Senyap! Padahal rasa dari ketegangan ini masih akan terus memuncak. Ervan pulang dengan meminta tumpangan gratis pada bus rombongan wisata yang baru keluar dari area pelabuhan. Isinya orang asing semua, hanya seorang sopir dan pemandu wisata yang terlihat sebagai orang dalam negeri. Ervan tidak mampu berbicara dalam bahasa secara langsung kepada para wisatawan itu, selain dengan menunjukkan sikap terima kasih karena telah membolehkan ia ikut serta dalam perjalanan menuju dalam kota.
-----
Lisa, berjalan-jalan dengan kruknya keluar dari rumah setelah melewati waktu senja. Wanita itu berhenti dan berdiri tepat di jalan depan rumah Ervan. Kediaman yang begitu gelap, bahkan lampu beranda pun tidak dinyalakan. Sangat jelas bahwa Ervan belum pulang dari tempat kerja, menurut si Lisa. Percuma juga apabila mereka saling bertemu saat ini. Dari bagian mana Lisa harus mengatakan jika segala niat dan kepentingan terlanjur rumit untuk didedah. Banyak cerita yang terlewatkan oleh keduanya sebab di antara Lisa dan Ervan, sama-sama menyembunyikan masalah.
Ketika Lisa hendak kembali menuju ke rumah melalui jalur pejalan kaki, terkejut ia bertatap muka dengan kak Niko. Pria di sana yang tampak lelah namun masih bisa memaksakan diri untuk tertawa. Niko ingin mengajak Lisa makan malam dengan menu ayam yang dibeli dalam perjalanannya sendiri. Mobil hitam milik kak Niko sudah terparkir di dekat tempat tinggal Lisa sejak lima belas menit yang berlalu.
“Kak Niko habis dari mana, tiba-tiba langsung mampir ke sini!” ujar Lisa saat menjamu air minum untuk Niko di dalam ruang makan.
“Tidak dari mana-mana kok! Aku memang sengaja ingin makan malam bersamamu.” jawabnya.
“Oh! Saya kira pulang dari pabrik atau tempat usaha barunya.” terang Lisa kepada cucu dari pengusaha pabrik kertas tersebut.
Si Pria tidak ingin memperjelas lagi tempat maupun tujuan dari mana ia pergi sebelumnya. Kak Niko justru balik bertanya kepada Lisa, mengapa berjalan-jalan di luar sementara kakinya masih dalam masa pemulihan. Kak Niko berharap, Lisa tidak banyak aktivitas dulu di luar rumah. Sang Gadis terlalu mudah mengerti dengan wujud perhatian yang disampaikan. Akan tetapi calon tunangan itu banyak juga beralasan, kalau tidak dipakai pergi keluar rumah badan rasanya malah sakit semua. Lisa bersugesti jika dengan melakukan hal sederhana ini, maka kaki sebelah kanannya akan lebih cepat sembuh dan kesehatan sendi tetap terjaga. Jadi tidak kaku, jika nanti sudah berkegiatan normal seperti sediakala.
“Eh! Mana piringnya?” pinta kak Niko mengalihkan fokus perhatian.
“Maaf, saya jadi kelupaan! Sebentar, saya ambil dulu.” kata si Lisa.
---
Sambil makan, Niko mulai menyinggung masalah pertunangan yang pernah dibahas bersama ibunya.
“Kalau kamu belum siap, kita bisa menunda pertunangan untuk sementara waktu. Kamu tidak perlu tergesa-gesa untuk menerima segala keputusan dari Ibu. Soal cincin, tidak mengapa kalau selalu kamu pakai sehari-hari. Barangkali bila bertemu Ibu, dia pasti akan menanyakan lagi.” tutur kak Niko.
Lisa lantas memperlambat gerakan mulutnya saat mengunyah sesuap nasi hangat dengan ayam goreng mentega. Sampai ia menelan makanan tersebut kemudian lekas memberikan jawaban yang tengah dipikirkan.
“Kak Niko juga sejujurnya tidak mau melakukan permintaan ibu Melati? Maksud saya pertunangan ini akan terjadi meski kita berdua tidak saling mencintai.” ungkap si Lisa.
Niko mendadak keringat dingin. “Bukan! Bukan seperti itu, Lisa! Saya bertanya agar kamu lebih banyak waktu untuk mempersiapkan diri saja. Langsung bertunangan pada pekan depan, rasanya terlalu mendadak buatmu. Saya khawatir menjadi beban pikiran yang berat, terus besok pas hari H kamu malah jatuh sakit.” Penjelasan Niko dengan gugup. Karena jangan sampai Lisa lepas dari genggaman keluarga mereka terlalu cepat.
“Tapi, apa kita benar-benar akan melangsungkan acara tersebut?” tanya Lisa untuk meyakinkan Niko sekali lagi.
Niko menyeringai. “Kamu ragu. Apa karena itu, tadi kamu bilang kita tidak saling mencintai? Lisa, aku sudah menyatakan perasaan kalau aku jatuh cinta padamu! Kenapa kamu masih mempertanyakan kepastian hubungan demi masa depan kita yang lebih baik?”
Lisa berupaya membela diri. “Tapi saya telah menolak perasaan itu. Sebab, ...” ucap Lisa terpotong saat Niko berkata, jika dua sudah menyelesaikan makan malamnya untuk hari ini.
Dia pun langsung minta pamit kepada tuan rumah. Namun, kak Niko tidak berjanji besok malam bisa mampir lagi ke sini. Banyak urusan yang harus ia kerjakan. Begitu alasannya.
“Terima kasih Lisa, sudah mau menemani aku makan malam! Maaf kalau membuat meja makan di rumahmu sekarang jadi berantakan!” ujar kak Niko.
“Ah! Ini sampah plastiknya biar aku yang buang di luar sekalian.” sambungnya, lantas mengambil satu keresek bening berisi kertas minyak bekas pembungkus nasi dan ayam.
“Kalau begitu, aku pulang dulu!” kalimat pisah dari kak Niko.
Tepat pada kesempatan, waktu dan tempat, Vina dan Desi juga sudah berdiri di pintu depan bangunan tempat tinggal Lisa. Ketika pintu dibuka oleh Niko, ketiganya sama-sama menampakkan reaksi terkejut yang luar biasa.
“Kak Niko! Lisa?” sebut Desi otomatis bernada tinggi. Sedangkan Vina hanya memelotot dengan kedua bola matanya.
Niko tidak menyapa kedua wanita yang baru datang tersebut. Ia hanya menoleh ke arah Lisa yang baru mengantarkan pulang sampai ke ruang tamu. Kak Niko menganggukkan kepala sekali sebagai sikap permisi. Lisa segera membalas dengan satu kali anggukan kecil pula kepada tamunya yang hendak keluar pintu.
Kepergian Niko yang terkesan dadakan, menimbulkan pertanyaan dalam benak Lisa. Apa kalimat ucapannya yang barusan terlalu lancang sehingga membuat kak Niko marah? Tapi yang tidak kalah tercengang adalah dua sosok sahabat yang datang tiba-tiba dan langsung memergoki seorang Niko bisa bertamu ke rumah Lisa pada malam hari. Hanya berduaan, membuat Desi dan Vina amat besar menaruh curiga. Bergegas para pegawai resto Amanda itu masuk ke dalam kediaman Lisa lalu menutup pintu depan rapat-rapat.
“Vina, Desi! Kalian pulang lebih awal? Sekarang baru jam 8 malam.” Sambutan dari Lisa.
Vina lalu menunjukkan isyarat kepada Lisa agar berkumpul, duduk di sofa ruang tamu. Desi dengan hasrat ingin tahunya, diam-diam menirukan gestur si Vina yang menjaga pergerakan langkah kaki dan nada suara yang berbisik-bisik. Kedua tamu tersebut dalam sekejap malah merasa heran sekaligus terenyuh, melihat salah seorang sahabat mereka yang tiba-tiba berjalan tertatih sambil menggunakan alat bantu. Desi meletakkan bingkisan yang dibawanya ke atas meja, lalu hendak menolong Lisa seperti yang sudah dilakukan oleh Vina.
“Kalian duduk saja! Aku tidak apa-apa kok!” ucap si Lisa tak ingin merepotkan, tidak mau pula berbuntut belas kasihan.
“Sesungguhnya apa yang telah terjadi padamu, Sa? Terus kenapa kak Niko tadi keluar dari sini? Kok kamu sama sekali enggak kasih kabar ke kita semua?” pertanyaan Vina secara beruntun.
“Sabar! Sekarang aku harus jawab yang mana dulu, nih!” jawab Lisa setengah menanggapi keseriusan dengan canda juga santai.
“Ini dulu! Kenapa kakimu sampai diperban begitu?” persempit Desi.
Kemudian Lisa menceritakan kejadian atau bisa dikatakan, suatu musibah yang telah dialami. Lisa hanya tahu di depan matanya telah terjadi kecelakaan beruntun. Dan dalam beberapa detik setelahnya, suara mobil datang dari belakang menabrakkan diri pada tubuh Lisa. Begitulah kronologi yang dia ingat betul selepas tak sadarkan diri.
“Terus kenapa kak Niko tadi ke sini? Dia ada keperluan khusus denganmu?” cemburu Desi.
Lisa sedikit menggeleng. “Justru kak Niko-lah yang cepat tanggap menyelamatkanku, padahal dia sendiri juga terluka. Kak Niko menemaniku di dalam ambulans sampai ke rumah sakit dan mengurus semua biaya. Kalau sebelumnya kami tidak bertemu di tepi jalan, aku tidak tahu lagi siapa yang bisa memanggilkan pertolongan dengan cepat. Sedangkan Ervan, aku tidak yakin saat itu dia jadi datang atau tidak ke stasiun Menara. Namun ketika aku tersadar di kamar rumah sakit, hanya ada Ervan yang aku lihat pertama kali.” Uraian kisah hidup dari Lisa nyaris tak bisa diputus.
“Tadi, kak Niko hanya mampir untuk berbagi makanan saja. Setelah selesai makan malam bersama, dia langsung pamit pulang. Tidak ada maksud lain lagi.” tambah si Lisa.
Vina dan Desi bersyukur semua keadaan yang menimpa Lisa itu sudah berangsur membaik. Walaupun pastinya ada rasa bersalah, karena sebagai teman dekat mereka justru tidak tahu apa-apa. Lisa pun hanya mampu meminta maaf, sebab ponselnya rusak jadi tidak bisa menghubungi siapa saja termasuk dua kawan soulmate yang masih mau memikirkan keberadaan dirinya.
Awalnya ada keinginan untuk menginap sekalian. Tapi karena besok libur, Vina maupun Desi berjanji akan berkunjung lagi pada siang hari. Kemungkinan mereka jadi menginap pada malam harinya. Sehingga Senin, bisa berangkat kerja dengan jarak tempuh yang lebih dekat. Hitung-hitung menemani Lisa yang tengah mengalami kesulitan. Ketiga gadis di tempat tinggal Lisa lanjut mengobrol banyak mengenai berita terkini dari kedai makan tercinta. Hingga pada waktunya Lisa terkejut juga, mendengarkan informasi kalau Ervan sudah dipecat dari pekerjaan sebagai juru masak tambahan di resto milik nyonya Amanda.
Selain berbagi cerita menyangkut tragedi Lisa dan kehidupan selama empat hari di tempat kerja, Vina dan Desi tidak pernah tahu hubungan yang telah membawa Lisa dan kak Niko sampai ke agenda pertunangan. Apa yang dikatakan Lisa pagi kemarin bahwa kedua rekan mereka sudah tahu, hanyalah bagian dari sandiwaranya seorang. Lisa berbohong kepada Ervan, supaya pria tersebut menjauh darinya. Dan kebohongan lebih sulit dijalani ketika berbuah menjadi kenyataan yang tak disukai. Satu hari ini Ervan benar-benar menghilang dan jauh dari pengetahuan Lisa. Kedua insan tersebut dimulai dari rentang waktu 37 jam yang lalu tidak pernah lagi bertemu. Padahal Lisa dan Ervan sebelumnya telah hidup bertetangga dengan cukup dekat.
Sekarang tepat jam sembilan malam. Lisa keluar halaman rumah sisa lahan dari jalur pembangunan trotoar. Ia mengantar kepulangan dua teman dekat. Mereka berboncengan dengan sepeda motor Vina yang baru dibayar satu kali cicilan. Bisa diduga rencana bertandang ke rumah Lisa muncul dari ide yang spontan. Desi tidak mengenakan helm dengan benar, malah menutupkan goodie bag di atas kepala. Dan, akhirnya benda ringan itu pun terbang diterpa angin dari laju kendaraan lain yang menyalip motor Vina. Desi mencoba tetap bergaya kalem, walau Lisa mesam-mesem melihat betapa konyolnya kejadian di jalanan depan sana. Sedikit hiburan ringan untuk pengantar tidurnya di malam yang lengang.