Nadia mengatakan ibunya memang meninggal karena serangan jantung. Ada pemakaman, dokter, dan puluhan saksi. Namun setelah pemalsuan kematian Nadia serta Kirana terbuka, catatan kematian keluarga gak lagi dapat diterima tanpa pemeriksaan.
Makam Livia dibuka berdasarkan perintah pengadilan. Peti berisi jenazah perempuan, tetapi tes DNA menunjukkan gak ada hubungan dengan Nadia atau Diah.
Dokter yang menandatangani kematian adalah dokter sama yang mengelola panti Diah. Dia sudah ditahan dalam perkara pengobatan paksa dan meminta pengacara sebelum menjawab.
Nadia merasa seluruh masa kecilnya dibangun dari pertunjukan. Dia meminta bertemu Diah, tetapi pendamping menolak sampai Diah siap. Nadia menghormati.
Alia menjelaskan Livia mengelola rekening perusahaan setelah Nurdin sakit. Dia lebih keras daripada suaminya dan percaya aset keluarga harus dijaga dengan segala cara. Safar hendak menyerahkan saham kepada korban; Livia ingin membuatnya takut, bukan membunuh.
“Semua orang mengatakan gak bermaksud membunuh,” kata Salma. “Tetapi abangku tetap mati.”
Penyidik setuju niat berbeda gak menghapus pertanggungjawaban atas rencana ancaman.
Catatan imigrasi menemukan perempuan bernama Livia Tan masuk ke Indonesia dari Makau beberapa kali. Foto paspor menyerupai Livia pada usia tua. Jejak terakhir berakhir tiga tahun lalu.
Nadia mengenali salah satu alamat di Makau sebagai apartemen milik bibinya. Bibi tersebut sudah meninggal, namun pengelola menyimpan surat atas nama Livia. Polisi internasional diminta membantu.
Di Yogyakarta, Aydan menerima kabar setelah pameran hari kedua. Dia memberi tahu Emilia garis besar. Emilia bertanya apakah Aydan perlu pulang.
“Penyidik bilang tidak. Aku ingin tetap sampai penutupan.”
“Bagus. Bukan karena aku ingin menahanmu, tapi karena pilihanmu gak selalu harus mengikuti krisis.”
Mereka menghabiskan satu hari bersama setelah acara. Aydan melihat kantor Emilia dan bertemu timnya tanpa memberi sumbangan. Dia memahami kehidupan yang dibangun Emilia di kota itu benar-benar luas.
Rasa takut kehilangan muncul, tetapi juga rasa bangga. Dia mengatakan keduanya.
Emilia mengaku mungkin ingin menetap lebih dari satu tahun jika program menjadi permanen. Mereka sepakat gak membuat keputusan hari itu.
Kaif menghadapi wawancara seleksi CEO pertama. Panel menanyakan PHK cabang dan insiden token akses. Dia mengakui kelalaian keamanan serta menjelaskan proses perlindungan pegawai.
Marwan mempresentasikan rencana pertumbuhan agresif. Kandidat lain, Sari Pranoto, menawarkan restrukturisasi berbasis teknologi. Kaif merasa rencananya paling lambat.
Laras menegaskan panel menilai kemampuan, bukan pertunjukan. Kaif kembali ke cabang setelah wawancara.
Pekerja yang dipindahkan ke pusat pelatihan mulai mengajar. Beberapa pegawai terkena PHK mengajukan gugatan atas kriteria. Kaif menyerahkan dokumen dan gak berusaha menghentikan gugatan dengan pesangon tambahan.
“Mereka berhak menguji keputusan,” katanya.
Sementara itu, Jefri masuk perlindungan saksi. Jaksa mempertimbangkan tindakannya melonggarkan rem. Jefri gak meminta bebas, tetapi ingin keluarganya gak dihukum karena nama palsunya.
Anton dipanggil lagi. Setelah melihat foto Jefri, dia mengakui Darma memang menyuruh semua orang percaya mekanik mati. Anton pernah menerima pesan dari Livia setelah kecelakaan: “Pastikan Safar gak sempat bicara.”
Namun Anton bersumpah gak melihat Livia secara langsung. Pesan dapat dikirim orang lain.
Forensik arsip Alia menemukan salinan rekaman suara. Kualitasnya buruk, tetapi ahli membandingkan dengan video keluarga Nadia. Kemungkinan suara Livia tinggi, belum pasti.
Diah bersedia mendengar rekaman bersama psikolog. Dia mengenali cara ibunya mengucapkan nama Safar. Ingatan lain muncul: Livia mengunjungi panti setelah dikabarkan meninggal dan memerintahkan dokter menjaga Diah tetap diam.
Kesaksian Diah mengubah pencarian dari kemungkinan menjadi prioritas.
Nadia meminta maaf kepada Diah karena selama ini menerima cerita kematiannya tanpa bertanya. Diah menjawab Nadia juga anak yang dikendalikan, tetapi itu gak otomatis membuat mereka dekat.
“Aku ingin mengenalmu sekarang, bukan kembali menjadi keluarga seperti dulu,” katanya.
Nadia menyetujui.
Polisi Makau menemukan Livia hidup di rumah perawatan privat dengan nama Lin Wei. Kondisinya lemah, tetapi sadar. Dia menolak ekstradisi dan mengklaim sudah menjadi warga negara lain.
Sebelum pengacara datang, Livia mengirim pesan langsung kepada Nadia: “Kalau aku jatuh, seluruh saham yang kau serahkan akan kembali kepada orang yang paling kau benci.”
Orang yang dimaksud ternyata Zafar. Dokumen lama menunjukkan Zafar pernah menikah secara bisnis dengan perusahaan cangkang Livia, sehingga dia mungkin memiliki klaim atas aset Nurdin.
Administrator segera membekukan bagian terkait tanpa menghentikan dana bantuan yang sudah terpisah. Nadia takut keputusan lamanya menyerahkan saham justru membuka pintu bagi Zafar.
“Tanggung jawab kontrak itu milik Livia dan Zafar,” kata pengacaranya. “Ibu bertanggung jawab bekerja sama sekarang, bukan meramalkan dokumen yang disembunyikan.”
Nadia tetap meminta semua transaksi dirinya diperiksa ulang. Dia gak ingin menggunakan ketidaktahuan sebagai perlindungan otomatis.
Diah mengetahui pesan Livia dari psikolog. Dia memilih gak membaca kata-kata lengkap karena pola ancaman ibunya dapat memicu trauma. Sebagai gantinya, pengacara menyampaikan hanya akibat hukumnya.
Naufal mengagumi batas itu. Selama ini keluarga mereka sering menganggap mengetahui semua rincian sebagai keberanian. Diah menunjukkan keberanian juga dapat berarti menentukan informasi mana yang aman diterima.
Salma bertanya kepada Alia apakah Safar mengenal Livia. Alia mengatakan mereka pernah bertemu dalam rapat pemegang saham. Safar menganggap Livia lebih berbahaya daripada Nurdin karena dia jarang meninggalkan bukti tertulis.
Surat Nayla menyebut seorang “perempuan cincin merah” yang mencoba membeli kebisuannya. Salma baru memahami sebutan itu merujuk kepada batu merah pada cincin Livia.
Penyidik meminta bantuan Makau membekukan aset Livia. Sebagian rekening sudah kosong, dipindahkan ke perusahaan cangkang beberapa hari setelah Darma ditangkap. Perpindahan itu menunjukkan jaringan masih aktif.
Bu Ratna memeriksa apakah uang tersebut masuk ke Yayasan Jalan Pulang. Gak ditemukan transaksi, tetapi satu perusahaan pernah menjadi sponsor acara seni lokal di Yogyakarta. Nama acara belum diketahui karena dokumennya memakai kode proyek.
Aydan diberi tahu tanpa berspekulasi. Dia menyerahkan daftar sponsornya kepada auditor dan gak membatalkan pameran. Pemeriksaan dilakukan di belakang proses seni, bukan menggantikannya.
Sementara itu, permohonan awal Zafar masuk melalui pengacaranya. Orang yang dipenjara itu kembali mencoba memakai kontrak lama untuk mendapatkan kendali atas uang yang seharusnya memulihkan korban.