Bulan percobaan Aydan di Yogyakarta memasuki minggu ketiga. Dia mulai memiliki rutinitas sendiri: bekerja pagi di studio bersama, makan siang dengan seniman lokal, dan menemui Emilia dua atau tiga kali seminggu.
Emilia merasa lebih ringan karena gak harus menjadi satu-satunya alasan Aydan berada di kota. Namun ibunya yang masih tinggal bersamanya menganggap Aydan seharusnya datang setiap hari jika hubungan serius.
“Kami sedang mencoba cara yang sehat,” kata Emilia.
Ibunya khawatir Aydan gak berniat menikah. Emilia menjelaskan pernikahan bukan target yang harus dipercepat karena jarak. Ibunya akhirnya berhenti mendesak, meski belum sepenuhnya memahami.
Aydan mengunjungi rumah setelah diundang. Dia membawa makanan, bukan hadiah mahal. Ketika ibu Emilia menanyakan rencana menikah, Aydan menjawab mereka belum memutuskan.
“Saya menghormati Emilia terlalu banyak untuk memberi tanggal tanpa kesepakatan,” katanya.
Jawaban itu mengecewakan sang ibu, tetapi Emilia merasa dilindungi tanpa diambil alih.
Di Medan, Kaif menghadapi presentasi akhir seleksi CEO. Dia menyampaikan keberhasilan dan kegagalan cabang secara seimbang. Dia gak menyembunyikan PHK, insiden token, atau revisi mediasi pekerja.
Panel bertanya apa yang akan dilakukan jika gak terpilih.
“Saya tetap menyelesaikan tanggung jawab sebagai wakil CEO atau menerima evaluasi posisi lain,” jawab Kaif. “Perusahaan gak boleh menjadi sandera ambisi saya.”
Marwan memberikan jawaban serupa, sedangkan Sari menegaskan dia hanya menerima posisi CEO. Panel menutup seleksi untuk penilaian dua minggu.
Raihan gak bertanya hasil setiap hari. Dia mengirim satu pesan bahwa dirinya bangga Kaif menyelesaikan proses tanpa meminta campur tangan.
Perkara Livia memasuki sidang ekstradisi. Bukti Alia, Jefri, Anton, serta Diah diserahkan. Pengadilan Makau mengizinkan pemindahan dengan syarat perawatan medis terjamin.
Livia tiba di Indonesia dalam kursi roda. Nadia dan Diah gak berada di bandara. Media dilarang mengambil gambar medis dekat.
Dalam pemeriksaan, Livia mencoba memanggil Nadia sebagai anak yang gak tahu berterima kasih. Nadia hanya hadir melalui pengacara. Diah menolak semua komunikasi pribadi.
Jaksa mendakwa Livia atas konspirasi ancaman, suap, pemalsuan kematian, penghilangan kebebasan Diah, serta pencucian uang. Keterlibatannya dalam kecelakaan diuji sebagai bagian perencanaan yang menyebabkan kematian.
Zafar meminta menjadi saksi untuk meringankan posisinya. Jaksa menerima kesaksian tanpa menjanjikan pengurangan. Dia mengatakan Livia memerintahkannya menakut-nakuti Safar dan menjanjikan saham.
Livia menyebut Zafar pembohong. Rekaman telepon serta kontrak cangkang memberi dukungan sebagian pada cerita Zafar.
Aydan memilih gak menghadiri setiap sidang. Dia membaca ringkasan dan hanya akan datang saat pernyataan dampak diperlukan. Di Yogyakarta, dia mengembangkan seri lukisan baru tentang orang yang hidup di kota sama tetapi memilih pintu berbeda.
Emilia menerima posisi dua tahun setelah bulan percobaan hampir selesai. Dia gak meminta Aydan pindah permanen.
“Aku ingin kamu memilih berdasarkan hidupmu juga,” katanya.
Aydan memutuskan membagi waktu: dua bulan di Medan, satu bulan di Yogyakarta selama enam bulan berikutnya. Studio memerlukan kehadirannya, dan keluarga serta yayasan tetap bagian hidupnya.
Mereka akan mengevaluasi setelah itu. Rencana gak sempurna dan biaya perjalanan harus dihitung. Aydan membayar bagian sendiri dari pendapatan seni, bukan aset perusahaan.
Pada akhir bulan percobaan, mereka makan malam di tempat sederhana. Gak ada lamaran atau janji pindah selamanya.
“Aku senang kamu di sini,” kata Emilia. “Aku juga senang punya malam tanpa kamu.”
“Aku sempat tersinggung, tapi sekarang aku juga butuh malam sendiri.”
Mereka tertawa. Kemampuan mengatakan kebutuhan tanpa ancaman menjadi bentuk kedekatan baru.
Di Medan, Naufal membuka angkatan kedua pusat pelatihan. Beberapa mantan pekerja cabang mendapat pekerjaan di perusahaan lain. Ros memimpin rapat pengawas dan menolak satu sponsor yang ingin memasang iklan berlebihan.
Nadia serta Diah bertemu sebulan sekali dengan terapis. Diah belum memanggil Nadia kakak, tetapi mulai menceritakan satu kenangan masa kecil setiap pertemuan. Nadia gak memperbaiki ingatannya kecuali diminta.
Alia memberikan kesaksian terbuka setelah keluarga Jefri aman. Publik mengetahui bagaimana jaksa muda dulu gagal melawan sistem. Alia gak menggambarkan diri sebagai pahlawan.
“Saya menyimpan bukti, tetapi terlalu lama menyimpan suara,” katanya.
Kesaksiannya mendorong peninjauan puluhan perkara pelabuhan lain. Dampak kasus Safar meluas melampaui satu keluarga.
Dewan perusahaan akhirnya mengumumkan hasil seleksi CEO. Kaif diminta datang bersama kandidat lain. Laras membuka surat keputusan: panel memilih Sari Pranoto sebagai CEO berikutnya setelah masa Laras berakhir. Kaif berada di peringkat kedua.
Alasannya, Sari memiliki pengalaman teknologi serta pendanaan lebih kuat. Namun dewan meminta Kaif tetap menjadi wakil CEO operasional dan memimpin reformasi pekerja.
Kaif merasakan kecewa begitu besar sampai sulit bicara. Dia meminta waktu satu hari sebelum menjawab. Dewan mengabulkan.
Marwan memberi selamat kepada Sari dan menawarkan tangan kepada Kaif. “Kita kalah.”
Kaif pulang tanpa menemui media. Raihan gak berkata keputusan itu salah. Dia bertanya apa yang Kaif butuhkan.
“Aku ingin marah tanpa diyakinkan bahwa peringkat dua bagus,” jawabnya.
Raihan duduk menemani.
Keesokan pagi, Kaif membaca laporan panel lengkap. Kritiknya sama dengan evaluasi Laras: keputusan membaik, tetapi pengalaman pendanaan belum cukup. Dia dapat mengundurkan diri, pindah perusahaan, atau tetap bekerja di bawah Sari.
Kaif belum memberi jawaban ketika menerima pesan dari pekerja cabang: “Terima kasih karena tetap mendengar kami meski keputusan sulit.”
Pesan itu gak mengganti kursi CEO. Namun ia mengingatkan bahwa kepemimpinan sudah terjadi sebelum jabatan tertinggi diberikan.
Kaif kembali ke kantor dan menerima posisi wakil CEO selama satu tahun, dengan evaluasi tugas yang jelas. Dia memberi selamat kepada Sari tanpa berpura-pura gak kecewa.
“Saya akan mendukung keputusan yang melindungi perusahaan dan mengkritik yang merugikan pekerja,” katanya.
Sari menerima syarat kerja profesional itu.
Aydan mendengar kabar melalui telepon dan mengatakan dirinya bangga, tetapi gak menyebut kekalahan sebagai kemenangan. Kaif berterima kasih.
Malamnya, putusan sela perkara Livia keluar. Hakim menyatakan cukup bukti untuk melanjutkan persidangan penuh. Pada dokumen barang bukti, muncul satu transfer dari Livia kepada perusahaan seni di Yogyakarta—perusahaan yang menjadi sponsor utama pameran Aydan.
Kurator mengaku gak mengetahui sumber dana. Transfer terjadi melalui tiga perusahaan sebelum pameran direncanakan, tetapi waktunya menunjukkan jaringan Livia masih memantau Aydan.
Aydan segera meminta audit dan membekukan hasil penjualan yang terkait sponsor. Pameran yang dia kira menjadi ruang hidup di luar perkara ternyata telah disentuh masa lalu.
Kali ini dia gak menghancurkan semua karya atau menuduh Emilia. Dia menghubungi auditor, kurator, dan polisi, lalu menunggu fakta.
Identitas yang dipilih tetap harus hidup di dunia tempat orang lain mencoba membeli maknanya. Ujian berikutnya adalah apakah Aydan dapat mempertahankan karyanya tanpa membiarkan uang Livia menentukan siapa dirinya.