Rasanya sebagian prasangka buruk Lisa terhadap Ervan sempat menghilang. Buktinya, dia memutuskan untuk menerima permintaan Ervan yang ingin menjadi pacarnya. Namun, sekarang tidak lagi. Tiba-tiba Lisa malah memilih kak Niko bahkan menjurus langsung kepada rencana pertunangan. Meski secara rahasia, Niko hanya sebagai pelariannya sebab ancaman langsung dari bu Melati. Pada malam sebelum gadis itu meminta pulang pada keesokan paginya, beliau bertanya mengenai salah seorang rekan kerja Lisa yang bernama Ervan. Ibu Melati sudah mencermati wajah dan perilaku si Ervan saat pertama diperkenalkan dalam acara ulang tahun di Amanda’s resto waktu itu. Beliau juga mengikuti perkembangan penyelidikan kasus kematian sang Suami, hingga tuduhan pun diarahkan kepada anak muda tersebut sebagai bakal tersangka utama. Istri dari mendiang pak Arya ikut meyakini apa yang diberitahukan oleh putranya sendiri. Tinggal menunggu gabungan bukti yang valid dan harus diverifikasi.
Bu Melati tidak pernah rela jika pemuda bernama Ervan itu, sanggup hidup bahagia di atas kesalahan yang belum dibayar secara kontan. Lisa yang mendengarkan pemaparan beliau, dalam hal ini merasa tidak tepat lagi untuk membela salah satu dari dua pihak yang berseteru. Keluar peringatan keras dari Ibu Niko yang selama ini dikenal ramah. Bisa saja ia mengganggu kehidupan pemuda sebatang kara tersebut secara terencana di luar koridor hukum, jika Ervan sampai tidak menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji penjara. Lisa menjadi takut karena ia tidak pernah tahu sampai batas mana kepuasan keluarga Arya membalaskan dendam kesumat. Amarah seperti itukah yang juga dialami oleh Ervan?
-----
Sekarang, Lisa masih beristirahat di dalam rumahnya. Ia ingat bagaimana sebelum mengalami kecelakaan, tak sengaja bertemu dengan kak Niko yang berlari menghampirinya dari arah belakang di jalur pedestrian. Kak Niko bertanya kepada Lisa, mau ke mana malam-malam ada di sekitar stasiun Menara itu. Lisa bilang ada janji bertemu dengan Ervan, tapi orangnya belum datang. Sampai Lisa tanpa berpikir panjang mengatakan, bahwa sepertinya malam itu ia dan Ervan akan resmi jadian. Namun kemudian Niko malah cerita soal ayahnya lagi yang menjadi korban kebakaran. Jujur ia katakan kepada Lisa bahwa sudah lama curiga kepada Ervan, sejak pertama berpapasan di jalan raya menuju lokasi bekas gedung perpustakaan. Niko merasa tak asing dengan cara bertopi seorang pria dan gaya berjalan dengan ransel yang dibawa. Meski bukan topi warna hitam yang dipakai Ervan waktu itu. Samar memang, raut wajah Ervan yang hanya dilihat sepintas sehingga belum begitu dikenali oleh Niko. Tapi ketika pertama kali datang ke resto Amanda, yakinlah ia bahwa Ervan adalah orangnya. Kak Niko juga pernah menemui saksi mata masalah yang pernah terjadi antara Ervan dengan ayahnya, pak Arya.
Lisa sedikit tahu tentang hal itu, fakta kecil yang tak bisa ia bantah kalau Ervan memang mengenal pak Arya. Tetapi urusannya dengan Ervan kali ini adalah masalah hati bukan perihal tindak pidana. Kak Niko terlihat meradang, tidak terima jika Lisa sampai berpasangan dengan Ervan. Wanita yang sudah berbaik hati padanya selama mereka saling mengenal. Seketika kak Niko menyatakan perasaan bahwa jatuh cinta kepada Lisa dan menawarkan hal yang sama untuk menjadi kekasihnya. Namun Lisa menolak karena sudah membuat keputusan lain terlebih dahulu. Berlalulah sang Gadis. Tanpa tahu dan waspada, Lisa ditabrak mobil berwarna silver yang menembus pembatas jalan dari samping belakang.
Sekarang sama saja, pengorbanan fisik serta hati seorang Lisa berasa sia-sia. Ia sempat berniat melindungi Ervan kecuali dari ketentuan hukum yang suatu saat akan menjerat. Namun tanpa Lisa bela, Ervan pun tetap dipecat. Lantas yang menjadi pertanyaan adalah atas nama siapa, Niko bisa seenaknya membawa seorang pengacara datang ke tempat kerja Ervan kemarin! Apa orang tersebut benar kuasa hukum dari korban yang keracunan, atau Niko sendiri memang sedang mencari keuntungan dari masalah ini?
-----
Hari yang sepi di Amanda’s resto. Hanya ada Vina, Desi dan pak Tomo saja yang bekerja. Nyonya Amanda bahkan tidak ingin masuk ke ruang kerjanya beberapa hari. Beliau hanya mampir sebentar lalu kembali keluar untuk menyegarkan pikiran dengan berlibur lagi sementara waktu. Ervan yang telah dikeluarkan tak diketahui kabarnya. Entah sekarang ia berurusan dengan polisi atau tidak. Namun kenyataan membuktikan bahwa pengunjung yang baru kemarin keracunan di kedai makan ini, datang kembali untuk yang terakhir kali. Ia justru menganggap perbuatan Ervan adalah hukuman yang harus ia terima akibat dosanya sendiri. Pengunjung tersebut merasa menyesal, pada masa lalu telah memfitnah Ervan dengan kejam hingga dikeluarkan dari pekerjaan. Tapi kini, Ervan harus menanggungnya sekali lagi. Pria yang masih bekerja sebagai staf tata usaha di SMA Yayasan tersebut, hendak meminta maaf. Sayang, semua sudah terlambat! Ervan tidak lagi bekerja di resto Amanda apalagi di sekolahan milik swasta. Hanya Vina dan Desi yang dititipinya permohonan maaf. Pengunjung itu sendiri tidak akan membawa insiden keracunan lebih jauh lagi dan dianggap sudah selesai di tempat. Dia bahkan memesan menu makanan lainnya karena masih trauma juga rupanya.
“Sekarang baiknya bagaimana, Vin!” tanya Desi. “Apa kita minta bos Amanda untuk merekrut Ervan kembali?”
“Mana mungkin! Kalau hal seperti itu dilakukan, sama saja menjilat air ludah sendiri. Ervan sudah mengakui kesalahan. Walau si Korban yang merasa telah berbuat salah dulu, tapi cara balas dendam Ervan jelas-jelas salah dan beraninya ia lakukan di tempat kerja. Nyonya Amanda patut marah. Kita tidak boleh memasukkan Ervan kembali ke sini karena bisa merusak citra resto di mata masyarakat.” elak Vina.
Reaksi Vina yang garang membuat Desi mengalihkan tema pembicaraan. “Eh, Lisa bagaimana! Sudah empat hari dia tidak masuk. Kamu belum dapat kabar, Vin?” ujarnya.
“Enggak tahu! Nomornya susah dihubungi sampai tadi pagi.” Jawaban Vina.
“Pulang nanti, kita coba mampir saja yuk ke rumah Lisa!” Ajakan Desi disambut baik oleh teman dekat di hadapan.
----
Di lokasi jauh dari Amanda’s resto, dalam hati Ervan masih ingin bekerja sama dengan Lisa. Tapi ia sudah dipecat. Ervan tidak sanggup menemui Lisa lagi dalam keadaan yang kadung seperti ini. Sedikit demi sedikit peristiwa dari masa lalunya terbongkar. Akan tetapi, hanya karena seorang Lisa ia nyaris pasrah dengan sengaja menelepon ke nomor polisi setelah buku novelnya dikembalikan. Ervan merasa pada saat tersebut Lisa sudah tahu jika ia adalah pelaku yang tengah dicari-cari. Ervan tersadar dan langsung memutus sambungan komunikasi, ketika polisi menanyakan namanya selaku penelepon.
Pada jam yang seharusnya menjadi waktu produktif guna bekerja secara keras, cerdas dan tuntas, lelaki 20-an tahun itu malah luntang-lantung di jalanan. Tak seperti pagi kemarin yang mana ia berhasil memberikan satu pukulan telak kepada Niko, kini Ervan justru bingung dengan apa yang harus diperbuat selanjutnya. Haruskah ia pindah kota agar bisa bersembunyi, padahal sejauh ini tidak pernah ada panggilan surat juga dari pihak kepolisian! Diam-diam ia merasa aman, hidup dengan menyunggi satu kesalahan berat di atas kepala.
Ervan terus berjalan-jalan. Terkadang ia menundukkan pandangan hingga kedua ujung kakinya bertemu dengan sepasang sepatu orang kaya di depan sebuah kantor jasa konsultan hukum.
“Niko!” Ervan sebut nama itu yang pertama kali.
Niko tersenyum seolah-olah menyambut kemenangannya secara pribadi. Ia lalu mengajak Ervan berbincang di tempat lain. Jauh mereka pergi sampai Ervan mengira Niko akan membawanya langsung ke kantor polisi. Dengan mobil hitam itu, Niko menyetir penuh perhitungan berbanding kecepatan kali waktu. Hingga kedua pria yang menaruh dendam dan seteru tersebut, tiba di kawasan pelabuhan sebelah utara daerah ibu kota setempat.
Ramai suasana dari calon penumpang dan awak kapal. Ditambah crane-crane dan tumpukan peti kemas di setiap sudut pelabuhan, tak mengurangi tingkat keseriusan dari pembicaraan di antara dua orang. Ervan dan Niko berdiri menghadap laut dengan kedua siku diletakkan pada pagar pembatas dermaga.
“Apa keinginan terakhirmu?” tagih Niko secara tiba-tiba.
“Tidak ada!” jawab Ervan dengan ketusnya.
Niko lantas tertawa dengan sinis.
“Apa kau mencoba untuk menghiburku?” sindirnya.
“Tidak juga! Saya hanya tidak pernah berharap sedikit pun kebaikan dari Anda. Selama ini saya juga telah memenuhi apa yang menjadi keinginan dengan usaha sendiri.” sombong si Ervan.
Niko hanya diam dan tetap bersikap dingin menghadapi laki-laki yang lebih muda darinya. Dia lalu menawarkan kesepakatan untuk terakhir kali.
“Bagaimana kalau kita barter kasus! Aku akan meminta korban yang kamu racuni itu untuk mencabut laporannya dari polisi. Sebagai ganti, kamu harus mengakui kejahatan tentang pembakaran gedung perpustakaan pemerintah kota tempo hari. Atau kalau tidak, jujur saja kamu melaporkan diri sendiri bahwa kamu melakukan sebuah pembunuhan berencana terhadap bapak Arya Adiguna Atmaja.” tipu daya si Niko.
Ervan balik merespons ide buruk itu dengan prasangka negatif.
“Anda pikir saya ini terlalu bodoh atas hukuman setimpal yang pantas dikenakan untuk ayah Anda itu?” gertaknya.
“Saya sudah berusaha berdiskusi baik-baik. Tapi kamu malah terus mencoba untuk menantang masalah?” balas Niko dengan geram.
“Anda ingat, saya kehilangan Ayah karena fitnah yang dilaporkan oleh ayah Anda. Dan kamu Niko, juga harus merasakan bagaimana sakitnya seorang anak yang orang tuanya harus mati karena dizalimi tanpa dasar bukti. Semestinya kamu lebih bersyukur masih punya ibu yang selalu mendengarkan cerita bahagiamu setiap hari. Bukan begitu?” sentil si Ervan.
“Lalu kau merasa puas setelah melakukan pembalasan seperti itu? Kamu tidak pernah sadar, kalau yang kau perbuat itu lebih zalim dari apa yang diterima oleh ayahmu! Ayahmu meninggal di penjara karena sakit. Ayahku tidak menyulutkan api ke pakaian ayahmu, tapi kamu sendiri malah membakarnya. Kamu tahu? Bukan hanya jasad di dalam gedung yang rusak, kamu pun telah menghancurkan harapan banyak orang yang gemar berkunjung dan membaca buku-buku di perpustakaan.” terang Niko secara gamblang.
Seketika Ervan teringat Lisa yang meminjam buku novel darinya. Walau tampak sekali jika dikembalikan dengan hasrat awal berujung sia-sia. Percakapan antara Ervan dan Niko kini berubah menyangkut diri Lisa.
“Apa arti Lisa bagimu? Jawablah dengan jujur!” tanya kak Niko.
Ervan dengan tegas menjawab, “Teman.”
Lagi-lagi jawaban yang membuat Niko tertawa. Entah di mana maksud lucunya.
“Apa arti Lisa bagimu?” Ervan berbalik tanya dengan sirik.
Dengan tegas dan jelas, kak Niko menjawab, “Sandera!”
“Kau sudah gila!” berang Ervan yang teramat mengecam.
“Sekali lagi aku tekankan, Ervan! Semuanya bergantung pada keputusan akhir yang kau ambil.” pesan Niko.
Dia kemudian meninggalkan Ervan di tengah padat suasana pelabuhan pada sore hari.