari Yoga di rumah kontrakannya. Rumah itu kosong, tetapi tetangga melihat dia dijemput pria tua berkacamata. Rekaman toko memperlihatkan mobil menuju kawasan perkebunan tempat rumah kebun Harun ditemukan.
Tim bergerak sebelum fajar. Aydan, Kaif, dan Nadia diminta menunggu di kantor polisi. Gak seorang pun diizinkan ikut, meski Nadia mengaku dapat membujuk Harun menyerah.
“Dia sudah memakai orang lain berkali-kali,” kata penyidik. “Kami gak akan menjadikan Ibu umpan.”
Emilia masih di tempat aman kedua. Dia mengetahui operasi berlangsung, tetapi memilih gak meminta rincian. Pekerjaannya tertunda karena media mulai menghubungi kantornya. Dengan bantuan Mira, dia menulis pernyataan bahwa dirinya adalah korban intimidasi dan meminta identitasnya gak dikaitkan dengan perebutan bisnis keluarga.
Aydan membaca draf hanya setelah Emilia memintanya. Dia menyarankan satu perubahan fakta, bukan nada. Pernyataan diterbitkan atas nama Emilia sendiri.
Menjelang siang, polisi menemukan Yoga terikat di gudang kosong. Dia masih hidup. Menurutnya, Harun memaksa dirinya mengambil buku April dari rumah Safar, lalu membawa buku tersebut pergi.
“Saya pikir cuma mengambil barang keluarga,” katanya. “Surya bilang pemiliknya meminta kembali.”
Yoga menyerahkan lokasi pertemuan terakhir: dermaga tua di Belawan. Polisi menemukan bekas pembakaran dan sampul buku, tetapi halaman-halamannya sudah hilang.
Nadia marah. Dia menuduh polisi bergerak terlalu lambat. Salma membalas bahwa Nadia juga menunggu puluhan tahun untuk kembali. Pertengkaran mereka hampir berubah menjadi saling menyalahkan atas kematian Safar.
Aydan berdiri di antara keduanya. “Yang membuat keputusan adalah Harun dan Zafar. Kalian boleh menyesali pilihan sendiri, tapi jangan mengambil kesalahan mereka untuk menyerang satu sama lain.”
Nadia meninggalkan ruangan. Salma menangis karena merasa keluarga mereka kembali pecah.
Raihan mengajak Aydan ke kantin. “Kau gak harus menjadi penengah semua orang.”
“Kalau aku diam, mereka terus bertengkar.”
“Dan kalau kau selalu berdiri di tengah, hidupmu habis untuk mengatur luka orang lain.”
Aydan memahami nasihat itu juga berlaku pada hubungannya dengan Emilia. Menolong bukan berarti memikul seluruh keputusan.
Di perusahaan, Kaif memimpin pertemuan dengan para pemasok. Dia membuka data penyidikan yang boleh diumumkan dan mengakui ketidakpastian. Dua pemasok tetap pergi, tetapi tiga lainnya bertahan karena perusahaan gak menyembunyikan risiko.
Laras mengatakan hasil itu cukup. Kaif kecewa karena gak menyelamatkan semua kontrak.
“Kepemimpinan bukan selalu menang penuh,” ujar Laras. “Kadang tugasmu memastikan kerugian gak dibayar orang yang paling lemah.”
Kaif mempertahankan rencana tanpa pemutusan hubungan kerja selama tiga bulan. Bonus direksi dipotong, termasuk bonusnya sendiri.
Teknisi forensik memeriksa sampul buku yang terbakar. Di balik lapisan kain terdapat kantong tipis berisi satu lembar karbon. Tulisan samar masih dapat dibaca: daftar pengiriman tanggal 17 April dan inisial penerima Z.A., H.A., serta N.P.
Nadia membantah inisial N.P. adalah dirinya. Pada tanggal itu dia berada di Malaysia dan memiliki catatan rumah sakit. Penyidik menemukan kemungkinan lain: Nurdin Prakoso, ayah Nadia, yang selama ini disebut meninggal karena sakit.
Nadia mengaku ayahnya mendirikan perusahaan bersama Harun. Nurdin mengetahui pembelian tanah, tetapi Nadia gak tau soal pengiriman. Jika Nurdin terlibat, warisan yang dikuasai Nadia mungkin berasal dari kejahatan.
“Saya akan membuka seluruh rekening perusahaan,” katanya akhirnya. “Kalau ada uang korban, kembalikan.”
Keputusan itu gak menghapus tahun-tahun diamnya, tetapi memberi penyidik akses yang dibutuhkan.
Analisis rekening menemukan pembayaran rutin kepada sebuah rumah perawatan di Binjai. Pasien terdaftar dengan nama Hasan, namun foto administrasinya cocok dengan Harun. Polisi mengepung lokasi.
Harun ditemukan di kamar lantai dua dalam kondisi lemah setelah stroke ringan. Di bawah kasurnya ada halaman April yang asli dan ponsel berisi pesan kepada Surya. Dia ditangkap tanpa perlawanan.
Saat diperiksa di rumah sakit, Harun meminta bertemu Aydan. Permintaan ditolak sampai dokter dan penyidik menilai kondisinya. Harun kemudian menyerahkan pernyataan tertulis.
Dia mengaku menjalankan pengiriman barang selundupan melalui perusahaan Safar, memalsukan kematian Nadia, dan menyembunyikan bukti setelah Safar hendak melapor. Namun dia menolak bertanggung jawab atas kecelakaan.
“Zafar merusak kendaraan pengejar tanpa sepengetahuan saya,” tulisnya. “Saya pengecut, tetapi saya bukan pembunuh.”
Penyidik mengingatkan bahwa mengetahui ancaman dan membiarkannya tetap dapat menimbulkan pertanggungjawaban pidana. Buku April menunjukkan Harun menerima keuntungan terbesar.
Aydan membaca ringkasan pengakuan bersama Salma dan Nadia. Gak ada rasa lega penuh. Kebenaran membuat bentuk kesalahan lebih jelas, tetapi gak mengembalikan Safar dan Nayla.
Emilia diperbolehkan meninggalkan tempat aman setelah Surya, Dimas, dan Harun ditahan. Dia memilih pulang ke tempat tinggalnya sendiri. Aydan menawarkan bantuan memindahkan barang hanya sekali.
“Aku minta Mira yang membantu,” jawab Emilia.
“Baik.”
Malam berikutnya, mereka bertemu di kafe ramai. Emilia mengatakan ancaman telah menunjukkan hubungan dengan Aydan akan selalu membawa perhatian tertentu.
“Aku gak bisa menjanjikan hidup tanpa risiko,” kata Aydan. “Aku hanya bisa menjanjikan gak mengambil pilihanmu saat risiko datang.”
“Janji itu harus dibuktikan berkali-kali.”
“Aku tau.”
Emilia belum ingin mengakhiri hubungan. Namun dia meminta mereka tetap tinggal terpisah dan gak menaikkan tahap hubungan selama perkara Harun berlangsung. Aydan menerima tanpa menawar.
Kaif datang terlambat ke rumah dan meletakkan laporan kerugian di meja Raihan. Dia mengira ayahnya akan kecewa. Raihan justru membaca keputusan perlindungan pegawai dan mengangguk.
“Kau kehilangan uang, tapi menjaga orang,” katanya.
“Laras bilang itu bagian pekerjaan.”
“Laras benar.”
Di rumah sakit tahanan, Harun menyalakan televisi dan melihat berita perusahaan mengembalikan tanah. Wajahnya berubah ketika reporter menyebut satu keluarga yang belum ditemukan, pemilik lahan pelabuhan lama.
Dia meminta kertas, lalu menulis nama yang gak tercantum dalam buku besar: Naufal Safaraz.
Penyidik menunjukkan catatan itu kepada Salma. Dia membaca berulang kali sebelum mengangkat wajah.
“Naufal adalah anak Harun,” katanya lirih. “Tapi Safar pernah mengaku sebagai ayahnya agar anak itu gak dibunuh keluarga Nadia.”
Rahasia baru tersebut mengubah kembali peta keluarga. Jika Naufal masih hidup, dia bukan sekadar saksi. Dia mungkin memegang hak atas lahan pelabuhan, bukti terakhir pengiriman, dan alasan Harun terus mengawasi Aydan.
Perkara Harun baru saja dibuka. Bab tentang Zafar memang hampir selesai, tetapi masa lalu Safar masih menyimpan seseorang yang selama puluhan tahun hidup menggunakan nama keluarga mereka.