Auditor membekukan hasil penjualan tiga lukisan yang biaya promosinya berasal dari sponsor terkait Livia. Karya lain gak terdampak karena dibiayai galeri serta Aydan sendiri.
Kurator bernama Tesa menyerahkan seluruh kontrak. Dia mengaku sponsor datang melalui agensi dan gak pernah menyebut Livia. Agensi menerima uang dari perusahaan cangkang di Jakarta yang dikelola Melati.
“Apakah pameran ini dibuat untuk mengawasiku?” tanya Aydan.
Penyidik belum dapat memastikan. Transfer pertama terjadi sebelum konsep pameran disetujui, tetapi setelah Livia mengetahui Aydan menerima aset Nayla. Sponsor mungkin ingin mendekati Aydan atau mencuci uang melalui penjualan seni.
Aydan ingin mengembalikan semua uang kepada pembeli. Auditor melarang keputusan sampai sumber setiap transaksi diperiksa. Pembeli yang beritikad baik tetap memiliki hak atas karya.
Emilia menyarankan Aydan memberi informasi tertulis kepada pembeli tanpa menuduh. Galeri mengirim pemberitahuan bahwa audit berlangsung dan dana ditahan.
Satu pembeli membatalkan transaksi. Dua lainnya memilih menunggu. Aydan menerima tanpa membujuk.
Media menyebut pamerannya proyek pencucian uang. Aydan menerbitkan laporan biaya, kontrak, dan langkah audit melalui akuntan independen. Dia gak mengunggah data pribadi pembeli.
Tesa menawarkan menanggung kerugian reputasi sendiri. Aydan menolak menjadikannya satu-satunya kambing hitam. Galeri memang gagal memeriksa sponsor, sedangkan Aydan juga menandatangani kontrak tanpa meminta rincian pemilik manfaat.
Mereka sepakat memperbaiki prosedur bersama.
Di Medan, Sari mulai masa transisi sebagai CEO terpilih. Dia meminta Kaif memimpin integrasi teknologi untuk mencegah kebocoran data. Kaif curiga tugas itu diberikan karena kelemahannya pada keamanan.
“Memang,” jawab Sari. “Kau memahami akibat kegagalan, dan sekarang harus membuktikan perbaikannya.”
Kaif menerima dengan syarat serikat pekerja dilibatkan. Sari menyetujui, tetapi menolak semua keputusan harus menunggu forum besar. Mereka membentuk kelompok perwakilan kecil dengan tenggat jelas.
Hubungan kerja mereka tegang. Kaif terbiasa dengan Laras yang menjelaskan panjang, sedangkan Sari cepat dan langsung. Pada rapat pertama, Sari memotong presentasi Kaif karena terlalu banyak sejarah.
Kaif tersinggung, lalu meminta umpan balik setelah rapat. Sari mengatakan dia membutuhkan kesimpulan di awal. Kaif menyesuaikan presentasi berikutnya tanpa menghilangkan data pekerja.
Persidangan Livia dimulai dengan pemeriksaan identitas. Dia mengakui memakai nama Lin Wei, tetapi menyatakan pemalsuan kematian dilakukan untuk melarikan diri dari Nurdin.
Nadia mendengar melalui pengacara. Diah gak hadir. Alia dan Jefri masuk perlindungan saksi menjelang kesaksian.
Jaksa menunjukkan Livia terus mengelola aset Nurdin setelah “kematian” dan membayar Darma. Pengacara Livia berargumen pembayaran itu untuk perlindungan, bukan sabotase.
Rekaman telepon menjadi bukti utama. Suara Livia memerintahkan Darma membiarkan Zafar bergerak. Ahli menjelaskan tingkat kecocokan tinggi, tetapi gak seratus persen.
Livia tersenyum ketika rekaman diputar. “Banyak perempuan seusia saya bersuara sama.”
Diah kemudian memberi kesaksian tertutup tentang kunjungan ibunya di panti. Livia mencoba meminta pertemuan, tetapi hakim menolak karena Diah gak memberi persetujuan.
Nadia memberikan bukti rekening dan mengakui pernah tanpa sadar meneruskan pesan dari ibunya melalui perantara Harun. Dia gak meminta kekebalan, meski jaksa menyatakan belum ada bukti niat pidana.
Malamnya, Aydan menelepon Kaif. Mereka membandingkan kesulitan: Aydan merasa karya seninya disentuh uang Livia, Kaif merasa jabatan barunya tetap berada di bawah orang lain.
“Aku ingin menghancurkan seluruh pameran,” kata Aydan.
“Aku ingin menolak semua tugas Sari,” jawab Kaif.
Keduanya tau keinginan pertama gak harus menjadi tindakan.
Audit menemukan agensi sponsor membeli satu lukisan melalui pembeli palsu untuk menaikkan harga karya Aydan. Lukisan itu belum dikirim dan dananya masih ditahan.
Aydan membatalkan transaksi palsu serta menyerahkan uang kepada penyidik. Penjualan sah lainnya boleh dilanjutkan setelah pembeli diberi informasi.
Dia memutuskan pameran tetap dibuka dengan tambahan panel mengenai sumber dana dan kegagalan pemeriksaan sponsor. Karya gak dihancurkan; konteksnya diperluas.
Emilia berdiri di sampingnya saat panel baru dipasang, tetapi gak berbicara atas nama Aydan.
“Uang mereka menyentuh acara,” kata Aydan. “Tapi mereka gak menentukan arti lukisanku.”
Penyidik kemudian menemukan tujuan lain sponsor palsu: undangan pembukaan memberi Melati akses ke daftar tamu, termasuk lokasi Emilia dan jadwal Aydan.
Melati sudah ditahan, tetapi data tamu pernah dikirim kepada seseorang di Medan yang belum teridentifikasi.
Ancaman dari Livia mungkin belum berhenti pada persidangan.
Galeri menutup akses daftar tamu dan menyewa ahli keamanan yang gak terkait Safaraz. Semua orang yang datanya terbuka mendapat pilihan penghapusan penuh, bukan sekadar perubahan kata sandi.
Seorang seniman lain marah karena pamerannya ikut dicurigai. Aydan mengadakan pertemuan tanpa media dan mengakui kontraknya menarik risiko ke seluruh galeri. Dia menawarkan menanggung sebagian audit dari pendapatan pribadinya, tetapi Tesa memastikan biaya dibagi sesuai tanggung jawab kontrak.
Emilia meninjau pemberitahuan korban dan menemukan kalimat yang terlalu melindungi galeri. Dia menggantinya dengan pengakuan jelas tentang jenis data serta pihak penerima. Pekerjaan itu dicatat sebagai konsultasi, bukan bantuan pacar.
Aydan juga menghubungi pembeli yang membatalkan transaksi hanya melalui galeri. Dia gak meminta kesempatan menjelaskan pribadi. Hak pembeli untuk pergi harus dihormati.
Di Medan, Sari meminta Kaif gak mencampur kasus sponsor dengan transisi teknologi perusahaan. Kaif menunjukkan daftar tamu mungkin bersinggungan dengan pegawai Safaraz. Mereka sepakat membagi tim: polisi menangani kejahatan, auditor perusahaan memeriksa akses internal.
Hasil awal menemukan seseorang dari firma konsultan membuka surel undangan milik dua direktur. Sari mengenali pola Bagas sebelum namanya muncul. Dia mengakui hubungan lama tanpa menunggu audit menemukannya.
Kaif menghargai keterbukaan, tetapi menegaskan pengakuan cepat gak menghapus keputusan lama menutup kasus Bagas. Sari setuju evaluasi tetap berjalan.
Malam itu, Aydan menghapus aplikasi berita selama dua hari. Dia melukis satu kanvas baru tanpa memikirkan apakah akan dijual. Menciptakan karya yang gak langsung menjadi aset terasa seperti cara mengambil kembali ruang dari Livia.
Ketika polisi menghubungi tentang Bagas, Aydan sudah cukup tenang untuk menerima informasi tanpa menjadikan semua orang di galeri tersangka.
Dia menyerahkan seluruh akses yang diminta dan tetap membatasi kesimpulan sampai bukti berbicara jelas.
Tanpa pengecualian.