Salma gak tidur setelah menyebut nama Naufal. Pagi berikutnya dia membawa sebuah album lama ke kantor polisi. Di halaman terakhir terdapat foto Safar menggendong bayi laki-laki. Bagian belakangnya bertuliskan, “Naufal, enam bulan.”
“Harun punya hubungan dengan perempuan bernama Kirana,” jelas Salma. “Keluarga Nadia menuduh Kirana mencuri dokumen perusahaan. Ketika dia hamil, Harun menyangkal anak itu. Safar mengaku sebagai ayah agar Kirana mendapat perlindungan.”
Aydan menatap foto tersebut. Wajah bayi itu gak memberinya jawaban apa pun. “Apakah Nayla tau?”
“Belum saat pengakuan dibuat. Safar memberitahunya kemudian.”
Salma mengatakan Nayla marah karena Safar mengambil keputusan sebesar itu sendiri, tetapi akhirnya membantu Kirana pindah. Setelah kecelakaan Safar, Kirana dan Naufal menghilang.
Penyidik menemukan akta lahir Naufal mencantumkan Safar sebagai ayah. Secara hukum, dia dapat dianggap ahli waris sampai bukti biologis serta dokumen pengakuan dibuka. Hal itu menjelaskan mengapa Harun terus mengawasi warisan Safaraz.
Kaif langsung memikirkan perusahaan. “Kalau dia menuntut saham, semua keputusan waris bisa diperiksa ulang.”
Laras memotong. “Kita gak membahas manusia hanya sebagai risiko saham.”
Kaif meminta maaf dan menyerahkan masalah kepada penasihat independen. Aydan sendiri merasakan sesuatu yang lebih rumit. Selama ini dia berjuang menerima Safar sebagai ayah kandung. Kini ada orang lain yang memakai nama Safar lebih lama darinya.
Dalam terapi, Aydan mengakui dirinya takut digantikan meski tau Naufal bukan anak biologis Safar.
“Identitas bukan kursi tunggal,” kata terapisnya. “Kehadiran Naufal gak menghapus hubunganmu dengan Safar, Raihan, atau Kaif.”
Aydan mengerti secara logis, tetapi perasaannya belum mengikuti.
Polisi menelusuri Kirana melalui catatan sekolah. Mereka menemukan Naufal pernah bersekolah di Banda Aceh dengan nama Naufal Kirana, lalu pindah setelah tsunami. Jejak terakhir menunjukkan dia bekerja sebagai teknisi kapal di Sabang lima tahun lalu.
Foto pegawai mengungkap seorang pria berusia tiga puluhan dengan bekas luka di alis. Nadia mengenalinya sebagai orang yang pernah datang ke kantornya di Penang dan meminta salinan kepemilikan lahan pelabuhan.
“Dia gak mengatakan siapa dirinya,” ujar Nadia. “Saya menolak karena dokumennya gak lengkap.”
“Apakah Ibu memberi tahu Harun?”
Nadia menunduk. Dia mengaku menghubungi perantara Harun karena takut Naufal adalah pemeras. Seminggu kemudian, Naufal menghilang dari tempat kerjanya.
Salma marah. “Kau menyerahkan dia kepada orang yang sudah menghancurkan hidup ibunya.”
Nadia membalas bahwa dirinya gak mengetahui hubungan mereka. Pertengkaran berhenti ketika Aydan memilih keluar dari ruangan, bukan kembali menjadi penengah. Penyidik menangani keduanya.
Di koridor, Emilia menunggu karena mereka memang berjanji makan siang. Aydan sebelumnya sudah mengatakan pertemuan mungkin dibatalkan. Emilia datang atas pilihannya sendiri, tanpa masuk ke ruang pemeriksaan.
“Kamu ingin pergi dari sini?” tanyanya.
“Iya.”
Mereka makan di warung kecil. Aydan bercerita tentang rasa takut digantikan tanpa membagikan rincian penyidikan.
“Kamu dulu juga takut Kaif mengambil tempatmu,” kata Emilia.
“Dan Kaif takut aku mengambil tempatnya.”
“Mungkin kalian dibesarkan dengan gagasan kasih sayang selalu diperebutkan.”
Aydan memikirkan Hanin dan Raihan. Mereka menyayanginya, tetapi rahasia identitas membuat cinta sering terasa seperti sesuatu yang dapat hilang bersama kebenaran.
Sore itu, Aydan menemui Kaif. Dia mengakui kecemburuannya terhadap seseorang yang bahkan belum ditemukan. Kaif tertawa pendek, bukan mengejek.
“Aku pernah melakukan lebih buruk hanya karena kau pulang ke rumah,” katanya. “Setidaknya kau mengaku sebelum menghancurkan kantor.”
Mereka sepakat gak menghubungi Naufal secara pribadi. Polisi akan menjadi jalur pertama.
Pencarian membawa tim ke bengkel kapal tua di Sabang. Pemiliknya mengatakan Naufal berhenti setelah menerima surat berisi foto ibunya. Dia berangkat ke Medan untuk menemui seseorang bernama Hasan—nama samaran Harun di rumah perawatan.
Catatan tamu membuktikan Naufal mengunjungi Harun enam bulan lalu. Harun sebelumnya menyangkal pernah bertemu putranya.
Ketika diperlihatkan bukti, Harun mengatakan Naufal datang meminta hak atas lahan pelabuhan. Harun menolak karena tanah itu digunakan menyimpan barang selundupan dan dapat menyeret Kirana yang sudah meninggal.
“Di mana Naufal sekarang?” tanya penyidik.
“Saya gak tau.”
Harun menatap ke luar jendela sepanjang sisa pemeriksaan. Denyut jantungnya meningkat ketika polisi menyebut Dimas, anak lain yang selama ini diakuinya secara terbuka.
Ponsel Harun kemudian mengungkap pesan terhapus kepada Dimas: “Temukan abangmu sebelum Nadia menemukannya.”
Dimas mengaku pernah menahan Naufal selama dua hari atas perintah Surya, tetapi Naufal melarikan diri dengan membawa salinan buku pengiriman. Menurutnya, Naufal terluka saat kabur.
“Dia bilang akan memberikan bukti kepada anak Safar yang sebenarnya,” kata Dimas.
Kalimat itu ditujukan kepada Aydan. Namun enam bulan berlalu tanpa satu pun kontak.
Malamnya, Yayasan Jalan Pulang menerima surel dari alamat terenkripsi. Isinya foto halaman pengiriman dan satu pertanyaan keamanan yang hanya diketahui keluarga: warna selimut bayi dalam foto Naufal.
Salma menjawab, “Hijau.”
Balasan datang beberapa menit kemudian.
“Saya masih hidup. Saya akan bicara kepada Aydan, tapi bukan di bawah pengawasan Harun, Nadia, atau keluarga Safaraz.”
Polisi meminta Aydan gak menjawab sendiri. Setiap kalimat disusun bersama negosiator agar Naufal gak merasa dipaksa sekaligus gak membahayakan lokasi persembunyiannya. Aydan hanya menambahkan satu pesan pribadi: dia gak akan menuntut Naufal memakai nama keluarga tertentu.
Sambil menunggu balasan, Salma mengingat detail lain. Safar pernah membuat rekening pendidikan atas nama Naufal, tetapi uangnya hilang setelah kecelakaan. Pemeriksaan menunjukkan Harun mencairkannya menggunakan surat kematian Kirana palsu. Bukti itu menambah dugaan penggelapan dan menjelaskan mengapa hidup Naufal berpindah-pindah tanpa dukungan yang sebenarnya sudah disiapkan.
Kaif menawarkan perusahaan mengganti dana tersebut segera. Laras menolak pembayaran langsung sebelum Naufal ditemukan dan status hukumnya jelas.
“Kita dapat menaruh dana pemulihan di rekening penampungan,” katanya. “Naufal harus bebas menerima atau menolaknya.”
Kaif menyetujui. Untuk pertama kalinya, dia membuat keputusan tentang warisan tanpa mencoba membeli ketenangan keluarga.
Surel berikutnya tiba menjelang subuh. Naufal menerima pertemuan dengan penyidik, tetapi menolak Salma dan Nadia berada di gedung yang sama. Dia memberikan serangkaian koordinat secara bertahap supaya lokasinya gak dapat diketahui terlalu cepat.
Aydan menatap layar dan menyadari tingkat ketakutan yang harus dialami Naufal selama bertahun-tahun. Kecemburuannya belum hilang sepenuhnya, tetapi kini berdampingan dengan rasa hormat kepada seseorang yang bertahan hidup tanpa rumah yang selalu tersedia untuk pulang.