Galeri memberi tahu semua tamu bahwa data mereka mungkin diakses tanpa izin. Informasi yang bocor terbatas pada nama, surel, dan pilihan sesi, tetapi beberapa tamu memakai alamat pribadi untuk pengiriman.
Emilia termasuk dalam daftar, namun alamatnya adalah kantor. Dia memilih penyaringan surat dan patroli sementara. Aydan gak mengubah keputusan itu.
Penyidik menelusuri penerima data di Medan melalui alamat terenkripsi. Perangkat terhubung ke jaringan sebuah firma konsultan yang pernah bekerja untuk perusahaan Safaraz. Pemilik firma bernama Bagas, mantan asisten Sari.
Sari langsung mengungkap hubungan tersebut kepada dewan. Dia mengatakan Bagas diberhentikan dua tahun lalu karena mengambil data proyek, tetapi gak pernah dipidana karena perusahaan memilih penyelesaian diam-diam.
Kaif marah. “Kalau kasus itu dilaporkan, mungkin dia gak punya akses sekarang.”
Sari menerima kritik. Saat itu dia mendukung penyelesaian demi reputasi perusahaan. “Itu keputusan saya, dan ternyata salah.”
Dewan membentuk pemeriksaan konflik. Sari menyerahkan perangkat dan mundur sementara dari keputusan teknologi. Kaif gak mengambil kesempatan untuk menjatuhkannya. Dia meminta Laras tetap mengawasi transisi sampai audit selesai.
Bagas ditangkap ketika mencoba menghapus server. Dia mengaku membeli data dari Melati untuk mencari kelemahan Aydan dan Emilia. Tujuannya bukan menculik, melainkan mendapatkan dokumen aset yang dapat dijual kepada Zafar.
Di kantornya ditemukan jadwal penerbangan Aydan, foto studio, dan rekaman rapat perusahaan. Bagas memiliki informan internal yang memakai nama kode “K”.
Media menduga K adalah Kaif. Bagas sengaja menyimpan pesan berbunyi, “K ingin Sari gagal.”
Kaif kembali menyerahkan aksesnya. Kali ini dia gak panik seperti saat token dicuri. Audit menunjukkan pesan K dikirim sebelum Kaif mengenal Sari, sehingga tuduhan cepat melemah.
K ternyata singkatan nama Krista, sekretaris dewan yang takut Sari membuka pembayaran lama. Krista mengaku memberikan jadwal, tetapi menyangkal mengetahui rencana Melati.
Sari menghadapi akibat kebijakan lama. Dia meminta maaf kepada pegawai dalam rapat terbuka dan mendukung pelaporan Bagas sekarang.
“Saya gak dapat meminta kalian percaya hanya karena saya mengaku,” katanya. “Audit akan menentukan batas kewenangan saya.”
Kaif melihat cara Sari berdiri di depan kritik. Kekalahan seleksi masih menyakitkan, tetapi dia mulai memahami mengapa panel memilih pengalaman Sari.
Di Yogyakarta, Aydan dan Emilia membahas dua bulan kerja di Medan yang akan datang. Setelah hidup sebulan di kota sama, perpisahan terasa berbeda.
“Aku takut kita kembali cuma jadi jadwal,” kata Emilia.
Mereka memilih mempertahankan komunitas masing-masing serta satu proyek bersama: menyusun panduan etika sponsor seni. Proyek memiliki batas waktu dan honor Emilia melalui galeri.
Ibu Emilia memutuskan tetap di Yogyakarta sampai mendapat pekerjaan. Dia mulai membantu dapur komunitas dan gak lagi menunggu keputusan putrinya sepanjang hari.
Ayah Emilia datang tanpa pemberitahuan ke kantor. Keamanan menolak masuk. Emilia bertemu di tempat umum bersama Mira.
Ayahnya menuduh keluarga Safaraz membayar Emilia untuk melawan orang tua. Emilia menunjukkan kontrak kerjanya berasal dari lembaga, bukan Aydan.
“Pilihan ini milikku,” katanya.
Dia menawarkan komunikasi terbatas jika ayahnya berhenti memakai sakit serta uang sebagai tekanan. Sang ayah belum setuju. Emilia mengakhiri pertemuan sesuai waktu.
Aydan mendengar setelah semuanya selesai. Dia gak menelepon ayah Emilia. Kemajuan mereka terlihat dalam apa yang gak dilakukan.
Pada sidang Livia, Alia bersaksi terbuka. Pengacara Livia menyerang keterlambatannya melapor. Alia mengakui kegagalan tersebut.
“Saya takut dan diam. Itu sebabnya bukti saya harus diuji, bukan diterima karena saya mantan jaksa.”
Jefri bersaksi berikutnya. Dia menjelaskan sabotase dan ancaman Darma. Livia menatapnya tanpa ekspresi.
Jaksa kemudian menunjukkan pembayaran Melati kepada Bagas terjadi setelah Livia ditahan. Pengacara menyatakan Livia gak mungkin memberi perintah. Pesan suara dari rumah perawatan membuktikan Livia sudah menyiapkan instruksi otomatis jika asetnya dibekukan.
Salah satu instruksi menyebut Aydan harus “dibuat sibuk menjaga perempuan itu” agar gak mengawasi saham.
Emilia marah karena kembali dijadikan alat. Dia meminta pernyataan publik menyebut dirinya korban pelanggaran data, bukan kelemahan Aydan.
Aydan mendukung dan gak ikut dalam wawancara. Emilia berbicara dengan lembaganya sendiri.
Bagas akhirnya menyerahkan satu dokumen yang dicari Livia: sertifikat saham lama atas nama Nayla. Dokumen tersebut palsu, dibuat Krista agar Livia membayar mahal.
Jaringan yang tampak besar mulai memakan dirinya sendiri. Namun pemalsuan itu menunjukkan Krista memiliki akses cap perusahaan yang masih dapat dipakai membuat dokumen lain.
Sebelum ditahan, Krista mengirim satu paket keluar negeri. Isi paket belum diketahui.
Krista menolak memberi kode pelacakan. Bea cukai memeriksa puluhan kiriman atas nama perusahaan. Kaif meminta pencarian gak menghentikan seluruh ekspor karena pekerja serta pelanggan yang gak terlibat akan menanggung kerugian.
Tim menemukan pola berat paket yang berbeda dari dokumen biasa. Kiriman itu menuju kotak surat di Singapura yang pernah memakai identitas Rendi. Administrator menghubungi Adrian lebih dulu agar dia gak mengetahui dari media.
Adrian marah namanya kembali muncul. Dia memberi izin penggunaan catatan perjalanannya untuk membuktikan dirinya gak mengirim paket. Proses tersebut tetap melalui pengacaranya.
Sari menawarkan perusahaan membayar bantuan hukum Adrian karena kebocoran cap berasal dari kantor Safaraz. Adrian menerima setelah kontrak menyatakan bantuan gak memberi perusahaan hak mengatur kesaksiannya.
Naufal melihat tindakan itu sebagai kemajuan. Pada masa Nurdin, bantuan selalu menjadi utang kepatuhan. Kini bantuan dipisahkan dari kendali.
Emilia menggunakan kasus daftar tamu dalam pelatihan internal. Dia gak menyebut Aydan atau pameran, hanya menunjukkan bagaimana data acara dapat menjadi peta kebiasaan seseorang. Timnya menghapus kolom alamat yang gak diperlukan.
Ayah Emilia mengirim surat fisik setelah nomornya diblokir. Emilia membacanya bersama Mira dan menyimpan tanpa membalas. Batas komunikasi tetap berlaku meski medianya berubah.
Aydan bertanya apakah dia harus mengetahui isi surat. Emilia menjawab tidak. Aydan menerima bahwa kedekatan gak memberinya hak atas semua kata yang menyakitkan pasangannya.
Pada sidang, Livia menyebut kebocoran daftar tamu sebagai tindakan Melati sendiri. Melati menunjukkan pesan berkode yang membahas “perempuan di kota baru”. Ahli akan menentukan apakah kode merujuk Emilia.
Sementara itu, kabar dari Singapura memastikan paket Krista berhasil ditahan. Isi di dalamnya dapat menentukan apakah jaringan sedang menyiapkan penipuan baru atau sekadar menyelamatkan dokumen lama.