Polisi membalas surel Naufal melalui saluran aman. Mereka menolak pertemuan tanpa pengamanan, tetapi menawarkan penyidik yang gak terkait keluarga. Naufal menerima dengan syarat Aydan datang sendiri ke ruang pertemuan setelah lokasi dinyatakan aman.
Raihan khawatir. Hanin ingin melarang. Aydan mengingatkan bahwa dirinya orang dewasa dan akan mengikuti protokol polisi.
“Mama boleh takut,” katanya. “Tapi keputusan akhirnya milikku.”
Hanin menangis, kemudian mengangguk. Perubahan batas gak hanya berlaku pada Emilia. Aydan juga belajar menerapkannya kepada orang tua yang sangat mencintainya.
Pertemuan berlangsung di kantor lembaga bantuan hukum. Naufal datang lebih dulu melalui pintu belakang. Bekas luka di alisnya sama dengan foto pegawai, tubuhnya lebih kurus, dan tangan kirinya bergerak kaku akibat cedera.
Aydan duduk berjarak dua kursi. “Terima kasih sudah datang.”
Naufal menatapnya lama. “Kamu mirip Safar ketika sedang takut.”
Ucapan itu membuat Aydan gak nyaman. “Kau mengenalnya?”
“Sampai umur lima tahun. Dia datang beberapa kali bersama Nayla.”
Naufal mengingat Safar sebagai pria yang membawa buku gambar dan meminta maaf karena gak bisa menjadi ayah setiap hari. Kirana selalu mengatakan Safar bukan ayah biologisnya, tetapi nama Safar melindungi mereka.
Setelah kecelakaan, Harun menemukan tempat tinggal mereka. Kirana memindahkan Naufal dari satu kota ke kota lain. Sebelum meninggal karena sakit, dia menyerahkan salinan buku April dan meminta Naufal gak mempercayai Harun.
“Kenapa baru sekarang muncul?” tanya Aydan.
“Karena setiap kali aku mendekat, seseorang mengikutiku. Enam bulan lalu Dimas dan Surya menculikku. Aku kabur, tapi mereka mengambil sebagian dokumen.”
Naufal menunjukkan bekas cedera pada pergelangan. Dia bersembunyi di kapal nelayan dan berpindah pulau. Surat elektronik baru dikirim setelah Harun ditangkap.
Dia menyerahkan kartu memori berisi pemindaian dokumen, rekaman Kirana, dan foto gudang pelabuhan. Polisi langsung membuat salinan forensik.
Aydan bertanya apa yang Naufal inginkan. Jawabannya bukan saham.
“Bersihkan nama ibuku. Dokumen Harun menyebut Kirana mencuri uang, padahal dia membantu Safar mengumpulkan bukti.”
Naufal juga menuntut hak atas lahan pelabuhan ditentukan melalui pengadilan. Dia gak mau kesepakatan rahasia keluarga.
“Aku mendukung proses terbuka,” kata Aydan.
“Kamu mudah berkata begitu karena sudah punya rumah dan keluarga.”
Aydan menerima sindiran tersebut. Naufal benar bahwa mereka memulai dari tempat berbeda.
Setelah pertemuan, Aydan hanya memberi keluarga informasi yang diizinkan. Salma ingin segera menemui Naufal, tetapi Naufal belum bersedia. Kaif menanyakan klaim hukum, lalu berhenti ketika menyadari caranya terdengar dingin.
“Apakah dia aman?” gantinya.
“Untuk sekarang.”
Naufal ditempatkan di lokasi perlindungan saksi. Dia meminta identitasnya gak diumumkan sampai Dimas dan Surya didakwa atas penculikan.
Rekaman Kirana menjelaskan bahwa Safar pernah menandatangani transaksi ilegal karena Harun mengatakan pembelian itu sah. Setelah menemukan gudang berisi barang selundupan, Safar mencoba keluar. Zafar mengancam membuka status Naufal agar keluarga Nurdin memburu Kirana.
Nayla menyarankan Safar mengakui kesalahannya kepada polisi. Mereka berencana membawa buku April pada pagi setelah kecelakaan terjadi.
Kesaksian itu memperjelas motif tanpa menjadikan Safar sempurna. Dia terlambat bertindak dan kebisuannya membuat orang lain menderita.
Nadia mendengar rekaman dengan pengacara. Nama ayahnya muncul sebagai orang yang memerintahkan ancaman kepada Kirana. Nadia meminta waktu sebelum memberi keterangan tambahan.
Salma menuduhnya kembali melindungi keluarga. Penyidik menghentikan percakapan dan memisahkan mereka.
Aydan gak ikut. Dia pergi ke sesi terapi, lalu menemui Emilia pada jadwal biasa. Emilia bertanya apakah pertemuan dengan Naufal berjalan baik.
“Gak buruk, tapi aku merasa bersalah karena hidupku lebih aman.”
“Rasa bersalah bisa mengakui ketimpangan, tapi jangan dipakai mengambil alih keinginannya.”
Aydan mengatakan Naufal meminta proses hukum, bukan belas kasihan. Dia akan menghormati itu.
Emilia juga menceritakan masalahnya sendiri. Kantornya menawarkan promosi ke kota lain selama enam bulan. Dulu dia mungkin menolak karena takut hubungan dengan Aydan renggang. Sekarang dia ingin mempertimbangkannya.
Aydan merasakan panik. Namun dia bertanya kapan Emilia membutuhkan jawaban, bukan langsung meyakinkannya agar tinggal.
“Dua minggu,” jawab Emilia. “Aku ingin mendengar perasaanmu, bukan izinmu.”
“Aku akan rindu dan takut. Tapi kariermu bukan keputusan yang harus menyesuaikan ketakutanku.”
Mereka sepakat membahas hubungan jarak jauh setelah Emilia memahami syarat promosi.
Di perusahaan, Laras meminta Kaif menilai dampak klaim lahan Naufal. Kaif membentuk tim tanpa anggota keluarga dan mengeluarkan dirinya dari keputusan ganti rugi karena konflik kepentingan. Dewan menyetujui.
Seorang reporter kemudian mendapat kabar bahwa “anak rahasia Safar” telah ditemukan. Mereka menunggu di depan rumah Raihan. Kaif hampir mengatakan Naufal bukan anak biologis agar reputasi keluarga terlindungi, tetapi Laras menghentikannya.
“Status biologis adalah informasi pribadi Naufal,” katanya.
Perusahaan mengeluarkan pernyataan singkat bahwa klaim lahan sedang diperiksa tanpa menyebut identitas.
Malam itu, lokasi perlindungan Naufal menerima paket tanpa pengirim. Petugas memeriksanya dan menemukan mainan kapal kayu yang pernah diberikan Safar ketika Naufal kecil.
Di bawah kapal tertulis, “Kirana berbohong tentang ayahmu.”
Tes awal menemukan sidik jari Nadia pada kayu tersebut.
Petugas juga menemukan serat kain merah di dalam bungkus. Serat itu sama dengan seragam perusahaan pengiriman milik Dimas, tetapi perusahaan tersebut sudah berhenti beroperasi sejak penangkapannya. Artinya, seseorang masih memiliki akses ke gudang atau kendaraan yang belum disita.
Kaif meminta audit daftar aset pengiriman melalui jalur resmi. Satu mobil boks ternyata dijual kepada perusahaan cangkang seminggu sebelum Dimas ditahan. Alamat pembeli adalah rumah kosong milik mantan perawat bernama Siska Marbun.
Aydan menahan diri untuk gak memberi tahu Naufal sebelum polisi memeriksa temuan itu. Naufal sudah hidup dengan terlalu banyak informasi setengah matang. Sebagai gantinya, Aydan mengirim satu pesan yang disetujui pendamping: “Paket sedang diperiksa. Kau gak wajib mengambil keputusan tentang siapa pun hari ini.”
Naufal membalas bahwa selama ini semua orang menentukan kapan dia harus lari, percaya, dan diam. Kebebasan untuk menunda terasa asing baginya.
Malam itu, Naufal meminta buku gambar yang dulu diberikan Safar. Salma masih menyimpannya bersama album lama. Penyerahan dilakukan melalui pengacara, tanpa pertemuan. Beberapa halaman berisi gambar kapal anak-anak dan tulisan Safar yang mengajarkan nama warna.
Naufal menemukan satu catatan Kirana di halaman belakang: “Nama ayahmu menyelamatkan kita, tetapi suatu hari kamu berhak mengetahui darahmu.” Catatan tersebut menguatkan bahwa rahasia biologis memang sengaja disimpan, bukan diciptakan Harun baru-baru ini.