Penyidik memeriksa latar belakang Alia Mahendra sebelum mengizinkan pertemuan. Dia pernah menjadi jaksa muda dalam perkara penyelundupan pelabuhan, lalu mengundurkan diri seminggu setelah kecelakaan Safar. Gak ada catatan pelanggaran, tetapi laporan terakhirnya hilang dari arsip.
Alia tinggal di rumah sederhana di Padang. Dia menolak datang ke Medan karena merawat suaminya yang sakit. Percakapan pertama dilakukan melalui video dengan pengacara dan penyidik hadir.
“Siapa saksi yang harus dilindungi?” tanya penyidik.
“Mekanik yang diminta Darma merusak rem,” jawab Alia.
Semua orang mengira mekanik itu tewas dalam kebakaran kendaraan. Alia mengatakan pria tersebut, Jefri, selamat dan membuat kesepakatan rahasia dengannya. Sebelum kesaksian dapat dicatat, Darma mengambil alih perkara dan mengancam keluarga Jefri.
“Anton mengatakan mekaniknya meninggal,” kata Aydan.
“Anton melihat tubuh yang sudah terbakar. Dia gak memeriksa identitas.”
Alia membantu Jefri kabur dengan nama baru. Sebagai imbalan, Jefri menyerahkan buku catatan yang menunjukkan perintah sabotase datang dari Darma. Alia menyimpan salinan, tetapi kehilangan aslinya ketika kantornya digeledah.
“Mengapa Ibu diam puluhan tahun?”
Alia mengakui ketakutan serta kesalahan. Suaminya diancam, sedangkan dua atasannya menerima pembayaran Nurdin. Dia mengundurkan diri dan terus memantau perkara dari jauh.
“Saya menunggu sistem aman,” katanya.
Aydan menahan marah. “Sistem gak menjadi aman sendiri selama Ibu menunggu.”
Alia menerima kalimat tersebut. Dia gak meminta dimengerti.
Saksi yang dimaksud kini hidup di Bukittinggi sebagai Jaya Firman. Jefri bersedia bicara jika identitas keluarganya dilindungi dan seluruh rekaman dibuka setelah perkara selesai. Polisi menawarkan program saksi serta pemeriksaan tertutup lebih dulu.
Aydan gak ikut perjalanan. Dia berada di Yogyakarta untuk pembukaan pameran. Dulu dia mungkin membatalkan semuanya demi mengejar jawaban. Kini penyidik dapat bekerja tanpa dirinya.
Pameran Identitas yang Dipilih menampilkan lukisan kotak terbuka, jalan pulang, dan rumah dengan beberapa pintu. Kurator menghormati larangan memakai wajah korban. Emilia datang setelah jam kerja dan berdiri bersama pengunjung biasa.
Seorang wartawan bertanya apakah lukisan dibuat dari uang kriminal. Aydan menjelaskan studio serta pameran memakai bagian aset yang sudah ditetapkan pengadilan dan diaudit. Laporan sumber dana tersedia publik.
Wartawan terus mendesak mengenai Alia, tetapi Aydan menolak membahas penyidikan. Dia mengembalikan pembicaraan kepada karya.
Emilia gak menjadi juru bicara. Saat seorang reporter mengejarnya, dia mengatakan dirinya hadir sebagai pasangan dan konsultan perlindungan data, bukan sumber kasus.
Malam setelah pembukaan, Aydan serta Emilia makan di warung. Mereka menikmati keberhasilan tanpa pesta mewah. Emilia mengatakan pameran menunjukkan Aydan punya hidup di luar perkara.
“Aku baru belajar gak semua jawaban harus kutemukan sendiri,” katanya.
Di Medan, Kaif menerima daftar kandidat CEO. Selain dirinya ada tiga profesional luar, termasuk Marwan yang kembali setelah proses etik selesai. Kaif terkejut.
Laras menjelaskan Marwan berhak mendaftar karena gak terbukti terlibat pidana. Kelalaiannya tetap tercatat dalam penilaian.
Kaif merasa sejarah berulang. Namun dia gak menelepon Raihan atau menyerang Marwan. Dia meminta aturan seleksi, jadwal, dan panel independen.
Cabang kedua baru stabil. Kaif memutuskan tetap menyelesaikan tugas sebelum berkampanye untuk jabatan. Laras mencatat keputusan itu.
Jefri akhirnya memberi pernyataan. Dia mengaku Darma memerintahkannya merusak rem kendaraan pengejar agar Anton serta tim Zafar tewas sebelum mencapai Safar. Namun Jefri sengaja hanya melonggarkan satu komponen karena gak ingin membunuh siapa pun.
Kerusakan tetap menyebabkan kendaraan kehilangan kendali saat dipacu. Jefri bertanggung jawab atas tindakannya dan bersedia menghadapi proses hukum.
Kemudian dia memberi detail baru: sebelum pengejaran, Darma menerima telepon dari seorang perempuan. Perempuan itu berkata, “Biarkan Zafar bergerak malam ini. Safar harus takut cukup besar untuk menyerahkan saham.”
Jefri gak mengetahui nama penelepon. Alia memiliki catatan nomor telepon yang digunakan. Nomor itu terdaftar atas kantor keluarga Nadia, tetapi panggilan berasal dari ruang pribadi yang hanya dapat diakses Nadia dan Diah.
Diah saat itu berada di panti. Nadia mengaku berada di Malaysia.
Ada orang ketiga yang memakai kantor keluarga Nurdin malam itu. Alia menyebut namanya: Livia Prameswari, ibu Nadia dan Diah, yang selama ini dinyatakan meninggal setahun sebelum kecelakaan Safar.
Nadia yang mengikuti pemeriksaan dari ruang terpisah langsung berdiri. Dia mengira Alia salah. Pemakaman ibunya dihadiri keluarga, dan Nadia sendiri melihat peti sebelum ditutup.
Alia gak memintanya percaya. Dia menunjukkan catatan telepon, salinan paspor, dan satu foto perempuan berkerudung keluar dari kantor setelah panggilan. Wajah gak terlihat, tetapi cincin pada tangannya sama dengan milik Livia dalam foto keluarga.
Diah diminta gak melihat bukti mendadak. Psikolog lebih dulu menjelaskan kemungkinan ibunya masih hidup. Diah mengalami serangan panik dan menghentikan sesi. Penyidik menghormati keputusan itu.
Aydan menghubungi Salma, bukan Nadia. Dia gak ingin menjadikan dirinya penengah keluarga Nurdin. Salma mengatakan kabar tersebut membuatnya marah karena satu lagi orang dewasa memalsukan kematian sementara anak-anak menanggung akibat.
Kaif meminta bagian hukum perusahaan memeriksa apakah Livia pernah memiliki saham Safaraz. Laras membatasi audit pada dokumen perusahaan dan melarang tim mencari informasi pribadi melalui jalur tidak resmi.
Di Yogyakarta, Emilia menyarankan Aydan tetap tidur sebelum acara berikutnya. Dia gak mengecilkan temuan, tetapi mengingatkan tubuh Aydan gak harus mengikuti kecepatan setiap berita.
Aydan mematikan telepon dua jam dan berjalan di galeri kosong. Lukisan-lukisannya tetap tergantung meski masa lalu berubah lagi. Pengalaman itu mengajarinya bahwa identitasnya gak runtuh setiap kali nama baru muncul dalam berkas.
Pagi berikutnya, polisi mendapat izin memeriksa makam Livia. Nadia setuju memberi sampel DNA, sementara Diah meminta sampelnya yang lama dipakai tanpa pengambilan baru. Pemeriksaan dilakukan tertutup agar makam gak menjadi tontonan media.
Ketika peti dibuka, penyidik menemukan gelang Livia pada jenazah perempuan lain. Pemalsuan itu direncanakan cukup teliti untuk menipu keluarga, tetapi gak dapat bertahan di hadapan pemeriksaan modern.
Identitas jenazah kemudian diperiksa melalui catatan orang hilang. Keluarga lain mungkin telah kehilangan seorang perempuan agar kematian Livia terlihat meyakinkan. Penyidikan pun diperluas sebagai perkara korban baru, bukan sekadar bukti tambahan keluarga Nurdin.